DAGING: Medan Perang yang Menjadi Bait Allah

"Sebab keinginan daging berlawanan dengan keinginan Roh dan keinginan Roh berlawanan dengan keinginan daging." - Galatia 5:17

Sebuah Pegulat yang Tidak Pernah Berhenti Bertanding

Ada seorang biarawan tua di sebuah biara pegunungan yang setiap pagi bangun pukul empat untuk ibadat Laudes (ibadat pagi). Suatu hari, seorang novis muda bertanya kepadanya: "Romo, sudah berapa puluh tahun Romo menjalani hidup ini. Apakah pada akhirnya tubuh menjadi lebih mudah diajak taat?"
Biarawan itu tersenyum, lalu menjawab pelan: "Anakku, tubuh ini seperti seekor kuda yang kuat. Selama puluhan tahun aku sudah belajar bagaimana menungganginya. Ia tidak lagi bisa menjatuhkan aku tetapi ia belum pernah berhenti mencoba."
Sang novis diam sejenak. "Lalu apa yang membuat Romo terus bertahan?"
Biarawan itu menjawab: "Bukan kekuatanku sendiri. Melainkan karena aku tahu bahwa kuda ini dengan segala kekuatannya yang belum pernah berhenti mencoba diciptakan oleh Allah yang sama yang juga menciptakan jiwaku. Dan Allah itu menjadi kuda juga, supaya Ia tahu persis apa yang aku rasakan."
Itulah misteri terbesar dari seluruh sejarah keselamatan: Allah menjadi daging dan dengan itu, daging manusia tidak pernah lagi bisa dianggap remeh.

Basar, Sarx, dan Pergumulan yang Jujur

Kata "daging" disebutkan ratusan kali dalam Alkitab dan telah mengalami perkembangan makna yang menarik sepanjang Perjanjian Lama hingga Perjanjian Baru.
Dalam bahasa Ibrani, kata basar bisa merujuk kepada daging binatang, tetapi paling sering dipakai untuk mengacu kepada tubuh manusia dan dari sana, kepada keseluruhan keberadaan manusia yang fana dan terbatas. Ketika Nabi Yesaya mewartakan kabar tentang pembebasan dari pembuangan di Babel, ia berkata: "Seluruh umat manusia [basar] akan melihatnya bersama-sama" (Yesaya 40:5). Kata basar di sini berarti seluruh umat manusia tanpa terkecuali yang kuat dan yang lemah, yang kaya dan yang miskin.
Sedangkan di Mazmur 78:39 mengungkapkan belas kasihan Allah dengan cara yang sangat menyentuh yakni "Ia ingat bahwa mereka itu daging, angin yang berlalu, yang tidak akan kembali." Di sini basar berbicara tentang kerapuhan manusiawi kita adalah makhluk yang fana, sementara, rentan. Dan justru karena Allah mengingat kerapuhan itu, Ia penuh belas kasihan.
Sementara dalam Perjanjian Baru, kata Yunani sarx mewarisi makna yang sama tetapi Rasul Paulus mengembangkannya ke dimensi baru yang lebih dalam. Paulus memakai sarx untuk menggambarkan pergumulan rohani yang dihadapi seluruh umat manusia yakni kecenderungan dalam diri kita yang terus-menerus menarik kita menjauh dari kehendak Allah dan ke arah keinginan diri yang tidak terkendali.
"Sebab keinginan daging [sarx] berlawanan dengan keinginan Roh dan keinginan Roh berlawanan dengan keinginan daging (karena keduanya bertentangan) sehingga kamu setiap kali tidak melakukan apa yang kamu kehendaki" (Galatia 5:17).
Penting untuk dipahami menurut kaidah Katolik: Paulus tidak mengatakan bahwa tubuh fisik itu jahat. Allah menciptakan tubuh dan melihatnya "sungguh amat baik" (Kej 1:31). Yang dimaksud Paulus dengan "keinginan daging" adalah konkupisensi (concupiscentia) yaitu kecenderungan dalam diri kita yang telah terluka oleh dosa asal, yang terus menarik kita menjauh dari Allah menuju pemuasan diri yang egois. Masalahnya bukan pada tubuh kita, melainkan pada siapa yang memegang kendali atas tubuh tersebut.

Caro Salutis Est; Daging adalah Engsel Keselamatan

Di sinila iman Katolik berdiri dengan suatu keyakinan yang kokoh berani yakni tubuh bukanlah penjara bagi jiwa. 
Tertulianus, salah seorang Bapa Gereja terbesar, menulis sebuah kalimat yang menjadi fondasi antropologi kita, Caro salutis est cardo - daging adalah engsel keselamatan. Atau dalam ungkapan yang lebih sering dikutip: "Caro salutis est" - daging adalah jalan keselamatan.
Mengapa demikian? Karena keselematan dikerjakan melalui daging;
1. Inkarnasi. "Firman itu telah menjadi manusia [sarx] dan diam di antara kita" (Yohanes 1:14). Allah menyelamatkan kita bukan dengan "sihir" dari jauh, tetapi dengan mengambil tubuh manusia.
2. Penebusan: Yesus menderita, mati, dan bangkit dengan tubuh yang nyata.
3. Kebangkitan Badan: Kita tidak menantikan surga sebagai "roh tanpa wujud". Kita menantikan kebangkitan badan di akhir zaman, di mana daging kita akan dimuliakan seperti tubuh kebangkitan Kristus.

Ekaristi: Santapan dari Daging yang Dimuliakan

Jika Inkarnasi adalah Allah yang mengambil daging, maka Ekaristi adalah Allah yang memberikan Daging-Nya sebagai makanan. Dalam Yohanes 6, Yesus menegaskan realitas ini: "Daging-Ku adalah benar-benar makanan" (Yoh 6:55).
Ekaristi adalah daging Kristus yang menjadi santapan rohani kita bukan karena tubuh kita tidak penting, melainkan justru karena tubuh kita penting. Allah tidak hanya ingin menyentuh jiwa kita. Ia ingin masuk ke dalam seluruh keberadaan kita termasuk daging kita melalui Tubuh dan Darah-Nya yang kita terima dalam komuni.
Santo Ignatius dari Antiokhia, martir abad pertama yang merupakan murid langsung Rasul Yohanes, menyebut Ekaristi sebagai "pharmakon athanasias"- obat keabadian. Jadi ditegaskan saat kita menyambut komuni, kita menerima kekuatan ilahi untuk membantu roh kita menguasai "daging" yang rapuh. Allah ingin menguduskan kita seutuhnya baik jiwa dan raga.

Matiraga: Mendisiplinkan Kuda, Bukan Membenci Tubuh

Kembali kepada pergumulan Paulus tentang sarx dan kepada biarawan tua dengan kudanya yang kuat.
Karena daging itu penting dan memiliki martabat yang tinggi, maka mendisiplinkannya adalah tindakan kasih, bukan penghinaan. Iman kita menyebutnya sebagai matiraga (mortificatio carnis-pematiragaan daging).
Matiraga sering disalahpahami sebagai kebencian terhadap tubuh. Padahal justru sebaliknya: matiraga adalah tindakan melatih tubuh agar menjadi instrumen yang layak bagi Roh Kudus, bukan sumber kebencian diri. Kita tidak memukuli kuda itu akan tetapi kita melatihnya supaya ia bisa berlari pada arah yang tepat.
Santo Paulus sendiri memberikan gambaran yang sangat atletis: "Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak" (1 Korintus 9:27). Kata Yunani yang dipakai adalah hupopiazo - secara harfiah berarti memukul tepat di bawah mata, gambaran dari tinju. Paulus tidak membenci tubuhnya. Ia melatihnya keras seperti seorang atlet profesional.
Tiga bentuk matiraga praktis:
1. Puasa dan Pantang: Melatih kehendak untuk berkata "tidak" pada keinginan fisik yang sah (makanan), agar kita punya kekuatan untuk berkata "tidak" pada dosa.
2. Berjaga-jaga (Doa Malam): Melawan kelelahan daging untuk bersatu dengan Kristus di Getsemani. "Roh memang penurut, tetapi daging lemah" (Mat 26:41).
3. Pelayanan Kasih: Memakai tubuh untuk melayani sesama meski sedang lelah. Ini adalah bentuk matiraga yang menghidupkan kasih.
Yang membuat matiraga kita berbeda dari asketisme umum adalah motivasinya: matiraga bukan untuk mencapai pencerahan pribadi, bukan untuk mendapatkan pahala yang menebus dosa, dan bukan karena tubuh itu jahat. Matiraga kita adalah partisipasi dalam sengsara Kristus yaitu ikut menanggung dalam tubuh kita apa yang ditanggung Kristus dalam tubuh-Nya, sebagai ungkapan cinta dan solidaritas.
"Sekarang aku bersukacita bahwa aku boleh menderita karena kamu, dan menggenapkan dalam tubuhku apa yang kurang pada penderitaan Kristus, untuk tubuh-Nya, yaitu gereja" (Kolose 1:24).

Menjadi Bait Allah yang Utuh

Tujuan Masa Prapaskah bukan untuk melarikan diri dari kenyataan fisik, melainkan untuk menyerahkan kembali kendali kepada Roh Kudus. Ketika kita mendisiplinkan "daging" kita melalui doa, puasa, dan derma, kita sedang mengubah "medan perang" di dalam diri kita menjadi Bait Allah yang kudus.
"Bukan kehendak-ku, melainkan kehendak-Mu yang terjadi" (Lukas 22:42). Inilah kalimat matiraga yang paling agung. Ketika kita mampu mengendalikan keinginan daging kita, kita sebenarnya sedang membebaskan diri kita untuk mencintai Allah dan sesama dengan lebih sungguh.

Ya Allah Bapa, aku tahu betapa mudahnya kedaginganku dan keinginan-keinginan jasmaniku mengambil alih hidupku. Berilah aku kendali atas keinginan-keinginan tersebut agar aku dapat lebih berfokus kepada-Mu. Jadikanlah tubuhku bait Roh Kudus-Mu bukan penjara yang mengurung jiwa, melainkan instrumen yang melayani kasih-Mu di dunia ini.


Referensi Magisterium & Tradisi:

- Katekismus Gereja Katolik (KGK), Art. 362-368 — tubuh dan jiwa manusia sebagai kesatuan
- KGK Art. 990-1004 — kebangkitan daging sebagai dogma iman
- KGK Art. 2015 — jalan menuju kesempurnaan melalui matiraga
- Tertulianus, De Resurrectione Carnis-Caro salutis est cardo
- Santo Ignatius dari Antiokhia, Surat kepada Jemaat Efesus - Ekaristi sebagai pharmakon athanasias
- Konsili Vatikan II, Gaudium et Spes, Art. 14-18 - martabat tubuh manusia
- Paus Yohanes Paulus II, Teologi Tubuh (Theology of the Body, 1979-1984) - tubuh sebagai sakramen pribadi

Comments

Popular posts from this blog

Apa Itu TalentDNA? Panduan Lengkap untuk Mengenal Potensi Anda

Antara Dua Detak: Saat Hidup Diuji, Iman Dihidupkan

Perfect Match & TalentDNA: Rahasia Menemukan Pasangan Serasi Lewat Talenta Unik