Posts

BERTOBAT

Image
Ketika melihat bekas jahitan sepanjang betis bawah hingga paha dikedua kaki saya, akupun menggunakan celana panjang atau stoking kaki untuk menutupinya. Dengan itu, saya bisa menyembunyikan masalah tersebut untuk sementara waktu. Namun, setelah beberapa waktu, tersadar bahwa ini adalah sayatan yang akan membekas selamanya sebagai bagian tubuhku hingga akhir hayat. Saya teringat pada candaan dokter jaga kala itu, "ini bisa jadi tato paling keren!". Suatu pagi, sebelum bertemu dokter utama, saya terpikir untuk menutupinya dengan memakai celana panjang dan stocking kaki seperti biasa, tetapi akhirnya tidak jadi. Saya ingin dokter melihat masalahnya dengan jelas dan mengobatinya supaya sembuh maka saya memakai celana pendek. Pernahkah kita berusaha menyembunyikan suatu dosa? Mungkin kita menyadari suatu tindakan atau pikiran yang sedang menguasai kita, tetapi kita enggan mendoakan masalah itu atau menolak untuk mengakuinya kepada teman dan keluarga. Mungkin kita menganggap itu bu...

DOA

Image
Di dalam sel penjara yang lembab di Tahuna, pada malam sebelum eksekusinya, Bataha Santiago bergumul dengan Tuhan. Tangannya terikat, tubuhnya lemah, namun jiwanya berkobar antara amarah dan iman. Di tengah kegelapan itu, ia mengingat mazmur yang diajarkan para paderi di Manila yakni Mazmur 6 . Saat ia berdoa, tangisnya bukan untuk dirinya sendiri, melainkan untuk rakyat Manganitu yang akan ia tinggalkan. Kata-kata pemazmur menjadi miliknya: " Semua musuhku mendapat malu dan sangat terkejut; mereka mundur dan mendapat malu dalam sekejap mata. " Bukan keselamatan yang ia minta, tetapi kemenangan kebenaran. Dan di akhir doanya, damai yang tidak masuk akal memenuhi hatinya, sebuah kepastian bahwa apa pun yang terjadi besok Tuhan tidak akan diam. Keesokan paginya, di tanah lapang Tanjung Tahuna, Gubernur VOC Robertus Padtbrugge memberikan tawaran terakhir perihal tanda tangani kontrak politik yang berarti menyerahkan iman, budaya, dan kedaulatan, atau mati di tiang gantung. Ba...

MERATAP

Image
Berapa lama lagi, Tuhan, Kaulupakan aku terus-menerus? Berapa lama lagi, Kausembunyikan wajah-Mu terhadap aku? Berapa lama lagi aku harus menaruh kekhawatiran dalam diriku,  dan bersedih hati sepanjang hari? Berapa lama lagi musuhku meninggikan diri atasku? - Mazmur 13:2-3 Meratap adalah seni yang telah lama hilang. Kitab-kitab Mazmur dan para nabi sering kita temukan ratapan-ratapan yang sangat indah. Mazmur 13:2-3 adalah contoh klasik dari ratapan pribadi. Daud memulai dengan empat kali pertanyaan "Berapa lama lagi?" secara berturut-turut untuk menunjukkan kedalaman penderitaannya.  Jika kita lihat dari kata ratapan dalam bahasa Ibrani untuk nyanyian atau lantunan, jadi di dalam Kitab Suci, ratapan umat merupakan nyanyian kesedihan atau dukacita.   Seni itu telah lama hilang karena sering kali kita lebih suka melihat sisi yang terang saja. Lebih dari satu abad yang lalu, pengajaran tentang " hidup yang berkemenangan " menjadi marak di gereja-gereja. Jujur saja...

BERPUASA

Image
"Berpuasa yang Kukehendaki, ialah supaya engkau  membuka belenggu-belenggu kelaliman , dan melepaskan tali-tali kuk, supaya engkau memerdekakan orang yang teraniaya dan mematahkan setiap kuk, supaya engkau memecah-mecah rotimu bagi orang yang lapar dan membawa ke rumahmu orang miskin yang tidak punya rumah, dan apabila engkau melihat orang telanjang, supaya engkau memberi dia pakaian - Yesaya 58:6-7 Pada tahun 1947, saat India baru saja meraih kemerdekaannya, sebuah tragedi besar terjadi. Kerusuhan saudara pecah antara kelompok Hindu dan Muslim di Calcutta (sekarang Kolkata). Kota itu berubah menjadi lautan api; kebencian menyebar lebih cepat daripada peluru, dan nyawa melayang setiap jamnya. Para pemimpin militer dan politik gagal menghentikan pertumpahan darah tersebut. Dalam keputusasaan itu, Ada orang yang sudah tua dan lemah, mengumumkan: "Aku akan berpuasa hingga mati, kecuali jika akal sehat kembali ke Calcutta." Puasa sebagai "Operasi Hati" Ia tidak s...

BERPANTANG

Image
Di sebuah beranda kayu yang teduh, Bimo duduk bersandar, menatap kakeknya yang sedang asyik memahat kayu dengan gerakan yang begitu stabil dan tenang. Tidak ada gurat terburu-buru, tidak ada keluhan meski peluh menetes. "Kek," pancing Bimo, "Dunia di luar sana berisik sekali. Semua orang ingin cepat, semua orang ingin memiliki segalanya sekarang juga. Tapi Kakek... kenapa hidup Kakek bisa se-tenang ini?" sambil makan kue mangkuk favoritnya.. Kakek menghentikan pahatnya, tersenyum kecil. "Rahasianya bukan pada apa yang Kakek miliki, Mo. Tapi pada apa yang Kakek 'lepaskan'. Kakek belajar dari seorang pemuda hebat bernama Daniel . Di istana Babel yang penuh kemewahan, ia justru memilih berpantang makanan raja. Ia menahan diri bukan karena ia lemah, tapi karena ia tahu siapa tuannya." Namun, sebelum menjelaskan pada inti pertanyaanmu, praktek ini sudah  ada sejak ribuan tahun lalu. Mari kita intip sejarahnya: Mesir Kuno (Sekitar 3000 SM):  Di tepian ...

Kedalaman di Balik Angka Empat Puluh: Sebuah Perjalanan Menuju Otentisitas Diri

Image
“Ingatlah, jangan kamu melakukan kewajiban agamamu di hadapan orang supaya dilihat mereka, karena jika demikian, kamu tidak beroleh upah dari Bapamu yang di sorga. - Matius 6:1 Dalam psikologi, kita mengenal istilah liminal space yaitu   sebuah ruang transisi di mana kita tidak lagi berada di masa lalu, namun belum sampai di masa depan. Di dalam Alkitab , ruang ini sering kali dipersonifikasikan melalui angka 40 . Angka ini bukan sekadar durasi kronologis, melainkan sebuah simbol kematangan, proses pembersihan, dan ujian integritas diri. Mengapa harus 40 hari? Jika kita menilik sejarah, Nuh melewati air bah selama 40 hari, bangsa Israel mengembara 40 tahun, dan Yesus berpuasa 40 hari di padang gurun. Secara psikologis, masa-masa ini adalah periode dekonstruksi perjumpaan pribadi. Untuk membangun sesuatu yang baru, ego manusia sering kali harus "diruntuhkan" terlebih dahulu melalui kesunyian dan keterbatasan. Di padang gurun, tidak ada tepuk tangan, tidak ada status sosial...

Memulihkan Tahun-Tahun yang Hilang: Perspektif Psikologi Pertobatan

Image
  “Aku akan memulihkan kepadamu tahun-tahun yang hasilnya dimakan habis oleh belalang...” – Yoel 2:25 Rabu Abu menandai awal perjalanan batin kita mengenai sebuah undangan untuk mengakui dengan jujur bahwa kita ini debu dan akan kembali kepada debu. Lebih dari itu, ini juga tentang berani menghadapi "tahun-tahun yang hilang" yakni semua waktu yang terenggut oleh luka batin , penyesalan, depresi, kecanduan, atau pola-pola destruktif yang seperti belalang, melahap habis sukacita, energi, dan relasi-relasi yang kita miliki. Dalam psikologi, kita memahami bahwa waktu yang hilang tidak pernah benar-benar kosong namun ia meninggalkan luka emosional yang mengendap, rasa malu yang kronis, dan narasi diri yang hancur, yang terus berbisik "aku gagal selamanya." Namun justru di sinilah pertobatan sejati , seperti yang digambarkan dalam kitab Yoel, menjadi sangat mirip dengan proses terapeutik yang paling dalam: ia mengundang kita untuk mengakui luka, meratapi kehilangan, dan ...