Posts

Ketika Kemarahan Menjadi Racun

Image
Musuh-Musuh Hati Musuh Hati yang Kedua: Anger Seorang pria bercerita bahwa ia sudah tidak bicara dengan kakaknya selama tiga tahun. Bukan karena tidak ada kesempatan. Bukan karena jauh. Mereka bahkan tinggal di kota yang sama. "Dia tidak pernah minta maaf," katanya. "Dan sampai dia minta maaf, aku tidak akan duluan." Tiga tahun. Ia menunggu. Sementara itu, hidupnya yakni hubungannya dengan keluarga, ketenangannya, bahkan kesehatannya perlahan terkikis. Yang menghukum ternyata bukan kakaknya. Ia menghukum dirinya sendiri. Di bagian pertama seri ini, kita bicara tentang rasa bersalah dan kata kuncinya: "Aku berhutang padamu." Hari ini kita masuk ke musuh hati yang kedua, yang sama berbahayanya namun bekerja dari arah yang berlawanan. Musuh yang kedua adalah kemarahan dan kata kuncinya adalah kebalikannya: "Kamu berhutang padaku." Mengapa Kita Marah? Andy Stanley dalam Enemies of the Heart menjelaskan bahwa kemarahan lahir ketika kita tidak menda...

Ketika Rasa Bersalah Menjadi Penjara

Image
Musuh-Musuh Hati Musuh Hati yang Pertama: Guilt Seorang ibu datang menemui seorang konselor pastoral . Ia tidak menangis. Wajahnya tampak tenang, terlalu tenang. Tapi ketika ditanya, "Apa yang kamu rasakan di rumah?" ia menjawab pelan: "Saya tidak pernah bisa bilang tidak. Kalau saya bilang tidak, saya langsung merasa jahat. Jadi saya terus bilang iya meskipun saya sudah habis." Ia tidak dijajah oleh orang lain. Ia dijajah oleh dirinya sendiri oleh rasa bersalah yang telah lama bersarang di dalam hatinya. Kita mulai seri percakapan tentang musuh-musuh hati dan musuh yang pertama, yang paling diam-diam namun paling melelahkan, adalah rasa bersalah. Andy Stanley , dalam bukunya Enemies of the Heart , mengidentifikasi rasa bersalah sebagai salah satu dari empat musuh utama yang merusak hati dari dalam. Bukan musuh yang datang dari luar. Bukan orang lain yang menyerang. Melainkan sesuatu yang kita hidupi dan tanpa sadar, kita biarkan menguasai setiap keputusan kita. Ka...

BAPTISAN

Image
— Dicelupkan ke dalam Kematian untuk Bangkit ke dalam Hidup Baru — "Tidak tahukah kamu, bahwa kita semua yang telah dibaptis dalam Kristus , telah dibaptis dalam kematian-Nya?" Roma 6:3 ✦ ✦ ✦ Sebuah Cerita: Air yang Mengubah Segalanya Pada suatu pagi di bulan April yang lembap, seorang pria bernama Reno berdiri di depan kolam baptis gereja dengan seluruh tubuhnya gemetar. Bukan karena dingin meski air itu memang tidak hangat melainkan karena ia tahu bahwa apa yang akan terjadi beberapa detik lagi bukan sekadar ritual. Sembilan bulan sebelumnya, ia adalah orang yang paling jauh dari gereja: hidupnya penuh kekerasan, pernikahan pertamanya hancur karena pengkhianatan yang ia sendiri lakukan, dan ia menghabiskan banyak malam dalam keputusasaan yang dalam. Lalu ia bertemu Kristus. Bukan dalam cara yang dramatis, tidak ada kilat atau suara dari langit hanya dalam keheningan sebuah doa di kamar sempit, di mana ia akhirnya berkata, "Tuhan, aku tidak tahu apakah Engkau ada, tapi...

LUKA YANG DIWARISKAN

Image
Trauma Antargenerasi, Pola Asuh, dan Penyembuhan dalam Iman Katolik Kisah  Namanya Reni. Usianya 34 tahun. Setiap kali suaminya menaikkan suaranya — bukan marah, hanya berbicara dengan tegas dadanya langsung sesak. Tangannya dingin. Pikirannya kabur. Ia tidak mengerti mengapa. Lama-lama, dalam sebuah sesi konseling, ia mulai mengingat. Ayahnya dulu sering marah. Tidak memukul, tapi cara bicaranya tajam dan meremehkan. Dan ketika ia menggali lebih dalam, ternyata kakeknya pun dikenal sebagai orang yang keras dan tak pernah puas. Tiga generasi. Satu pola yang sama. Reni tidak mewarisi kejadian itu. Tapi ia mewarisi rasa takutnya  yang seolah-olah tubuhnya mengingat sesuatu yang tidak pernah ia alami sendiri. Bagian I. Apa Itu Trauma Antargenerasi? Trauma antargenerasi adalah kondisi di mana luka batin yang belum sembuh dari satu generasi yaitu orang tua, kakek-nenek, atau leluhur yang ikut membentuk kesehatan emosional generasi berikutnya. Luka itu tidak diceritakan secara lan...

PENGHAKIMAN

Image
  — Ketika Kita Duduk di Kursi yang Bukan Milik Kita —   Sebuah Cerita: Sidang yang Tidak Pernah Diminta Seorang bapak bernama Markus duduk terpaku di depan layar teleponnya suatu malam. Di grup keluarga, sebuah foto beredar yaitu foto adiknya yang baru pulang ke kampung halaman setelah bertahun-tahun merantau, tampak tertawa di sebuah pesta. Tangan kanannya memegang gelas bir. Markus tidak menunggu lama. Ia langsung mengetik panjang lebar: tentang bagaimana adiknya telah mempermalukan keluarga, tentang bagaimana ia seharusnya tahu diri, tentang betapa jauh adiknya sudah menyimpang dari iman. Pesan itu ia kirim ke semua anggota grup berisi delapan belas orang, termasuk para sepupu dan keponakan muda. Namun ada satu hal yang tidak diketahui Markus: adiknya baru saja pulang dari rumah sakit, menemani anak semata wayangnya yang menjalani kemoterapi. Foto itu diambil di ulang tahun sederhana di rumah tetangga, dan gelas yang dipegang adalah teh panas yang dituang ke gelas b...