Kedalaman di Balik Angka Empat Puluh: Sebuah Perjalanan Menuju Otentisitas Diri

“Ingatlah, jangan kamu melakukan kewajiban agamamu di hadapan orang supaya dilihat mereka, karena jika demikian, kamu tidak beroleh upah dari Bapamu yang di sorga. - Matius 6:1

Dalam psikologi, kita mengenal istilah liminal space yaitu sebuah ruang transisi di mana kita tidak lagi berada di masa lalu, namun belum sampai di masa depan. Di dalam Alkitab, ruang ini sering kali dipersonifikasikan melalui angka 40. Angka ini bukan sekadar durasi kronologis, melainkan sebuah simbol kematangan, proses pembersihan, dan ujian integritas diri.

Mengapa harus 40 hari? Jika kita menilik sejarah, Nuh melewati air bah selama 40 hari, bangsa Israel mengembara 40 tahun, dan Yesus berpuasa 40 hari di padang gurun. Secara psikologis, masa-masa ini adalah periode dekonstruksi perjumpaan pribadi.

Untuk membangun sesuatu yang baru, ego manusia sering kali harus "diruntuhkan" terlebih dahulu melalui kesunyian dan keterbatasan. Di padang gurun, tidak ada tepuk tangan, tidak ada status sosial, dan tidak ada pengalihan perhatian. Yang ada hanyalah kita dan suara hati kita yang paling jujur.


Godaan "Panggung" dan Jebakan Validasi

Menariknya, saat kita merenungkan Matius 4 (tentang pencobaan di padang gurun) dan menyandingkannya dengan nasihat Yesus dalam bacaan hari ini di kitab Matius 6:1-6, 16-18, kita menemukan satu benang merah psikologis yang kuat yakni Kebutuhan akan validasi.

Yesus mengingatkan agar kita tidak melakukan kewajiban agama (seperti memberi sedekah, berdoa, atau berpuasa) di depan orang supaya dilihat. Secara psikologis, ini adalah peringatan tentang performative spirituality (spiritualitas yang bersifat panggung) artinya merujuk pada kondisi psikologis di mana seseorang melakukan praktik keagamaan atau moral bukan demi hubungan batin dengan Sang Pencipta, melainkan untuk membangun citra diri di mata orang lain. 

Kemaren di gereja, saya melihat beberapa umat yang mulai melakukan foto estetis setelah menerima abu didahinya lalu diunggah ke media sosial daripada merenungkan maknanya dilain sisi aku merasa lebih "suci" atau "lebih dalam" dibandingkan orang itu yang praktiknya tidak terlihat sehebat kita. 

Secara mental, spiritualitas performatif itu melelahkan. Mengapa? Karena kita harus terus-menerus mempertahankan "citra diri" itu akibatnya apa? Jika berdoa hanya agar dianggap saleh, kita akan menjadi hampa saat bener-bener sendirian atau jika pelayanan hanya untuk dipuji, kita akan mudah tersinggung atau marah saat kontribusi kita tidak diakui. 

Hubungan Padang Gurun dan Kayu Salib

Refleksi ini membawa kita pada sebuah paralel yang dahsyat antara peristiwa di awal pelayanan Yesus dan akhir hayat-Nya. Di padang gurun, Iblis membujuk: "Jika Engkau Anak Allah, jatuhkanlah diri-Mu... malaikat akan menjaga-Mu." Kemudian, di atas kayu salib, orang-orang mengejek: "Jika Engkau Anak Allah, turunlah dari salib itu!"

Keduanya adalah godaan untuk menggunakan "kekuatan" demi menyelamatkan diri sendiri dan mencari pengakuan instan. Namun, Yesus memilih untuk tetap tinggal. Mengapa? Karena kemenangan sejati bukan terletak pada kemampuan kita meloloskan diri dari penderitaan, melainkan pada keteguhan kita untuk tetap setia pada tujuan yang lebih besar, meskipun dalam kesunyian dan rasa sakit.

Di masa Prapaskah atau masa refleksi saat ini, cobalah tanyakan pada lubuk hati yang paling dalam:
1. Motivasi Tersembunyi: Apakah kebaikan yang aku lakukan hari ini didorong oleh ketulusan, ataukah aku sedang "bermain peran" agar dianggap orang baik/suci?
2. Penerimaan Terhadap "Padang Gurun": Apakah aku sedang marah karena merasa terjebak dalam masa sulit yang tak kunjung usai? Mungkinkah ini adalah "40 hari"-ku untuk membuang ego yang berlebihan?
3. Keheningan Kamar: Kapan terakhir kali aku berbicara dengan Tuhan (atau dengan diriku sendiri) tanpa topeng, tanpa kata-kata yang diatur, dan tanpa keinginan untuk dipuji?

Menyepi bukan berarti melarikan diri atau gashlighting. Justru dalam kesunyian kamar yang tertutup, kita sedang menghancurkan berhala-berhala dalam diri kita yakni sebagaimana Yesus menang atas godaan untuk "pamer" kuasa, kita pun diajak untuk menang atas ego kita sendiri. Karena pada akhirnya, upah yang sejati bukanlah tepuk tangan dunia, melainkan kedamaian yang diberikan Bapa yang melihat apa yang tersembunyi.

Afirmasi Diri

"Aku tidak perlu membuktikan apa pun kepada dunia untuk menjadi berharga. Kehadiranku sudah cukup, dan perjuanganku yang paling sunyi sekalipun terlihat oleh Dia yang mengasihiku tanpa syarat. 

Hari ini, aku memilih untuk melepaskan beban pencitraan dan keinginan mencari Validasi. Aku mengizinkan diriku untuk menjadi rapuh di hadapan Tuhan, karena di dalam kejujuran itulah kekuatanku yang sejati sedang dibentuk. Aku percaya bahwa 'padang gurun' ini bukanlah tempat pembuangan, melainkan tempat persiapanku untuk sesuatu yang lebih besar."


"Adonai Lifanai, Ve-Ani Elekh" Tuhan di hadapanku, dan aku akan berjalan (Ul 31:8)


Comments

Popular posts from this blog

Apa Itu TalentDNA? Panduan Lengkap untuk Mengenal Potensi Anda

Antara Dua Detak: Saat Hidup Diuji, Iman Dihidupkan

Perfect Match & TalentDNA: Rahasia Menemukan Pasangan Serasi Lewat Talenta Unik