Berpantang

Di sebuah beranda kayu yang teduh, Bimo duduk bersandar, menatap kakeknya yang sedang asyik memahat kayu dengan gerakan yang begitu stabil dan tenang. Tidak ada gurat terburu-buru, tidak ada keluhan meski peluh menetes.

"Kek," pancing Bimo, "Dunia di luar sana berisik sekali. Semua orang ingin cepat, semua orang ingin memiliki segalanya sekarang juga. Tapi Kakek... kenapa hidup Kakek bisa se-tenang ini?" sambil makan kue mangkuk favoritnya..

Kakek menghentikan pahatnya, tersenyum kecil. "Rahasianya bukan pada apa yang Kakek miliki, Mo. Tapi pada apa yang Kakek 'lepaskan'. Kakek belajar dari seorang pemuda hebat bernama Daniel. Di istana Babel yang penuh kemewahan, ia justru memilih berpantang makanan raja. Ia menahan diri bukan karena ia lemah, tapi karena ia tahu siapa tuannya."


Namun, sebelum menjelaskan pada inti pertanyaanmu, praktek ini sudah ada sejak ribuan tahun lalu. Mari kita intip sejarahnya:
  • Mesir Kuno (Sekitar 3000 SM): Di tepian Sungai Nil, para pendeta dan rakyat Mesir percaya bahwa untuk mendekat kepada dewa seperti Osiris, tubuh harus "bersih". Mereka berpantang makan daging babi atau ikan tertentu sebelum upacara besar. Bagi mereka, makanan bukan sekadar pengisi perut, tapi bisa menjadi penghalang kesucian jika tidak dikendalikan.
  • Bangsa Israel (Abad 13 SM): Saat keluar dari Mesir, bangsa Israel membawa tradisi disiplin ini. Mereka merumuskan aturan makanan (Kosher) sebagai bentuk ketaatan pada Tuhan. Tokoh seperti Nabi Daniel bahkan memilih hanya makan sayur dan air putih daripada santapan mewah raja, demi menjaga kesetiaan imannya.
  • Kekristenan Awal (Abad 1 M): Para Bapa Gereja mengambil nilai-nilai mulia dari tradisi kuno ini. Mereka melihat bahwa Yesus sendiri berpuasa dan berpantang di padang gurun. Berpantang kemudian menjadi napas hidup umat Kristiani, terutama di masa Prapaskah, sebagai cara untuk ikut memanggul salib kecil dalam keseharian.
Lalu kakek mengambil Alkitab Terjemahan Baru ke-2 di sampingnya, membukanya pada surat Paulus, lalu mulai menarasikannya ayat demi ayat kepada Bimo.

1. Tujuan yang Jelas (Ayat 24)

"Tidak tahukah kamu, bahwa dalam gelanggang pertandingan semua peserta turut berlari, tetapi bahwa hanya satu orang saja yang mendapat hadiah? Karena itu larilah sedemikan rupa, sehingga kamu memperolehnya!"


"Bimo," ujar Kakek lembut, "Hidup ini adalah gelanggang. Banyak orang berlari tanpa arah, mengejar semua keinginan perut dan mata mereka. Berpantang di Masa Prapaskah adalah cara kita menetapkan arah. Kita tidak sekadar 'tidak makan daging' atau 'tidak main medsos', tapi kita sedang berlari menuju hadiah yang abadi: kedekatan dengan Tuhan."

2. Penguasaan Diri dalam Segala Hal (Ayat 25)

"Tiap-tiap orang yang turut mengambil bagian dalam pertandingan, menguasai dirinya dalam segala hal. Mereka berbuat demikian untuk memperoleh mahkota yang fana, tetapi kita untuk memperoleh mahkota yang abadi."

Kakek menunjukkan pahat kayunya. "Atlet Olimpiade saja mau berpantang makanan enak demi medali logam. Masa Prapaskah mengajak kita menguasai diri dalam segala hal misalnya marah, nafsu, dan atau ego kita demi mahkota yang tidak akan pernah karatan di surga nanti."

3. Berlari dengan Kepastian (Ayat 26)


"Sebab itu aku tidak berlari tanpa tujuan dan aku bukan petinju yang memukul angin."

"Berpantang tanpa doa itu namanya diet, Mo. Tapi berpantang dalam Prapaskah itu punya tujuan. Saat perutmu lapar karena pantang, atau tanganmu gatal ingin belanja tapi kau tahan, arahkan 'pukulanmu' ke arah godaan itu. Katakan pada dirimu: 'Aku tidak butuh ini, aku butuh Tuhan.'"

4. Menaklukkan Tubuh (Ayat 27)

"Namun, aku melatih tubuhku dan menguasainya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak."


Kakek menutup Alkitabnya. "Ini intinya, Mo. Paulus takut jika hatinya menjadi hamba bagi tubuhnya sendiri. Berpantang adalah cara kita 'memukul jatuh' keinginan daging agar roh kita yang memegang kendali. Daniel menjadi tenang di kandang singa karena ia sudah terbiasa menaklukkan 'singa' di dalam dirinya sendiri melalui pantang dan puasa."

Kakek menepuk bahu Bimo. "Masa Prapaskah adalah waktu latihan militer bagi jiwa. Kita berpantang bukan untuk menyiksa diri, tapi untuk membuktikan bahwa kita adalah tuan atas tubuh kita, bukan budaknya."

Bimo terdiam. Ia baru sadar bahwa ketenangan kakeknya lahir dari ketegasan sang kakek untuk berkata "tidak" pada dunia, agar bisa berkata "ya" sepenuhnya pada Tuhan.

Ingatlah bahwa fokus dari berpantang sesuatu selama masa prapaskah bukanlah diri kita. Jadi, mungkin kamu terpikir untuk berpantang sesuatu yang lebih dari kue mangkuk. Pertimbangkanlah dengan sungguh-sungguh untuk berpantang dalam masa menuju Paskah ini sebagai tindakan menempatkan diri bersama Yesus dalam kesulitan (perlombaan) dan pencobaan (penguasaan diri) yang dihadapi-Nya. 

Comments

Popular posts from this blog

Apa Itu TalentDNA? Panduan Lengkap untuk Mengenal Potensi Anda

Antara Dua Detak: Saat Hidup Diuji, Iman Dihidupkan

Perfect Match & TalentDNA: Rahasia Menemukan Pasangan Serasi Lewat Talenta Unik