Tahun yang Menggali: Sebuah Renungan dalam Sunyi dan Arti

2025 tidak datang dengan terang yang terang benderang. Ia datang seperti malam yang panjang (dalam dan menggigit), tetapi justru di dalamnya bintang-bintang terlihat paling jelas. Ini adalah tahun di mana saya belajar bahwa tidak semua hal harus diungkit ke permukaan. Beberapa kebenaran hanya bisa dipahami dalam diam. Dan beberapa pemulihan hanya terjadi ketika kita berani menyelam ke dasar luka, lalu memutuskan untuk naik kembali bukan sebagai pemenang, tetapi sebagai manusia yang lebih utuh. ya, utuh kembali.



Empat November kemaren, jantung saya dioperasi. Bukan hanya pembuluh darah yang dibenahi, tetapi seluruh cara saya melihat hidup. Di ruang pemulihan yang hening, segala sesuatu menjadi jernih: kita tidak menguasai hidup, kita hanya dititipi. Dan dalam keheningan itulah saya merasa paling dekat dengan yang Ilahi,tidak dengan kata-kata, tetapi dengan kehadiran.
 
Adalah kepasrahan yang ada sehingga menjadikan segalanya baik. Bagaimana tidak, setelah covid, Kasih-Nya terus menyelimuti aku, perlindungan-Nya bahkan teguran-Nya berturut-turut kurasakan. Mulai operasi pertama di betis hingga berpulangnya papa tercinta menjadikan aku berdiri diantara berserah dan pasrah.

“TUHAN itu dekat kepada orang-orang yang patah hati, dan Ia menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya.” (Mazmur 34:18). Saya merasakan ayat itu bukan sebagai hiburan, tetapi sebagai pengalaman. Keluarga (istri dan anak) hadir tanpa banyak bicara. Mereka tidak berusaha memperbaiki segalanya, hanya hadir seperti kayu salib yang tegak, tanpa penjelasan, namun penuh makna. Kali ini kedekatanNya nyata bagiku dimana anak yang paling besar menemaniku bermalam untuk pertama kalinya. 

Di tahun 2025, saya melihat banyak orang lelah secara tak terucapkan. Kelelahan Indonesia 2025 adalah kelelahan yang kompleks: di permukaan, kita sibuk beraktivitas, tetapi di dalam, ada dahaga akan arti. Ada keinginan untuk didengar bukan hanya di media sosial, tetapi dalam ruang nyata. Ada kerinduan akan relasi yang tidak transaksional, tetapi transformasional. Dan dalam keluarga, saya menemukan hal itu: tempat di mana kita bisa diam tanpa dianggap aneh, marah tanpa dihakimi, lelah tanpa diminta segera bangun.

“Demikianlah kita ketahui kasih Allah, yaitu bahwa Ia telah menyerahkan Anak-Nya yang tunggal untuk kita, dan kita juga wajib menyerahkan nyawa kita untuk saudara-saudara kita.” (1 Yohanes 3:16). Ayat ini menjadi hidup dalam cara istri menggendong beban rumah tangga sendirian ketika saya terbaring, dalam cara anak-anak belajar lebih sabat, dalam cara orangtua mendoakan dari kejauhan. Kasih itu nyata, dan justru karena nyata, ia mampu mengubah.

Dalam iman Katolik, salib bukan hanya simbol penderitaan, melainkan pintu transformasi. Tahun ini saya belajar bahwa salib bisa hadir dalam bentuk penerimaan: menerima bahwa tubuh punya batas, bahwa penyembuhan butuh waktu, bahwa tidak semua pertanyaan harus dijawab. “Sebab dalam Dialah kita hidup, kita bergerak, kita ada…” (Kisah Para Rasul 17:28). Bahkan dalam keadaan paling lemah sekalipun, kita tetap ada. Dan itu cukup.

Keluarga menjadi tempat di mana transformasi itu terjadi. Bukan tempat yang sempurna, melainkan tempat di mana kita bisa jujur: bahwa kita takut, bahwa kita lelah, bahwa kita butuh dipegang. Di sana, “Kasih itu sabar, kasih itu murah hati…” (1 Korintus 13:4) menjadi latihan sehari-hari. Bukan teori, tetapi tindakan.

Sebuah Doa untuk 2026: Transformasi yang Merambat

Jika 2025 adalah tahun untuk menggali, maka 2026 saya rindukan sebagai tahun untuk menumbuhkan. Bukan pertumbuhan yang spektakuler, tetapi yang merambat pelan, berakar dalam, dan berbuah pada waktunya.

Dalam keluarga, saya berharap agar keheningan yang kami pelajari menjadi ruang doa yang hidup. Agar meja makan kami tidak hanya untuk berbagi makanan, tetapi juga untuk berbagi beban dan berkat. “Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN!” (Yosua 24:15). Saya ingin iman tidak hanya diucapkan, tetapi terwariskan dalam kesabaran sehari-hari, dalam cara kami saling memandang setelah bertengkar, dalam komitmen untuk selalu kembali kepada pengampunan.

Dalam usaha dan kerja, transformasi itu saya rindukan sebagai pergeseran dari sekadar mencari nafkah menjadi menemukan panggilan. Agar setiap talenta tidak dikuburkan dalam rasa takut, tetapi dikembangkan dengan rendah hati. “Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.” (Kolose 3:23). Saya ingin bekerja bukan untuk membuktikan diri, tetapi untuk melayani; bukan untuk mengumpulkan, tetapi untuk memberi arti.

Dalam komunitas gereja, saya mendambakan suatu persekutuan yang tidak sempurna, tetapi autentik. Di mana kelemahan tidak disembunyikan, dan kekuatan tidak dibanggakan. Di mana kami bisa menjadi “satu tubuh” (1 Korintus 12:12) yang sungguh-sungguh saling memikul, berbagi sukacita dan dukacita, dan bersama-sama berjalan mendekati Kristus.

Dan pada akhirnya, di semua lini itu, harapan terdalam saya adalah semakin serupa dengan Dia. Bukan keserupaan yang instan, tetapi proses harian untuk mengenakan “manusia baru yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya.” (Efesus 4:24). Itu berarti lebih sabar dalam penderitaan, lebih berani dalam kasih, lebih setia dalam hal-hal kecil, dan lebih lepas belajar melepaskan kendali.

Jika ada satu hal yang saya bawa dari tahun 2025 menuju 2026, itu adalah ini:
Hidup bukan tentang seberapa kuat kita bertahan, tetapi tentang seberapa dalam kita mengerti arti dari apa yang kita pertahankan. Dan sering kali, arti itu ditemukan bukan dalam gemuruh, tetapi dalam sunyi; bukan dalam banyak kata, tetapi dalam kesetiaan sederhana; bukan dalam kesempurnaan, tetapi dalam penerimaan.

Akhir kata,“Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, … tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah.” (Roma 8:38-39). Di tengah dunia yang penuh ketidakpastian, di tengah kelelahan kolektif bangsa ini, di tengah tubuh yang masih dalam pemulihan, saya berpegang pada ini. Bahwa ada kasih yang lebih dalam dari luka, lebih terang dari malam, dan lebih setia dari segala yang fana.

Dan itu cukup.
Cukup untuk hari ini.
Cukup untuk melangkah ke 2026 dengan hati yang tergali lebih dalam, tangan yang terbuka untuk melayani, dan mata yang tetap mencari wajah-Nya.

*Tuhan, terima kasih untuk malam-malam 2025 yang mengajarku melihat bintang. Kini, di ambang 2026, bimbing langkah ini. Jadikan keluargaku tempat kasih-Mu bertumbuh, usahaku sebagai medan pelayanan, komunitas gerejaku sebagai ruang kesaksian yang hidup, dan hidupku—pelan-pelan—semakin menyerupai Kristus. Amin.*

Comments

Popular posts from this blog

Apa Itu TalentDNA? Panduan Lengkap untuk Mengenal Potensi Anda

Antara Dua Detak: Saat Hidup Diuji, Iman Dihidupkan

Perfect Match & TalentDNA: Rahasia Menemukan Pasangan Serasi Lewat Talenta Unik