Bertemu dengan Diri yang Hilang
Duduk di sudut kamar yang sama untuk kesekian kalinya, menatap ponsel yang tak kunjung berdering dari rumah sakit. Operasi bypass jantung yang seharusnya terjadi minggu lalu, lalu kemarin, kini tertunda lagi. "Ruangan operasi diprioritaskan untuk pasien lebih gawat," kata suster dengan suara lembut yang justru terasa seperti pukulan. Di usia 47 tahun, aku merasa seperti pesawat yang terus-menerus diminta mengudara di atas bandara, sementara bahan bakar hampir habis.
Setelah membaca kitab Mazmur 103 dalam kesendirian ini, bayangan itu datang lagi. Seorang bocah berkaos polo putih dengan handband hitam dipergelangan tangannya, menghampiriku duduk bersila di kursi sebelahku, dengan bola basket favoritnya tergeletak di pangkuan. Dialah aku yang berusia sepuluh tahun, yang dulu menghabiskan sore dengan mengejar bola di lapangan tanah, percaya bahwa tubuhnya adalah mesin yang tak akan pernah lelah.
Setelah membaca kitab Mazmur 103 dalam kesendirian ini, bayangan itu datang lagi. Seorang bocah berkaos polo putih dengan handband hitam dipergelangan tangannya, menghampiriku duduk bersila di kursi sebelahku, dengan bola basket favoritnya tergeletak di pangkuan. Dialah aku yang berusia sepuluh tahun, yang dulu menghabiskan sore dengan mengejar bola di lapangan tanah, percaya bahwa tubuhnya adalah mesin yang tak akan pernah lelah.
Kepada Bocah Itu, dengan Bola Basketnya
"Apa yang akan kukatakan padamu, jika kita benar-benar bertemu?"
Pertanyaan itu menggantung di ruangan kamar ini, lebih nyata daripada janji operasiku.
Pertama-tama, aku ingin memelukmu. Aku ingin berterima kasih untuk semua sore di mana kau berlari sampai kehabisan napas, untuk setiap lompatan yang membuatmu merasa bisa menyentuh langit. Kau mengajarkanku tentang passion, tentang kegigihan. Tapi maafkan aku, karena telah melupakan pelajaranmu yang paling berharga: kegembiraan berada dalam tubuh yang bergerak bebas.
Lihatlah kita sekarang. Dokter berkata arteri koroner kita tersumbat, jalan-jalan raya yang seharusnya mengalirkan kehidupan kini macet oleh pilihan-pilihan yang kita kira "dewasa": kerja lembur, stres yang dikunyah jadi kebiasaan, makanan cepat saji yang dianggap efisien.
Kau dulu makan untuk bermain. Aku sekarang "bermain" (bekerja) untuk bisa makan. Dan lihat hasilnya.
Antara Kamar Rumah dan Lapangan Basket
Dua kali operasi ditunda. Di satu sisi, ada kelegaan kecil yaitu pisau itu masih jauh. Di sisi lain, ada frustasi bahkan untuk sakit parah pun, kita harus mengantri. Tapi dalam ketidakpastian ini, dialog dengan bocah kecil itu justru menjadi jelas.
"Dulu kau juga pernah antri untuk masuk tim inti basket," bisikku padanya. "Kau tidak marah, kau justru berlatih lebih giat."
Bocah itu tersenyum, mendrible bola imajinernya. "Ya, karena yang penting bukan kapan kita main, tapi bagaimana kita main saat giliran tiba."
Apakah ini yang disebut "emotional sobriety" sebuah kemampuan untuk tetap tenang saat hidup tidak sesuai rencana? Bocah itu mengajarkanku itu dulu, saat ia kalah dalam pertandingan penting tapi bangkit esok harinya untuk berlatih lagi.
Spiritualitas dalam Ruang Tunggu
Menunggu operasi jantung di usia yang seharusnya masih produktif adalah pengalaman spiritual yang kasar. Ini memaksa kita berhadapan dengan mortalitas, dengan makna hidup yang sesungguhnya.
Aku ingat pengalaman spiritual sederhana yang pernah kumiliki dulu yaitu perasaan menyatu dengan alam saat bola melayang sempurna ke ring. Itu adalah meditasi dalam gerakan. Kapan terakhir kali aku merasakan hal seperti itu? Ketika menandatangani kontrak? Ketika melihat angka di rekening bank?
Bocah kecil itu datang untuk mengingatkanku bahwa jiwa butuh lebih dari sekadar angka-angka. Butuh kekaguman. Butuh keheningan yang produktif. Butuh keyakinan bahwa ada "sesuatu yang lebih besar" yang sedang bekerja, bahkan ketika ruang operasi tidak kunjung kosong.
Jembatan antara Bocah dan Pasien Bypass
Dalam ruang tunggu yang penuh ketidakpastian ini, aku akhirnya memahami di mana pertemuan sejati antara psikologi dan spiritualitas terjadi. Psikologi datang dengan analisisnya yang tajam bahwa ia membantuku membongkar teka-teki hidupku yang berujung pada kondisi ini. Ia menunjukkan bagaimana pola pikir "harus sempurna" dan mekanisme coping dengan cara melarikan diri ke dalam kerja, secara perlahan menggerogoti pembuluh darah yang kini tersumbat. Ini semua adalah penjelasan logis yang kubutuhkan.
Namun, penjelasan saja tidak cukup menenangkan jiwa yang gelisah menanti pisau bedah. Di sinilah spiritualitas mengambil perannya. Tanpa menyangkal penjelasan psikologi, ia memberiku sebuah kacamata yang berbeda bahwa cara untuk melihat proses yang kacau ini bukan sebagai hukuman, tetapi sebagai sebuah perjalanan yang bermakna. Ia membisikkan keyakinan bahwa ada irama yang lebih besar sedang bekerja, bahkan dalam penundaan yang membuat frustrasi ini.
Dan di tengah-tengah kedua kutub inilah, sang bocah kecil dengan bola basketnya hadir sebagai jembatan yang hidup. Dialah bukti nyata bahwa di balik semua analisis psikologis dan pencarian makna spiritual, ada sebuah inti diri yang tetap utuh. Jiwa yang polos itu tidak terbebani oleh teori, tetapi juga tidak hanya pasrah tapi dia hanya ada, dengan keyakinan bawaan bahwa bermain dan bergembira adalah hakikat hidup. Melalui matanya yang berbinar, psikologi dan spiritualitas bukan lagi konsep yang bertolak belakang, melainkan dua sahabat yang sedang bekerja sama untuk mengembalikanku ke jalan yang telah lama ia tunjukkan yakni jalan kesederhanaan, gairah, dan kepercayaan bahwa setiap momen, bahkan yang menakutkan sekalipun, adalah bagian dari permainan yang indah.
"Apa yang akan kukatakan padamu, jika kita benar-benar bertemu?"
Pertanyaan itu menggantung di ruangan kamar ini, lebih nyata daripada janji operasiku.
Pertama-tama, aku ingin memelukmu. Aku ingin berterima kasih untuk semua sore di mana kau berlari sampai kehabisan napas, untuk setiap lompatan yang membuatmu merasa bisa menyentuh langit. Kau mengajarkanku tentang passion, tentang kegigihan. Tapi maafkan aku, karena telah melupakan pelajaranmu yang paling berharga: kegembiraan berada dalam tubuh yang bergerak bebas.
Lihatlah kita sekarang. Dokter berkata arteri koroner kita tersumbat, jalan-jalan raya yang seharusnya mengalirkan kehidupan kini macet oleh pilihan-pilihan yang kita kira "dewasa": kerja lembur, stres yang dikunyah jadi kebiasaan, makanan cepat saji yang dianggap efisien.
Kau dulu makan untuk bermain. Aku sekarang "bermain" (bekerja) untuk bisa makan. Dan lihat hasilnya.
Antara Kamar Rumah dan Lapangan Basket
Dua kali operasi ditunda. Di satu sisi, ada kelegaan kecil yaitu pisau itu masih jauh. Di sisi lain, ada frustasi bahkan untuk sakit parah pun, kita harus mengantri. Tapi dalam ketidakpastian ini, dialog dengan bocah kecil itu justru menjadi jelas.
"Dulu kau juga pernah antri untuk masuk tim inti basket," bisikku padanya. "Kau tidak marah, kau justru berlatih lebih giat."
Bocah itu tersenyum, mendrible bola imajinernya. "Ya, karena yang penting bukan kapan kita main, tapi bagaimana kita main saat giliran tiba."
Apakah ini yang disebut "emotional sobriety" sebuah kemampuan untuk tetap tenang saat hidup tidak sesuai rencana? Bocah itu mengajarkanku itu dulu, saat ia kalah dalam pertandingan penting tapi bangkit esok harinya untuk berlatih lagi.
Spiritualitas dalam Ruang Tunggu
Menunggu operasi jantung di usia yang seharusnya masih produktif adalah pengalaman spiritual yang kasar. Ini memaksa kita berhadapan dengan mortalitas, dengan makna hidup yang sesungguhnya.
Aku ingat pengalaman spiritual sederhana yang pernah kumiliki dulu yaitu perasaan menyatu dengan alam saat bola melayang sempurna ke ring. Itu adalah meditasi dalam gerakan. Kapan terakhir kali aku merasakan hal seperti itu? Ketika menandatangani kontrak? Ketika melihat angka di rekening bank?
Bocah kecil itu datang untuk mengingatkanku bahwa jiwa butuh lebih dari sekadar angka-angka. Butuh kekaguman. Butuh keheningan yang produktif. Butuh keyakinan bahwa ada "sesuatu yang lebih besar" yang sedang bekerja, bahkan ketika ruang operasi tidak kunjung kosong.
Jembatan antara Bocah dan Pasien Bypass
Dalam ruang tunggu yang penuh ketidakpastian ini, aku akhirnya memahami di mana pertemuan sejati antara psikologi dan spiritualitas terjadi. Psikologi datang dengan analisisnya yang tajam bahwa ia membantuku membongkar teka-teki hidupku yang berujung pada kondisi ini. Ia menunjukkan bagaimana pola pikir "harus sempurna" dan mekanisme coping dengan cara melarikan diri ke dalam kerja, secara perlahan menggerogoti pembuluh darah yang kini tersumbat. Ini semua adalah penjelasan logis yang kubutuhkan.
Namun, penjelasan saja tidak cukup menenangkan jiwa yang gelisah menanti pisau bedah. Di sinilah spiritualitas mengambil perannya. Tanpa menyangkal penjelasan psikologi, ia memberiku sebuah kacamata yang berbeda bahwa cara untuk melihat proses yang kacau ini bukan sebagai hukuman, tetapi sebagai sebuah perjalanan yang bermakna. Ia membisikkan keyakinan bahwa ada irama yang lebih besar sedang bekerja, bahkan dalam penundaan yang membuat frustrasi ini.
Dan di tengah-tengah kedua kutub inilah, sang bocah kecil dengan bola basketnya hadir sebagai jembatan yang hidup. Dialah bukti nyata bahwa di balik semua analisis psikologis dan pencarian makna spiritual, ada sebuah inti diri yang tetap utuh. Jiwa yang polos itu tidak terbebani oleh teori, tetapi juga tidak hanya pasrah tapi dia hanya ada, dengan keyakinan bawaan bahwa bermain dan bergembira adalah hakikat hidup. Melalui matanya yang berbinar, psikologi dan spiritualitas bukan lagi konsep yang bertolak belakang, melainkan dua sahabat yang sedang bekerja sama untuk mengembalikanku ke jalan yang telah lama ia tunjukkan yakni jalan kesederhanaan, gairah, dan kepercayaan bahwa setiap momen, bahkan yang menakutkan sekalipun, adalah bagian dari permainan yang indah.
![]() |
| baca artikel refleksiku sebelumnya : https://shorturl.at/cnWO8 |
Akhirnya, Inilah yang Akan Kukatakan Padanya:
"Terima kasih karena kau masih ada. Terima kasih karena kau masih memegang bola itu, masih siap bermain."
"Operasi ini bukan akhir. Ini seperti time-out dalam pertandingan. Aku butuh jeda untuk memperbaiki diri, agar kita bisa bermain lagi dengan lebih baik."
"Kau ingat pelatih kita dulu bilang? 'Yang terpenting bukan berapa banyak yang tersisa, tapi bagaimana kita memainkan sisa waktu itu.'"
"Aku janji, setelah ini selesai, kita akan mencari lapangan lagi. Kita tidak perlu menang—cukup merasakan lagi betapa nikmatnya bisa bernapas lega, berlari, dan menikmati keringat yang mengucur deras."
Sekarang, sambil menunggu telepon dari rumah sakit, aku dan bocah kecil itu duduk berdamai. Dia masih memegang bolanya sambil kita beradu pandang penuh harapan.
Kita akan melewati ini bersama. Seperti dulu, ketika kita kalah di kuarter pertama tapi menang di akhir pertandingan.
"Terima kasih karena kau masih ada. Terima kasih karena kau masih memegang bola itu, masih siap bermain."
"Operasi ini bukan akhir. Ini seperti time-out dalam pertandingan. Aku butuh jeda untuk memperbaiki diri, agar kita bisa bermain lagi dengan lebih baik."
"Kau ingat pelatih kita dulu bilang? 'Yang terpenting bukan berapa banyak yang tersisa, tapi bagaimana kita memainkan sisa waktu itu.'"
"Aku janji, setelah ini selesai, kita akan mencari lapangan lagi. Kita tidak perlu menang—cukup merasakan lagi betapa nikmatnya bisa bernapas lega, berlari, dan menikmati keringat yang mengucur deras."
Sekarang, sambil menunggu telepon dari rumah sakit, aku dan bocah kecil itu duduk berdamai. Dia masih memegang bolanya sambil kita beradu pandang penuh harapan.
Kita akan melewati ini bersama. Seperti dulu, ketika kita kalah di kuarter pertama tapi menang di akhir pertandingan.
"Pujilah Tuhan, hai jiwaku! Pujilah nama-Nya yang kudus, hai segenap batinku! Pujilah Tuhan, hai jiwaku, dan janganlah lupakan segala kebaikan-Nya! Dia yang mengampuni segala kesalahanmu, yang menyembuhkan segala penyakitmu, Dia yang menyelamatkan nyawamu dari lubang kubur, yang memahkotai engkau dengan kasih setia dan rahmat, DIa yang memuaskan hasratmu dengan kebaikan, sehingga masa mudamu menjadi baru seperti rajawali". - Mazmur 103 : 1-5
.png)
.png)
Comments
Post a Comment