Formula Rahasia Membangun Tim yang Tangguh: Bangun 4 Pilar "HERO" Ini

Di dunia yang serba tak pasti ini, PsyCap adalah tameng terbaik. Kita tidak bisa mengontrol ombak, tapi kita bisa mengajarkan mereka untuk menjadi lebih tangguh dalam mengarunginya.

Saat ini, ada janjianku dengan sebut saja Budi. Sambil aku mengetik di laptopku, suara musik gamelan menguasai area cafe jawa ini. Jarang sekali ada nuansa seperti ini di Makassar. Saat aku menyapu wajahku, kuliat dia mendekati meja dengan wajah lelah namun tersenyumnya.

Budi! Wah, akhirnya ketemu juga. Sudah pesan kopi? Tanyaku dengan hangat. Budi pun duduk dengan menhela napas panjang,"Sudah, jangan khawatir. Maaf telat, tadi meeting sama tim marketing lagi... chaos. Langsung aja ya, gue butuh insight lo.

"Oi, santai dulu. Kelihatannya berat nih yang lagi lo hadapi. Ada apa dengan tim marketing-mu?" tanyaku dengan muka serius. Budipun menggeleng kepalanya,"Mereka kayak kehilangan api. Dulu tim ini solid, penuh ide gila, target sebesar apapun berani mereka gasak. Sekarang? Rasanya seperti menarik gerbong yang rodanya macet. Banyak yang sakit-sakitan, yang cuti, yang presentasinya datar aja. Gue khawatir ini 'quiet quitting' atau mereka sudah nggak loyal lagi."

"Hmm, sebelum menyimpulkan mereka malas atau tidak loyal, coba ceritakan bagaimana dinamika kerjanya sekarang. Setelah era hybrid work ini." Arahanku. 

"Ya itu. Kerja hybrid yang harusnya fleksibel malah bikin batasan blurred. Mereka di rumah tapi meeting online dari pagi sampai sore, ekspektasi untuk selalu 'on' itu tinggi banget. Ditambah tekanan market yang sangat volatile, proyek bisa batal mendadak karena perubahan kebijakan. Mereka kelihatan... kewalahan. Gue kasih training technical skill, tapi hasilnya nggak maksimal. Aku bingung." 

"Itu klasik, Bud. Kamu mengobati gejalanya, bukan akar penyakitnya. Dari yang kamu ceritakan, timmu mungkin bukan kehilangan loyalitas, tapi mereka kelelahan secara psikologis. Mereka kekurangan "bensin" mental untuk bisa bounce back. Dalam ilmu psikologi positif, ini soal rendahnya *Psychological Capital* atau PsyCap.

"Psycho... apa? Itu semacam mental strength? Tanyanya padaku. "Lebih dari itu. Ini adalah modal psikologis yang bisa dibangun, terdiri dari empat unsur yang kita singkat H-E-R-O. Coba kita lihat timmu pakai kacamata ini. Pertama, H untuk Hope (Harapan). Apakah mereka masih melihat ada jalan lain saat satu strategi gagal? Atau mereka langsung mentok dan menyerah?"

Mendesah sesaat dan Budi menjawab,"Lebih ke mentok. Rasanya mereka nggak mau eksplor alternatif lagi, kayak energi untuk mencoba habis".

Kedua, E for Efficacy (Efikasi Diri). Apakah mereka masih punya keyakinan, "Aku pasti bisa menyelesaikan tantangan ini"? 
Kayaknya sudah pudar. Sekarang lebih banyak pertanyaan, "Bisa nggak ya kita capai target segini?" Rasanya penuh keraguan.

Ketiga, R for Resilience (Ketahanan). Bagaimana kemampuan mereka bangkit dari kegagalan? Misal campaign gagal, apakah mereka bisa belajar dan langsung move on, atau justru terpuruk berminggu-minggu?

"Jatuhnya lama, Tian. Kayaknya demotivasinya berlarut-larut. Mereka bawa perasaan itu ke project berikutnya."  jelas Budi.

Dan yang terakhir, O for Optimism (Optimisme). Apakah mereka masih punya ekspektasi positif bahwa masa depan dan kerja keras mereka akan membuahkan hasil? Atau mereka sudah pesimis dari awal? Budi pun terkekeh pahit  "Buat apa juga usaha keras-keras, akhirnya nggak sesuai ekspektasi atas." Kalimat itu yang sering aku dengar sekarang.

Nah, itu dia diagnosisnya. Timmu tidak malas, Bud. Mereka sedang mengalami depletion di keempat aspek HERO tadi. Mereka kehabisan harapan, keyakinan diri, ketahanan, dan optimisme. Yang kamu butuhkan bukan sekadar training teknis, tapi intervention untuk mengisi ulang "baterai" psikologis mereka.

Budi mendadak lebih fokus, tubuhnya condong ke depan Jadi aku harus apa? PsyCap ini bisa dibangun?

Tentu! Dan itu yang akan kita kerjakan. Kita bisa mulai dengan workshop kecil untuk membangun hope dengan memetakan ulang tujuan besar menjadi langkah-langkah kecil yang bisa diraih. Kita latih resilience mereka dengan teknik reframing, melihat kegagalan sebagai pelajaran, bukan akhir segalanya. Kita perlu ciptakan lebih banyak "kemenangan kecil" untuk membangun efficacy mereka. Dan yang terpenting, sebagai leader, kamu perlu memodelkan optimistic explanatory style itu.
Maksudnya? Jelas banget kalimatku terlalu asing baginya. 

Saat ada masalah, jangan bilang, "Tim kita memang payah." Tapi katakan, "Kali ini strategi kita kurang tepat, mari kita cari cara yang lain." Itu mengajarkan mereka bahwa kegagalan adalah hal yang sementara dan spesifik, bukan aib yang permanen.
Budi mengangguk pelan, wajahnya mulai cerah,"Jadi selama ini aku salah fokus. Kupikir mereka perlu lebih banyak skill, ternyata mereka perlu lebih banyak... kekuatan mental.

Tepat sekali! Jawabku dengan antusias,"Di dunia yang serba tak pasti ini, PsyCap adalah tameng terbaik. Kita tidak bisa mengontrol ombak, tapi kita bisa mengajarkan mereka untuk menjadi lebih tangguh dalam mengarunginya. Bagaimana, tertarik untuk jadwalkan sesi konsultasi formal buat timmu?"
Sekarang tersenyum lega dia,"Tertarik banget. Ini yang aku cari. Ayo kita atur jadwalnya. Tim ku butuh jadi pahlawan untuk diri mereka sendiri lagi. Butuh HERO."

Mari kita bangunkan HERO mereka! Oiya coba dulu self assesment di tautan dibawah ini : Self Assessment Hero 


Akhirnya kami pun bersalaman dengan ekspresi penuh tekad. 

Comments

Popular posts from this blog

Apa Itu TalentDNA? Panduan Lengkap untuk Mengenal Potensi Anda

Antara Dua Detak: Saat Hidup Diuji, Iman Dihidupkan

Perfect Match & TalentDNA: Rahasia Menemukan Pasangan Serasi Lewat Talenta Unik