Aku Tidak OK, Tapi Tuhan Masih di Sini

“Janganlah takut, sebab Aku ini menyertai engkau; janganlah bimbang, sebab Aku ini Allahmu; Aku akan meneguhkan, bahkan akan menolong engkau.”
Yesaya 41:10

Malam ini, hanya beberapa jam sebelum aku kembali berhadapan dengan meja operasi. (yang keempat kalinya). Aku menulis ini artinya sudah yang keempat sebagai surat dari hati, untuk diriku sendiri dan mungkin juga untuk siapa pun yang sedang berjalan di jalan yang sama yakni jalan yang tidak mudah, tapi penuh rahmat yang tersembunyi.

Dan malam ini, walau katanya operasi bypass jantung memiliki 100% keberhasilan, tetap aku mengaku: aku tidak OK.

Ada rasa takut, tentu saja. Rasanya aneh bagaimana tubuh bisa tampak tenang, tapi pikiran bekerja seperti ombak. Aku sudah pernah melaluinya sebelumnya dimana ruangan dingin, aroma antiseptik, lampu terang menyala hingga suara dokter sendiri, tapi kali ini terasa berbeda. Dulu aku pikir keberanian adalah tidak takut sama sekali. Sekarang aku tahu, keberanian adalah tetap berjalan meski takut masih berbisik di telinga...dan ada sedikit rasa capek. 😶

Bukan sekadar takut dan capek operasi. Bukan sekadar risau tentang hasil. Yang mengguncang adalah: aku merasa rapuh. Detak jantungku yang dulu diam tak bergeming sekarang gaduh perasaan. Selama ini, aku terbiasa kuat, setidaknya aku mengira begitu. Tapi malam hari ini, aku tahu: kuat bukan berarti tidak takut. Kuat bukan berarti tidak gentar. Kuat bisa jadi memilih untuk berlutut di hadapan Allah sambil menangis.

Ada kutipan yang menarik, “Hidup sering terasa di luar kendali. Kita mungkin kewalahan, takut, bahkan merasa tidak sanggup. Namun, Allah tidak meminta kita menyembunyikan kelemahan, melainkan untuk menyerahkannya kepada-Nya.” santapanrohani.org+1


Malam ini, itu sangat nyata bagikubukan sekadar pengakuan emosi; itu adalah momen ketika seluruh lapisan pertahananku runtuh. Biasanya, kita menutupi rasa takut dengan doa-doa yang terdengar kuat, atau dengan kalimat “aku percaya” yang diucapkan berulang agar hatiku tenang. Namun malam ini berbeda. Aku tidak sedang berusaha menenangkan diri dengan kata-kata iman yang indah, aku justru sedang membiarkan diriku ditelanjangi oleh kejujuran di hadapan Tuhan. Air mata yang jatuh bukan tanda putus asa, melainkan bentuk doa yang paling jujur. Di sinilah aku merasa, antara manusia dan Allah tidak ada jarak namun hanya keheningan, napas yang terengah, dan kasih yang diam-diam memeluk dari balik kegelapan. Aku tidak lagi perlu berpura-pura kuat untuk membuktikan iman; justru dalam ketakutanku, kasih-Nya menjadi nyata. 

Seolah Tuhan berbisik di antara detak jantung yang tak menentu: “Aku tahu kau takut, tapi Aku di sini.” ... Saat itu aku sadar, iman bukan tentang menolak rasa takut, melainkan berani mengakuinya dan tetap berpegang pada Tuhan di tengahnya. Itulah realitas malam ini tentang sebuah pertemuan antara luka dan kasih, antara keterbatasan manusia dan kelembutan ilahi yang tidak pernah pergi.

Aku teringat kebodohku dulu mengira bahwa jika aku “aman” maka aku dekat dengan Tuhan. Padahal ternyata Tuhan sering bekerja di dalam “tidak aman”.  Saat ketika jantung hampir berhenti, atau luka tubuh yang memaksa kita diam dan luka hati yang merenggut kebahagiaan, Dia berseru: 
“Sebentar, aku ingin kau tahu, Aku di sini juga.” 
terasa seperti bisikan lembut di tengah gemuruh batin. 

Mungkin itu bukan suara yang kudengar dengan telinga, tetapi dengan hati yang perlahan luluh. Di saat aku sibuk berusaha kuat, menolak rasa takut, dan mencari jawaban dari segala arah, ternyata Tuhan tidak pernah jauh. Ia tidak datang dengan keajaiban besar atau cahaya menyilaukan, namun Ia datang dalam keheningan, dalam jeda napas di antara kecemasan dan harapan. Kata “sebentar” itu seperti ajakan lembut: 

"Berhentilah sejenak dari upayamu melawan ketakutan, dan sadarlah, Aku bersamamu. Aku yang kau pikir diam, sebenarnya selalu hadir, menunggu saat hatimu cukup tenang untuk mendengar."

Jika ini adalah bagian dari perjalanan penyucian, biarlah demikian. Aku tidak lagi mencari jawaban, hanya ingin belajar percaya. Aku sadar, kebodohanku di masa lalu adalah mencoba menjadi kuat tanpa membiarkan diri disembuhkan. Tapi malam ini aku menyerah, bukan karena kalah, tapi karena aku akhirnya percaya bahwa kasih Tuhan tidak menunggu kesembuhan. Kasih itu sudah ada, bahkan ketika tubuh ini lemah dan hati ini gentar.

refleksi kedua : Kekhawatiran
Besok, ketika tubuhku tersambung ke selang dan monitor berdengung, mungkin aku akan menatap langit dari kamar rawat. Aku akan mengenang bahwa terasa tidak OK ini bukan kutukan, tapi panggilan. Panggilan untuk berkata: “Ya Tuhan, aku menyerahkan diriku; jantungku, doaku, dan harapanku.” Dan Dia jawab dengan satu kata yang teguh: 

“Cukuplah kasih-Ku bagimu.” 

Aku tak ingin hari esok hanya soal “selamat atau tidak selamat”. Aku ingin hari esok jadi saksi bahwa di tengah ketidak-OK-an, imanku masih berdetak. Bahwa bila aku bangun, aku akan bangun menjadi seseorang yang lebih rendah hati. Bahwa bila aku harus mengalami pergumulan, aku akan mengalami bukan hanya supaya bebas dari rasa takut, melainkan supaya tahu akan kasih Tuhan lebih luas dari sakit ini.

Semoga kisahku, yang mulai dari titik “aku tidak OK”, menjadi nyala kecil di hati kalian:
Bahwa boleh kita tidak OK.
Boleh kita lemah.
Boleh kita khawatir.
Karena itu bukan akhir. Itu titik mula... untuk menyerahkan semuanya. 
Untuk menerima bahwa hidup ini bukan milik kita, tetapi milik Dia yang memegang setiap detak.

Jika kau membaca ini dan juga sedang menanti sesuatu yang berat, mungkin jawabannya sama: tidak apa-apa merasa tidak apa-apa. Karena Tuhan tidak menunggu kita menjadi sempurna untuk mengasihi kita. Ia hadir justru di tengah gentar itu, berbisik lembut, “Aku di sini juga.”

refleksi pertamaku : Dua Detak

Malam ini tidak kuliat lagi bocah itu, mungkin tadi dia sudah melihat diriku tertawa lepas bersama sahabat-sahabat di jam besuk. Mungkin, dia melihat aku sudah tidak apa-apa untuk merasa tidak OK. 

Doa Malam Ini

Tuhan yang Menghidupkan,
aku datang tanpa topeng. Aku letakkan ketakutanku di hadapan-Mu.
Besok aku akan menyerahkan jantungku ke meja ahli, tapi hatiku kuserahkan ke dalam tangan-Mu.
Bila Engkau memilih semangat baru bagiku, terima kasih.
Bila Engkau memilih keheningan yang dalam, terima kasih.
Jadikan rasa “tidak OK” ini bukan batu sandungan, tetapi gerbang menuju kedalaman belas-Kasih-Mu.
Dengan perantaraan Yesus Kristus Juru Selamat kami. Amin.

PS; love you mom 💓💖





Comments

Popular posts from this blog

Apa Itu TalentDNA? Panduan Lengkap untuk Mengenal Potensi Anda

Antara Dua Detak: Saat Hidup Diuji, Iman Dihidupkan

Perfect Match & TalentDNA: Rahasia Menemukan Pasangan Serasi Lewat Talenta Unik