KERENDAHAN HATI: Kembali ke tanah, kembali kediri yang sesungguhnya
"Ia menurunkan orang-orang yang berkuasa dari takhtanya dan meninggikan orang-orang yang rendah." - Lukas 1:52
Ketika Abu Diletakkan di Atas Kepala
Setiap tahun, pada hari Rabu Abu, ribuan umat Katolik di seluruh dunia datang ke gereja untuk menerima sebuah tanda yang sangat tidak biasa yaitu abu yang dioleskan di dahi, disertai kata-kata yang terasa seperti hantaman yang lembut:"Ingatlah, kamu adalah debu dan kamu akan kembali menjadi debu."
Tidak ada agama lain yang memulai musim liturginya dengan pengingat akan kematian. Tidak ada pembukaan perayaan yang dimulai dengan mengakui kerapuhan. Tapi itulah cara Gereja kita memasuki Masa Prapaskah dengan segenggam abu di atas kepala, dan sebuah kebenaran yang tidak nyaman di dalam hati.
Dan dari gestur sederhana itulah seluruh tema kerendahan hati dimulai.
Kata humility atau kerendahan hati berasal dari bahasa Latin humus, yang berarti tanah. Dari akar kata yang sama lahirlah kata human (manusia) karena Allah menciptakan manusia dari debu tanah (Kejadian 2:7). Dan dari kata yang sama pula lahirlah kata humorous karena orang yang tidak menganggap dirinya terlalu serius bisa tertawa pada dirinya sendiri.
Jadi kerendahan hati memiliki akar yang indah artinya adalah menempatkan diri 'membumi' ke tanah yang mengingatkan kita pada sabda Tuhan, "Ingatlah bahwa kamu adalah debu, dan kamu akan kembali menjadi debu" (Kej 3:19).
Jadi ketika kita berbicara tentang kerendahan hati, kita berbicara tentang kembali ke tanah, kembali ke tempat asal kita dan kembali ke kesadaran tentang siapa kita sesungguhnya di hadapan Allah.
Bukan Kelemahan, Melainkan Kebenaran
Ada kesalahpahaman besar tentang kerendahan hati yang perlu diluruskan sejak awal.Kerendahan hati bukan berarti menghina diri sendiri. Bukan berarti menolak setiap pujian dengan berkata "ah, itu bukan apa-apa." Bukan berarti menampilkan wajah yang selalu tertunduk dan suara yang selalu berbisik. Dan tentu saja bukan berarti tidak punya ambisi atau tidak mau berprestasi.
Kerendahan hati yang sejati tidak bertentangan dengan keinginan yang sehat untuk mencapai kemajuan diri, baik dalam hal prestasi maupun pekerjaan. Orang yang rendah hati tidak suka pamer atau flexing. Ia sepenuhnya sadar bahwa tujuan hidupnya bukan untuk dikagumi dan dipuji orang, tetapi untuk melaksanakan tugas dan misi yang Tuhan percayakan kepadanya, demi kemuliaan Tuhan dan kebaikan sesamanya.
Kerendahan hati adalah hasil pengenalan akan diri sendiri dan akan Tuhan. Santo Thomas Aquinas mengatakan bahwa pengenalan akan diri sendiri bermula pada kesadaran bahwa segala yang baik pada kita datang dari Allah dan milik Allah, sedangkan segala yang jahat pada kita timbul dari kita sendiri.
Dengan kata lain bahwa kerendahan hati adalah kebenaran tentang dirimu sendiri yang tidak melebih-lebihkan yang positif, tidak mengingkari yang merupakan pemberian Allah, tidak menyembunyikan yang merupakan kelemahan dan dosamu. Melihat dirimu dengan jelas dengan mata yang sama seperti Allah melihatmu.
Itulah mengapa Santo Agustinus, ketika ditanya apakah tiga syarat untuk masuk surga, menjawab,"Yang pertama adalah kerendahan hati, yang kedua adalah kerendahan hati, dan yang ketiga adalah kerendahan hati." Bukan karena kerendahan hati lebih penting dari iman atau kasih melainkan karena tanpa kerendahan hati, semua kebajikan lainnya tidak bisa dibangun dengan kokoh.
Santo Thomas Aquinas mengatakan bahwa kerendahan hati memegang tempat pertama sebagai fondasi kebajikan: sebagaimana dalam pembangunan sebuah gedung, fondasinya harus mendahului tembok-tembok dan tiang-tiang penyangganya, sekalipun terbuat dari emas, demikian pula kerendahan hatilah yang harus ada terlebih dahulu.
Dosa Pertama: Kesombongan yang Ingin Menjadi Allah
Untuk memahami mengapa kerendahan hati begitu penting, kita harus memahami lawannya ialah kesombongan yang dalam iman kita menempati urutan pertama dari tujuh dosa mematikan.Kerendahan hati adalah lawan dari kesombongan yang menjadi dosa pertama dari manusia pertama. Kesombongan adalah sikap 'menolak' karunia Allah, seperti yang kita lihat pada kisah Adam dan Hawa (Kej 2:8-3:14), sedangkan kerendahan hati adalah sikap yang diperlukan untuk menerima karunia Allah.
Godaan ular kepada Hawa bukan terutama tentang buah yang terlarang. Godaan itu berbunyi: "Pada waktu kamu memakannya, kamu akan menjadi seperti Allah" (Kejadian 3:5). Itulah inti dari setiap kesombongan yaitu keinginan untuk menjadi pusat alam semesta, untuk tidak membutuhkan siapa pun, untuk menjadi tuhan bagi diri sendiri.
Dengan keangkuhan di dalam hati kita, sulit untuk mendengarkan karena kita mulai percaya bahwa kita adalah pusat alam semesta dan segala sesuatu yang lain berputar di sekitar kita.
Dan inilah yang sering terjadi dalam hidup kita bukan dalam bentuk yang dramatis dan terang-terangan, melainkan dalam bentuk yang halus dan sehari-hari. Memutuskan untuk menangani sebuah masalah sendirian tanpa meminta pertolongan. Menolak bantuan orang lain dalam mengerjakan sebuah tugas, untuk mengesankan bahwa kita tidak membutuhkan orang lain. Melakukan semuanya sendiri tanpa kehadiran dan pertolongan Allah, seolah-olah kita cukup.
Bila kita jujur memandang sikap-sikap itu apakah itu berbeda dari Adam dan Hawa yang ingin mandiri dari Allah?
Kenosis Kristus: Kerendahan Hati yang Paling Agung
Kita justru paling banyak belajar tentang kerendahan hati dari teladan Yesus sendiri.Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Filipi menuliskan Madah Kristus (Filipi 2:6-11). Dimana dia menantang para pembacanya untuk mengembangkan sikap rendah hati, lalu merangkum seluruh kisah Yesus:
Yesus tidak mempertahankan status keilahian-Nya sebagai sesuatu yang harus digenggam erat-erat. Ia yang adalah Allah yang mengosongkan diri-Nya (kenosis dalam bahasa Yunani), mengambil rupa seorang hamba, menjadi manusia. Dan bukan sekadar manusia yang terhormat melainkan manusia yang mati seperti penjahat di kayu salib. Mati dengan cara yang paling hina yang bisa dibayangkan oleh dunia Romawi kuno.
"Karena itu Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama" (Filipi 2:9).
Inilah hukum Kerajaan Allah yang membalikkan semua logika dunia tentang yang merendahkan diri akan ditinggikan. Bukan sebagai imbalan yang diperhitungkan melainkan sebagai konsekuensi alami dari cara kerja kasih Allah.
Yesus menggambarkan diri-Nya sendiri sebagai yang "lemah lembut dan rendah hati" (Matius 11:29) dan Ia adalah satu-satunya tokoh dalam seluruh sejarah manusia yang punya paling banyak alasan untuk tidak rendah hati, namun justru memilih jalan yang berlawanan dari semua orang.
Mencuci Kaki: Gestur yang Paling Berbicara
Dari semua tindakan Yesus yang menyatakan kerendahan hati-Nya, ada satu yang paling mengejutkan dan paling berbicara.Ketika murid-murid-Nya berkumpul untuk jamuan makan yang terakhir bersama dimana malam sebelum Ia ditangkap dan disalibkan Yesus mengambil kain lenan dan sebaskom air, lalu mencuci kaki mereka satu per satu. Mencuci kaki adalah tugas seorang budak paling hina dalam sebuah rumah tangga. Bahkan seorang murid Yahudi tidak diwajibkan mencuci kaki gurunya.
Tapi Sang Tuhan dan Guru mencuci kaki murid-murid-Nya. Dan kemudian Ia berkata: "Jadi jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamu pun wajib saling membasuh kakimu" (Yohanes 13:14).
Ironinya sangat jelas dan sangat dalam sekaligus Sang Juruselamat dunia merendahkan diri-Nya untuk mencuci kaki orang-orang yang diciptakan dari debu tanah. Kita, orang berdosa yang terbuat dari humus, dikasihi oleh Dia yang sama sekali tidak berdosa. Kita, yang tidak layak dikasihi, telah menjadi kekasih-Nya (Yeremia 31:3).
Kebenaran itu sudah sepatutnya merendahkan hati kita bukan karena kita dihina, melainkan karena kita ditinggikan oleh kasih yang tidak kita layakkan.
Abu dan Humus : Praktik Kerendahan Hati dalam Prapaskah
Hal-hal yang dipraktikkan selama Masa Prapaskah adalah praktik kerendahan hati yang sangat konkret: menyangkal diri, mengaku dosa, berpantang, berpuasa. Mengoleskan abu di dahi (Rabu Abu) yang pada dasarnya sudah sarat makna mengingatkan kita pada humus tempat kita berasal.Ini bukan self-flagellation atau hukuman diri. Ini adalah latihan untuk melihat diri kita dengan jujur tanpa topeng, tanpa pertahanan, tanpa ilusi tentang betapa baiknya kita. Seperti yang Thomas McKenzie tuliskan tentang "Perasaan bahwa saya tidak membutuhkan siapa pun, bahwa saya baik-baik saja dengan kekuatan saya sendiri, adalah kesombongan... Jika kita mau memandang diri sendiri dengan jujur, kita akan menemukan begitu banyak kesalahan, cacat, dosa, bahkan kejahatan. Kerendahan hati berarti kita mengakui realitas ini dan menyadari bahwa kita membutuhkan pertolongan."
Kesadaran tentang hal ini membuat kita sampai pada pengertian bahwa kita bukanlah apa-apa, dan Allah adalah segalanya. Kita orang berdosa, tetapi sangat dikasihi oleh-Nya. Keseimbangan antara kesadaran akan dosa kita dan kesadaran akan kasih Allah, membawa kita pada pengenalan akan diri kita yang sesungguhnya.
Dan dari keseimbangan itulah kerendahan hati yang dewasa tumbuh yang bukan kerendahan hati yang menghina diri, bukan pula kerendahan hati yang pura-pura kecil sambil diam-diam berharap dipuji. Melainkan kerendahan hati yang melihat dirinya dengan benar: seorang pendosa yang sangat dikasihi, seorang hamba yang sedang dalam perjalanan menuju tuan yang baik.
Bunda Maria sebagai Model Sempurna Kerendahan Hati
Tidak ada manusia yang pernah hidup yang lebih baik mengekspresikan kerendahan hati daripada Maria, Bunda Allah.Ketika malaikat Gabriel datang kepadanya dengan berita yang paling mengejutkan yang pernah diterima manusia mana pun bahwa ia akan mengandung Putra Allah, Maria tidak bereaksi dengan pertanyaan tentang kehormatan dan nama baiknya. Ia tidak bertanya apakah ia layak. Ia hanya berkata,"Aku ini adalah hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataanmu" (Lukas 1:38).
Kesediaan total. Penyerahan total. Itulah kerendahan hati yang sempurna.
Dan dalam Kidung Maria (Magnificat), ia menyanyikan apa yang terjadi ketika seseorang sungguh-sungguh merendahkan diri di hadapan Allah:
"Ia menurunkan orang-orang yang berkuasa dari takhtanya dan meninggikan orang-orang yang rendah" (Lukas 1:52).
Bunda Maria berkata dalam Kidungnya,"Yang Mahakuasa telah memberikanku karunia-karunia yang besar, dengan memandang kerendahan hamba-Nya, yakni, pengetahuan yang kumiliki tentang ketiadaan diriku sendiri."
Inilah hukum Ilahi yang tidak berubah, Allah mengasihi kerendahan hati. Bukan karena Ia ingin kita merasa kecil dan tidak berarti. Melainkan karena hati yang rendah adalah hati yang terbuka untuk menerima dan Allah ingin mencurahkan kasih dan rahmat-Nya ke dalam hati yang terbuka itu.
Sewaktu hati manusia penuh dengan dirinya sendiri, ia tidak dapat menerima karunia-karunia ilahi. Ia pertama-tama harus mengosongkan dirinya dengan pengetahuan akan ketiadaan dirinya sendiri. Allah mencurahkan rahmat dalam jiwa orang yang rendah hati, tetapi tidak demikian pada jiwa yang angkuh di mana rahmat hanya melewatinya.
Kerendahan Hati yang Berdampak, Bukan yang Pasif
Ada satu hal terakhir yang perlu kita pahami dengan jelas,kerendahan hati bukan pasivitas.Bunda Maria berkata ya kepada Gabriel dan kemudian ia bergerak dengan cepat menuju rumah Elisabet untuk melayani (Lukas 1:39). Kerendahan hati-Nya tidak membuatnya diam di tempat. Justru sebaliknya kerendahan hati membebaskannya untuk bergerak, karena ia tidak terbebani oleh ego yang perlu dilindungi atau nama baik yang perlu dijaga.
Dikuatkan oleh Santo Thomas Aquinas yang mengatakan bahwa kita membutuhkan keberanian untuk melakukan hal-hal besar, namun pada saat yang sama, kerendahan hati untuk menghargai hal-hal kecil.
Gereja memanggil kita pada kerendahan hati yang aktif dan berdampak, yang membuat kita berani berbuat besar untuk Allah dan masyarakat, karena kita tidak lagi sibuk memikirkan kehormatan dan pengakuan kita sendiri. Orang yang rendah hati adalah orang yang paling bebas untuk mengasihi karena ia tidak terikat oleh keharusan untuk terlihat baik di mata orang lain.
Menyiapkan Hati Menyambut Paskah
Di penghujung Prapaskah, kita merenungkan tindakan terakhir Yesus di muka bumi, Ia merendahkan diri untuk mencuci kaki murid-murid-Nya. Dan kemudian Ia merendahkan diri lebih jauh lagi sampai ke kayu salib.Dari ketinggian salib itu dalam ironi terbesar yang pernah ada, Allah yang merendahkan diri menjadi manusia, yang merendahkan diri menjadi hamba, yang merendahkan diri sampai mati, ditinggikan dalam kebangkitan yang tidak bisa dibatasi oleh kubur mana pun.
Itulah Paskah. Itulah janji bagi setiap jiwa yang mau belajar merendahkan diri dalam perjalanan 40 hari ini.
Pikirkanlah saat-saat ketika kamu memutuskan untuk melangkah sendiri, menolak bantuan orang lain, mengesankan bahwa kamu tidak membutuhkan siapapun. Mungkinkah itu adalah cara kamu melakukan hal yang sama dengan Allah yaitu mencoba melakukan semuanya sendiri tanpa kehadiran dan pertolongan-Nya? Mintalah kepada-Nya untuk membuka mata hatimu dan melihat sikap kemandirian itu sebagai penolakan untuk rendah hati. Berdoalah agar Ia mengerjakan perubahan di dalam hatimu.
"Yesus, yang lemah lembut dan rendah hati, jadikanlah hati kami seperti hati-Mu."
Referensi Magisterium & Tradisi:
- Katekismus Gereja Katolik (KGK), Art. 2559 - kerendahan hati sebagai dasar doa
- KGK Art. 1716 - Sabda Bahagia pertama: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah"
- Konsili Vatikan II, Lumen Gentium, Bab V - panggilan universal kepada kekudusan, dimulai dari kerendahan hati
- Santo Thomas Aquinas, Summa Theologiae II-II, Q. 161 - kerendahan hati sebagai fondasi semua kebajikan
- Santo Agustinus - "Tiga syarat untuk masuk surga: pertama kerendahan hati, kedua kerendahan hati, ketiga kerendahan hati"
- Santo Alfonsus Liguori, Risalah tentang Buah-buah Kerendahan Hati - rahmat Allah mengalir ke jiwa yang rendah hati
- Santo Josemaria Escriva "Semakin kecil dan miskin kita memandang diri kita sendiri dalam kerendahan hati yang sejati, semakin Tuhan akan menyediakan segalanya yang kurang pada kita"
- Paus Fransiskus, kerendahan hati dan keberanian sebagai dua sisi gaya pewartaan Kristiani
- Katolisitas.org ; "Apakah Kerendahan Hati?" dan "Kerendahan Hati: Dasar dan Jalan Menuju Kekudusan"
.png)
Comments
Post a Comment