BERTOBAT

Ketika melihat bekas jahitan sepanjang betis bawah hingga paha dikedua kaki saya, akupun menggunakan celana panjang atau stoking kaki untuk menutupinya. Dengan itu, saya bisa menyembunyikan masalah tersebut untuk sementara waktu. Namun, setelah beberapa waktu, tersadar bahwa ini adalah sayatan yang akan membekas selamanya sebagai bagian tubuhku hingga akhir hayat. Saya teringat pada candaan dokter jaga kala itu, "ini bisa jadi tato paling keren!".

Suatu pagi, sebelum bertemu dokter utama, saya terpikir untuk menutupinya dengan memakai celana panjang dan stocking kaki seperti biasa, tetapi akhirnya tidak jadi. Saya ingin dokter melihat masalahnya dengan jelas dan mengobatinya supaya sembuh maka saya memakai celana pendek.

Pernahkah kita berusaha menyembunyikan suatu dosa? Mungkin kita menyadari suatu tindakan atau pikiran yang sedang menguasai kita, tetapi kita enggan mendoakan masalah itu atau menolak untuk mengakuinya kepada teman dan keluarga. Mungkin kita menganggap itu bukan hal yang serius karena banyak orang juga menghadapi pergumulan serupa. Namun kehidupan rohani kita tidak mungkin bertumbuh dengan baik ketika dosa merusak hidup kita secara diam-diam. Amsal 28:13 berkata,"Siapa menyembunyikan pelanggarannya tidak akan beruntung." Syukurlah. ayat ini dilanjutkan dengan,"tetapi siapa mengakuinya dan meninggalkannya akan disayangi" (ayat.13).

Terkadang, sulit untuk melihat tindakan kita dari sudut pandang Allah dan mengakui bahwa beberapa kebiasaan kita memang salah. Orang-orang terus menjalani kehidupan dengan tergesa-gesa, mengabaikan tindakan kita dari sudut pandang Allah atau peringatan, teguran dari orang lain akan malapetaka yang sedang menjelang. Kita perlu segera berhenti, menyelidiki hati, dan mengubah cara hidup kita sebelum terlambat.

Pertobatan adalah sebuah topik besar di dalam Alkitab yang bergema sepanjang 40 hari.  Namun betapa mudahnya kita melewatkannya. Bukan karena kita tidak percaya, tapi karena kita merasa tidak punya waktu. Atau karena kita sudah terbiasa dengan dosa-dosa kita hingga kita tidak lagi merasakannya sebagai beban.

Masa Prapaskah hadir sebagai undangan untuk berhenti dan benar-benar berhenti.

Apa Sesungguhnya Arti "Bertobat"?
Kata Ibrani untuk "bertobat" adalah shuv, yang secara harfiah berarti berbalik. Gambaran yang dipakai berulang kali adalah seseorang yang telah berjalan ke arah yang salah, lalu sadar, lalu berbalik arah. Bukan hanya menyesal sambil terus berjalan ke arah yang sama tapi sungguh-sungguh membelokkan langkah.

Nabi-nabi dalam Perjanjian Lama menyerukan ini berkali-kali. Allah sendiri menyatakan melalui nabi Yehezkiel bahwa Ia tidak berkenan pada kebinasaan manusia—Ia jauh lebih berkenan pada pertobatan yang membawa kehidupan. Hosea pun menyerukan: "Bertobatlah, hai Israel, kepada Tuhan, Allahmu, sebab engkau telah tergelincir karena kesalahanmu" (Hosea 14:2).
Lalu datanglah Perjanjian Baru, dan seruan yang sama bergema lebih keras. Yohanes Pembaptis berdiri di tepi Sungai Yordan dan berseru: "Bertobatlah, sebab Kerajaan Surga sudah dekat!" (Matius 3:2). Ia membaptis orang-orang sebagai tanda pertobatan mereka.
Yesus pun memulai pelayanan-Nya dengan pesan yang sama (Matius 4:17). Dan di hari Pentakosta, Petrus memerintahkan orang-orang: "Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu" (Kisah Para Rasul 2:38).

Pertobatan bukan pesan pinggiran. Ini jantung dari Injil.

Lebih dari Sekadar Pikiran, Juga Gaya Hidup
Dalam bahasa Yunani Perjanjian Baru, kata yang paling sering dipakai untuk pertobatan adalah metanoia yang secara harfiah berarti perubahan (meta) pada pikiran (nous). Orang Yunani sangat menekankan aspek pikiran dalam kehidupan.
Namun pertobatan dalam konteks Alkitab tidak berhenti di pikiran saja. Ia juga mengandung makna Ibrani—berbalik, berubah, dan pembaruan—bukan hanya pada pola pikir, tetapi pada seluruh cara hidup.
Artinya, pertobatan yang sejati bukan sekadar merasa bersalah. Bukan sekadar mengakui dosa dalam hati lalu melanjutkan hidup seperti biasa. Pertobatan adalah pergerakan nyata: dari arah yang salah menuju arah yang benar. Dari hidup yang berpusat pada diri sendiri menuju hidup yang berpusat pada Allah.


Ketika Salib Menantang Kita
Kita yang sudah lama mengikut Yesus mungkin sudah sangat terbiasa dengan kalimat, "Yesus mati menebus dosa-dosa kita" hingga kata-kata itu kehilangan daya kejutnya. Kita mengucapkannya dengan lancar, tapi apakah kita benar-benar membiarkan kebenarannya meresap?
Rasul Paulus menuliskan bahwa Yesus "menyerahkan diri-Nya karena dosa-dosa kita, untuk melepaskan kita" (Galatia 1:4). Yesus melangkah maju dengan cara yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya dan memilih untuk menanggung dosa-dosa kita.
Di hadapan salib itu, ada pertanyaan yang perlu kita jawab dengan jujur: Mungkinkah kita menghampiri salib tanpa pertobatan yang sungguh-sungguh? Mungkinkah kita merayakan Paskah dengan penuh sukacita jika kita masih berkanjang dalam dosa-dosa yang kita sembunyikan?
Kegagalan untuk bertobat bukan hanya merugikan diri kita sendiri namun juga berarti kita tidak sepenuhnya menghidupi makna dari apa yang telah Yesus lakukan.


Pertobatan yang Sesungguhnya yakni Dukacita yang Benar
Pertobatan bukanlah perasaan yang ringan. namun  apa yang Alkitab sebut sebagai dukacita yang salehbukan sekadar rasa malu atau takut ketahuan melainkan perasaan mendalam tentang bagaimana dosa kita telah melukai sesama dan melukai hubungan kita dengan Allah.
Ini berbeda dari sekadar penyesalan biasa. Orang bisa menyesal karena tertangkap, tapi tetap menginginkan dosanya. Pertobatan sejati adalah saat hati kita berubah, saat kita melihat dosa sebagaimana Allah melihatnya dan kita sungguh-sungguh ingin berbalik.
Masa Prapaskah adalah waktu yang tepat untuk duduk dalam keheningan itu. Untuk bertanya kepada diri sendiri: Kapan terakhir kali aku sungguh-sungguh bertobat? Bukan hanya mengakui, tapi benar-benar berbalik?


Langkah Konkret untuk Menyiapkan Hati Menyambut Paskah
Pertobatan bukan hanya pengalaman batin namun ia membutuhkan tindakan. Berikut beberapa langkah yang bisa diambil selama Masa Prapaskah ini:

1. Luangkan waktu untuk pemeriksaan batin. Tanyakan kepada dirimu: di area mana hidupku yang masih berjalan ke arah yang salah? Di mana aku masih menyimpan dosa yang belum sungguh-sungguh aku tinggalkan?
2. Manfaatkan Sakramen Tobat  Dalam tradisi Katolik, Sakramen Tobat bukan sekadar ritual namun ini adalah kesempatan untuk sungguh-sungguh menerima pengampunan yang nyata, dan memperoleh rahmat untuk berubah.
3. Doakan pertobatan yang nyata. Mintalah kepada Allah bukan hanya pengampunan, tapi juga hati dan pikiran yang baru. Pertobatan sejati adalah karya Roh Kudus dan kita bisa memintanya.
4. Biarkan pertobatan mengubah tindakan. Jika kamu menyesal atas sebuah dosa, ambil langkah konkret untuk tidak mengulanginya. Pertobatan yang tidak menghasilkan perubahan perilaku perlu dipertanyakan kesungguhannya.


Menuju Paskah dengan Hati yang Diperbarui
Prapaskah bukan musim kesuraman. Ia adalah musim harapan, harapan bahwa kita bisa berubah, bahwa Tuhan mau mengampuni, dan bahwa Paskah yang akan datang punya makna yang jauh lebih dalam bagi mereka yang sungguh-sungguh mempersiapkan hati.
Pertobatan bukan tanda kelemahan. Justru sebaliknya yaitu dibutuhkan keberanian untuk berhenti, mengakui, dan berbalik arah. Dibutuhkan kerendahan hati untuk datang kepada Allah dan berkata: aku tidak bisa melakukan ini sendiri.
Dan kabar baiknya? Allah sudah menunggu. Seperti Bapa dalam perumpamaan anak yang hilang, Ia melihat dari kejauhan dan berlari menyongsong kita.

Ya Bapa, ampunilah aku. Aku telah berdosa dan masih terus jatuh dalam dosa. Inilah waktunya aku mengubah cara hidupku dan datang kepada-Mu untuk meminta hati dan pikiran yang baru. Tolonglah aku menjadi pribadi yang Kau kehendaki.

Comments

Popular posts from this blog

Apa Itu TalentDNA? Panduan Lengkap untuk Mengenal Potensi Anda

Antara Dua Detak: Saat Hidup Diuji, Iman Dihidupkan

Perfect Match & TalentDNA: Rahasia Menemukan Pasangan Serasi Lewat Talenta Unik