Posts

PENCOBAAN

Image
"Sebab Imam Besar yang kita punya... sama seperti kita, Ia telah dicobai dalam segala hal, hanya saja Ia tidak berbuat dosa."- Ibrani 4:15 Tidak ada orang Kristen yang kebal dari pencobaan. Tidak ada orang beriman yang tiba-tiba bebas dari godaan hanya karena ia rajin ke gereja, rutin berdoa, atau sedang menjalani Masa Prapaskah . Justru sebaliknya, N. T. Wright , teolog terkemuka, berpendapat bahwa "siapa saja yang memutuskan untuk menapaki awal yang baru dan melangkah bersama Yesus ke tempat yang tidak diketahuinya, hampir pasti mengalami bahwa tingkat ujian iman yang dihadapinya akan meningkat tajam." Artinya: semakin kita sungguh-sungguh berjalan bersama Yesus, semakin kita akan merasakan beratnya pencobaan. Ini bukan kabar buruk. Ini kabar yang perlu kita pahami dengan benar agar kita tidak kaget, tidak menyerah, dan tidak berjalan sendirian. Satu Kata, Tiga Makna Ketika para penerjemah Alkitab menemukan kata Yunani untuk "pencobaan" - peirasmos , ata...

MEMBERI

Image
"Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma." - Matius 10:8 Masa Prapaskah 2026 datang dengan sebuah seruan yang sangat kontekstual dan mendesak dari Keuskupan Agung Makassar : "Semangat Laudato Si' dan Transformasi Hidup Mengatasi Krisis Sosial."  Tema ini bukan sekadar slogan rohani yang indah didengar. Ia adalah respons yang jujur terhadap realitas yang menyakitkan seperti bencana alam, krisis sosial, kemiskinan struktural, dan kerusakan lingkungan yang semakin nyata dirasakan oleh saudara-saudari kita. Dan di tengah semua itu, Masa Prapaskah mengundang kita pada sebuah kata yang sederhana namun revolusioner yaitu  Memberi . Tiga Pilar, Satu yang Terlupakan... Masa Retret Agung berpusat pada aktivitas praktik Kristiani: berpuasa dan berpantang , berdoa (doa, ekaristi, sakramen tobat, jalan salib, introspeksi diri), dan berderma atau berbagi (melakukan aksi kasih nyata kepada sesama yang membutuhkan). Dari ketiga ...

Come and See : Sebuah Refleksi atas Serial The Chosen

Image
Bayangkan sebuah serial televisi yang awalnya tidak dilirik oleh satu pun studio besar Hollywood. Didanai oleh para penonton biasa melalui penggalangan dana daring, disutradarai oleh seorang pembuat film evangelis, diperankan oleh aktor-aktor yang sebagian besar belum dikenal luas dan kini telah ditonton oleh lebih dari 280 juta orang  di seluruh dunia. Sepertiga dari mereka bukan orang beragama. Itulah The Chosen . Dan fenomenanya jauh melampaui sekadar urusan hiburan. Sebuah Serial yang Tidak Bisa Berhenti Ditonton Romo Agustinus Handoko MSC , pastor komunitas Katolik Indonesia di Sydney, pernah menulis dengan jujur tentang pengalamannya pertama kali menonton The Chosen : "Saya seperti terhipnotis ketika menonton film ini, tidak mau berhenti menonton dan kepingin terus melanjutkan ke seri berikutnya. Iman saya betul-betul diteguhkan. Belum pernah saya mengalami pengalaman seperti ini, termasuk ketika saya menonton film The Passion pun saya tidak seheboh ketika menonton The Chose...

DUKACITA : Ketika Sedih adalah Tindakan Rohani

Image
"Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur." - Matius 5:4 Ada sesuatu yang terasa aneh dari kalimat itu. Bagaimana mungkin orang yang berdukacita disebut berbahagia ? Bukankah dukacita adalah kebalikan dari bahagia? Namun justru di sinilah Yesus membalikkan asumsi kita. Dan Masa Prapaskah adalah saat yang paling tepat untuk kita duduk dengan paradoks ini dan membiarkannya mengubah cara kita memahami kesedihan, kehilangan, dan kasih Allah. Ketika Duka Datang Sebelum Kepergian Belum lama berselang, sebuah keluarga mendampingi sang ayah yang sakit keras dengan prognosis yang buruk. Mereka menghubungi perawatan paliatif yaitu layanan yang menerima kematian yang tak terelakkan, meredakan rasa sakit, dan memberi kenyamanan di penghujung hidup. Selama satu minggu penuh, mereka mendampingi sang ayah dalam proses kepergiannya yang panjang. Dan mereka sudah berduka bahkan sebelum ia benar-benar meninggal dunia. Itulah gambaran yang sangat pas untuk Masa Prapask...

MERENUNGKAN : Seni Mendengar yang Terlupakan di Era Serba Cepat

Image
"Berbahagialah orang yang... merenungkan Taurat itu siang dan malam." - Mazmur 1:1-2 Santo Agustinus dari Hippo , salah satu Bapa Gereja terbesar sepanjang sejarah, pernah menulis sebuah kalimat yang terus bergema selama berabad-abad: "Hati kami gelisah, ya Tuhan, hingga ia beristirahat di dalam-Mu." Agustinus tahu betul apa artinya hati yang gelisah. Selama bertahun-tahun ia mencari kepuasan dalam filsafat, kesenangan, dan ambisi duniawi, sebelum akhirnya menemukan bahwa ketenangan sejati hanya ada dalam Allah. Dan jalan menuju ketenangan itu, ia temukan bukan melalui kesibukan, melainkan melalui perenungan yang mendalam . Kita hidup di zaman yang jauh lebih bising dari zaman Agustinus. Dan kita lebih membutuhkan seni merenungkan itu sekarang daripada sebelumnya. Dari ini latar belakang mengapa metode perenungan alkitab komunitas Mari Baca Alkitab KAMS muncul Saat Teduh yang Terlalu Singkat Kita biasanya menganggap saat teduh atau waktu perenungan sebagai momen me...

HATI

Image
Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu, dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan pertama - Matius 22:37-38 Ada sebuah lelucon yang beredar tentang seorang politikus yang terkenal keji, tiba-tiba dilarikan ke rumah sakit karena serangan jantung. Seorang pelawak berkomentar dengan kering: "Sungguh mengejutkan. Siapa sangka ia memiliki heart (hati)?" Lelucon itu terasa lucu karena kata heart dalam bahasa Inggris merujuk pada dua hal sekaligus: organ jantung secara fisik, dan hati sebagai pusat emosi dan moral. Hal yang sama berlaku dalam bahasa-bahasa Alkitab. Kata leb dalam bahasa Ibrani dan kardia  dalam bahasa Yunani mencakup keseluruhan diri kita yaitu bukan sekadar perasaan, melainkan pusat moral dan rohani dari seluruh keberadaan manusia. Kata-kata ini muncul sekitar seribu kali di dalam Alkitab. Dan sebagian besar kemunculannya menggambarkan motivasi, keinginan, keputusan, dan sifat manusia. Hati Anda adalah diri...

BERTOBAT

Image
Ketika melihat bekas jahitan sepanjang betis bawah hingga paha dikedua kaki saya, akupun menggunakan celana panjang atau stoking kaki untuk menutupinya. Dengan itu, saya bisa menyembunyikan masalah tersebut untuk sementara waktu. Namun, setelah beberapa waktu, tersadar bahwa ini adalah sayatan yang akan membekas selamanya sebagai bagian tubuhku hingga akhir hayat. Saya teringat pada candaan dokter jaga kala itu, "ini bisa jadi tato paling keren!". Suatu pagi, sebelum bertemu dokter utama, saya terpikir untuk menutupinya dengan memakai celana panjang dan stocking kaki seperti biasa, tetapi akhirnya tidak jadi. Saya ingin dokter melihat masalahnya dengan jelas dan mengobatinya supaya sembuh maka saya memakai celana pendek. Pernahkah kita berusaha menyembunyikan suatu dosa? Mungkin kita menyadari suatu tindakan atau pikiran yang sedang menguasai kita, tetapi kita enggan mendoakan masalah itu atau menolak untuk mengakuinya kepada teman dan keluarga. Mungkin kita menganggap itu bu...