KARUNIA: Setiap Orang Dikaruniai, Tidak Ada yang Dikecualikan

"Layanilah seorang akan yang lain, sesuai dengan karunia yang telah diperoleh tiap-tiap orang sebagai pengurus yang baik dari kasih karunia Allah." - 1 Petrus 4:10

Paroki yang Hidup dari Ketidaksempurnaan

Dikisahkan tentang sebuah paroki kecil di pinggiran kota yang baru saja mendapat pastor kepala baru. Pastor muda itu tiba tepat di saat yang tidak ideal yaitu tentang istrinya ah, bukan, ia seorang imam dan ia tiba tepat di saat dua orang staf paroki mengundurkan diri karena pindah kota, dan satu orang lagi sedang dirawat di rumah sakit.
Jadilah pastor muda itu satu-satunya yang mengurus segalanya: Misa harian, kunjungan orang sakit, persiapan katekese, koordinasi kelompok koor, hingga urusan administrasi gedung. Umat yang melihat kesibukannya tergerak dengan sendirinya. Tidak ada surat edaran. Tidak ada pengumuman resmi. Mereka hanya mulai datang dan mulai mengerjakan apa yang mereka bisa.
Seorang guru pensiun mulai mengajar katekese anak-anak. Seorang pengacara muda merapikan arsip dan dokumen paroki yang selama bertahun-tahun berantakan. Seorang ibu rumah tangga yang jago masak mulai mengorganisir makan siang bagi para petugas liturgi. Seorang remaja yang introvert tapi jago desain grafis mulai membuat buletin paroki yang cantik. Seorang mantan musisi yang sudah lama tidak aktif kembali melatih koor.
Beberapa tahun kemudian, ketika pastor itu ditanya oleh Uskup tentang apa rahasianya membangun paroki yang begitu hidup, ia menjawab dengan jujur: "Saya tidak membangunnya, Bapa Uskup. Saya hanya tidak punya cukup tenaga untuk melakukan semuanya sendiri dan umat yang luar biasa itu mengisi celah-celah yang saya tinggalkan dengan karunia-karunia mereka yang selama ini tersembunyi."
Itulah kisah tentang karunia, tentang bagaimana Allah sudah lebih dulu memberikannya kepada setiap anggota Tubuh Kristus, dan bagaimana seringkali karunia itu baru muncul ke permukaan ketika kebutuhan mendesak hadir dan ruang diberikan.


Charisma: Anugerah yang Berakar dari Kasih

Kata Yunani untuk "karunia" adalah charisma dan akar katanya adalah charis, yang berarti anugerah, kasih karunia. Dari akar kata yang sama lahirlah kata Eucharistia (ucapan syukur) adalah sebuah petunjuk bahwa karunia dan syukur tidak bisa dipisahkan.
Ketika Rasul Paulus menulis, "Kepada kita masing-masing telah dianugerahkan kasih karunia menurut ukuran pemberian Kristus" (Efesus 4:7), ia menegaskan sesuatu yang sering kita lupakan: tidak ada seorang pun anggota Tubuh Kristus yang tidak diberi karunia rohani. Tidak ada yang dikecualikan. Tidak ada yang menerima "jatah kosong."
Marva Dawn, seorang teolog, merumuskannya dengan indah: "Tidak seorang pun mendapat karunia lebih atau kurang daripada yang lain. Setiap pribadi dikaruniai dengan kepenuhan rahmat, meskipun rahmat itu berbeda-beda wujudnya bagi masing-masing orang. Meski demikian, rahmat itu tetap sama bagi semua."
Dalam tradisi kita, pemahaman ini sangat kaya. Konsili Vatikan II dalam Lumen Gentium Art. 12 menegaskan bahwa Roh Kudus membagikan karunia-karunia-Nya kepada seluruh umat beriman tidak hanya kepada para klerus, tidak hanya kepada mereka yang bergelar teologi, tidak hanya kepada yang sudah tua dan berpengalaman. "Roh Kudus tidak hanya menguduskan dan membimbing Umat Allah melalui sakramen-sakramen dan pelayanan-pelayanan, tetapi juga membagikan karunia-karunia-Nya kepada setiap orang sesuka-Nya."

Tiga Prinsip Karunia yang Alkitabiah

Prinsip Pertama: Karunia Selalu untuk Kepentingan Bersama

Paulus menulis dengan sangat jelas: "Kepada tiap-tiap orang dikaruniakan penyataan Roh untuk kepentingan bersama" (1 Korintus 12:7). Allah tidak pernah memberikan karunia hanya demi kepuasan pribadi seseorang. Karunia selalu dimaksudkan untuk komunitas untuk digunakan, dibagikan, dan dinikmati bersama seluruh Tubuh Kristus.

Karunia rohani dengan demikian dapat dipahami sebagai kesanggupan apa pun yang diberikan kepada seorang anggota Gereja, oleh Roh Kudus, demi manfaat seluruh Tubuh Kristus. Baik karunia mengajar, karunia melayani, karunia menguatkan orang yang putus asa, karunia mengelola administrasi, karunia seni dan musik, karunia kepemimpinan, maupun karunia doa syafaat. Semuanya memiliki tujuan yang sama: membangun Tubuh Kristus supaya semakin utuh dan semakin menyerupai Kristus.

Yesus sendiri menceritakan perumpamaan yang sangat tajam tentang ini. Tiga hamba masing-masing menerima sejumlah talenta dari tuan mereka yang akan berangkat jauh. Dua hamba mengembangkannya dengan rajin. Satu hamba mengubur miliknya karena takut. Ketika tuan mereka pulang, yang rajin diberi hadiah dan yang mengubur miliknya dihukum keras (Matius 25:14-30).

Kita mungkin bertanya: mengapa tuan itu begitu keras kepada hamba ketiga? Bukankah jumlah yang dikembalikan tetap sama? Jawabannya ada pada sifat karunia itu sendiri: uang fisik yang dikubur tetap berwujud uang, tetapi karunia rohani yang dikubur akan hilang selamanya. Karunia yang tidak digunakan bukan hanya mubazir bagi komunitas ia layu dan mati dalam diri sang pemegangnya sendiri.

Oleh karena itu, jangan pernah mengubur karunia rohanimu. Jika ada pelayanan di paroki atau komunitas yang memungkinkan karuniamu digunakan maka bergabunglah. Jika tidak ada maka mulailah. Dan jika belum ada wadahnya sama sekali maka gunakan saja karuniamu untuk memberkati orang di sekitarmu, tanpa menunggu struktur formal yang mengizinkannya. Karunia rohani tidak harus dipakai dalam pelayanan formal saja. Karunia apa pun yang digunakan adalah pelayanan itu sendiri.

Prinsip Kedua: Karunia yang Digunakan Membuat Komunitas Bertumbuh

Paulus melanjutkan: "Ialah yang memberikan baik rasul-rasul maupun nabi-nabi, baik pemberita-pemberita Injil maupun gembala-gembala dan pengajar-pengajar, untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus" (Efesus 4:11-12).

Perhatikan strukturnya: Allah memberikan pemimpin-pemimpin seperti uskup, imam, diakon, katekis, pemimpin komunitas bukan untuk mengerjakan semua pelayanan sendiri, melainkan untuk memperlengkapi seluruh umat agar mereka bisa mengerjakan pekerjaan pelayanan tersebut. Para gembala dipanggil untuk menjadi perlengkapan, bukan mesin yang mengerjakan segalanya seorang diri. Inilah pemahaman yang sangat penting dalam ekklesiologi Katolik pasca-Vatikan II: Gereja adalah Tubuh Kristus di mana setiap anggota memiliki peran, bukan organisasi di mana hierarki bekerja sementara awam menjadi penonton. Lumen Gentium menegaskan bahwa seluruh umat beriman yakni hierarki dan awam bersama-sama memiliki panggilan untuk berpartisipasi aktif dalam misi Gereja.

Ketika setiap anggota komunitas menggunakan karunianya, bukan hanya jumlah kegiatan yang bertambah melainkan kualitas persekutuan yang mendal
am. Komunitas yang bertumbuh bukan yang menambah staf dan program, melainkan yang mendorong setiap anggotanya untuk menghargai dan mengembangkan karunia yang mereka terima dari Allah.

Prinsip Ketiga: Karunia Harus Dihormati oleh Seluruh Komunitas

Ada tujuan di balik setiap karunia rohani yang Allah berikan. Para pemimpin pastoral dipanggil untuk peka mengenali karya Roh Kudus dalam diri setiap umat-Nya dan memperlengkapi masing-masing dari mereka untuk mengembangkan karunianya.

Hierarki gereja dipanggil untuk menjadi gembala yang mengenal domba-dombanya, bukan manajer yang sekadar mengelola sumber daya manusia demi efisiensi organisasi. Pertanyaan yang harus selalu diajukan bukan "Siapa yang bisa mengisi posisi yang kosong ini?" melainkan "Karunia apa yang sudah Allah tempatkan di antara komunitas kita, dan bagaimana kita bisa menganyam semuanya menjadi satu permadani yang menyatakan kemuliaan-Nya?"

Setiap paroki, setiap komunitas basis, setiap kelompok kategorial memiliki komposisi karunia yang unik dan berbeda. Tidak ada satu pun paroki yang persis sama dengan paroki lain karena Allah menempatkan kombinasi karunia yang berbeda di setiap komunitas. Itulah mengapa meniru persis "model sukses" paroki lain seringkali tidak berhasil karena Allah tidak membuat gereja-Nya berdasarkan cetak biru yang seragam.

Karunia dalam Terang Prapaskah

Apa hubungan karunia dengan Masa Prapaskah?
Sangat erat. Prapaskah bukan hanya waktu untuk melihat apa yang buruk dalam diri kita seperti dosa, kelemahan, kegagalan. Prapaskah juga adalah waktu untuk mensyukuri apa yang baik yang Allah sudah tanamkan dalam diri kita yaitu karunia, talenta, kemampuan yang berasal dari Roh Kudus.
Rasa rendah hati yang palsu sering berbunyi,"Aku tidak punya karunia apa-apa. Biarlah yang lain yang melayani." Tapi itu bukan kerendahan hati, itu adalah penguburan talenta yang Yesus peringatkan dalam perumpamaannya. Kerendahan hati yang sejati adalah yang mengakui dengan jujur,"Allah sudah memberiku karunia dan aku bertanggung jawab atas karunia itu."*
Masa Prapaskah mengundang kita untuk bertanya dengan jujur:
1.Karunia apa yang sudah Allah berikan kepadaku?
2. Apakah karunia itu sudah aku gunakan atau masih terkubur?
3. Bagaimana karunia itu bisa menjadi berkat bagi komunitas parokiku, keluargaku, lingkungan kerjaku?
Jika kamu tidak tahu karuniamu, tanyalah kepada saudara-saudari seiman yang mengenalmu. Orang-orang yang hidup bersama kita, yang melihat kita dalam keseharian, sering mengenali karunia kita jauh lebih baik daripada kita sendiri. Mereka adalah cermin yang jujur.

Karunia dan Ekaristi: Satu Akar Kata yang Tidak Kebetulan

Ada sesuatu yang indah dalam bahasa Yunani: kata charisma (karunia) dan Eucharistia (Ekaristi, ucapan syukur) berasal dari akar kata yang sama charis (anugerah).
Ini bukan kebetulan linguistik. Ini adalah petunjuk teologis yang mendalam yaitu karunia dan Ekaristi saling terhubung. Di Ekaristi, kita menerima Anugerah terbesar yang pernah Allah berikanTubuh dan Darah Kristus sendiri. Dan dari ekaristi, kita diutus untuk pergi dan menjadi anugerah bagi sesama dengan karunia yang sudah kita terima.
Kata penutup Misa "Ite, missa est" sering diterjemahkan sebagai "Pergilah, Misa sudah selesai." Tapi makna aslinya lebih kaya, "Pergilah, kamu diutus." Dari Perayaan Ekaristi, kita diutus kembali ke dunia untuk menjadi Tubuh Kristus yang hidup dengan seluruh karunia yang sudah Roh Kudus tempatkan dalam diri kita masing-masing.

Menyiapkan Hati Menyambut Paskah

Paskah adalah perayaan kebangkitan dan kebangkitan Kristus yang menjamin kebangkitan seluruh Tubuh-Nya. Dan Tubuh Kristus yang bangkit adalah Tubuh yang utuh di mana setiap anggota berfungsi, setiap karunia digunakan, setiap orang menemukan tempatnya.
Bayangkanlah Gereja yang akan dipersembahkan Kristus kepada Bapa pada akhir zaman bukan sekumpulan individu-individu yang masing-masing menyelamatkan dirinya sendiri, melainkan satu Tubuh yang utuh seperti padang rumput indah di musim semi, yang dihiasi ribuan bunga bermekaran dengan warna dan bentuk yang berbeda-beda, tapi semuanya mekar dan bersama-sama menyatakan kemuliaan Sang Pencipta.
Itulah Gereja yang sedang kita bangun yaitu satu karunia pada satu waktu, di satu komunitas, oleh satu orang yang mau berkata ya kepada Roh Kudus.

Jangan kubur karuniamu.


Ya Tuhan, terima kasih karena Engkau tidak pernah menciptakanku kosong tanpa karunia. Tunjukkan kepadaku karunia apa yang sudah Engkau tanamkan dalam diriku. Dan berilah aku keberanian untuk tidak menguburnya melainkan menggunakannya untuk membangun Tubuh Kristus dan memberkati sesama.*



Referensi Magisterium:

- Konsili Vatikan II, Lumen Gentium, Art. 12 - karunia Roh Kudus bagi seluruh umat beriman
- Konsili Vatikan II, Apostolicam Actuositatem - panggilan awam untuk pelayanan aktif
- KGK Art. 798-801 - Roh Kudus pembagi karunia (charismata) bagi Gereja
- KGK Art. 1937 - keberagaman karunia sebagai kehendak Allah demi solidaritas
- Paus Fransiskus, Evangelii Gaudium, Art. 28 - setiap anggota Gereja dipanggil untuk menjadi misionaris
- Lam Kuo Yung, Hidup Bersama: Menghayati Kembali Arti Hidup sebagai Komunitas Keluarga Allah - tiga prinsip karunia rohani


Comments

Popular posts from this blog

Apa Itu TalentDNA? Panduan Lengkap untuk Mengenal Potensi Anda

Antara Dua Detak: Saat Hidup Diuji, Iman Dihidupkan

Perfect Match & TalentDNA: Rahasia Menemukan Pasangan Serasi Lewat Talenta Unik