Kisah Seorang yang Khawatir

Barangkali kita berpikir bahwa kekhawatiran itu bukan hal yang perlu dibesar-besarkan. Dibandingkan dosa-dosa lain, kekhawatiran terasa remeh dan wajar. Bukankah kita hidup di dunia yang memberi kita banyak alasan untuk khawatir? Bukanlah hal sepele, sebab kekhawatiran membuat kita mengambil bagian Allah dan kekhawatiran membuat kita sibuk, tetapi tanpa damai sejahtera seperti kursi goyang, kita terus bergerak tapi tidak kemana-mana. Dan inilah yang terjadi padaku sesaat ketika dokter mengatakan jadwal operasi diundur beberapa hari, langsung badanku terasa lemas, detak jantung makin cepat dan menyesakan dada, mulai kembali diri mengais oksigen. 

Ada rasa getir yang menempel di dinding hati ini, seperti luka yang tak kunjung kering. Aku pernah berharap banyak, mencintai banyak, gagal berkali-kali, dan sekarang aku hanya duduk di sini, menatap hari-hari yang bagiku semakin menipis. Kadang aku berpikir… mungkin lebih baik jika semuanya berhenti saja di sini, di ruang putih itu nanti. Mungkin di balik lelah ini ada pintu menuju damai yang selama ini tak kutemukan.

Tuhan menantangku untuk melihat kekhawatiranku lewat Filipi 1:6, ketika aku membuka alkitabku:

"Mengenai hal ini aku yakin bahwa  Ia, yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu, akan meneruskannya sampai akhirnya selesai pada hari Kristus Yesus."

Menjadi serupa dengan Yesus tidak ditempuh dalam waktu singkat atau bahkan hitungan bulan, melainkan terus berlanjut sampai kita tiba d surga bersama-Nya. Kembali aku bertanya kembali pada diriku, "Apakah tiba waktunya nanti ini?" (hening...)

“Ia yang memulai pekerjaan yang baik…”

Aku tak pernah menyadari bahwa hidupku ini bukanlah sekadar perjalanan yang aku rancang sendiri. Ada tangan yang menanamkan benih kehidupan sejak awal yakni tangan yang sama yang menulis setiap detak jantungku dan menuntunku sampai hari ini.
Aku mungkin gagal berkali-kali. Aku mungkin merusak banyak hal dalam hidupku. Tapi kalau Allah yang memulai sesuatu di dalam diriku, berarti benih itu bukan berasal dari kelemahanku, melainkan dari kasih yang tak bisa dihancurkan oleh kesalahan manusia.

Ketika aku menyesali dosa-dosa masa lalu, aku mulai bertanya: apakah semua ini sudah rusak tanpa bisa diperbaiki? Tapi di sanalah suara lembut itu berbisik, “Tidak, Aku masih bekerja di dalam dirimu.”
Tuhan tidak menghapus hidupku karena kegagalanku; Dia menanam kasih-Nya justru di tengah tanah yang retak. Hidupku mungkin berantakan, tapi Dia masih menumbuhkan sesuatu dari reruntuhan itu.

“…akan meneruskannya…”

Ada malam-malam di mana aku menangis dalam diam, takut tidak terbangun dari meja operasi. Ada saat-saat ketika aku ingin berhenti berjuang, karena merasa tidak pantas diberi kesempatan kedua.
Tapi ayat ini membuatku mengerti: Allah tidak pernah berhenti di tengah jalan.
Bahkan ketika aku berhenti percaya pada diriku sendiri, Ia tetap melanjutkan karya-Nya.
Bahkan ketika aku ingin menyerah, Ia tetap menggenggamku erat, seolah berkata, “Kau boleh takut, tapi Aku tidak akan meninggalkanmu.”

Operasi ini bukan akhir, tapi bagian dari proses pemurnian. Bukan hanya tubuhku yang disembuhkan, tapi juga jiwaku.
Mungkin Tuhan ingin aku belajar mempercayakan kendali yang selama ini kugenggam terlalu kuat. Selama ini aku ingin mengatur semua hal, takut kehilangan kendali dan sekarang, di ruang operasi nanti, aku tak bisa lagi berbuat apa-apa selain menyerah. Tapi justru di sanalah Tuhan bekerja paling sempurna: ketika aku berhenti berusaha menjadi Tuhan bagi diriku sendiri.

“…sampai pada akhirnya…”

Bagian ini membuatku menangis pelan. Karena di balik semua ketakutan tentang hidup dan mati, ada satu kebenaran yang menenangkan: hidupku dan matiku ada di tangan Tuhan.
Kalau aku diberi kesempatan hidup, berarti Allah masih ingin aku belajar mengampuni, mencintai, dan memperbaiki yang rusak.
Kalau aku harus pergi, aku tidak akan pergi ke kegelapan, melainkan ke dalam tangan kasih yang telah memelukku sejak awal.

baca refleksi diri pertamaku : Antara dua detak

Aku tidak tahu bagaimana akhir ceritaku, tapi aku tahu Siapa yang menulisnya.

Dan kalau Dialah yang menulisnya, maka akhir cerita itu pasti baik meskipun jalannya penuh air mata.

Sekarang, aku belajar untuk bernafas perlahan.
Aku belajar berkata: “Tuhan, aku takut. Tapi aku percaya Engkau tetap bekerja.”
Mungkin aku masih menangis, masih gelisah, tapi di dalam ketakutan itu ada sesuatu yang mulai tumbuh: ketenangan yang lahir dari penyerahan.

Aku tidak lagi berdoa agar semuanya berjalan sesuai kehendakku.
Aku berdoa agar aku tetap berada dalam kehendak-Nya apa pun yang terjadi di meja operasi nanti.

Dan kalau aku membuka mataku setelah operasi, aku akan tahu bahwa kasih Tuhan masih bekerja.
Dan kalau aku tidak membuka mata lagi di dunia ini, aku akan tahu bahwa kasih Tuhan telah menyelesaikan pekerjaannya di dalam diriku.

“Ia yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya.”

Dan aku, yang dulu hanya melihat ketakutan dan penyesalan, kini mulai mengerti:
Tuhan tidak sedang mengakhiri ceritaku—Dia sedang menyempurnakannya.



Comments

Popular posts from this blog

Apa Itu TalentDNA? Panduan Lengkap untuk Mengenal Potensi Anda

Antara Dua Detak: Saat Hidup Diuji, Iman Dihidupkan

Perfect Match & TalentDNA: Rahasia Menemukan Pasangan Serasi Lewat Talenta Unik