BAPTISAN
— Dicelupkan ke dalam Kematian untuk Bangkit ke dalam Hidup Baru —
"Tidak tahukah kamu, bahwa kita semua yang telah dibaptis dalam Kristus, telah dibaptis dalam kematian-Nya?"
Roma 6:3Sebuah Cerita: Air yang Mengubah Segalanya
Pada suatu pagi di bulan April yang lembap, seorang pria bernama Reno berdiri di depan kolam baptis gereja dengan seluruh tubuhnya gemetar. Bukan karena dingin meski air itu memang tidak hangat melainkan karena ia tahu bahwa apa yang akan terjadi beberapa detik lagi bukan sekadar ritual. Sembilan bulan sebelumnya, ia adalah orang yang paling jauh dari gereja: hidupnya penuh kekerasan, pernikahan pertamanya hancur karena pengkhianatan yang ia sendiri lakukan, dan ia menghabiskan banyak malam dalam keputusasaan yang dalam.
Lalu ia bertemu Kristus. Bukan dalam cara yang dramatis, tidak ada kilat atau suara dari langit hanya dalam keheningan sebuah doa di kamar sempit, di mana ia akhirnya berkata, "Tuhan, aku tidak tahu apakah Engkau ada, tapi kalau ada, tolong ubah aku." Dan sesuatu mulai bergerak dalam dirinya sejak malam itu.
Kini ia berdiri di sini. Pastor bertanya: "Apakah kamu percaya?" Ia menjawab: "Ya." Dan kemudian air menutup tubuhnya sepenuhnya, beberapa detik yang terasa seperti selamanya. Saat ia muncul ke permukaan, napasnya tercekat. Bukan karena sesak, tapi karena untuk pertama kali dalam hidupnya, ia merasakan sesuatu yang tidak bisa ia namakan: bersih. Bukan sekadar bersih secara fisik, melainkan bersih dari dalam seperti beban yang sudah bertahun-tahun menindihnya tiba-tiba terangkat.
Ia menangis. Dan semua orang yang hadir menangis bersamanya.
Itulah baptisan. Bukan sekadar upacara keagamaan, bukan sekadar formalitas penerimaan anggota. Melainkan sebuah kematian dan kebangkitan yang nyata yang mengubah siapa kita secara fundamental, untuk selamanya.
I. Dari Bapto ke Baptisan: Makna yang Lebih Dalam dari Air
Kata Yunani baptizo dan kata bendanya baptismos berasal dari kata dasar bapto, yang secara harfiah berarti "mencelupkan." Septuaginta, Alkitab Perjanjian Lama dalam bahasa Yunani, menggunakan bentuk kata bapto untuk menceritakan bagaimana seorang panglima yang menderita kusta bernama Naaman mencelupkan dirinya ke dalam Sungai Yordan tujuh kali mengikuti perintah Nabi Elisa (2 Raja-Raja 5:14) dan ia sembuh.
Kita juga mendengar akar kata yang sama di Perjamuan Terakhir, saat Yesus mengatakan bahwa orang yang akan mengkhianati-Nya adalah orang yang mencelupkan tangannya ke dalam pinggan bersama Dia (Matius 26:23). Mencelupkan: bapto. Sebuah tindakan penuh simbolisme: masuk ke dalam, dibasuh, keluar berubah.
Orang-orang Yahudi yang hidup di sekitar Yohanes Pembaptis sudah sangat akrab dengan ritual pembasuhan yang disebut mikvah sebuah ritual pencelupan dalam air sebagai tanda pertobatan dan pemurnian. Bukan liburan ke sungai, melainkan sebuah tindakan rohani yang bermakna: air melambangkan cara Allah membasuh jiwa seseorang sebagai respons terhadap pertobatan yang sungguh-sungguh.
Catatan Liturgis: Kata 'baptisan' dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Yunani baptizein, yang artinya mencuci, membasuh, atau mencelupkan. Katekismus Romawi mendefinisikannya sebagai: "Baptisan adalah sakramen kelahiran kembali dengan air di dalam perkataan (per aquam in verbo)." - Katekismus Romawi, Ad Parochos, De Bapt., 2,2,5
Maka ketika Yohanes Pembaptis berdiri di Sungai Yordan dan mengundang orang-orang untuk dibaptis, ia sedang melakukan sesuatu yang sangat dimengerti oleh pendengarnya: undangan untuk memulai lagi, untuk dibasuh, untuk menjadi berbeda. Dan orang-orang berbondong-bondong datang karena setiap jiwa yang rindu pertobatan selalu tahu kapan waktunya untuk mencelupkan diri.
II. Baptisan Yesus: Misteri yang Sampai Hari Ini Mengejutkan
Yohanes tampak terkejut ketika Yesus datang ke hadapannya dan meminta dibaptis (Matius 3:14). Sampai sekarang pun, bagi yang membacanya dengan serius, ini tetap mengejutkan. Mengapa Anak Domba Allah yang tidak berdosa sama sekali perlu menjalani ritual yang diperuntukkan bagi pertobatan?
Teologi Gereja Katolik memberikan jawaban yang dalam: baptisan Yesus bukan tanda bahwa Ia berdosa, melainkan tanda bahwa Ia mengidentifikasikan diri-Nya sepenuhnya dengan kita yang berdosa - memikul beban dosa umat manusia sebagai tindakan solidaritas ilahi yang paling radikal. Dan konfirmasi ilahi atas tindakan ini langsung datang: Roh Kudus hinggap di atas-Nya dalam bentuk burung merpati, dan suara dari surga menyatakan perkenanan Allah atas Yesus (Matius 3:16-17).
"Baptisan Yesus di Sungai Yordan bukan pengakuan dosa-Nya - melainkan tanda bahwa Ia mengambil alih seluruh dosa kita, dan menguduskan air sebagai sarana rahmat bagi kita semua."
lih. KGK 536 · Matius 3:13-17Gereja Katolik mengajarkan bahwa dalam peristiwa baptisan-Nya, Yesus menguduskan air secara definitif sebagai sarana rahmat. KGK 536 menjelaskan bahwa baptisan Yesus adalah penerimaan misi-Nya sebagai Hamba Allah yang menderita. Ia membiarkan diri dihitung di antara para pendosa; Ia sudah "Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia" (Yohanes 1:29). Ia sudah mengantisipasi "baptisan" kematian-Nya yang berdarah (Markus 10:38; Lukas 12:50).
Inilah yang membuat baptisan kita sebagai orang beriman bukan sekadar ritual sosial: ia terhubung langsung dengan baptisan Kristus sendiri, dan dengan demikian, dengan kematian dan kebangkitan-Nya.
III. Ajaran Gereja Katolik: Baptisan sebagai Kelahiran Kembali
Gereja mengajarkan bahwa Sakramen Baptis adalah sakramen pertama yang dapat diterima dan merupakan fondasi sekaligus pintu masuk kepada seluruh kehidupan Kristiani. Sebagaimana ditegaskan oleh katolisitas.org: "Sakramen Baptis adalah sakramen yang memberikan rahmat pengudusan yang membawa kepada kehidupan baru di jiwa kita, yang menjadikan kita anak-anak Allah dan ahli waris Kerajaan Surga."
Ada dua efek utama yang diajarkan Gereja dari Sakramen Baptis:
Pertama, penghapusan dosa. Baptisan membersihkan jiwa dari semua dosa, baik dosa asal yang diwarisi dari Adam dan Hawa, maupun dosa-dosa pribadi yang telah dilakukan sejak lahir hingga saat dibaptis. Baptisan adalah satu-satunya sakramen yang dapat menghapus dosa asal. Dengan dibebaskan dari dosa, seseorang juga dibebaskan dari hukuman kekal yang menjadi konsekuensinya.
Kedua, kelahiran kembali dalam Roh Kudus. Baptisan bukan hanya membersihkan dari yang lama, ia juga melahirkan yang baru. Seseorang menjadi ciptaan baru sebagai anak angkat Allah yang mengambil bagian dalam kodrat ilahi, ahli waris Kerajaan Allah. Dari sini mengalirlah tiga kebajikan ilahi yakni iman, pengharapan, dan kasih beserta karunia-karunia Roh Kudus.
KGK 1265: "Baptisan bukan hanya membersihkan dari semua dosa, tetapi juga menjadikan orang yang baru dibaptis suatu 'ciptaan baru', seorang anak angkat Allah, yang 'mengambil bagian dalam kodrat ilahi' (2 Ptr 1:4), anggota Kristus, dan bersama-sama Dia, 'ahli waris' (Rm 8:17)."
Yang juga sangat penting dalam ajaran Gereja Katolik adalah bahwa baptisan memberikan meterai rohani yang tak terhapuskan. KGK 1272 mengajarkan: "Orang yang dibaptis menjadi serupa dengan Kristus, karena melalui Pembaptisan ia digabungkan bersama Kristus. Pembaptisan menandai warga Kristen dengan satu meterai rohani yang tidak dapat dihapuskan, satu tanda, bahwa ia termasuk bilangan Kristus. Tanda ini tidak dihapuskan oleh dosa mana pun." Inilah mengapa baptisan hanya dapat diterima satu kali seumur hidup karena ia bukan sebuah upacara yang bisa diulang, melainkan sebuah identitas yang ditanamkan untuk selamanya.
IV. Baptisan sebagai Kematian dan Kebangkitan: Inti Misteri Paskah
Paulus menulis dengan sangat gamblang dalam Roma 6:4: "Dengan demikian kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia oleh baptisan dalam kematian, supaya, sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru." Baptisan bukan hanya tentang air dan pengampunan, ia adalah partisipasi nyata dalam misteri Paskah Kristus.
Ada dimensi lain dari baptisan yang sering kita lupakan: dalam Markus 10:38-39, ketika Yakobus dan Yohanes meminta kedudukan istimewa di kerajaan-Nya, Yesus menjawab: "Dapatkah kamu meminum cawan yang harus Kuminum dan dibaptis dengan baptisan yang harus Kuterima?" Di sini Yesus merujuk pada baptisan kematian-Nya sendiri bahwa baptisan melambangkan bukan hanya pembasuhan, tetapi juga kesediaan untuk menanggung penderitaan demi kasih.
Umat Kristen mula-mula memahami ini secara sangat konkret. Ketika mereka menghadapi penganiayaan di bawah Kekaisaran Romawi, mereka berbicara tentang mati syahid sebagai sejenis "baptisan darah." Mereka rela mati dalam pelayanan kepada Tuhan yang mereka kasihi, karena mereka sudah memahami bahwa baptisan adalah ikrar untuk hidup dan mati bersama Kristus.
"Baptisan bukan hanya tentang air yang membasuh, ia adalah kematian yang membebaskan dan kebangkitan yang mengubah. Kita dikuburkan bersama Kristus agar kita bangkit bersama-Nya."
Roma 6:3-4 · KGK 628Gereja Katolik mengajarkan bahwa hubungan antara baptisan dan Paskah bukan sekadar simbolis. Itulah mengapa secara liturgis, momen yang paling indah untuk menerima baptisan adalah Malam Paskah momen di mana Gereja merayakan kebangkitan Kristus, dan di saat yang sama, menyaksikan jiwa-jiwa baru yang "bangkit bersama-Nya" melalui air baptisan (KGK 1247; bdk. Kolose 2:12; 1 Petrus 3:21).
V. Baptisan dan Prapaskah: Jalan Memperbarui Ikrar Kita
Masa Prapaskah memiliki kaitan yang sangat logis dengan baptisan. Masa 40 hari yang dihabiskan Yesus di padang gurun sebuah periode yang kita tiru dalam Prapaskah yang dimulai dengan baptisan Yesus di Sungai Yordan. Selain itu, secara historis, Prapaskah adalah masa persiapan bagi para katekumen yang akan dibaptis pada Malam Paskah, sekaligus masa pembaruan bagi mereka yang sudah dibaptis.
Bagi kita yang sudah dibaptis, Prapaskah adalah undangan untuk tidak menganggap baptisan kita sebagai peristiwa masa lalu yang selesai dan terlupakan. Sebaliknya, Gereja mengundang kita untuk kembali menghayati janji baptis kita yang akan secara resmi diperbarui dalam upacara Malam Paskah. Pertanyaan yang diajukan pastor saat pembaruan janji baptis adalah pertanyaan yang sama dengan yang pertama kali dijawab (atau dijawabkan oleh orang tua kita): "Apakah kamu percaya kepada Allah Bapa Yang Mahakuasa? Apakah kamu percaya kepada Yesus Kristus Putera-Nya? Apakah kamu percaya kepada Roh Kudus?"
Dan kita menjawab: "Ya, saya percaya."
Tantangan untuk Prapaskah ini adalah pertanyaan yang sangat personal dan dalam: "Siapkah kita untuk meminum dari cawan penderitaan dan dibaptis dengan baptisan kematian yang diterima Tuhan Yesus?" Ini bukan pertanyaan liturgis yang membutuhkan jawaban formal akan tetapi ini adalah pertanyaan hati nurani yang membutuhkan kejujuran radikal. Apakah baptisan kita masih berarti sesuatu dalam kehidupan sehari-hari? Apakah kita hidup sebagai orang yang sudah mati terhadap dosa dan bangkit dalam hidup yang baru?
"Baptisan adalah sakramen kelahiran kembali melalui air dan dalam sabda Allah. Melalui Baptisan kita dibebaskan dari dosa dan dilahirkan kembali sebagai anak-anak Allah."
Katolisitas.org · KGK 1213Doa Menyambut Paskah
Tuhan Yesus, terima kasih atas hidup baru yang dilambangkan oleh baptisan.
Tolonglah aku untuk menyadari bagaimana baptisan menjadi cerminan penderitaan yang Engkau tanggung menggantikanku.
Di masa Prapaskah ini, kuatkan aku untuk tidak hanya mengenang baptisanku sebagai peristiwa masa lalu,
melainkan untuk sungguh-sungguh mati terhadap dosa setiap hari,
dan bangkit bersama-Mu dalam hidup yang baru.
Jadikan aku layak menjawab "Ya" dengan seluruh hidupku, bukan hanya dengan bibirku.
Amin.
Catatan dan Referensi
- Roma 6:3-4; Matius 3:13-17; Markus 10:38-39; Kolose 2:12; 1 Petrus 3:21; 2 Raja-Raja 5:14
- Katekismus Gereja Katolik (KGK) 536, 628, 1213, 1247, 1265, 1272 — Sakramen Baptis
- Katolisitas.org, "Apakah Sakramen Baptis?" — https://www.katolisitas.org/unit/apakah-sakramen-baptis/
- Katolisitas.org, "Apakah Efek dari Sakramen Baptis?" — https://www.katolisitas.org/unit/apakah-efek-dari-sakramen-baptis/
- Katolisitas.org, "Jelaskan Efek dari Baptisan!" — https://www.katolisitas.org/unit/jelaskan-efek-dari-baptisan/
- Katolisitas.org, "Apakah yang Disebut Sakramen-sakramen Inisiasi Kristen?" — https://www.katolisitas.org/unit/apakah-yang-disebut-sakramen-sakramen-inisiasi-kristen/
- Katekismus Romawi, Ad Parochos, De Bapt., 2,2,5 — Definisi Baptisan
- Kitab Hukum Kanonik (KHK) Kan. 856 — Baptisan dianjurkan pada Malam Paskah
- Santo Agustinus — anjuran pembaptisan sedini mungkin sebagai karunia terbesar bagi anak
- 40 Hari. 40 Kata — Bab 23: Baptisan, hal. 98-101 (sumber utama refleksi ini)
.png)
Comments
Post a Comment