MERATAP
Berapa lama lagi, Tuhan, Kaulupakan aku terus-menerus?Berapa lama lagi, Kausembunyikan wajah-Mu terhadap aku?Berapa lama lagi aku harus menaruh kekhawatiran dalam diriku,dan bersedih hati sepanjang hari?Berapa lama lagi musuhku meninggikan diri atasku?
Kitab-kitab Mazmur dan para nabi sering kita temukan ratapan-ratapan yang sangat indah. Mazmur 13:2-3 adalah contoh klasik dari ratapan pribadi. Daud memulai dengan empat kali pertanyaan "Berapa lama lagi?" secara berturut-turut untuk menunjukkan kedalaman penderitaannya. Jika kita lihat dari kata ratapan dalam bahasa Ibrani untuk nyanyian atau lantunan, jadi di dalam Kitab Suci, ratapan umat merupakan nyanyian kesedihan atau dukacita.
Seni itu telah lama hilang karena sering kali kita lebih suka melihat sisi yang terang saja. Lebih dari satu abad yang lalu, pengajaran tentang "hidup yang berkemenangan" menjadi marak di gereja-gereja. Jujur saja, banyak orang diajarkan untuk menyembunyikan masalah mereka karena ada "kemenangan di dalam Yesus". Bahkan sekarang masih beredar rupa-rupa pengajaran yang menempatkan pengejaran kesuksesan dan kenyamanan di atas kebenaran yang sejati tentang hidup kita. Ironisnya bahkan menjadi nama gereja, komunitas gereja, maupun brand mobil china. Mereka berkata,"Jika engkau mengungkapkan rasa sakit atau kekecewaan, itu tandanya engkau kurang beriman.". Jadi orang diajarkan untuk berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja.
Salah? Memang tidak salah apabila kita percaya bahwa Tuhan akan memulihkan situasi-situasi hidup kita, akan tetapi Alkitab juga mengajak kita untuk meratap dengan jujur ketika hal-hal buruk terjadi. Alkitab mengajar kita untuk langsung membawa segala tangisan dan keluh kesah kita kepada Tuhan.
Dengan kata lain, meratap adalah seni alkitabiah untuk melantunkan kesedihan hati kepada Tuhan kita.
Prapaskah adalah musim ratapan penuh harapan
Masa Prapaskah sejatinya melampaui sekadar rutinitas mengurangi porsi makan atau menambah frekuensi doa, karena ia merupakan musim ratapan yang sarat akan pengharapan. Selama empat puluh hari yang membentang dari Rabu Abu hingga menjelang Misa Perjamuan Tuhan di Kamis Putih, umat diajak masuk ke dalam Retret Agung yang gema maknanya selaras dengan sejarah keselamatan yaitu mulai dari empat puluh hari puasa Yesus di padang gurun, empat puluh tahun pengembaraan Israel, hingga masa penantian Musa di Gunung Sinai. Meskipun secara lahiriah masa ini ditandai dengan laku puasa, doa, dan amal kasih, secara batiniah Prapaskah adalah sebuah masa ratapan rohani di mana jiwa dibersihkan melalui penyesalan yang jujur, guna mempersiapkan ruang bagi sukacita kebangkitan yang akan datang.
Dalam tradisi Katolik, ratapan bukanlah sekadar luapan emosi yang dramatis, melainkan sebuah manifestasi dari pertobatan sejati atau contritio cordis yaitu penyesalan mendalam yang lahir murni dari kasih kepada Allah. Hal ini ditegaskan melalui seruan Nabi Yoel yang mengajak umat untuk mengoyakkan hati dan bukan pakaian (Yoel 2:13), menandakan bahwa ratapan yang dikehendaki adalah hancurnya hati karena kesadaran akan dosa di hadapan kekudusan-Nya.
Kedalaman dukacita ini selaras dengan sabda Yesus dalam Beatitudo (Ucapan Bahagia), "Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur," (Matius 5:4) di mana istilah Yunani pentheo merujuk pada ratapan batin yang sangat personal. Dengan demikian, ratapan sejati menjadi jembatan spiritual yang meruntuhkan keangkuhan diri, sehingga pintu penghiburan ilahi dapat terbuka lebar bagi jiwa yang rindu akan pemulihan.
Dalam konteks Prapaskah, setiap ratapan yang kita naikkan (baik itu penyesalan atas dosa pribadi, keprihatinan atas dosa sosial, dukacita atas luka-luka di dalam komunitas dan gereja, maupun empati terhadap penderitaan dunia) menjadi sebuah tindakan liturgis yang menyatukan kita dengan ratapan Kristus sendiri. Kita tidak meratap sendirian di ruang hampa, melainkan masuk ke dalam misteri sengsara-Nya yang menyelamatkan. Dengan demikian, ratapan bukanlah keputusasaan yang buntu, melainkan sebuah persatuan rohani dengan Sang Penebus yang melalui air mata-Nya sendiri sedang membasuh dan memulihkan dunia.
Ratapan Kristus di atas salib yang mengutip Mazmur 22:2, "Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?", bukanlah sebuah ungkapan keputusasaan yang hampa, melainkan puncak dari kejujuran rohani di hadapan Bapa. Dalam dimensi pastoral, ayat ini menjadi legitimasi ilahi bahwa berteriak dalam kesakitan dan merasa ditinggalkan adalah bagian yang sah dari iman. Bagi banyak umat saat ini yang terjepit dalam jerat burnout rohani, luka batin dalam keluarga, trauma sosial yang mendalam, hingga beban dosa struktural yang menindas, Mazmur 22:2 menawarkan ruang untuk tidak berpura-pura kuat. Tanpa ruang untuk meratap secara jujur seperti Kristus, iman kita berisiko menjadi superfisial dan dangkal, hanya menyentuh permukaan tanpa pernah menyembuhkan akar luka yang paling dalam.
Masa Prapaskah hadir sebagai "ruang aman" yang disediakan oleh Gereja bagi setiap jiwa untuk mengakui luka-lukanya tanpa rasa takut akan penghakiman. Di sinilah umat diajak untuk berhenti sejenak dari tuntutan duniawi dan berani menangis di hadapan Allah, membawa seluruh kepedihan hidup ke kaki salib. Ratapan dalam konteks pastoral ini menjadi proses penyembuhan yang efektif karena ia mengizinkan kebenaran yang pahit untuk muncul ke permukaan dan diakui keberadaannya. Dengan menerima kerapuhan diri, seseorang justru dimungkinkan untuk berdamai dengan masa lalu dan membuka hati seluas-luasnya guna menerima curahan belas kasih Allah yang memulihkan.
Sekali lagi ditegaskan bahwa penyembuhan sejati melalui ratapan ini menemukan dasarnya pada janji Yesus, "Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur" (Matius 5:4). Kebahagiaan yang dimaksud di sini bukanlah euforia sementara, melainkan ketenangan batin yang lahir karena penghiburan itu datang langsung dari Allah, Sang Sumber Kehidupan, dan bukan dari ilusi duniawi yang semu. Dengan meratap secara jujur selama Prapaskah, kita sedang melepaskan pegangan pada penghiburan palsu dan membiarkan tangan Tuhan sendiri yang menghapus air mata kita. Ratapan, pada akhirnya, adalah jalan pulang menuju pelukan Allah yang mengubah duka menjadi sukacita kebangkitan yang kekal.
Ya Tuhan Allah, aku sering mengeluh tentang ini: _______________________,
Namun, aku tau itu semua berpulang kepadaku. Karena itulah, aku memohon pengampunan-Mu atas segala sesuatu yang membuatku berdosa kepada-Mu.
.png)
Comments
Post a Comment