Come and See : Sebuah Refleksi atas Serial The Chosen
Bayangkan sebuah serial televisi yang awalnya tidak dilirik oleh satu pun studio besar Hollywood. Didanai oleh para penonton biasa melalui penggalangan dana daring, disutradarai oleh seorang pembuat film evangelis, diperankan oleh aktor-aktor yang sebagian besar belum dikenal luas dan kini telah ditonton oleh lebih dari 280 juta orang di seluruh dunia.
Sepertiga dari mereka bukan orang beragama.
Itulah The Chosen. Dan fenomenanya jauh melampaui sekadar urusan hiburan.
"Saya seperti terhipnotis ketika menonton film ini, tidak mau berhenti menonton dan kepingin terus melanjutkan ke seri berikutnya. Iman saya betul-betul diteguhkan. Belum pernah saya mengalami pengalaman seperti ini, termasuk ketika saya menonton film The Passion pun saya tidak seheboh ketika menonton The Chosen."
Pengalaman itu bukan milik sang romo saja. Di seluruh dunia, orang-orang dari berbagai latar belakang, baik Katolik, Protestan, Muslim, bahkan yang tidak beragama, mengaku tidak bisa berhenti menonton. Dallas Jenkins, sang sutradara, pernah berkata: "Tayangan ini mengejutkan Anda. Kebanyakan orang tidak menontonnya saat pertama kali mendengarnya. Tapi begitu mereka menontonnya, mereka tidak bisa berhenti membicarakannya."
Apa yang membuat serial ini begitu berbeda?
The Chosen memilih jalan yang berbeda dan itu yang mengubah segalanya.
Jonathan Roumie, aktor Katolik yang memerankan Yesus sejak 2019, menjelaskan pendekatannya: "Melihat kemanusiaan-Nya ditampilkan secara nyata telah menjadi pengalaman yang membuka mata bagi banyak orang. Dan ini selalu tentang mencari keseimbangan antara keilahian Kristus dan kemanusiaan-Nya."
Di layar, kita melihat Yesus yang tertawa bersama murid-murid-Nya. Yesus yang kelelahan. Yesus yang marah karena tersinggung oleh kemunafikan. Yesus yang menangis. Dan Yesus yang dengan cara yang paling sederhana yang memanggil nama seseorang, menatap matanya, dan berkata: "Ikutlah Aku" mengubah seluruh hidup orang itu.
Bukan Yesus dari gambar tempel di dinding kelas. Melainkan Yesus yang hidup, bisa didekat, dan sungguh-sungguh hadir.
Season 1; "Datang dan Lihatlah"
Musim pertama memperkenalkan kita pada tokoh-tokoh yang akan menjadi inti cerita: Maria Magdalena yang berjuang melawan kekuatan kegelapan yang mencengkeramnya, Simon Petrus yang tenggelam dalam utang dan kekecewaan, Matius sang pemungut cukai yang terisolasi dari komunitasnya sendiri. Lalu Yesus hadir bukan dengan pidato besar, melainkan dengan menyebut nama mereka satu per satu.
Inilah kekuatan terbesar season pertama: The Chosen mengingatkan kita bahwa Yesus tidak memanggil orang-orang yang sudah sempurna. Ia memanggil orang-orang yang patah, yang tersisih, yang dianggap tidak layak dan mengubah mereka.
Season 2; "Ketenaran yang Membawa Tantangan"
Nama Yesus semakin dikenal. Orang-orang datang dari mana-mana. Para murid mulai memahami bahwa mengikuti Yesus berarti memasuki sesuatu yang jauh lebih besar dari yang mereka bayangkan dan jauh lebih rumit. Musim ini berakhir dengan Khotbah di Bukit: salah satu momen paling emosional dalam keseluruhan serial, di mana kata-kata yang selama ini kita hafal tiba-tiba terasa hidup dan menghunjam.
Setelah selesai syuting, tim The Chosen bahkan melakukan perjalanan ke Roma dan beraudiensi dengan Paus Leo XIV untuk menyerahkan sebuah kotak kayu yang terbuat dari salah satu salib yang digunakan selama syuting, berisi paku-paku penyaliban, mahkota duri, dan potongan jubah berlumur darah. Sebuah momen yang luar biasa: karya seni yang lahir dari iman, dihadapkan kepada pemimpin tertinggi Gereja Katolik sedunia.
Season 6 dijadwalkan tayang pada 2027, diikuti oleh season 7 yang akan mengisahkan Kebangkitan pada 2028.
Jawabannya sederhana: kebenaran tidak memiliki denominasi.
The Chosen setia pada narasi Injil. Ia tidak mendistorsi teologi demi sensasi. Sebaliknya, ia melakukan sesuatu yang jauh lebih berharga: ia membuat firman Allah terasa hidup.
Romo Handoko menulis: "Maka, tidak salah jika film ini bisa menyita perhatian jutaan pemirsa, bukan hanya mereka yang Kristen/Katolik, tapi juga dari penganut agama lain."
Bagi umat Katolik khususnya, The Chosen memberikan beberapa hadiah yang sangat berharga:
Ekaristi yang baru terlihat.
Sepertiga dari mereka bukan orang beragama.
Itulah The Chosen. Dan fenomenanya jauh melampaui sekadar urusan hiburan.
Sebuah Serial yang Tidak Bisa Berhenti Ditonton
Romo Agustinus Handoko MSC, pastor komunitas Katolik Indonesia di Sydney, pernah menulis dengan jujur tentang pengalamannya pertama kali menonton The Chosen:"Saya seperti terhipnotis ketika menonton film ini, tidak mau berhenti menonton dan kepingin terus melanjutkan ke seri berikutnya. Iman saya betul-betul diteguhkan. Belum pernah saya mengalami pengalaman seperti ini, termasuk ketika saya menonton film The Passion pun saya tidak seheboh ketika menonton The Chosen."
Pengalaman itu bukan milik sang romo saja. Di seluruh dunia, orang-orang dari berbagai latar belakang, baik Katolik, Protestan, Muslim, bahkan yang tidak beragama, mengaku tidak bisa berhenti menonton. Dallas Jenkins, sang sutradara, pernah berkata: "Tayangan ini mengejutkan Anda. Kebanyakan orang tidak menontonnya saat pertama kali mendengarnya. Tapi begitu mereka menontonnya, mereka tidak bisa berhenti membicarakannya."
Apa yang membuat serial ini begitu berbeda?
Yesus yang Pernah Kita Kenal tapi Belum Pernah Kita Lihat
Selama berabad-abad, Yesus dalam film dan seni rupa sering digambarkan dengan cara yang sama: anggun, jauh, tak terjangkau. Rambutnya indah, matanya teduh, dan Ia tampak seperti tidak pernah berkeringat atau tertawa terbahak-bahak.The Chosen memilih jalan yang berbeda dan itu yang mengubah segalanya.
Jonathan Roumie, aktor Katolik yang memerankan Yesus sejak 2019, menjelaskan pendekatannya: "Melihat kemanusiaan-Nya ditampilkan secara nyata telah menjadi pengalaman yang membuka mata bagi banyak orang. Dan ini selalu tentang mencari keseimbangan antara keilahian Kristus dan kemanusiaan-Nya."
Di layar, kita melihat Yesus yang tertawa bersama murid-murid-Nya. Yesus yang kelelahan. Yesus yang marah karena tersinggung oleh kemunafikan. Yesus yang menangis. Dan Yesus yang dengan cara yang paling sederhana yang memanggil nama seseorang, menatap matanya, dan berkata: "Ikutlah Aku" mengubah seluruh hidup orang itu.
Bukan Yesus dari gambar tempel di dinding kelas. Melainkan Yesus yang hidup, bisa didekat, dan sungguh-sungguh hadir.
Perjalanan 7 Season: Dari Panggilan hingga Kebangkitan
The Chosen direncanakan terdiri dari tujuh musim, sebuah ambisi besar yang mencakup seluruh perjalanan pelayanan Yesus dari awal pemanggilan murid hingga kebangkitan-Nya.Season 1; "Datang dan Lihatlah"
Musim pertama memperkenalkan kita pada tokoh-tokoh yang akan menjadi inti cerita: Maria Magdalena yang berjuang melawan kekuatan kegelapan yang mencengkeramnya, Simon Petrus yang tenggelam dalam utang dan kekecewaan, Matius sang pemungut cukai yang terisolasi dari komunitasnya sendiri. Lalu Yesus hadir bukan dengan pidato besar, melainkan dengan menyebut nama mereka satu per satu.
Inilah kekuatan terbesar season pertama: The Chosen mengingatkan kita bahwa Yesus tidak memanggil orang-orang yang sudah sempurna. Ia memanggil orang-orang yang patah, yang tersisih, yang dianggap tidak layak dan mengubah mereka.
Season 2; "Ketenaran yang Membawa Tantangan"
Nama Yesus semakin dikenal. Orang-orang datang dari mana-mana. Para murid mulai memahami bahwa mengikuti Yesus berarti memasuki sesuatu yang jauh lebih besar dari yang mereka bayangkan dan jauh lebih rumit. Musim ini berakhir dengan Khotbah di Bukit: salah satu momen paling emosional dalam keseluruhan serial, di mana kata-kata yang selama ini kita hafal tiba-tiba terasa hidup dan menghunjam.
Season 3 & 4; "Mukjizat dan Konfrontasi"
Pelayanan Yesus semakin intensif. Mukjizat-mukjizat terjadi namun bukan tanpa biaya. Konflik dengan para pemimpin agama semakin memanas. Para murid bergumul dengan keraguan mereka sendiri. Dan kita, sebagai penonton, mulai merasakan bahwa badai sedang mendekati.
Season 4 ditutup dengan momen yang sudah kita ketahui tapi tetap membuat hati berdebar: Yesus memasuki Yerusalem di atas keledai, disambut dengan sorak-sorai Hosana, sementara kita tahu apa yang akan terjadi beberapa hari kemudian.
Season 5; "The Last Supper: Malam yang Mengubah Dunia"
Dirilis di bioskop pada Maret 2025 dengan judul The Chosen: Last Supper dan meraup lebih dari $11,49 juta atau Rp 192 Milyar lebih dalam akhir pekan pembukaan, musim kelima mencakup Pekan Suci dari Minggu Palma hingga Perjamuan Terakhir.
Roumie menggambarkan season ini sebagai yang paling menantang secara emosional: "Ada banyak yang belum pernah orang lihat yaitu sisi-sisi emosional Yesus, intensitas emosi-emosi itu yang belum pernah benar-benar terekam di layar sebelumnya."
Jenkins menulis tentang adegan Perjamuan Terakhir: "Ini 13 orang dalam satu ruangan yang menghadapi rasa sakit, penyerahan diri, kesedihan, harapan, dan pengkhianatan sekaligus dan kami akan mengambil waktu untuk itu."
Bagi jutaan penonton Katolik, menonton momen ini ketika Yesus mengambil roti, mengucap syukur, memecahnya dan berkata "inilah tubuh-Ku" terasa seperti menyaksikan asal-muasal Ekaristi bukan sebagai ritual yang sudah lama dikenal, melainkan sebagai peristiwa nyata yang penuh dengan bobot dan emosi yang luar biasa.
Pelayanan Yesus semakin intensif. Mukjizat-mukjizat terjadi namun bukan tanpa biaya. Konflik dengan para pemimpin agama semakin memanas. Para murid bergumul dengan keraguan mereka sendiri. Dan kita, sebagai penonton, mulai merasakan bahwa badai sedang mendekati.
Season 4 ditutup dengan momen yang sudah kita ketahui tapi tetap membuat hati berdebar: Yesus memasuki Yerusalem di atas keledai, disambut dengan sorak-sorai Hosana, sementara kita tahu apa yang akan terjadi beberapa hari kemudian.
Season 5; "The Last Supper: Malam yang Mengubah Dunia"
Dirilis di bioskop pada Maret 2025 dengan judul The Chosen: Last Supper dan meraup lebih dari $11,49 juta atau Rp 192 Milyar lebih dalam akhir pekan pembukaan, musim kelima mencakup Pekan Suci dari Minggu Palma hingga Perjamuan Terakhir.
Roumie menggambarkan season ini sebagai yang paling menantang secara emosional: "Ada banyak yang belum pernah orang lihat yaitu sisi-sisi emosional Yesus, intensitas emosi-emosi itu yang belum pernah benar-benar terekam di layar sebelumnya."
Jenkins menulis tentang adegan Perjamuan Terakhir: "Ini 13 orang dalam satu ruangan yang menghadapi rasa sakit, penyerahan diri, kesedihan, harapan, dan pengkhianatan sekaligus dan kami akan mengambil waktu untuk itu."
Bagi jutaan penonton Katolik, menonton momen ini ketika Yesus mengambil roti, mengucap syukur, memecahnya dan berkata "inilah tubuh-Ku" terasa seperti menyaksikan asal-muasal Ekaristi bukan sebagai ritual yang sudah lama dikenal, melainkan sebagai peristiwa nyata yang penuh dengan bobot dan emosi yang luar biasa.
Season 6; "Salib: Awal dari Segalanya"
The Chosen season 6 sedang dalam proses produksi dan Jenkins tidak menyembunyikan besarnya skala musim ini:
"Season 6 adalah musim terbesar yang pernah kami buat tanpa tanding. Ini memerlukan waktu terlama untuk difilmkan. Efek visual, penerjemahannya yaitu semuanya membutuhkan dua hingga tiga kali lebih lama dari musim manapun sebelumnya."
Season 6 akan menampilkan penyaliban Yesus yang oleh banyak orang Kristen dianggap sebagai peristiwa terbesar dalam seluruh Alkitab. Adegan penyaliban difilmkan di Matera, Italia yaitu kota batu bersejarah di Italia selatan yang telah menjadi latar film-film tentang Yesus selama beberapa dekade.
Roumie telah menyebut proses syuting ini sebagai "hal paling sulit yang pernah saya lakukan": "Ini adalah peran paling sulit, dalam musim paling sulit, dengan tuntutan fisik yang diharapkan... saya tidak tahu ada hal lain yang bisa lebih menantang bagiku sebagai seorang aktor."
The Chosen season 6 sedang dalam proses produksi dan Jenkins tidak menyembunyikan besarnya skala musim ini:
"Season 6 adalah musim terbesar yang pernah kami buat tanpa tanding. Ini memerlukan waktu terlama untuk difilmkan. Efek visual, penerjemahannya yaitu semuanya membutuhkan dua hingga tiga kali lebih lama dari musim manapun sebelumnya."
Season 6 akan menampilkan penyaliban Yesus yang oleh banyak orang Kristen dianggap sebagai peristiwa terbesar dalam seluruh Alkitab. Adegan penyaliban difilmkan di Matera, Italia yaitu kota batu bersejarah di Italia selatan yang telah menjadi latar film-film tentang Yesus selama beberapa dekade.
Roumie telah menyebut proses syuting ini sebagai "hal paling sulit yang pernah saya lakukan": "Ini adalah peran paling sulit, dalam musim paling sulit, dengan tuntutan fisik yang diharapkan... saya tidak tahu ada hal lain yang bisa lebih menantang bagiku sebagai seorang aktor."
Setelah selesai syuting, tim The Chosen bahkan melakukan perjalanan ke Roma dan beraudiensi dengan Paus Leo XIV untuk menyerahkan sebuah kotak kayu yang terbuat dari salah satu salib yang digunakan selama syuting, berisi paku-paku penyaliban, mahkota duri, dan potongan jubah berlumur darah. Sebuah momen yang luar biasa: karya seni yang lahir dari iman, dihadapkan kepada pemimpin tertinggi Gereja Katolik sedunia.
Season 6 dijadwalkan tayang pada 2027, diikuti oleh season 7 yang akan mengisahkan Kebangkitan pada 2028.
Mengapa The Chosen Begitu Kuat untuk Iman Katolik?
Banyak yang mungkin bertanya: mengapa seorang Katolik harus menonton serial yang dibuat oleh seorang sutradara evangelis?Jawabannya sederhana: kebenaran tidak memiliki denominasi.
The Chosen setia pada narasi Injil. Ia tidak mendistorsi teologi demi sensasi. Sebaliknya, ia melakukan sesuatu yang jauh lebih berharga: ia membuat firman Allah terasa hidup.
Romo Handoko menulis: "Maka, tidak salah jika film ini bisa menyita perhatian jutaan pemirsa, bukan hanya mereka yang Kristen/Katolik, tapi juga dari penganut agama lain."
Bagi umat Katolik khususnya, The Chosen memberikan beberapa hadiah yang sangat berharga:
Ekaristi yang baru terlihat.
Menyaksikan adegan Perjamuan Terakhir dalam The Chosen bisa mengubah cara kita hadir dalam Misa. Kita tidak lagi sekadar menjalani ritual yang sudah hafal dimana kita melihat dari mana ritual itu berasal, dan betapa berat harga yang dibayarkan di baliknya.
Para Kudus yang menjadi manusia.
Para Kudus yang menjadi manusia.
Petrus yang mudah panik. Matius yang kesepian. Maria Magdalena yang berjuang dengan masa lalunya. Tiba-tiba para tokoh yang selama ini hanya nama dalam Alkitab menjadi orang-orang nyata dengan kelemahan yang mirip dengan kelemahan kita dan itu menjadikan iman mereka jauh lebih menginspirasi.
Yesus yang bisa didekati.
Yesus yang bisa didekati.
Ini mungkin hadiah terbesar dari serial ini. Roumie berkata bahwa harapannya hanya satu: "Agar setiap orang bisa semakin dekat dengan Yesus. Hidup hanya menjadi lebih baik jika ada Yesus di dalamnya."
Hasilnya? The Chosen menjadi proyek crowdfunding terbesar sepanjang sejarah film dan televisi.
Kini, dengan lebih dari 280 juta penonton global dimana sepertiga di antaranya bukan orang beragama The Chosen telah menjadi sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar serial televisi. Ia telah menjadi sebuah gerakan.
Jenkins pernah mengatakan tentang cita-cita terdalamnya: "Saya berharap setelah menonton The Chosen, terutama semua tujuh season-nya, kamu mengenal dan mencintai Yesus lebih dari sebelumnya."
Tonton bukan hanya sebagai hiburan. Tontonlah sambil bertanya: Seperti murid yang mana aku ini? Apakah aku seperti Petrus yang berani tapi mudah goyah? Seperti Matius yang merasa tidak layak? Seperti Maria Magdalena yang terus bergumul dengan masa lalunya?
Dan yang paling penting: Di manakah Yesus memanggil namaku dalam kisah ini?
Karena pada akhirnya, The Chosen bukan hanya tentang para murid dua ribu tahun yang lalu. Ia tentang kita yakni orang-orang yang patah, yang mencari, yang ingin dekat dengan Seseorang yang benar-benar mengenal kita.
Dan Ia sudah memanggil.
Serial yang Lahir dari Iman, Ditopang oleh Doa
Salah satu hal yang paling memukau tentang The Chosen adalah bagaimana ia lahir ke dunia. Tidak ada studio besar yang mendanainya. Tidak ada jaringan televisi besar yang membelinya. Ia didanai oleh orang-orang biasa yang percaya bahwa kisah ini perlu diceritakan dengan cara yang baru.Hasilnya? The Chosen menjadi proyek crowdfunding terbesar sepanjang sejarah film dan televisi.
Kini, dengan lebih dari 280 juta penonton global dimana sepertiga di antaranya bukan orang beragama The Chosen telah menjadi sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar serial televisi. Ia telah menjadi sebuah gerakan.
Jenkins pernah mengatakan tentang cita-cita terdalamnya: "Saya berharap setelah menonton The Chosen, terutama semua tujuh season-nya, kamu mengenal dan mencintai Yesus lebih dari sebelumnya."
Untuk Masa Prapaskah: Tontonlah dengan Hati yang Terbuka
Jika ada satu rekomendasi yang bisa diberikan untuk Masa Prapaskah ini, maka itu adalah: tonton The Chosen, dan biarlah ia menjadi bagian dari perjalanan rohanimu.Tonton bukan hanya sebagai hiburan. Tontonlah sambil bertanya: Seperti murid yang mana aku ini? Apakah aku seperti Petrus yang berani tapi mudah goyah? Seperti Matius yang merasa tidak layak? Seperti Maria Magdalena yang terus bergumul dengan masa lalunya?
Dan yang paling penting: Di manakah Yesus memanggil namaku dalam kisah ini?
Karena pada akhirnya, The Chosen bukan hanya tentang para murid dua ribu tahun yang lalu. Ia tentang kita yakni orang-orang yang patah, yang mencari, yang ingin dekat dengan Seseorang yang benar-benar mengenal kita.
Dan Ia sudah memanggil.
"Come and see.""Marilah dan kamu akan melihatnya." - Yohanes 1:39
Informasi Menonton:
The Chosen tersedia di Netflix dan Amazon Prime Video (Season 1–5), . Serial ini tersedia dalam Bahasa Indonesia.
Season 6 : menampilkan penyaliban Kristus, dijadwalkan tayang 2027.
Season 7 : kebangkitan, dijadwalkan tayang 2028.
Referensi:
- Komsoskam.com — *"Bintang The Chosen: Hidup Hanya Menjadi Lebih Baik Jika Ada Yesus di Dalamnya"* (Juni 2025)
- CIC Sydney — *"Refleksi atas Film The Chosen"* oleh Romo Agustinus Handoko MSC (Juni 2023)
- Sesawi.net — Refleksi episode pemanggilan Matius
- Wikipedia — *The Chosen (TV series)*, diperbarui Februari 2026
- Collider — *"After a 2 Year Delay, The Chosen Season 6 Gets an Update of Biblical Proportions"*
- Deseret News — *"Dallas Jenkins is more excited for The Chosen Season 5 than any other season"*
- Movie Guide — *"Dallas Jenkins on The Chosen's Authentic Portrayal of Crucifixion"* (Juni 2025)
- TV Insider — *"The Chosen Season 5: Dallas Jenkins, Jonathan Roumie Preview the Last Supper"*
- IMDB Rating: ⭐ 9.1/10
The Chosen tersedia di Netflix dan Amazon Prime Video (Season 1–5), . Serial ini tersedia dalam Bahasa Indonesia.
Season 6 : menampilkan penyaliban Kristus, dijadwalkan tayang 2027.
Season 7 : kebangkitan, dijadwalkan tayang 2028.
Referensi:
- Komsoskam.com — *"Bintang The Chosen: Hidup Hanya Menjadi Lebih Baik Jika Ada Yesus di Dalamnya"* (Juni 2025)
- CIC Sydney — *"Refleksi atas Film The Chosen"* oleh Romo Agustinus Handoko MSC (Juni 2023)
- Sesawi.net — Refleksi episode pemanggilan Matius
- Wikipedia — *The Chosen (TV series)*, diperbarui Februari 2026
- Collider — *"After a 2 Year Delay, The Chosen Season 6 Gets an Update of Biblical Proportions"*
- Deseret News — *"Dallas Jenkins is more excited for The Chosen Season 5 than any other season"*
- Movie Guide — *"Dallas Jenkins on The Chosen's Authentic Portrayal of Crucifixion"* (Juni 2025)
- TV Insider — *"The Chosen Season 5: Dallas Jenkins, Jonathan Roumie Preview the Last Supper"*
- IMDB Rating: ⭐ 9.1/10
.png)


.jpg)
.jpg)
Comments
Post a Comment