MEMBERI
"Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma." - Matius 10:8Masa Prapaskah 2026 datang dengan sebuah seruan yang sangat kontekstual dan mendesak dari Keuskupan Agung Makassar: "Semangat Laudato Si' dan Transformasi Hidup Mengatasi Krisis Sosial." Tema ini bukan sekadar slogan rohani yang indah didengar. Ia adalah respons yang jujur terhadap realitas yang menyakitkan seperti bencana alam, krisis sosial, kemiskinan struktural, dan kerusakan lingkungan yang semakin nyata dirasakan oleh saudara-saudari kita.
Dan di tengah semua itu, Masa Prapaskah mengundang kita pada sebuah kata yang sederhana namun revolusioner yaitu Memberi.
Tiga Pilar, Satu yang Terlupakan...
Masa Retret Agung berpusat pada aktivitas praktik Kristiani: berpuasa dan berpantang, berdoa (doa, ekaristi, sakramen tobat, jalan salib, introspeksi diri), dan berderma atau berbagi (melakukan aksi kasih nyata kepada sesama yang membutuhkan).Dari ketiga hal tersebut, memberi adalah aspek yang paling sering terabaikan.
Kita lebih mudah berpantang makan daging atau mengurangi hiburan. Kita lebih mudah menambah waktu doa dan menghadiri Jalan Salib. Tapi memberi, membuka tangan secara nyata, secara material, secara konkret kepada sesama yang membutuhkan itu yang kerap kita lewatkan.
Surat Gembala Prapaskah 2026 Keuskupan Agung Makassar hadir untuk mengingatkan kita bahwa memberi bukan sekadar pilihan rohani yang baik. Ia adalah panggilan misioner yang lahir dari iman kepada Allah yang terlebih dahulu memberi kepada kita.
Allah Memberi Lebih Dahulu dan Paling Banyak
Sebelum kita berbicara tentang apa yang perlu kita berikan, kita perlu merenungkan siapa yang memberi lebih dahulu."Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal" (Yohanes 3:16).
Ini mungkin ayat paling terkenal dalam seluruh Alkitab dan kata kuncinya adalah mengaruniakan. Allah tidak menjual apa pun kepada kita. Ia tidak menyewakan Yesus kepada dunia. Ia tidak mempekerjakan kita untuk mengumpulkan pahala agar mendapat berkat tertentu sebagai imbalannya. Yang Dia lakukan hanyalah memberi dengan cara yang paling radikal yang pernah ada: menyerahkan Anak-Nya yang tunggal kepada kuasa maut supaya kita memperoleh kehidupan.
"Sebab upah dosa ialah maut; tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita" (Roma 6:23). Karunia itu bukan upah. Bukan hasil kerja keras atau akumulasi perbuatan baik. Karunia yang cuma-cuma.
Dan dari kelimpahan karunia itulah, kita dipanggil untuk menjadi pemberi. Dengan bersyukur, kita juga menjadi pemberi.
Yesus: Teladan Pemberi yang Paling Radikal
Yesus sendiri berbicara banyak tentang memberi dan Ia tidak berhenti pada kata-kata.Ia memberi air hidup kepada perempuan Samaria yang tersisih (Yohanes 4:14). Ia berkata: "Akulah roti hidup yang telah turun dari sorga... Roti yang Kuberikan itu ialah daging-Ku, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia" (Yohanes 6:51). Ia meninggalkan damai sejahtera yang tidak seperti yang dunia berikan (Yohanes 14:27).
Dan puncaknya: "Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang" (Markus 10:45).
Yesus tidak datang untuk menerima penghormatan. Ia datang untuk memberikan segalanya hingga tetes darah terakhir di Bukit Kalvari.
Memberi dengan Hilaron yakni Sukacita yang Meluap
Ada kata Yunani yang sangat indah dalam surat Paulus: "Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita" (2 Korintus 9:7). Kata Yunani untuk "sukacita" di sini adalah hilaron akar dari kata bahasa Inggris hilarious (riang, meluap-luap). Bukan sukacita yang sopan dan terukur, melainkan kegembiraan yang tumpah keluar dari kelimpahan hati.Pemberian yang sejati bukan transaksi. Bukan derma yang dihitung-hitung. Bukan sumbangan yang diberikan karena takut dihakimi. Ini adalah respons alami dari hati yang sungguh-sungguh bersyukur atas apa yang telah diterimanya dari Allah secara cuma-cuma.
Laudato Si': Memberi kepada Bumi dan kepada yang Paling Rentan
Paus Fransiskus dalam ensiklik Laudato Si' ("Terpujilah Engkau", 2015) mengajak kita untuk melihat bahwa bumi ini pun adalah pemberian Allah, rumah bersama (our common home) yang harus kita jaga, rawat, dan teruskan kepada generasi mendatang. Bukan menguras dan mengeksploitasinya untuk kepentingan sesaat.Judul ensiklik ini diambil dari kidung terkenal Santo Fransiskus dari Asisi yang memuji Allah atas keindahan ciptaan: matahari, bulan, angin, air, api, dan bumi sebagai "Saudari kami, Ibu Pertiwi, yang memelihara dan mengatur kami."
Surat Gembala Prapaskah 2026 Keuskupan Agung Makassar merespons semangat Laudato Si' ini dengan sangat konkret dan kontekstual. Uskup mengingatkan tentang bencana alam yang menghancurkan di Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Aceh pada akhir November 2025: lebih dari 604 korban jiwa, 464 korban hilang, ribuan rumah rusak berat, 282 fasilitas pendidikan hancur, 271 jembatan roboh, dan jutaan hektar lahan pertanian rusak dengan kerugian ekonomi ditaksir mencapai lebih dari 6 triliun rupiah
Uskup menulis dengan jujur dan menohok: "Fenomena alam berupa banjir dan tanah longsor seperti yang menimpa Sumatera bagian Utara dan Barat tentu saja tidak berdiri sendiri tetapi berkelindan dengan cara kita memperlakukan alam selama ini."
Kita dipanggil untuk introspeksi mungkin kita lalai menjaga dan merawat alam ciptaan ini sebagai rumah bersama. Mungkin kita abai sehingga teledor merusak ibu pertiwi ini.
Oleh karena itu, Masa Prapaskah ini menjadi momen untuk bertobat dalam relasi kita dengan alam dan mewujudkannya dalam tindakan nyata: tidak membuang sampah sembarangan, menghijaukan pekarangan rumah, menjaga sungai dan laut dari pencemaran, tidak membiarkan hutan digunduli demi keuntungan segelintir orang.
Transformasi Diri dan Transformasi Sosial
Surat Gembala 2026 tidak berhenti pada seruan menjaga alam. Ia melangkah lebih jauh ke dalam krisis sosial yang juga melanda kita.Situasi global yang tidak baik-baik saja, konflik dan perang di berbagai belahan dunia, ketidakstabilan sosial-politik-ekonomi juga dirasakan di tingkat nasional dan lokal. Uskup menyebut secara konkret berbagai persoalan yang membelenggu masyarakat: human trafficking, intoleransi, penyerobotan hak tanah ulayat, kekerasan bersenjata di Papua, eksplorasi tambang yang merusak lingkungan hidup, hingga robohnya tongkonan yaitu rumah adat rumpun keluarga di Toraja oleh alat berat.
Di tengah semua realitas ini, Surat Gembala menegaskan dua panggilan yang saling terkait:
1. Transformasi diri (metanoia pribadi) : semakin berakar pada Kristus dan semakin menyerupai Dia dalam pikiran, perkataan, dan perbuatan (Filipi 2:2-5).
2. Transformasi sosial : perjuangan terus-menerus membawa perubahan esensial bagi dunia dan masyarakat menjadi lebih adil, damai, dan sejahtera untuk mewujudkan bonum commune kebaikan bersama.
Keduanya tidak bisa dipisahkan. Kita tidak bisa mengklaim bertransformasi secara pribadi jika kita menutup mata terhadap penderitaan di sekitar kita. Dan transformasi sosial yang sejati hanya bisa lahir dari hati yang sungguh-sungguh diperbarui oleh kasih Kristus.
Seruan Paus Leo XIV: Hadir bagi yang Paling Miskin
Dalam surat apostoliknya Dilexi Te ("Allah telah mengasihi engkau", 2025), Paus Leo XIV menegaskan bahwa kondisi kaum miskin adalah "seruan sepanjang sejarah manusia yang senantiasa menantang kehidupan, masyarakat, sistem politik dan ekonomi kita, dan tak terkecuali, Gereja."Paus mengingatkan: ketika kita melihat wajah-wajah kaum miskin yang terluka, kita melihat penderitaan orang-orang tak berdosa dan oleh karena itu, penderitaan Kristus sendiri. Kemiskinan hadir dalam banyak bentuk: kekurangan sarana penghidupan material, terpinggirkan secara sosial, kemiskinan moral dan spiritual, kemiskinan budaya, mereka yang berada dalam kondisi kelemahan dan kerapuhan pribadi, mereka yang tidak memiliki hak dan kebebasan.
Gereja yang berarti kita, umat beriman dipanggil dan diutus untuk hadir di tengah semua bentuk kemiskinan itu. Bukan sebagai penonton yang bersimpati dari kejauhan, melainkan sebagai pembawa harapan yang nyata.
Dari Pantangan Menjadi Pemberian Konkret
Surat Gembala mengajak kita pada sebuah praktik yang sangat konkret dan transformatif: mengubah pantangan menjadi pemberian.Berpantang makanan tertentu? Donasikan nilai uangnya untuk membantu korban bencana alam atau program pangan bagi yang kelaparan. Berpantang hiburan? Gunakan waktu itu untuk mengunjungi yang kesepian, yang sakit, yang berduka; yatim piatu dan janda-janda dalam kesusahan mereka (Yakobus 1:27).
Berpantang penggunaan plastik? Itu bentuk memberi kepada bumi dan kepada generasi yang akan mewarisi bumi ini. Berpantang konsumsi berlebihan? Itu bentuk solidaritas dengan mereka yang tidak punya cukup.
"Demikianlah ekonomi dari kasih dan pemeliharaan Allah. Dia ingin agar kita sungguh-sungguh menghayati dan menerapkannya dalam hidup kita."
SAGKI V 2025: Gereja yang Berjalan Bersama
Sidang Agung Gereja Katolik Indonesia (SAGKI) V 2025 mengajak Gereja Indonesia untuk tidak melupakan jejak-jejak misi yang berakar pada sejarah lokal: semangat persaudaraan, gotong royong, kekeluargaan, dan keanekaragaman budaya. SAGKI V menekankan "perlunya menghidupkan semangat misi Gereja yang berakar pada sejarah lokal."Ini berarti memberi dalam konteks Indonesia juga berarti menghidupkan kembali nilai-nilai luhur yang sudah ada: gotong royong yang bukan sekadar slogan, kepedulian kepada tetangga yang bukan sekadar kebiasaan sosial, melainkan ekspresi iman yang konkret dan membumi.
Paus Leo XIV, dalam kunjungan apostolik perdananya, memilih mengunjungi Turki dan Libanon dimana dua tempat yang sangat sarat dengan sejarah konflik dan penderitaan. Di Turki, ia berdoa untuk rekonsiliasi di tempat Konsili Nicea diadakan 1.700 tahun silam. Di Libanon, ia menyerukan perdamaian yang menuntut keberanian untuk berkorban. Pesan yang sama berlaku bagi kita yakni mewujudkan perdamaian dan keadilan menuntut keberanian untuk memberi dengan memberi waktu, energi, sumber daya, bahkan kenyamanan kita.
Menyiapkan Hati Menyambut Paskah
Komunitas Laudato Si' Chapter Makassar yang dilantik pada Perayaan Bunda Maria Diangkat ke Surga, 10 Agustus 2025, adalah salah satu wujud konkret dari semangat ini. Uskup mengharapkan komunitas ini berkembang hingga ke tingkat kevikepan, paroki, stasi, lingkungan, dan kelompok basis.Tapi yang lebih penting dari struktur organisasi adalah semangat yang menghidupkannya yaitu semangat untuk memberi kepada sesama yang miskin dan tersisih, kepada bumi yang kita tinggali, kepada generasi yang akan mewarisi dunia ini setelah kita.
Masa Prapaskah 2026 mengundang setiap kita untuk bertanya dengan jujur:
Apa yang sudah aku terima dari Allah secara cuma-cuma dan apakah aku sudah membagikannya dengan sukacita?
Bagaimana pantanganku di Masa Prapaskah ini bisa menjadi pemberian nyata bagi seseorang yang membutuhkan?
Apakah cara hidupku berkontribusi pada kerusakan alam yang membuat orang-orang paling miskin semakin menderita?
Apakah aku berani melakukan transformasi, bukan hanya di dalam diriku, tapi juga dalam cara aku hadir di tengah masyarakat?
Semoga doa, pantang-puasa, dan amal kasih kita di Masa Prapaskah 2026 ini menjadi buah-buah kebaikan yang tak henti-hentinya kita taburkan dalam kehidupan ini sebagai murid-murid Kristus Yesus yang sejati.
Apa yang sudah aku terima dari Allah secara cuma-cuma dan apakah aku sudah membagikannya dengan sukacita?
Bagaimana pantanganku di Masa Prapaskah ini bisa menjadi pemberian nyata bagi seseorang yang membutuhkan?
Apakah cara hidupku berkontribusi pada kerusakan alam yang membuat orang-orang paling miskin semakin menderita?
Apakah aku berani melakukan transformasi, bukan hanya di dalam diriku, tapi juga dalam cara aku hadir di tengah masyarakat?
Semoga doa, pantang-puasa, dan amal kasih kita di Masa Prapaskah 2026 ini menjadi buah-buah kebaikan yang tak henti-hentinya kita taburkan dalam kehidupan ini sebagai murid-murid Kristus Yesus yang sejati.
Ya Allah, Engkau telah memberiku segalanya dengan cuma-cuma. Ajarkan aku untuk memberi dengan tangan terbuka dan hati yang penuh sukacita. Bantulah aku melihat wajah-Mu dalam diri mereka yang membutuhkan. Jadikanlah pantanganku di Masa Prapaskah ini sebagai berkat nyata bagi sesama, bagi bumi yang Kau titipkan kepada kami, dan bagi generasi yang akan mewarisi dunia ini setelah kami.
Referensi Magisterium & Dokumen Gereja:
- Paus Fransiskus, Ensiklik Laudato Si' ("Terpujilah Engkau"), 2015
- Paus Leo XIV, Surat Apostolik Dilexi Te ("Allah telah mengasihi engkau"), 2025, art. 9
- Surat Gembala Prapaskah 2026 , Keuskupan Agung Makassar, tema: "Semangat Laudato Si' dan Transformasi Hidup Mengatasi Krisis Sosial", Makassar 3 Februari 2026
- SAGKI V 2025 — Sidang Agung Gereja Katolik Indonesia, art. 8 hlm. 3
- Santo Fransiskus dari Asisi — Kidung Saudara Matahari (Canticle of the Sun)
.png)
Comments
Post a Comment