Kisah Keluarga Prasetyo: Janji yang Tak Pernah Putus
Dalam perjalanan mendalami 45 karakter talenta TalentDNA, kita akan mulai dengan talenta pertama: Accountable. Talenta ini merupakan bagian dari domain Action, yang mendefinisikan bagaimana seseorang memproses informasi dan mengeksekusinya menjadi tindakan nyata
1. Sisi Spot Light: Sang Pilar Kepercayaan
Suatu Sabtu pagi, Pak Prasetyo berjanji kepada putri kecilnya, Tika, untuk memperbaiki rumah bonekanya yang rusak sekaligus menemaninya menyelesaikan prakarya sekolah sore nanti. Namun, mendadak ada pipa bocor di dapur yang harus segera diperbaiki.
Di sinilah sisi Spot Light Pak Prasetyo bersinar. Baginya, komitmen adalah harga mati
Pak Prasetyo merasa sangat tidak nyaman jika integritasnya dalam menepati janji dipertanyakan
Namun, setiap kelebihan yang digunakan berlebihan bisa menjadi bumerang. Suatu hari, Bu Sari, istri Pak Prasetyo, sedang mencoba merapikan gudang. Bu Sari melakukannya perlahan karena ia ingin mengatur sistem penyimpanannya sendiri. Melihat Bu Sari yang tampak "lambat" dan belum menuntaskan tugasnya, dorongan Accountable Pak Prasetyo memuncak.
Tanpa diminta, Pak Prasetyo mengambil alih seluruh pekerjaan gudang tersebut. Ia membereskannya dengan cepat hingga tuntas. Inilah sisi Blind Spot-nya: ia cenderung mengambil alih pekerjaan orang lain yang belum selesai, sehingga tanpa sadar ia mematikan rasa memiliki (ownership) dari orang tersebut. Bu Sari bukannya senang, malah merasa kesal karena merasa urusannya dicampuri dan ia tidak diberi kesempatan untuk menyelesaikan tanggung jawabnya sendiri. Pak Prasetyo menganggap ia membantu, padahal tindakannya bisa membuat orang di sekitarnya merasa kurang dipercaya.
3. Memahami Sisi Bottom: Kontras yang Nyata
Untuk memahami talenta ini secara utuh, kita bisa melihat sosok keponakan Pak Prasetyo yang sedang menginap, sebut saja Rian. Berbeda dengan Pak Prasetyo, Rian memiliki talenta Accountable di posisi Bottom (urutan 35-45).
Suatu kali, Rian diminta membantu mengecat pagar rumah. Di tengah jalan, saat cat baru selesai separuh, Rian meninggalkan kuasnya begitu saja karena ada teman yang mengajaknya main game. Rian tidak merasa terbebani untuk menyelesaikan tugas tersebut hingga akhir. Inilah karakteristik Bottom Accountable: seseorang cenderung meninggalkan pekerjaan yang belum selesai karena berbagai alasan, karena dorongan untuk menuntaskan komitmen secara natural memang tidak kuat dalam dirinya.
Mengapa TalentDNA Penting?
Melalui kisah keluarga Pak Andi, kita belajar bahwa memahami bakat bukan hanya tentang mengetahui kelebihan, tetapi juga menyadari batas agar tidak menjadi kontraproduktif. Pak Andi belajar bahwa ia perlu memberi ruang bagi orang lain untuk bertanggung jawab, sementara ia bisa tetap menjadi teladan dalam integritas.
TalentDNA hadir sebagai salah satu solusi terbaik untuk membantu kita memahami dorongan perilaku diri sendiri dan pasangan. Dengan memahami struktur talenta:
Diri Sendiri & Pasangan: Kita bisa mengurangi konflik yang disebabkan oleh perbedaan cara kerja (seperti kasus Pak Andi dan Bu Sari)
Karir: Membantu menempatkan diri pada peran yang tepat sesuai dorongan natural kita
. Segala Usia: Metode ini relevan bagi siapa saja, mulai dari anak-anak untuk pengarahan minat, hingga dewasa untuk pengembangan profesional dan keharmonisan rumah tangga
.
Memahami TalentDNA adalah langkah awal untuk hidup lebih selaras, produktif, dan bahagia bersama orang-orang tercinta. Mari nantikan pembahasan karakter talenta berikutnya!

Comments
Post a Comment