Antara Dua Detak: Saat Hidup Diuji, Iman Dihidupkan
(Refleksi menjelang operasi bypass jantung, 27 Oktober, tiga hari setelah ulang tahun)
“Sekalipun tubuhku dan hatiku habis lenyap,
gunung batuku dan bagianku tetaplah Allah selama-lamanya.” Mazmur 73:26
Ada momen ketika hidup berhenti sejenak, bukan karena dunia berhenti berputar, tetapi karena kita dipaksa untuk menatap lebih dalam: siapa diri kita, untuk apa kita hidup, dan kepada siapa kita akan kembali.
Aku menulis refleksi ini menjelang tanggal 27 Oktober, hari di mana aku akan menjalani operasi bypass jantung. Sebuah tanggal yang menandai perjalanan panjang, tidak hanya secara medis, tetapi juga secara rohani. Uniknya, tiga hari sebelumnya, 24 Oktober adalah hari ulang tahunku. Jika biasanya ulang tahun dirayakan dengan tawa dan lilin, tahun ini lilinnya terasa seperti nyala doa: sederhana, sunyi, namun sarat makna.
Dua tahun sudah sejak Papa berpulang karena gagal jantung. Saat itu aku berdiri di samping ranjangnya, Papa menatapku lama, tanpa banyak kata, seolah ingin berkata," Nak, kuatlah. Tapi ingat, kekuatan sejati bukan berarti tidak pernah lemah, melainkan tahu ke mana harus bersandar ketika kau lemah.” dan tanpa kusadari, benih pertobatan mulai tumbuh dalam diam. Kini, ketika aku sendiri berhadapan dengan kondisi jantung yang lemah, kenangan itu kembali, bukan untuk menakuti, tapi untuk menyapa. Seolah Tuhan berbisik, “Lihatlah, Aku menyertaimu dalam setiap detak itu.”
Empat belas bulan lalu aku juga menjalani operasi perbaikan jahitan di perut. Proses pemulihan waktu itu mengajarkanku satu hal penting: tubuh manusia begitu rapuh, tapi kasih Tuhan tidak pernah retak. Kini, menjelang operasi ketiga, rasa takut dan pasrah berbaur, namun di tengahnya tumbuh satu keyakinan yang tenang: hidup bukan sekadar tentang panjangnya napas, tetapi tentang dalamnya makna.
Aku teringat masa-masa awal karierku sebagai agen asuransi. Rumah sakit adalah tempat kerja keduaku, menemani nasabah, mendengar cerita sakit, harapan, bahkan kepergian. Dulu aku melayani mereka dengan profesionalitas; kini aku memahaminya dengan empati yang lahir dari pengalaman pribadi. Mungkin inilah lingkaran kehidupan yang utuh: dulu aku menyaksikan mereka dari luar, sekarang aku menjadi bagian dari kisah yang sama... dan justru di sanalah aku menemukan Tuhan bekerja dalam diam.
Operasi ini bisa jadi titik balik. Tapi bukan hanya tentang tubuh yang disembuhkan, melainkan tentang hati yang diperbarui. Aku belajar bahwa iman bukan hanya tentang percaya Tuhan sanggup menyelamatkan, tapi juga tentang percaya Tuhan tetap hadir - bahkan bila hasilnya tak seperti yang kita inginkan.
Ulang tahun kali ini bukan sekadar perayaan umur, melainkan perayaan kasih yang masih memberi kesempatan untuk bertumbuh. Aku ingin menjalani setiap hari berikutnya entah panjang atau pendek dengan lebih sadar, lebih lembut, dan lebih bersyukur.
Mungkin nanti aku akan tertidur di ruang operasi, sementara dokter bekerja dengan ketelitian yang luar biasa. Tapi aku tahu: ada tangan lain yang lebih lembut yang akan memegangku ,tangan Tuhan sendiri. Dialah yang menenun hidupku sejak semula, dan kini sedang memperbaiki detaknya dengan kasih.
Aku tidak tahu apa yang akan terjadi. Tapi aku percaya satu hal yakni setiap kali jantung berdetak lagi, itu bukan sekadar tanda aku hidup, melainkan tanda bahwa Tuhan belum selesai menulis kisah ini. Sebab setiap detak jantung bukan sekadar fungsi biologis; itu adalah liturgi kehidupan, di mana setiap denyutnya adalah doa yang naik kepada Sang Pemberi Hidup.
Doa di Ambang Sunyi“Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, akan menghasilkan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar daripada penderitaan kami." 2 Korintus 4:17
Tuhan, Engkau yang mengenal denyut jantungku lebih daripada aku sendiri.
Engkau tahu kapan harus menenangkan detak yang gelisah, dan kapan harus membiarkannya berjuang.
Hari ini aku menyerahkan seluruh diriku ke dalam tangan-Mu.
Jika Engkau izinkan aku bangun dari meja operasi nanti,
jadikan setiap detak jantungku bukan hanya untuk hidup tetapi untuk mencintai.
Dan bila suatu hari Engkau memanggilku pulang,
izinkan aku pulang dalam damai, seperti Papa,
dengan hati yang telah Kau bentuk menjadi milik-Mu sepenuhnya. Amin.
Kadang, Tuhan tidak menyembuhkan dengan cara menghentikan luka, tetapi dengan mengubah hati kita saat melewatinya. Dan di situ, dalam detak yang perlahan, dalam ketakutan yang diubah jadi doa, kita menemukan sesuatu yang lebih kuat dari hidup itu sendiri: Kasih yang tidak pernah berhenti berdetak.
.png)
TUHAN paling tahu, apa yg terbaik buat Ko Artian. Semua org hanya mampu mendoakan, percayalah, apapun itu, semuanya adalah yg terbaik dari-Nya. Berserah dan percaya, disaat kita mengangkat tangan, disana TUHAN turun tangan. Doa terbaik buat sahabatku or bestieku yg the best, Artian Dasa Wijaya 🙏😇
ReplyDeleteTabahkanlah hatimu dan serahkanlah dirimu padaNya. Tuhanlah yang akan memimpin sendiri operasi yg Mas Tian alami, doa kami selalu besertamu. Doaku semoga engkau pulih seperti sedia kala dan kita bisa berkolaborasi lagi🙏
ReplyDelete