BERPESTA: Perjamuan dan Pesta yang Tidak Pernah Berakhir
"Karena itu marilah kita berpesta, bukan dengan ragi yang lama, bukan pula dengan ragi keburukan dan kejahatan, tetapi dengan roti yang tidak beragi, yaitu kemurnian dan kebenaran." -1 Korintus 5:8
Sepiring Nasi di Meja yang Panjang
Ada sebuah kisah yang diceritakan oleh seorang imam tua kepada para fraternya di Jawa.Suatu ketika, seorang pria bermimpi tentang surga dan neraka. Dalam mimpi itu, ia pertama-tama dibawa ke sebuah ruangan besar yang penuh sesak dengan orang-orang yang tampak tersiksa. Di tengah ruangan itu terdapat meja panjang yang dipenuhi dengan makanan yang berlimpah-limpah ada nasi, kerupuk, lauk-pauk, kue-kue, dan buah-buahan yang menggoda selera. Tapi semua orang di sana kelaparan dan menderita. Mengapa? Karena sendok yang mereka pegang terlalu panjang, lebih panjang dari lengan mereka sendiri, sehingga tidak ada satu pun yang bisa memasukkan makanan ke mulut mereka sendiri.
Kemudian ia dibawa ke ruangan kedua. Susunannya persis sama: meja panjang, makanan berlimpah, sendok yang sama panjangnya. Tapi di sini semua orang tertawa, berbincang, dan kenyang. Mengapa? Karena mereka menggunakan sendok panjang itu untuk menyuap orang yang duduk di hadapan mereka.
Pria itu bertanya kepada penuntunnya: "Apa bedanya kedua tempat ini?" Penuntunnya menjawab singkat: "Di sana mereka berpesta untuk diri sendiri. Di sini mereka berpesta bersama."
Itulah gambar yang paling tepat untuk memahami apa arti sesungguhnya dari berpesta dalam iman Katolik dan mengapa Masa Prapaskah justru berujung pada sebuah perayaan yang bersifat pesta yang disebut Ekaristi karena kita merayakan kemenangan kehidupan atas kematian.
Alkitab adalah Kitab Perjamuan dan Pesta Tuhan
Jika Anda seorang pecinta makanan atau sekadar menyukai makanan, coba buka Perjanjian Baru dan hitung berapa kali makanan, pesta, dan jamuan makan disebutkan. Hasilnya akan mengejutkan.Dari mukjizat pertama Yesus pada sebuah pesta kawin di Kana (Yohanes 2:1-11) ketika Ia mengubah air menjadi anggur terbaik karena pesta hampir berakhir memalukan hingga kepada penglihatan Yohanes tentang perjamuan kawin Anak Domba di masa yang akan datang (Wahyu 19:9) yakni momen-momen paling penting dalam sejarah keselamatan terjadi saat makanan terhidang di atas meja.
Bagi Yesus, meja makan bukan sekadar tempat mengisi perut. Meja makan adalah tempat perjumpaan, pemulihan, penerimaan, dan pewahyuan. Di meja makan Yesus, tidak ada yang tidak disambut.
Yesus makan bersama pemungut cukai dan orang berdosa dan hal itu membuat orang Farisi murka (Lukas 5:30). Ia makan bersama Zakheus di rumahnya dan Zakheus berubah total (Lukas 19:5-8). Ia memecah-mecahkan roti untuk lima ribu orang di padang yang sunyi (Yohanes 6:1-14). Ia memasak sarapan di tepi danau untuk para murid yang baru pulang melaut sepanjang malam (Yohanes 21:9-13). Bahkan sesudah kebangkitan-Nya, Ia mengenalkan diri kepada dua murid di Emaus justru saat Ia memecah-mecahkan roti (Lukas 24:30-31).
Setiap musim semi, bangsa Israel merayakan Paskah dengan jamuan makan yang penuh makna. Jamuan seder bukan sekadar makan malam biasa yang mengikuti urutan-urutan yang telah ditetapkan selama berabad-abad, untuk mengingat dan merayakan kembali perjalanan bangsa Israel dari perbudakan di Mesir menuju kemerdekaan (Keluaran 12). Setiap elemen di meja seder memiliki makna roti tidak beragi (matzah) melambangkan keberangkatan yang tergesa-gesa; darah domba yang dioleskan di tiang pintu melambangkan keselamatan dari malaikat maut; anggur yang diminum dalam empat cawan melambangkan keempat janji pembebasan Allah.
Perjamuan Terakhir (The Last Supper) adalah jamuan seder Paskah. Yesus dan kedua belas murid-Nya duduk bersama untuk merayakan apa yang bangsa Israel rayakan selama ribuan tahun. Tapi pada malam itu, Yesus melakukan sesuatu yang mengubah segalanya selamanya dari merayakan ritual lama lalu menggubahnya menjadi Perjanjian Baru.
Ia mengambil roti, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan berkata: "Ambillah, makanlah, inilah Tubuh-Ku" (Matius 26:26). Kemudian Ia mengambil cawan, mengucap syukur dan memberikannya kepada mereka, berkata: "Minumlah kamu semua dari cawan ini. Sebab inilah darah-Ku, darah perjanjian, yang ditumpahkan bagi banyak orang untuk pengampunan dosa" (Matius 26:27-28).
Perjamuan ini bukan sekedar makan malam perpisahan, melainkan sebuah Perayaan Kurban. Kristus yang menyerahkan diri di salib pada Jumat Agung hadir secara sakramental pada perjamuan tersebut.
Dari Seder ke Ekaristi: Kurban yang Menggenapi Perjamuan
Untuk memahami Ekaristi, kita harus memahami perjamuan Paskah Yahudi yang disebut seder.Setiap musim semi, bangsa Israel merayakan Paskah dengan jamuan makan yang penuh makna. Jamuan seder bukan sekadar makan malam biasa yang mengikuti urutan-urutan yang telah ditetapkan selama berabad-abad, untuk mengingat dan merayakan kembali perjalanan bangsa Israel dari perbudakan di Mesir menuju kemerdekaan (Keluaran 12). Setiap elemen di meja seder memiliki makna roti tidak beragi (matzah) melambangkan keberangkatan yang tergesa-gesa; darah domba yang dioleskan di tiang pintu melambangkan keselamatan dari malaikat maut; anggur yang diminum dalam empat cawan melambangkan keempat janji pembebasan Allah.
Perjamuan Terakhir (The Last Supper) adalah jamuan seder Paskah. Yesus dan kedua belas murid-Nya duduk bersama untuk merayakan apa yang bangsa Israel rayakan selama ribuan tahun. Tapi pada malam itu, Yesus melakukan sesuatu yang mengubah segalanya selamanya dari merayakan ritual lama lalu menggubahnya menjadi Perjanjian Baru.
Ia mengambil roti, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan berkata: "Ambillah, makanlah, inilah Tubuh-Ku" (Matius 26:26). Kemudian Ia mengambil cawan, mengucap syukur dan memberikannya kepada mereka, berkata: "Minumlah kamu semua dari cawan ini. Sebab inilah darah-Ku, darah perjanjian, yang ditumpahkan bagi banyak orang untuk pengampunan dosa" (Matius 26:27-28).
Perjamuan ini bukan sekedar makan malam perpisahan, melainkan sebuah Perayaan Kurban. Kristus yang menyerahkan diri di salib pada Jumat Agung hadir secara sakramental pada perjamuan tersebut.
Dan Ia berkata: "Perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku" (Lukas 22:19).
Ekaristi Bukan Simbol, Melainkan Kehadiran yang Nyata
Gereja Katolik percaya dengan teguh bahwa Ekaristi bukanlah sekadar "pengingat" atau "simbol" dalam pengertian duniawi. Melalui peristiwa Transubstansiasi, substansi roti dan anggur sungguh-sungguh berubah menjadi Tubuh, Darah, Jiwa, dan Keallahan Kristus.Ini adalah penggenapan janji Yesus dalam Khotbah Roti Hidup: "Daging-Ku adalah benar-benar makanan dan darah-Ku adalah benar-benar minuman" (Yohanes 6:55).
Ketika banyak orang meninggalkan-Nya karena ajaran ini terasa "keras", Yesus tidak mengoreksinya sebagai metafora. Ia membiarkan mereka pergi karena Ia memang memaksudkan kehadiran yang nyata. Ekaristi adalah "Sumber dan Puncak" seluruh hidup Kristiani (Lumen Gentium 11).
Ekaristi (Eucharistia) dari bahasa Yunani yang berarti "ucapan syukur." Merayakan Ekaristi adalah tindakan syukur yang paling agung yang bisa dilakukan manusia yaitu mempersembahkan kembali kepada Bapa Kurban Kristus yang paling sempurna.
Perjamuan Tuhan (Dominica Cena) adalah perjamuan yang diprakarsai oleh Tuhan sendiri, dan kita diundang sebagai tamu-Nya.
Pemecahan Roti (Fractio Panis) adalah nstilah tertua dari umat perdana (Kis 2:42), melambangkan kesatuan umat dalam satu tubuh Kristus.
Kurban Kudus (Sacrificium Sacrum) karena Ekaristi bukan hanya perjamuan, melainkan juga persembahan. Di setiap Misa, Kurban Kalvari dihadirkan kembali (re-presented) bukan diulangi, melainkan satu Kurban yang sama yang menembus waktu dan hadir di setiap altar.
Setiap kali kita merayakan Misa, kita tidak sedang membuat "ulang" kurban Kristus, melainkan kita masuk ke dalam waktu Allah di mana kurban itu terjadi. Kita duduk di meja yang sama dengan para Rasul 2.000 tahun lalu.
Allah memenuhi meja perjamuan-Nya bukan dengan yang kaya dan berkuasa, melainkan dengan yang paling tidak diperhitungkan oleh sistem dunia. Inilah yang membuat perjamuan Kerajaan Allah sangat berbeda dari perjamuan dunia yang selalu dipenuhi oleh kalkulasi status sosial, kepentingan bisnis, dan manfaat timbal balik.
Di Perayaan Ekaristi, yang miskin dan yang kaya berlutut bersama. Yang berpendidikan tinggi dan yang tidak pernah mengenyam bangku sekolah menerima komuni yang sama. Yang berkuasa dan yang tidak berdaya menengadahkan tangan mereka dengan cara yang sama sebagai pengemis di hadapan kasih Allah yang berlimpah-limpah.
Tidak ada kelas di Perayaan Ekaristi. Tidak ada VIP. Tidak ada undangan khusus berdasarkan status. Hanya satu syarat: datang dalam keadaan yang layak, dengan hati yang sudah dibersihkan dan jiwa yang siap menerima.Ekaristi adalah pesta kesetaraan dalam kasih.
Memahami Nama-Nama Indah Ekaristi
Katekismus Gereja Katolik (KGK 1328-1332) merangkum kekayaan sakramen ini dalam beberapa istilah yang saling melengkapi::Ekaristi (Eucharistia) dari bahasa Yunani yang berarti "ucapan syukur." Merayakan Ekaristi adalah tindakan syukur yang paling agung yang bisa dilakukan manusia yaitu mempersembahkan kembali kepada Bapa Kurban Kristus yang paling sempurna.
Perjamuan Tuhan (Dominica Cena) adalah perjamuan yang diprakarsai oleh Tuhan sendiri, dan kita diundang sebagai tamu-Nya.
Pemecahan Roti (Fractio Panis) adalah nstilah tertua dari umat perdana (Kis 2:42), melambangkan kesatuan umat dalam satu tubuh Kristus.
Kurban Kudus (Sacrificium Sacrum) karena Ekaristi bukan hanya perjamuan, melainkan juga persembahan. Di setiap Misa, Kurban Kalvari dihadirkan kembali (re-presented) bukan diulangi, melainkan satu Kurban yang sama yang menembus waktu dan hadir di setiap altar.
Setiap kali kita merayakan Misa, kita tidak sedang membuat "ulang" kurban Kristus, melainkan kita masuk ke dalam waktu Allah di mana kurban itu terjadi. Kita duduk di meja yang sama dengan para Rasul 2.000 tahun lalu.
Pesta yang Membalikkan Sistem Dunia
Dalam perumpamaan Perjamuan Besar (Lukas 14:15-24), Allah mengundang mereka yang miskin, cacat, buta, dan lumpuh. Ketika para tamu yang diundang pertama satu per satu menolak undangan karena terlalu sibuk dengan ladang, ternak, dan urusan rumah tangga mereka, sang tuan rumah marah dan berkata kepada hambanya: "Pergilah segera ke jalan-jalan dan lorong-lorong kota dan bawalah ke mari orang-orang miskin dan orang-orang cacat dan orang-orang buta dan orang-orang lumpuh."Allah memenuhi meja perjamuan-Nya bukan dengan yang kaya dan berkuasa, melainkan dengan yang paling tidak diperhitungkan oleh sistem dunia. Inilah yang membuat perjamuan Kerajaan Allah sangat berbeda dari perjamuan dunia yang selalu dipenuhi oleh kalkulasi status sosial, kepentingan bisnis, dan manfaat timbal balik.
Di Perayaan Ekaristi, yang miskin dan yang kaya berlutut bersama. Yang berpendidikan tinggi dan yang tidak pernah mengenyam bangku sekolah menerima komuni yang sama. Yang berkuasa dan yang tidak berdaya menengadahkan tangan mereka dengan cara yang sama sebagai pengemis di hadapan kasih Allah yang berlimpah-limpah.
Tidak ada kelas di Perayaan Ekaristi. Tidak ada VIP. Tidak ada undangan khusus berdasarkan status. Hanya satu syarat: datang dalam keadaan yang layak, dengan hati yang sudah dibersihkan dan jiwa yang siap menerima.Ekaristi adalah pesta kesetaraan dalam kasih.
Prapaskah: Perjalanan Menuju Pesta Paskah
Masa Prapaskah adalah masa pengosongan diri agar kita siap diisi oleh "Santapan Surgawi". Puasa kita berujung pada Pesta. Setiap Misa dalam masa Prapaskah adalah persiapan batin agar saat Paskah tiba, perayaan itu menjadi perjumpaan pribadi dengan Kristus yang bangkit.Itulah mengapa setiap Misa Prapaskah adalah persiapan untuk pesta Paskah.
Selain itu, Gereja Katolik mengajarkan bahwa siapapun yang menyadari dirinya dalam keadaan dosa berat tidak boleh menerima komuni sebelum terlebih dahulu menerima Sakramen Tobat (KGK Art. 1457). Bukan karena Ekaristi hanya untuk orang sempurna dan memang tidak ada yang sempurna. Melainkan karena menghormati kehadiran Kristus yang nyata menuntut kita datang dalam kondisi yang sudah dipulihkan oleh rahmat.
Berpesta dalam kemurnian dan kebenaran berarti datang ke meja Ekaristi dengan hati yang sudah dibersihkan sudah dilewatkan melalui pertobatan, pengakuan dosa, dan penitensi. Datang bukan sekadar karena kebiasaan atau kewajiban, melainkan karena kerinduan yang tulus akan Dia yang hadir di sana.
Paulus menulis kepada jemaat di Korintus: "Karena itu marilah kita berpesta, bukan dengan ragi yang lama, bukan pula dengan ragi keburukan dan kejahatan, tetapi dengan roti yang tidak beragi, yaitu kemurnian dan kebenaran" (1 Korintus 5:8).
"Ragi yang lama" dalam konteks surat Paulus adalah dosa dan kehidupan lama yang belum dilepaskan. Ragi membuat adonan mengembang dan dosa, jika dibiarkan, akan terus membesar dan mengembang dalam hidup kita, meracuni seluruh adonan.
Malaikat berkata kepada Yohanes: "Tuliskanlah: Berbahagialah mereka yang diundang ke perjamuan kawin Anak Domba."
Inilah tujuan akhir dari seluruh perjalanan iman kita, bukan sekadar masuk surga sebagai tempat yang tenang, melainkan duduk di meja pesta bersama dengan Allah sendiri, dalam persekutuan yang sempurna kita sedang menerima "bekal perjalanan" (Viaticum) dan kepenuhan sukacita yang tidak akan pernah berakhir.
Paulus menulis kepada jemaat di Korintus: "Karena itu marilah kita berpesta, bukan dengan ragi yang lama, bukan pula dengan ragi keburukan dan kejahatan, tetapi dengan roti yang tidak beragi, yaitu kemurnian dan kebenaran" (1 Korintus 5:8).
"Ragi yang lama" dalam konteks surat Paulus adalah dosa dan kehidupan lama yang belum dilepaskan. Ragi membuat adonan mengembang dan dosa, jika dibiarkan, akan terus membesar dan mengembang dalam hidup kita, meracuni seluruh adonan.
Menuju Perjamuan Kawin Anak Domba
Setiap Ekaristi di bumi ini adalah pratanda dan cicipan dari perjamuan yang jauh lebih besar yang dijanjikan di surga yang dalam Kitab Wahyu disebut perjamuan kawin Anak Domba (Wahyu 19:9).Malaikat berkata kepada Yohanes: "Tuliskanlah: Berbahagialah mereka yang diundang ke perjamuan kawin Anak Domba."
Inilah tujuan akhir dari seluruh perjalanan iman kita, bukan sekadar masuk surga sebagai tempat yang tenang, melainkan duduk di meja pesta bersama dengan Allah sendiri, dalam persekutuan yang sempurna kita sedang menerima "bekal perjalanan" (Viaticum) dan kepenuhan sukacita yang tidak akan pernah berakhir.
Menyiapkan Hati Menyambut Paskah
Saat kamu hadir Perayaan Ekaristi dan menerima Perjamuan Kudus, pikirkan ini Ia yang kamu terima adalah Ia yang memasak sarapan untuk para murid di tepi danau. Ia yang hadir di tanganmu adalah Ia yang mengubah air menjadi anggur di Kana karena tidak mau pestanya berakhir memalukan. Ia yang tinggal di dalam dirimu adalah Ia yang duduk bersama para pendosa dan pemungut cukai dan tidak malu dipanggil "sahabat mereka."Ia tidak hanya mengundangmu ke pesta-Nya. Ia menjadi pesta itu sendiri yaitu Tubuh yang dipersembahkan, Darah yang ditumpahkan, Roti yang dipecah-pecahkan dan dibagikan, supaya kamu boleh kenyang dengan kenyang yang dunia tidak bisa berikan.
Ya Tuhan, terimalah kasih karenamu Engkau telah mengundangku dalam perjamuan-Mu. Aku makan bersama-Mu dalam perjamuan kudus ini bukan karena aku layak, melainkan karena kasih-Mu yang melampaui segala kelayakan.
Referensi Magisterium Gereja:
- Katekismus Gereja Katolik (KGK), Art. 1322-1419 — Sakramen Ekaristi secara lengkap
- KGK Art. 1374-1381 — Kehadiran nyata Kristus dalam Ekaristi (transubstansiasi)
- KGK Art. 1382-1390 — Perjamuan Paskah: menerima Tubuh dan Darah Kristus
- KGK Art. 1457 — Kewajiban pengakuan dosa sebelum komuni bagi yang dalam dosa berat
- Konsili Trente, Sesi XIII — Decretum de SS. Eucharistia (1551): transubstansiasi
- Paus Yohanes Paulus II, Ecclesia de Eucharistia (2003) — ensiklik tentang Ekaristi
- Paus Benediktus XVI, Sacramentum Caritatis (2007) — tentang Ekaristi sebagai sumber dan puncak kehidupan Gereja
- Santo Tomas Aquinas, Pange Lingua / Tantum Ergo — himne Ekaristi abad ke-13
- Konsili Vatikan II, Sacrosanctum Concilium, Art. 47 — Ekaristi sebagai puncak dan sumber kehidupan Kristiani
Referensi Magisterium Gereja:
- Katekismus Gereja Katolik (KGK), Art. 1322-1419 — Sakramen Ekaristi secara lengkap
- KGK Art. 1374-1381 — Kehadiran nyata Kristus dalam Ekaristi (transubstansiasi)
- KGK Art. 1382-1390 — Perjamuan Paskah: menerima Tubuh dan Darah Kristus
- KGK Art. 1457 — Kewajiban pengakuan dosa sebelum komuni bagi yang dalam dosa berat
- Konsili Trente, Sesi XIII — Decretum de SS. Eucharistia (1551): transubstansiasi
- Paus Yohanes Paulus II, Ecclesia de Eucharistia (2003) — ensiklik tentang Ekaristi
- Paus Benediktus XVI, Sacramentum Caritatis (2007) — tentang Ekaristi sebagai sumber dan puncak kehidupan Gereja
- Santo Tomas Aquinas, Pange Lingua / Tantum Ergo — himne Ekaristi abad ke-13
- Konsili Vatikan II, Sacrosanctum Concilium, Art. 47 — Ekaristi sebagai puncak dan sumber kehidupan Kristiani
.png)
Comments
Post a Comment