DUKACITA : Ketika Sedih adalah Tindakan Rohani
"Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur." - Matius 5:4Ada sesuatu yang terasa aneh dari kalimat itu. Bagaimana mungkin orang yang berdukacita disebut berbahagia? Bukankah dukacita adalah kebalikan dari bahagia?
Namun justru di sinilah Yesus membalikkan asumsi kita. Dan Masa Prapaskah adalah saat yang paling tepat untuk kita duduk dengan paradoks ini dan membiarkannya mengubah cara kita memahami kesedihan, kehilangan, dan kasih Allah.
Ketika Duka Datang Sebelum Kepergian
Belum lama berselang, sebuah keluarga mendampingi sang ayah yang sakit keras dengan prognosis yang buruk. Mereka menghubungi perawatan paliatif yaitu layanan yang menerima kematian yang tak terelakkan, meredakan rasa sakit, dan memberi kenyamanan di penghujung hidup. Selama satu minggu penuh, mereka mendampingi sang ayah dalam proses kepergiannya yang panjang.Dan mereka sudah berduka bahkan sebelum ia benar-benar meninggal dunia.
Itulah gambaran yang sangat pas untuk Masa Prapaskah. Selama 40 hari ini, kita berduka atas kematian Yesus bahkan sebelum Jumat Agung tiba. Kita merenungkan kematian rohani kita yang membuat kematian Kristus harus terjadi. Duka kita mendahului peristiwa yang kita peringati dan itu bukan kelemahan. Itu adalah kedalaman iman.
Requiem: Ketika Gereja Memberi Nama pada Duka
Gereja Katolik memiliki warisan yang sangat kaya dalam menghormati dukacita. Salah satunya adalah Misa Requiem yaitu Misa untuk orang yang telah meninggal.Kata requiem berasal dari bahasa Latin, diambil dari baris pembuka antifon Misa arwah: "Requiem aeternam dona eis, Domine" yang artinya "Berikanlah kepada mereka istirahat yang abadi, ya Tuhan." Kata requiem sendiri berarti istirahat atau ketenangan.
Ada keindahan yang mendalam dalam pilihan kata ini. Doa pertama yang kita panjatkan bagi mereka yang telah pergi bukan tentang kemenangan atau kemuliaan melainkan tentang istirahat. Seolah Gereja mengakui bahwa perjalanan hidup di dunia ini sungguh melelahkan, dan kini yang dibutuhkan jiwa adalah ketenangan dalam pelukan Allah.
Requiem adalah pengakuan liturgis bahwa dukacita itu nyata dan sah. Bahwa kehilangan itu menyakitkan. Dan bahwa Allah adalah tempat di mana jiwa-jiwa menemukan istirahatnya persis seperti yang diungkapkan Santo Agustinus: "Hati kami gelisah, ya Tuhan, hingga ia beristirahat di dalam-Mu."
Dalam konteks Prapaskah, requiem mengajak kita untuk merenungkan tidak hanya kematian orang-orang yang kita kasihi tapi juga kematian rohani kita sendiri yang membuat pengorbanan Kristus menjadi perlu.
Yesus pun Berdukacita
Sebelum kita membahas tentang dukacita kita sendiri, ada satu fakta yang perlu kita resapi lebih dulu makna Yesus pun berdukacita.Di Taman Getsemani, sesaat sebelum Ia ditangkap, Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: "Hati-Ku sangat sedih, seperti mau mati rasanya" (Matius 26:38). Kata Yunani yang dipakai di sini adalah bentuk intensif dari kata umum untuk dukacita, maknanya bisa diterjemahkan sebagai: "Kesedihan melingkupiku."
Ini bukan ungkapan dramatis yang berlebihan. Ini adalah deskripsi yang akurat tentang apa yang Ia rasakan. Dukacita Yesus begitu berat hingga Ia membutuhkan kehadiran para sahabat-Nya, bahkan keringat-Nya berjatuhan seperti titik-titik darah (Lukas 22:44).
Kita tidak tahu persis apa yang Yesus rasakan saat itu. Tapi kemungkinan besar dukacita-Nya bukan hanya karena kematian yang segera menjelang tapi juga karena alasan dari kematian itu sendiri; kerusakan dunia yang melingkungi-Nya, kepedihan dosa yang mencekik, yang menjadi alasan mengapa Ia harus mati.
Dan sebelum Getsemani, di depan kubur Lazarus meski Ia tahu Ia akan menghidupkan Lazarus kembali, Yesus menangis (Yohanes 11:35). Ia tidak menekan rasa sedih-Nya demi terlihat kuat. Ia hadir sepenuhnya dalam dukacita, bersama mereka yang berduka.
Dukacita Bukan Kelemahan Iman
Sebagian orang Kristiani, merasa tidak nyaman dengan dukacita. Ketika kehilangan seseorang yang dikasihi, putus hubungan, atau mimpi yang kandas, tentu mereka sedih. Tapi kemudian mereka merasa bersalah karena merasa sedih. Seolah kesedihan adalah tanda kurangnya iman.Lalu teman-teman segera menghibur (mungkin terlalu cepat) dengan meyakinkan bahwa Allah ingin kita senantiasa bersukacita.
Tapi Alkitab berbicara tentang siklus suka-duka yang sehat. Ada waktu untuk menangis, ada waktu untuk tertawa. Ada waktu untuk meratap, ada waktu untuk menari (Pengkhotbah 3:4). Pemazmur tidak menekan tangisnya: "Sepanjang malam ada tangisan, menjelang pagi terdengar sorak-sorai" (Mazmur 30:6).
Abraham meratap saat Sara meninggal dunia (Kejadian 23:2).
Daud menangisi bayinya yang mati karena sakit (2 Samuel 12:21).
Yesus menangis di depan kubur Lazarus.
Kitab Suci dengan sangat jelas menunjukkan bahwa dukacita adalah bagian normal dari kehidupan. Dan kepada mereka yang rela berduka, ada janji yang indah: "Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur" (Matius 5:4).
Dukacita itu baik. Bahkan perlu. Kita tidak perlu merasa bersalah karena merasa sedih.
Dukacita selama Masa Prapaskah bukan hanya soal kematian Yesus. Ia juga soal peran kesalahan kita di dalamnya. Kematian-Nya diperlukan karena dosa-dosa kita. Mengingat hal ini, dukacita kita menjadi semakin dalam dan menyiksa dan kita pun berseru kepada Allah untuk mengampuni kita.
Inilah yang membuat Misa Requiem begitu kuat secara teologis. Dalam Dies Irae (*Hari Murka*) salah satu bagian paling terkenal dari Misa Requiem tradisional ada pengakuan yang sangat jujur tentang betapa kita tidak layak dan betapa kita membutuhkan rahmat:
"Recordare, Jesu pie, quod sum causa tuae viae"
"Ingatlah, ya Yesus yang penuh kasih, bahwa akulah alasan perjalanan-Mu ke dunia ini."
Kalimat itu adalah dukacita yang benar. Bukan sekadar merasa sedih melainkan menyadari dengan sungguh-sungguh bahwa kita adalah bagian dari alasan mengapa Yesus harus mati.
Kematian rohani kita yang tak terhindarkan dibatalkan oleh kematian Kristus yang tak terhindarkan di Bukit Kalvari.
Dosa kita yang seharusnya membinasakan kita justru menjadi alasan mengapa Ia datang. Dan Ia tidak datang untuk menghakimi, tapi untuk menanggung. Inilah ironi yang paling indah dalam sejarah manusia, sesuatu yang Thomas à Kempis, gambarkan sebagai penghiburan dari salib.
Memang tepat bahwa orang Kristiani bersukacita atas kebangkitan Kristus. Tapi banyak yang melewatkan apa yang terjadi sebelumnya. Meski kita tidak boleh larut dalam duka, kita juga seharusnya tidak menyepelekannya.
Sukacita kita atas kebangkitan Yesus akan terasa jauh lebih kaya ketika kita sungguh-sungguh berduka atas segala sesuatu yang membuat peristiwa salib tak terhindarkan.
Anda tidak bisa benar-benar merayakan fajar jika Anda tidak pernah sungguh-sungguh merasakan gelapnya malam.
Ini berarti memberi diri kita izin untuk sedih, bukan sebagai tanda lemahnya iman, melainkan sebagai tanda kedalamannya.
Ini berarti duduk dengan pertanyaan yang tidak nyaman: Apa peranku dalam penyaliban Yesus? Dosa apa yang membuat kematian-Nya menjadi perlu?
Ini berarti berdoa requiem tidak hanya bagi mereka yang telah pergi, tapi juga bagi bagian-bagian diri kita yang perlu mati yaitu ego, kesombongan dan kebiasaan dosa yang kita pertahankan agar kita bisa bangkit bersama Kristus di Paskah dengan sungguh-sungguh diperbarui.
Karena pada akhirnya, requiem, istirahat yang abadi, bukan hanya untuk mereka yang telah meninggal. Ia juga janji bagi kita yang masih berjalan: bahwa setelah semua pergumulan, semua dukacita, semua kehilangan, ada istirahat yang menunggu. Ada penghiburan yang dijanjikan.
"Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur."
Kitab Suci dengan sangat jelas menunjukkan bahwa dukacita adalah bagian normal dari kehidupan. Dan kepada mereka yang rela berduka, ada janji yang indah: "Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur" (Matius 5:4).
Dukacita itu baik. Bahkan perlu. Kita tidak perlu merasa bersalah karena merasa sedih.
Dukacita yang Memiliki Kedalaman Rohani
Namun ada jenis dukacita yang spesifik dalam Masa Prapaskah yaitu sesuatu yang lebih dari sekadar kesedihan emosional biasa.Dukacita selama Masa Prapaskah bukan hanya soal kematian Yesus. Ia juga soal peran kesalahan kita di dalamnya. Kematian-Nya diperlukan karena dosa-dosa kita. Mengingat hal ini, dukacita kita menjadi semakin dalam dan menyiksa dan kita pun berseru kepada Allah untuk mengampuni kita.
Inilah yang membuat Misa Requiem begitu kuat secara teologis. Dalam Dies Irae (*Hari Murka*) salah satu bagian paling terkenal dari Misa Requiem tradisional ada pengakuan yang sangat jujur tentang betapa kita tidak layak dan betapa kita membutuhkan rahmat:
"Recordare, Jesu pie, quod sum causa tuae viae"
"Ingatlah, ya Yesus yang penuh kasih, bahwa akulah alasan perjalanan-Mu ke dunia ini."
Kalimat itu adalah dukacita yang benar. Bukan sekadar merasa sedih melainkan menyadari dengan sungguh-sungguh bahwa kita adalah bagian dari alasan mengapa Yesus harus mati.
Ironi yang Paling Indah
Ada paradoks terbesar dalam iman Kristiani yang perlu kita renungkan dalam Masa Prapaskah ini:Kematian rohani kita yang tak terhindarkan dibatalkan oleh kematian Kristus yang tak terhindarkan di Bukit Kalvari.
Dosa kita yang seharusnya membinasakan kita justru menjadi alasan mengapa Ia datang. Dan Ia tidak datang untuk menghakimi, tapi untuk menanggung. Inilah ironi yang paling indah dalam sejarah manusia, sesuatu yang Thomas à Kempis, gambarkan sebagai penghiburan dari salib.
Memang tepat bahwa orang Kristiani bersukacita atas kebangkitan Kristus. Tapi banyak yang melewatkan apa yang terjadi sebelumnya. Meski kita tidak boleh larut dalam duka, kita juga seharusnya tidak menyepelekannya.
Sukacita kita atas kebangkitan Yesus akan terasa jauh lebih kaya ketika kita sungguh-sungguh berduka atas segala sesuatu yang membuat peristiwa salib tak terhindarkan.
Anda tidak bisa benar-benar merayakan fajar jika Anda tidak pernah sungguh-sungguh merasakan gelapnya malam.
Menyiapkan Hati Menyambut Paskah
Dalam masa menyambut Paskah ini, ada baiknya kita sungguh-sungguh berduka dan merasakan dengan mendalam arti kematian Kristus dalam rencana besar Allah bagi kita.Ini berarti memberi diri kita izin untuk sedih, bukan sebagai tanda lemahnya iman, melainkan sebagai tanda kedalamannya.
Ini berarti duduk dengan pertanyaan yang tidak nyaman: Apa peranku dalam penyaliban Yesus? Dosa apa yang membuat kematian-Nya menjadi perlu?
Ini berarti berdoa requiem tidak hanya bagi mereka yang telah pergi, tapi juga bagi bagian-bagian diri kita yang perlu mati yaitu ego, kesombongan dan kebiasaan dosa yang kita pertahankan agar kita bisa bangkit bersama Kristus di Paskah dengan sungguh-sungguh diperbarui.
Karena pada akhirnya, requiem, istirahat yang abadi, bukan hanya untuk mereka yang telah meninggal. Ia juga janji bagi kita yang masih berjalan: bahwa setelah semua pergumulan, semua dukacita, semua kehilangan, ada istirahat yang menunggu. Ada penghiburan yang dijanjikan.
"Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur."
Allah Bapa, tolonglah aku merasakan dukacita sejati. Tolonglah aku berduka atas kekelaman dosaku dan peranku dalam penyaliban Yesus yang mengerikan. Dan dalam dukacita itu, biarlah aku menemukan penghiburan-Mu yang nyata — istirahat yang hanya bisa Engkau berikan.
Requiem aeternam dona nobis, Domine. Berikanlah kepada kami istirahat yang abadi, ya Tuhan.
Requiem aeternam dona nobis, Domine. Berikanlah kepada kami istirahat yang abadi, ya Tuhan.
.png)
Comments
Post a Comment