PENGUASAAN DIRI : Kekuatan yang Lahir dari Dalam
"Sebab, Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih, dan penguasaan diri." - 2 Timotius 1:7
Seorang Romo dan Angin Laut
Dikisahkan tentang seorang biarawan pertapa yang tinggal di sebuah gua kecil di tepi pantai. Setiap hari, para nelayan dan pedagang yang lewat melihat betapa tenangnya hidupnya tidak terguncang oleh badai, tidak terbawa arus, tidak panik ketika perahu-perahu di sekitarnya oleng diterpa ombak.Suatu hari seorang pemuda mendatanginya dan bertanya: "Romo, apa rahasia ketenanganmu? Apakah kamu tidak pernah takut? Apakah kamu tidak pernah marah? Apakah kamu tidak pernah merasa dorongan yang kuat untuk melakukan sesuatu yang salah?"
Biarawan itu tersenyum dan menjawab: "Anakku, aku merasakan semua itu. Badai di dalam diriku kadang jauh lebih keras dari badai di lautan ini. Tapi aku belajar satu hal: angin tidak bisa dihentikan akan tapi layar bisa diarahkan. Yang menentukan ke mana perahumu berlabuh bukan seberapa kencang anginnya. Melainkan siapa yang memegang kemudi."
Pemuda itu terdiam lama. Lalu biarawan itu melanjutkan: "Dan kemudi itu, aku sudah lama menyerahkannya kepada Roh Kudus. Bukan karena aku tidak mampu memegang. Melainkan karena aku tahu siapa yang jauh lebih bijak untuk mengemudikan hidupku."
Itulah inti dari penguasaan diri dalam iman kita yaitu bukan penekanan hasrat dengan kekuatan manusiawi, bukan kepasifan yang tidak berasa, melainkan kemudi hidup yang diserahkan kepada Roh Kudus, sehingga kekuatan dari dalam mengalahkan dorongan dari luar.
Dari Filsafat Yunani ke Kebijaksanaan Kristiani
Masa Prapaskah adalah waktu untuk memeriksa diri dalam hal dosa, kedagingan, dan pencobaan dan banyak aspek dari hal-hal tersebut tercakup dalam satu istilah yang kerap muncul dalam Kitab Suci yakni penguasaan diri.Menariknya, para filsuf Yunani sudah berbicara tentang ini jauh sebelum Injil diwartakan. Socrates, Plato, dan para filsuf Stoikisme menjunjung tinggi kemampuan manusia dalam mengendalikan hasrat mereka. "Jangan biarkan dorongan sesaat menghancurkan hidupmu," demikian nasihat mereka. Mereka menyaksikan orang-orang dikuasai amarah, hawa nafsu, dan kesombongan dan karena hasrat-hasrat itulah, orang kehilangan kendali atas diri mereka dan atas kesadaran akan dunia di sekeliling mereka.
Dari refleksi itu lahirlah istilah enkrateia yang berarti kuasa dari dalam. Suku kata krat juga ada dalam kata autokrat yaitu orang yang berkuasa menurut kemauannya sendiri. Orang yang memiliki enkrateia berkuasa atas kehidupan batinnya sendiri. Kata ini kemudian masuk ke dalam daftar kebajikan Perjanjian Baru termasuk dalam buah Roh yang disebutkan Paulus dalam Galatia 5:23, dan dalam 2 Petrus 1:6.
Ada juga kata Yunani kedua yang penting yaitu kata sophron yang menekankan akal budi yang sehat, seimbang, dan waras. Paulus memakai kata ini untuk menggambarkan tanggapan kita terhadap anugerah Allah: "Kita dididik untuk hidup dalam dunia ini dengan tahu menahan diri [sophronos], tulus dan setia kepada Allah" (Titus 2:12).
Namun iman Kristiani tidak berhenti di mana filsafat Yunani berhenti. Para filsuf mengandalkan kekuatan nalar dan tekad manusia untuk mengendalikan diri. Gereja Katolik mengajarkan sesuatu yang jauh lebih dalam yaitu penguasaan diri yang sejati bukan produk dari kekuatan manusiawi, melainkan buah dari Roh Kudus yang tinggal di dalam kita.
Bukan Roh Ketakutan Melainkan Roh Penguasaan Diri
Paulus menulis kepada Timotius dengan kata-kata yang sangat menggembirakan sekaligus menantang: "Sebab, Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih, dan penguasaan diri [sophronismou]" (2 Timotius 1:7).Tiga kata yang dirangkaikan Paulus itu kekuatan, kasih, dan penguasaan diri bukan tiga hal yang terpisah. Mereka adalah satu kesatuan yang saling menopang:
Kekuatan (dynamis)
bukan kekuatan untuk mendominasi orang lain, melainkan kekuatan untuk menghadapi pergumulan batin dengan teguh. Kekuatan yang lahir dari keyakinan bahwa Roh Kudus sudah tinggal di dalam kita bahwa kita tidak berjuang sendirian.
Kasih (agape)
Kasih (agape)
motivasi yang benar dari seluruh penguasaan diri. Kita tidak mengendalikan diri karena takut dihukum. Kita tidak mengendalikan diri untuk mendapat pujian. Kita mengendalikan diri karena kita mengasihi Allah dan sesama dan kasih itu tidak mau menyakiti yang dikasihinya.
Penguasaan diri (sophronismos)
Penguasaan diri (sophronismos)
pikiran yang waras, pertimbangan yang jernih, keseimbangan batin yang memungkinkan kita untuk memilih yang baik bahkan ketika keinginan diri berteriak sebaliknya.
Ketika ketiganya hadir bersama, itulah penguasaan diri yang Kristiani. Bukan penekanan hasrat yang dingin dan mekanis. Bukan pasifitas yang tidak berasa. Melainkan kehidupan yang dipimpin oleh kasih, diperkuat oleh Roh, dan diatur oleh akal budi yang sehat.
Filsafat Yunani berkata: "Kendalikan dirimu dengan kekuatan pikiranmu sendiri." sementara Iman kita menegaskan "Biarkan Roh Kudus mengerjakan dalam dirimu apa yang tidak bisa kamu kerjakan sendiri."
Paulus mencantumkan enkrateia (penguasaan diri) sebagai salah satu dari buah Roh dalam Galatia 5:22-23. Perhatikan bahwa kata yang dipakai adalah buah (karpos) bukan perbuatan atau prestasi. Buah tidak dipaksakan tumbuh. Buah adalah hasil alami dari pohon yang berakar pada tanah yang subur.
Penguasaan diri Kristiani adalah buah dari jiwa yang berakar dalam Roh Kudus yang menerima sakramen-sakramen dengan sungguh-sungguh dan yang berdoa secara teratur, serta yang membiarkan Firman Allah mengubah pikiran dan hatinya dari dalam.
Itulah mengapa Santo Paulus tidak hanya menyerukan penguasaan diri sebagai kewajiban moral yang harus dipenuhi dengan grigi gigi. Ia menyerukannya sebagai konsekuensi alami dari hidup dalam Roh: "Jikalau kita hidup oleh Roh, baiklah hidup kita juga dipimpin oleh Roh" (Galatia 5:25).
Tradisi kita menyebut ini sebagai bagian dari kebajikan kardinal (virtutes cardinales) dimana empat kebajikan pokok yang menjadi engsel seluruh kehidupan moral yaitu prudentia (kebijaksanaan), iustitia (keadilan), fortitudo (ketabahan), dan temperantia (penguasaan diri / kemoderasian). Keempatnya tidak berdiri sendiri-sendiri dan temperantia secara khusus mengatur keinginan dan kesenangan jasmani agar tetap sesuai dengan akal budi yang diterangi iman.
Katekismus Gereja Katolik (KGK Art. 1809) mendefinisikan temperantia sebagai: "kebajikan moral yang memoderasi daya tarik kesenangan dan menjamin keseimbangan dalam penggunaan barang-barang ciptaan." Hal ini memungkinkan kehendak untuk menguasai insting dan menjaga keinginan-keinginan dalam batas-batas yang terhormat.
Bukan itu yang dimaksud di sini.
Penguasaan diri dalam iman Kristiani adalah tanda bahwa seseorang telah mengalami transformasi batin yang sesungguhnya dan transformasi itu justru membuat seseorang menjadi agen perubahan yang berdampak dalam lingkungannya.
Paulus memberikan contoh yang luar biasa. Ketika ia berdiri di hadapan gubernur Romawi Feliks yaitu seorang pejabat yang berkuasa penuh atas hidupnya kemudian ia berbicara tentang tiga hal: "kebenaran, penguasaan diri, dan penghakiman yang akan datang" (Kisah Para Rasul 24:25). Bukan penguasaan diri yang diam dan takut. Melainkan penguasaan diri yang membuat seseorang berani berbicara kebenaran bahkan di hadapan kekuasaan.
Orang yang tidak bisa menguasai dirinya sendiri tidak bisa memberikan pengaruh yang baik kepada dunia di sekitarnya. Pemimpin yang dikuasai amarah merusak komunitas yang dipimpinnya. Orang tua yang dikuasai kecemasan meneruskan ketakutannya kepada anak-anaknya. Pekerja yang dikuasai kemalasan mencederai tanggung jawab yang dipercayakan kepadanya.
Sebaliknya orang yang menguasai dirinya sendiri menjadi bebas untuk melayani. Bebas untuk mendengarkan tanpa bereaksi. Bebas untuk memberi tanpa menghitung. Bebas untuk bertahan tanpa menyerah. Bebas untuk mengasihi tanpa pamrih.
Kalimat itu terasa keras. Tapi maknanya bukan bahwa kita harus membenci tubuh atau menghancurkan diri sendiri. Maknanya adalah sama seperti Kristus telah mati bagi kita, kita pun dipanggil untuk "mati bagi diri sendiri" menyingkirkan hasrat diri yang tidak terkendali, dan bersinar terang dengan menampilkan teladan kuasa Kristus yang mengubah hidup.
Inilah yang dalam tradisi Katolik disebut partisipasi dalam Misteri Paskah yaitu kita ikut mati bersama Kristus dalam hal-hal yang perlu dimatikan, supaya ikut bangkit bersama Kristus dalam hidup yang baru dan lebih penuh.
Prapaskah adalah latihan rutin untuk partisipasi dalam Misteri Paskah itu. Setiap kali kita memilih untuk tidak memenuhi keinginan yang tidak perlu maka kita sedang berlatih berkata ya kepada kehidupan yang lebih dalam. Setiap kali kita menahan lidah ketika amarah meminta kata-kata yang menyakiti maka kita sedang memilih jalan salib. Setiap kali kita bangun untuk berdoa ketika tubuh meminta tidur maka kita sedang menggemakan doa "Bukan kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mu."
Dalam tradisi Romawi-Yunani di mana Gereja perdana berkembang, orang-orang Kristiani dikenal sebagai warga negara yang berbeda, bukan karena mereka menarik diri dari masyarakat, melainkan karena mereka menampilkan kualitas hidup yang berbeda. Penguasaan diri mereka dalam cara berbicara, dalam cara mengelola kemarahan, dalam cara memperlakukan yang lemah, dan dalam cara menggunakan harta telah menjadi kesaksian nyata tentang Injil yang mereka imani.
Konsili Vatikan II dalam Gaudium et Spes menegaskan bahwa orang Kristiani dipanggil untuk menjadi jiwa bagi dunia artinya bukan dengan menyeragamkan kepribadian, melainkan dengan menampilkan kualitas batin yang lahir dari Roh Kudus. Penguasaan diri adalah salah satu kualitas itu yang membuat seseorang menjadi warga dunia yang bertanggung jawab dan warga Kerajaan Allah yang setia sekaligus.
Penguasaan diri yang kita latih selama 40 hari Prapaskah adalah latihan untuk merayakan kemenangan itu dengan sungguh-sungguh. Bukan dengan pesta perayaan yang dangkal melainkan dengan kehidupan yang sungguh-sungguh telah diubah dari dalam.
Angin masih akan bertiup. Hasrat masih akan berteriak. Keinginan daging masih akan menarik. Tapi kemudi ada di tangan Roh Kudus jika kita mau menyerahkannya.
"Maukah kita mempunyai warga negara yang dapat menguasai diri? Itu tidak mudah tetapi jika kita tunduk kepada Roh Allah, kualitas tersebut akan bertumbuh dalam diri kita, seperti buah."
Ya Tuhan Allah, aku tahu jika aku tidak dapat menguasai diriku, aku takkan dapat memberi pengaruh kepada dunia. Aku mengakui pergumulanku untuk menguasai diri dalam area-area tertentu dalam hidupku. Tolonglah aku, ya Tuhan, untuk mengatasi hal ini, bukan dengan kekuatanku sendiri, melainkan dengan Roh-Mu yang sudah Engkau tempatkan dalam diriku. Bukan roh ketakutan, melainkan roh kekuatan, kasih, dan penguasaan diri.
Referensi Magisterium & Tradisi:
- Katekismus Gereja Katolik (KGK), Art. 1809 — temperantia sebagai kebajikan kardinal
- KGK Art. 1804-1811 - empat kebajikan kardinal: prudentia, iustitia, fortitudo, temperantia
- KGK Art. 2339-2345 - penguasaan diri dalam kemurnian sebagai latihan kebebasan manusiawi
- Konsili Vatikan II, Gaudium et Spes, Art. 14-17 - martabat akal budi dan kehendak manusia
- Santo Tomas Aquinas, Summa Theologiae II-II, Q. 141 - temperantia sebagai kebajikan yang mengatur kesenangan jasmani
- Santo Agustinus, De Continentia - penguasaan diri sebagai karunia Allah, bukan pencapaian manusia
- Paus Yohanes Paulus II, Teologi Tubuh - kebebasan sebagai kemampuan untuk mencintai dengan benar, bukan sekadar menuruti keinginan
- Oswald Chambers, My Utmost for His Highest - kehidupan Kristen dijalani secara jasmani dengan keteguhan rohani
Ketika ketiganya hadir bersama, itulah penguasaan diri yang Kristiani. Bukan penekanan hasrat yang dingin dan mekanis. Bukan pasifitas yang tidak berasa. Melainkan kehidupan yang dipimpin oleh kasih, diperkuat oleh Roh, dan diatur oleh akal budi yang sehat.
Penguasaan Diri sebagai Buah Roh, Bukan Prestasi Manusia
Di sinilah perbedaan paling mendasar antara konsep penguasaan diri Yunani dan penguasaan diri Kristiani.Filsafat Yunani berkata: "Kendalikan dirimu dengan kekuatan pikiranmu sendiri." sementara Iman kita menegaskan "Biarkan Roh Kudus mengerjakan dalam dirimu apa yang tidak bisa kamu kerjakan sendiri."
Paulus mencantumkan enkrateia (penguasaan diri) sebagai salah satu dari buah Roh dalam Galatia 5:22-23. Perhatikan bahwa kata yang dipakai adalah buah (karpos) bukan perbuatan atau prestasi. Buah tidak dipaksakan tumbuh. Buah adalah hasil alami dari pohon yang berakar pada tanah yang subur.
Penguasaan diri Kristiani adalah buah dari jiwa yang berakar dalam Roh Kudus yang menerima sakramen-sakramen dengan sungguh-sungguh dan yang berdoa secara teratur, serta yang membiarkan Firman Allah mengubah pikiran dan hatinya dari dalam.
Itulah mengapa Santo Paulus tidak hanya menyerukan penguasaan diri sebagai kewajiban moral yang harus dipenuhi dengan grigi gigi. Ia menyerukannya sebagai konsekuensi alami dari hidup dalam Roh: "Jikalau kita hidup oleh Roh, baiklah hidup kita juga dipimpin oleh Roh" (Galatia 5:25).
Tradisi kita menyebut ini sebagai bagian dari kebajikan kardinal (virtutes cardinales) dimana empat kebajikan pokok yang menjadi engsel seluruh kehidupan moral yaitu prudentia (kebijaksanaan), iustitia (keadilan), fortitudo (ketabahan), dan temperantia (penguasaan diri / kemoderasian). Keempatnya tidak berdiri sendiri-sendiri dan temperantia secara khusus mengatur keinginan dan kesenangan jasmani agar tetap sesuai dengan akal budi yang diterangi iman.
Katekismus Gereja Katolik (KGK Art. 1809) mendefinisikan temperantia sebagai: "kebajikan moral yang memoderasi daya tarik kesenangan dan menjamin keseimbangan dalam penggunaan barang-barang ciptaan." Hal ini memungkinkan kehendak untuk menguasai insting dan menjaga keinginan-keinginan dalam batas-batas yang terhormat.
Penguasaan Diri yang Berdampak: Bukan untuk Diri Sendiri
Ada satu kesalahpahaman yang perlu diluruskan. Kita mungkin terkadang menganggap "penguasaan diri" sebagai sikap lemah lembut dan tidak mencolok yakni sekadar menjalani keseharian hidup dalam rambu-rambu norma yang berlaku, tidak membuat masalah, tidak menonjolkan diri.Bukan itu yang dimaksud di sini.
Penguasaan diri dalam iman Kristiani adalah tanda bahwa seseorang telah mengalami transformasi batin yang sesungguhnya dan transformasi itu justru membuat seseorang menjadi agen perubahan yang berdampak dalam lingkungannya.
Paulus memberikan contoh yang luar biasa. Ketika ia berdiri di hadapan gubernur Romawi Feliks yaitu seorang pejabat yang berkuasa penuh atas hidupnya kemudian ia berbicara tentang tiga hal: "kebenaran, penguasaan diri, dan penghakiman yang akan datang" (Kisah Para Rasul 24:25). Bukan penguasaan diri yang diam dan takut. Melainkan penguasaan diri yang membuat seseorang berani berbicara kebenaran bahkan di hadapan kekuasaan.
Orang yang tidak bisa menguasai dirinya sendiri tidak bisa memberikan pengaruh yang baik kepada dunia di sekitarnya. Pemimpin yang dikuasai amarah merusak komunitas yang dipimpinnya. Orang tua yang dikuasai kecemasan meneruskan ketakutannya kepada anak-anaknya. Pekerja yang dikuasai kemalasan mencederai tanggung jawab yang dipercayakan kepadanya.
Sebaliknya orang yang menguasai dirinya sendiri menjadi bebas untuk melayani. Bebas untuk mendengarkan tanpa bereaksi. Bebas untuk memberi tanpa menghitung. Bebas untuk bertahan tanpa menyerah. Bebas untuk mengasihi tanpa pamrih.
Menyalibkan Daging: Penguasaan Diri dan Jalan Salib
Paulus menyatukan penguasaan diri dengan spiritualitas salib dengan cara yang sangat tegas: "Barangsiapa menjadi milik Kristus Yesus, ia telah menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya" (Galatia 5:24).Kalimat itu terasa keras. Tapi maknanya bukan bahwa kita harus membenci tubuh atau menghancurkan diri sendiri. Maknanya adalah sama seperti Kristus telah mati bagi kita, kita pun dipanggil untuk "mati bagi diri sendiri" menyingkirkan hasrat diri yang tidak terkendali, dan bersinar terang dengan menampilkan teladan kuasa Kristus yang mengubah hidup.
Inilah yang dalam tradisi Katolik disebut partisipasi dalam Misteri Paskah yaitu kita ikut mati bersama Kristus dalam hal-hal yang perlu dimatikan, supaya ikut bangkit bersama Kristus dalam hidup yang baru dan lebih penuh.
Prapaskah adalah latihan rutin untuk partisipasi dalam Misteri Paskah itu. Setiap kali kita memilih untuk tidak memenuhi keinginan yang tidak perlu maka kita sedang berlatih berkata ya kepada kehidupan yang lebih dalam. Setiap kali kita menahan lidah ketika amarah meminta kata-kata yang menyakiti maka kita sedang memilih jalan salib. Setiap kali kita bangun untuk berdoa ketika tubuh meminta tidur maka kita sedang menggemakan doa "Bukan kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mu."
Penguasaan Diri dan Kebijaksanaan Hidup Bersama
Ada dimensi sosial dari penguasaan diri yang sering kita lupakan. Penguasaan diri bukan hanya urusan pribadi antara kita dan Allah akan tetapi kebajikan yang menentukan kualitas kehidupan bersama.Dalam tradisi Romawi-Yunani di mana Gereja perdana berkembang, orang-orang Kristiani dikenal sebagai warga negara yang berbeda, bukan karena mereka menarik diri dari masyarakat, melainkan karena mereka menampilkan kualitas hidup yang berbeda. Penguasaan diri mereka dalam cara berbicara, dalam cara mengelola kemarahan, dalam cara memperlakukan yang lemah, dan dalam cara menggunakan harta telah menjadi kesaksian nyata tentang Injil yang mereka imani.
Konsili Vatikan II dalam Gaudium et Spes menegaskan bahwa orang Kristiani dipanggil untuk menjadi jiwa bagi dunia artinya bukan dengan menyeragamkan kepribadian, melainkan dengan menampilkan kualitas batin yang lahir dari Roh Kudus. Penguasaan diri adalah salah satu kualitas itu yang membuat seseorang menjadi warga dunia yang bertanggung jawab dan warga Kerajaan Allah yang setia sekaligus.
Menyiapkan Hati Menyambut Paskah
Kebangkitan Kristus pada Paskah adalah proklamasi kemenangan paling akhir artinya tentang kematian tidak punya kata terakhir, dosa tidak punya kekuasaan terakhir, dan keinginan daging tidak harus menentukan arah hidupmu.Penguasaan diri yang kita latih selama 40 hari Prapaskah adalah latihan untuk merayakan kemenangan itu dengan sungguh-sungguh. Bukan dengan pesta perayaan yang dangkal melainkan dengan kehidupan yang sungguh-sungguh telah diubah dari dalam.
Angin masih akan bertiup. Hasrat masih akan berteriak. Keinginan daging masih akan menarik. Tapi kemudi ada di tangan Roh Kudus jika kita mau menyerahkannya.
"Maukah kita mempunyai warga negara yang dapat menguasai diri? Itu tidak mudah tetapi jika kita tunduk kepada Roh Allah, kualitas tersebut akan bertumbuh dalam diri kita, seperti buah."
Ya Tuhan Allah, aku tahu jika aku tidak dapat menguasai diriku, aku takkan dapat memberi pengaruh kepada dunia. Aku mengakui pergumulanku untuk menguasai diri dalam area-area tertentu dalam hidupku. Tolonglah aku, ya Tuhan, untuk mengatasi hal ini, bukan dengan kekuatanku sendiri, melainkan dengan Roh-Mu yang sudah Engkau tempatkan dalam diriku. Bukan roh ketakutan, melainkan roh kekuatan, kasih, dan penguasaan diri.
Referensi Magisterium & Tradisi:
- Katekismus Gereja Katolik (KGK), Art. 1809 — temperantia sebagai kebajikan kardinal
- KGK Art. 1804-1811 - empat kebajikan kardinal: prudentia, iustitia, fortitudo, temperantia
- KGK Art. 2339-2345 - penguasaan diri dalam kemurnian sebagai latihan kebebasan manusiawi
- Konsili Vatikan II, Gaudium et Spes, Art. 14-17 - martabat akal budi dan kehendak manusia
- Santo Tomas Aquinas, Summa Theologiae II-II, Q. 141 - temperantia sebagai kebajikan yang mengatur kesenangan jasmani
- Santo Agustinus, De Continentia - penguasaan diri sebagai karunia Allah, bukan pencapaian manusia
- Paus Yohanes Paulus II, Teologi Tubuh - kebebasan sebagai kemampuan untuk mencintai dengan benar, bukan sekadar menuruti keinginan
- Oswald Chambers, My Utmost for His Highest - kehidupan Kristen dijalani secara jasmani dengan keteguhan rohani
.png)
Comments
Post a Comment