PENITENSI: Bukan Membayar Dosa, Melainkan Membuktikan Cinta

"Bagilah makananmu dengan orang yang lapar, terimalah orang-orang gelandangan di rumahmu. Berilah pakaian kepada orang telanjang, dan jangan menolak saudaramu yang perlu ditolong." - Yesaya 58:7
Ada sebuah kesalahpahaman yang sudah terlalu lama beredar bahkan di antara umat Katolik sekalipun. Kesalahpahaman itu berbunyi kira-kira begini,"Kalau aku sudah berdosa, aku harus melakukan sesuatu yang baik untuk mengimbanginya. Seperti memberi donasi, atau berpuasa lebih ketat, atau menjadi sukarelawan supaya skor-ku di hadapan Allah kembali seimbang."
Itulah yang aku dengar dari seorang pastor sebagai pemahaman yang keliru tentang penitensi.
Dan Martin Luther dalam salah satu hal yang justru disepakati bersama oleh Gereja Katolik pada intinya meluruskan dengan tepat: "Perbuatan baik tidak menghapuskan dosa, tetapi penghapusan dosa yang menghasilkan perbuatan baik."
Urutan ini penting sekali. Dan Masa Prapaskah adalah waktu yang paling tepat untuk memahami penitensi secara benar agar kita tidak hanya menjalani ritual-ritual lahiriah yang kosong, melainkan memasuki transformasi batin yang nyata.

Dari Mana Kata "Penitensi" Berasal?

Kata penance dalam bahasa Inggris yang kita terjemahkan sebagai "penitensi" berasal dari dua akar kata Latin repentance (pertobatan) dan penitence (penyesalan). Kata ini mulai digunakan dalam lingkungan Gereja sekitar tahun 1300-an, dan sejak saat itu menjadi istilah yang sangat khas Katolik dari Sakramen Tobat.
Dalam Katolik, Sakramen Tobat atau Sakramen Rekonsiliasi memiliki tiga unsur pokok yang tak terpisahkan:
Pertama, kontritio (penyesalan hati) adalah penyesalan yang tulus dan mendalam atas dosa yang telah diperbuat, disertai tekad untuk tidak mengulanginya. Inilah unsur paling mendasar. Tanpa penyesalan yang sungguh-sungguh, sakramen ini tidak dapat bekerja dengan penuh.
Kedua, confessio (pengakuan dosa) yaitu mengaku dosa-dosa berat kepada imam secara spesifik dan jujur. Sebagaimana kita bahas dalam tema sebelumnya, pengakuan ini adalah tindakan homologeo  yakni setuju dengan Allah tentang kondisi kita.
Ketiga, satisfactio (penitensi atau silih) perihal tindakan nyata yang diberikan oleh imam sebagai buah dan ungkapan dari penyesalan yang tulus. Inilah yang biasanya disebut "penitensi" dalam arti sempit doa yang ditugaskan, karya amal yang dilakukan dan atau puasa yang dijalankan sebagai tanda bahwa pertobatan itu nyata dan bukan sekadar kata-kata.
Tapi penitensi, dalam pengertian yang lebih luas, jauh melampaui tugas dari imam. Ia adalah cara hidup selama Masa Prapaskah dan bahkan seumur hidup.

Yohanes Pembaptis dan Inti Penitensi

Tidak ada yang menjelaskan inti penitensi dengan lebih tajam daripada Yohanes Pembaptis.
Seperti para pewarta karismatik setelah dirinya, Yohanes menarik perhatian banyak orang yang penasaran. Ketika ia melihat sejumlah pemimpin agama yang suka menghakimi hadir di antara kerumunan itu, ia berseru lantang: "Hasilkanlah buah yang sesuai dengan pertobatan!" (Matius 3:8).
Ia tidak sedang meminta buah anggur atau buah ara untuk menambah persediaan makanannya. Ia ingin agar orang-orang bertindak dengan cara yang membuktikan bahwa mereka memang menyesali dosa-dosa mereka dan ingin hidup dengan lebih baik.
Lalu ketika orang banyak bertanya, "Jika demikian, apakah yang harus kami perbuat?" jawaban Yohanes sangat konkret dan sangat rendah hati,"Barangsiapa mempunyai dua helai baju, hendaklah ia membaginya dengan yang tidak punya, dan barangsiapa mempunyai makanan, hendaklah ia berbuat juga demikian" (Lukas 3:11).
Inilah arti penitensi yang sesungguhnya yaitu ungkapan penyesalan yang tulus atas dosa-dosa seseorang, yang ditunjukkan lewat tindakan nyata bagi orang lain.
Penitensi bukan hanya tentang hubungan vertikal antara kita dan Allah. Ia juga tentang hubungan horizontal antara kita dan sesama terutama yang paling lemah, yang paling miskin, yang paling terpinggirkan.

Nabi Yesaya Sudah Lebih Dulu Berkata

Jauh sebelum Yohanes Pembaptis, Nabi Yesaya sudah menyampaikan pesan yang sama bahkan dengan lebih keras dan lebih menantang.
Kepada bangsa Israel yang rajin berpuasa tapi tidak mengubah cara hidup mereka, Allah berfirman melalui Yesaya: "Apabila kamu berpuasa, kamu menyiksa dirimu; kamu menundukkan kepalamu seperti daun rumput. Kamu membentangkan kain karung dan menaburkan abu, dan berbaring di atasnya. Itukah yang kamu sebut puasa? Sangkamu Aku senang dengan perbuatanmu itu?" (Yesaya 58:5).
Allah tidak puas dengan ritual lahiriah yang tidak disertai perubahan hati dan perubahan tindakan. Pengakuan dosa yang kita lakukan secara terbuka tidak ada artinya jika tidak dibarengi dengan pengorbanan yang nyata.
Lalu Allah melanjutkan: "Inilah puasa yang Kukehendaki: ... Bagilah makananmu dengan orang yang lapar, terimalah orang-orang gelandangan di rumahmu, berilah pakaian kepada orang telanjang, dan jangan menolak saudaramu yang perlu ditolong" (Yesaya 58:6-7).
Penitensi yang sejati, menurut Allah sendiri, adalah yang mengalir dari dalam ke luar, dari penyesalan hati kepada kepedulian nyata terhadap sesama.

Jean Valjean: Ketika Penitensi Mengubah Seluruh Hidup

Salah satu gambaran paling kuat tentang penitensi dalam seluruh khazanah sastra dunia ditemukan dalam novel klasik Victor Hugo, Les Misérables. Bisa dibeli di Gramedia koq.
Jean Valjean adalah seorang miskin yang pernah dipenjara bertahun-tahun. Ketika akhirnya bebas, seorang uskup yang baik hati menerimanya menginap di rumahnya. Tapi malam itu, Valjean mencuri perkakas perak sang uskup dan melarikan diri hanya untuk tertangkap polisi dan dibawa kembali.
Yang terjadi berikutnya mengubah segalanya. Sang uskup tidak hanya mengampuni Valjean di hadapan polisi, ia bahkan memberikan lebih banyak perkakas perak yang lebih berharga, seraya berbisik: "Jangan lupa, kamu sudah berjanji untuk menggunakan uang ini demi menjadi orang yang jujur."
Jean Valjean tidak pernah mengucapkan janji itu. Tapi uskup itu sedang menawarkan sesuatu yang jauh lebih besar dari pengampunan yaitu ia sedang menawarkan identitas baru.. Dan Valjean memilih untuk menerimanya.
Penitensinya? Ia membangun sebuah usaha yang mempekerjakan orang-orang miskin. Ia menjadi wali kota yang berjuang untuk keadilan. Ia mengangkat dan merawat Cosette, anak yang paling tidak berdaya. Ia berulang kali memilih untuk menanggung kerugian demi orang lain.
Itulah penitensinya: bukan untuk menebus kejahatannya di masa lalu, melainkan untuk menunjukkan komitmennya hidup bagi Allah dan sesama karena ia sudah diampuni, bukan supaya ia diampuni.
Inilah perbedaan yang paling mendasar antara penitensi yang benar dan penitensi yang keliru.

Penyangkalan Diri yang Sosial, Bukan Hanya Personal

Inilah salah satu topik penting dalam Masa Prapaskah yang sering luput dari perhatian kita tentang penyangkalan diri kita lewat berpuasa dan berpantang bukan hanya sebuah ungkapan pribadi.
Tradisi Gereja Katolik selalu mengajarkan bahwa berpantang dan berpuasa memiliki dimensi ganda: pertama, sebagai latihan rohani yang mendisiplinkan tubuh dan menguatkan jiwa; kedua, sebagai tindakan sosial apa yang tidak kita konsumsi, apa yang kita hemat, seharusnya mengalir kepada mereka yang tidak punya..
Katekismus Gereja Katolik (KGK Art. 1434) mengajarkan bahwa penitensi dalam kehidupan Kristiani mencakup: puasa, doa, pemberian sedekah, dan berbagi dengan sesama terutama yang paling miskin. Ketiganya (puasa, doa, amal kasih) saling terhubung dan tidak bisa dipisahkan satu sama lain.
Ketika kita berpantang daging pada hari Rabu dan Jumat, itu bukan sekadar aturan disiplin Gereja. Di baliknya tersimpan undangan: uang yang kamu hemat dari tidak membeli daging, bagikan kepada yang lapar. Berpantang yang tidak menghasilkan kepedulian kepada sesama adalah ritual yang kosong.
Penitensi selalu bersifat integral yang menyentuh seluruh dimensi kehidupan yaitu hubungan dengan Allah, dengan diri sendiri, dengan sesama, dan dengan alam ciptaan.

Bahaya Penitensi yang Keliru

Di sinilah kita harus sangat berhati-hati, karena kesalahpahaman tentang penitensi bisa sangat berbahaya secara rohani.
Penitensi yang keliru akan berkata,"Saya tahu saya telah berbuat salah. Maka saya akan mendonasikan sejumlah uang kepada organisasi tertentu agar hutang saya lunas." Mereka menganggap perbuatan baik tersebut dapat "membayar" dosa mereka.
Ini bukan penitensi Katolik. Ini lebih dekat kepada paham indulgensi yang disalahpahami yang justru menjadi salah satu dari banyak penyebab perpecahan di abad ke-16.
Gereja Katolik dengan sangat jelas mengajarkan bahwa dosa hanya dapat diampuni oleh Allah, melalui sengsara dan kematian Kristus, yang dikomunikasikan kepada kita melalui Sakramen-Sakramen. Tidak ada jumlah perbuatan baik yang bisa "membeli" pengampunan itu. Tidak ada amal yang bisa "melunasi" hutang dosa.
Apa yang bisa dilakukan oleh perbuatan baik adalah menjadi buah dari pengampunan yang sudah diterima, tanda bahwa pertobatan itu nyata, bahwa hati kita sungguh-sungguh berubah, bahwa kita memang serius dengan komitmen kita kepada Kristus.
Inilah urutan yang benar yaitu pengampunan dulu, kemudian buah pertobatan bukan sebaliknya.

Penitensi dalam Konteks Sakramen Tobat

Ketika imam memberikan penitensi di akhir Sakramen Tobat,biasanya berupa doa tertentu atau karya amal tertentu, ia tidak sedang menentukan "harga" dari dosa yang telah diampuni. Pengampunan sudah diberikan sepenuhnya melalui absolusi. Penitensi yang diberikan adalah:
Pertama, tanda kesungguhan. Menyelesaikan penitensi yang diberikan imam adalah cara kita menunjukkan bahwa pengakuan kita bukan sekadar formalitas, kita sungguh-sungguh mau berubah.
Kedua, penyembuhan luka akibat dosa. Dosa meninggalkan bekas luka, tidak hanya dalam jiwa tetapi juga dalam relasi dengan sesama dan dalam tatanan sosial. Penitensi adalah bagian dari proses penyembuhan luka itu.
Ketiga, latihan rohani ke depan. Imam biasanya memberikan penitensi yang disesuaikan dengan kelemahan dan kebutuhan rohani seseorang yang artinya sebuah praktik yang membantu kita bertumbuh ke depan, bukan sekadar "membayar" masa lalu.
Keempat, partisipasi dalam penebusan Kristus. Dengan menjalani penitensi, kita dalam arti tertentu turut berpartisipasi dalam persatuan dengan Kristus dalam karya penebusan yang mengalir dari sengsara-Nya. Bukan karena penitensi kita yang menebus, melainkan karena penitensi kita dipersatukan dengan Kurban Kristus yang satu-satunya menebus.

Menyiapkan Hati Menyambut Paskah

Minggu-minggu sebelum Jumat Agung adalah masa untuk merenungkan dosa-dosa kita yang telah ditebus Tuhan Yesus dengan sengsara dan kematian-Nya. Pikirkan bagaimana kita dapat mengungkapkan penyesalan dan komitmen kita kepada Kristus dengan cara menolong orang lain.
Kita memang tidak memperoleh apa pun dari tindakan penitensi itu dalam arti "mendapat pahala yang menebus dosa." Tapi tindakan penitensi tersebut akan menjadi bukti kerinduan hati kita yang sejati bahwa kita bukan hanya menyesal dengan kata-kata, melainkan dengan seluruh hidup kita.
Pertanyaan yang bisa kita bawa dalam doa Prapaskah ini: Bagaimana aku dapat mengungkapkan penyesalan dan komitmenku kepada Kristus dengan cara menolong orang lain secara konkret?
Bukan untuk diselamatkan. Melainkan karena kita sudah diselamatkan dan kasih itu menuntut ekspresi yang nyata.

Ya Tuhan, inilah yang ingin kulakukan untuk menolong orang lain: ____________.
Aku melakukannya dalam senyap, karena aku tahu ini kulakukan bukan supaya aku diselamatkan.
Namun, biarlah tindakan ini melambangkan penyesalanku atas dosa-dosaku
dan komitmenku untuk hidup bagi-Mu dan bagi sesama.


Referensi Magisterium Gereja:

- Katekismus Gereja Katolik (KGK), Art. 1422-1498 — Sakramen Tobat dan Rekonsiliasi secara lengkap
- KGK Art. 1434-1439 — Penitensi dalam kehidupan Kristiani: puasa, doa, sedekah
- KGK Art. 1450-1460 — Tiga unsur Sakramen Tobat: kontritio, confessio, satisfactio
- KGK Art. 1473-1479 — Indulgensi: makna yang benar dan yang keliru
- Paus Yohanes Paulus II, Reconciliatio et Paenitentia (1984), Art. 31 — unsur-unsur Sakramen Tobat
- Konsili Trente, Sesi XIV — tentang penitensi sebagai satisfactio yang bukan menebus dosa melainkan merupakan buah pertobatan
- Les Misérables, Victor Hugo (1862) — Jean Valjean sebagai ilustrasi penitensi yang benar

Comments

Popular posts from this blog

Apa Itu TalentDNA? Panduan Lengkap untuk Mengenal Potensi Anda

Antara Dua Detak: Saat Hidup Diuji, Iman Dihidupkan

Perfect Match & TalentDNA: Rahasia Menemukan Pasangan Serasi Lewat Talenta Unik