BERPUASA

"Berpuasa yang Kukehendaki, ialah supaya engka membuka belenggu-belenggu kelaliman, dan melepaskan tali-tali kuk, supaya engkau memerdekakan orang yang teraniaya dan mematahkan setiap kuk, supaya engkau memecah-mecah rotimu bagi orang yang lapar dan membawa ke rumahmu orang miskin yang tidak punya rumah, dan apabila engkau melihat orang telanjang, supaya engkau memberi dia pakaian - Yesaya 58:6-7

Pada tahun 1947, saat India baru saja meraih kemerdekaannya, sebuah tragedi besar terjadi. Kerusuhan saudara pecah antara kelompok Hindu dan Muslim di Calcutta (sekarang Kolkata). Kota itu berubah menjadi lautan api; kebencian menyebar lebih cepat daripada peluru, dan nyawa melayang setiap jamnya.

Para pemimpin militer dan politik gagal menghentikan pertumpahan darah tersebut. Dalam keputusasaan itu, Ada orang yang sudah tua dan lemah, mengumumkan: "Aku akan berpuasa hingga mati, kecuali jika akal sehat kembali ke Calcutta."


Puasa sebagai "Operasi Hati"

Ia tidak sedang menghukum orang lain dengan rasa laparnya. Ia sedang melakukan apa yang disebut dalam Yesaya 58 sebagai "membuka belenggu kelaliman". Ia berpuasa untuk menyentuh hati nurani rakyatnya yang sudah membatu oleh amarah. 
Selama berhari-hari, dia hanya minum air. Tubuhnya yang kurus semakin merosot, detak jantungnya melemah, dan dunia menahan napas. 
Namun, keajaiban mulai terjadi, rakyat yang tadinya saling serang mulai merasa malu melihat pria tua itu menderita demi kesalahan mereka. Disisi lain, para perusuh mulai meletakkan senjata mereka di depan tempat tidur kamarnya. Sementara pemimpin dari kedua kelompok yang bertikai akhirnya datang kepadanya, berjanji untuk berdamai asalkan ia mau makan kembali.

Dia adalah Mahatma Gandhi yang melalui puasa dan pantang, Gandhi membuktikan bahwa penguasaan diri satu orang bisa menaklukkan kemarahan jutaan orang. Ia menunjukkan bahwa puasa bukan tentang apa yang kita lewatkan di meja makan, tetapi tentang kekuatan roh untuk mengubah situasi yang mustahil. 

Dan dalam sejarah modern, tak banyak yang mencerminkan panggilan ini sebaik Mahatma Gandhi, yang hidupnya adalah wujud nyata dari "Puasa yang Dikehendaki Tuhan".

1. "Membuka Belenggu Kelaliman & Melepaskan Tali Kuk"

  • Puasa sejati adalah sebuah deklarasi kemerdekaan spiritual, di mana kita secara sadar memutuskan untuk melepaskan belenggu dendam, penghakiman, dan kesewenang-wenangan yang selama ini mengikat hati. Sebagaimana Mahatma Gandhi menggunakan kekuasaan batinnya untuk memutus rantai kebencian kolektif melalui Satyagraha, kita pun diundang untuk menjadikan momen berpantang sebagai sarana "memerdekakan" jiwa sendiri dan sesama dari beban emosional yang menghambat kasih. Dengan melepaskan tali-tali kemarahan saat perut terasa lapar, kita membuktikan bahwa kedaulatan roh atas ego jauh lebih berkuasa daripada pembalasan dendam mana pun.

2. "Memerdekakan Orang yang Teraniaya"

  • Puasa yang dikehendaki Tuhan adalah puasa yang memiliki dampak sosial nyata, di mana menahan lapar harus berbanding lurus dengan kelembutan hati untuk membela mereka yang terjepit oleh ketidakadilan. Sebagaimana hidup Gandhi yang didedikasikan untuk mengangkat kaum tertindas, kita pun diingatkan bahwa puasa kita menjadi tidak berarti jika kita masih bersikap kasar atau acuh pada sesama yang lemah, karena esensi puasa adalah mematahkan setiap "kuk" penindasan dalam interaksi harian kita.

3. "Memecah-mecah Rotimu bagi Orang yang Lapar"

  • Berpuasa adalah tentang pengalihan berkat, di mana porsi yang kita hemat dari meja makan pribadi harus diubah menjadi bantuan nyata bagi mereka yang kekurangan. Melalui teladan kesederhanaan ekstrem Gandhi, kita diajak untuk melihat bahwa puasa yang benar adalah saat kita bersedia "mengurangi porsi diri sendiri demi menambah porsi sesama," sehingga lapar kita menjadi jembatan kemurahan hati yang menghidupkan orang lain.

4. "Membawa ke Rumahmu Orang Miskin yang Tak Punya Rumah"

  • Tuhan meminta kita menggunakan momen puasa untuk meruntuhkan tembok kenyamanan pribadi dan membuka pintu hati bagi mereka yang terasing atau kehilangan arah. Seperti komunitas terbuka yang dibangun Gandhi, puasa mengajak kita untuk tidak menutup diri dalam "kesalehan eksklusif," melainkan menjadi tempat bernaung yang aman dan ramah bagi jiwa-jiwa yang sedang mencari dukungan serta kasih dalam kedinginan dunia.

5. "Memberi Pakaian bagi yang Telanjang"

  • Berpantang dan berpuasa juga berarti menjaga martabat sesama dengan "menutup pakaian" aib mereka, bukan justru memamerkan kelemahan orang lain melalui gosip atau penghakiman. Sebagaimana Gandhi berjuang memulihkan harga diri kaum terpinggirkan, kita dipanggil untuk menjadikan lidah kita sebagai pelindung nama baik orang lain, karena menghargai kehormatan sesama adalah persembahan yang jauh lebih harum daripada sekadar perut yang kosong.

6. "Tidak Menyembunyikan Diri Terhadap Saudaramu"

  • Puasa yang sejati menuntut keberanian untuk tidak lagi "bersembunyi" dari konflik keluarga atau komunitas, melainkan hadir sepenuhnya untuk melakukan rekonsiliasi. Teladan Gandhi yang menaruh dirinya di tengah pertikaian demi perdamaian mengingatkan kita bahwa ibadah vertikal kepada Tuhan selalu diuji melalui kesediaan horizontal kita untuk mengakui kesalahan dan memperbaiki hubungan yang retak dengan orang-orang terdekat.

Puasa menurut Yesaya 58 adalah Ibadah Vertikal (kepada Tuhan) yang dibuktikan melalui Aksi Horizontal (kepada sesama). Jika puasa tidak mengubah cara kita memperlakukan orang lain sebagaimana dicontohkan secara luar biasa oleh Mahatma Gandhi maka itu hanyalah mogok makan religius yang kosong dari makna.




Comments

Popular posts from this blog

Apa Itu TalentDNA? Panduan Lengkap untuk Mengenal Potensi Anda

Antara Dua Detak: Saat Hidup Diuji, Iman Dihidupkan

Perfect Match & TalentDNA: Rahasia Menemukan Pasangan Serasi Lewat Talenta Unik