MENGAKU : Keberanian Paling Dalam yang Pernah Ada
"Mendekatlah kepada Allah, dan Ia akan mendekat kepadamu. Tahirkanlah tanganmu, hai kamu orang-orang berdosa! dan sucikanlah hatimu, hai kamu yang mendua hati!" -Yakobus 4:8Ada sebuah cerita tentang seorang anak kecil yang pergi ke gereja untuk menerima sakramen pengakuan dosa . Di perjalanan, ia berusaha menghafalkan doa penyesalan yang sering diajarkan kepadanya doa yang sepatutnya diawali dengan kata-kata: "Ya Allah, dengan sepenuh hati, aku menyesali dosa-dosaku."
Tapi karena gagal paham, ia kesulitan mengingat satu kata yang penting. Doanya pun lama-lama berubah menjadi: "Ya Allah, dengan setengah hati, aku menyesali dosa-dosaku."
Cerita yang lucu tapi mungkin tidak jauh dari kenyataan banyak dari kita. Doa pengakuan dosa terkadang hanya menjadi sebuah hafalan, sehingga bisa jadi kita melakukannya dengan setengah hati daripada sepenuh hati.
Masa Prapaskah hadir untuk mengundang kita pada sesuatu yang berbeda mengaku dengan sepenuh hati, dengan jujur, dengan berani.
Satu Kata Yunani yang Mengubah Segalanya
Kata dalam bahasa Yunani untuk "mengaku" adalah sebuah istilah hukum yang sangat kaya maknanya. Kata itu digabungkan dari unsur kata "sama" dan "bicara" yang berarti "mengatakan hal yang sama" atau "sepakat".Dalam sebuah pengadilan, seorang jaksa bisa berkata: "Kami yakin Anda melakukan kejahatan tersebut. Apa pembelaan Anda?" Jika Anda mengaku, Anda berarti setuju dengan dakwaan. Anda berkata hal yang sama dengan apa yang jaksa katakan tentang Anda.
Gambarannya sangat kuat: mengaku dosa berarti kita setuju dengan Allah tentang dosa kita. Bukan membela diri. Bukan mencari alasan. Bukan berkata "Aku melakukannya karena..." Melainkan berkata bersama dengan Allah: "Ya. Itulah yang aku lakukan. Itulah aku."
Dan di sinilah paradoks yang luar biasa terjadi. Dalam pengadilan manusia, mengaku berarti hukuman lebih berat. Tapi dalam pengadilan kasih Allah, mengaku justru membuka pintu pengampunan yang selama ini tertutup.
Ruang Sidang yang Berbeda dari Semua Ruang Sidang
Alkitab sering memakai gambaran ruang pengadilan untuk menggambarkan interaksi manusia dengan Allah. Allah bisa mengambil peran sebagai jaksa penuntut, hakim yang adil tetapi penuh belas kasihan, atau khususnya dalam pribadi Yesus sebagai pembela kita.Dan di sinilah The Chosen memberikan gambaran yang jauh lebih hidup daripada serial hukum mana pun.
Ingatlah adegan ketika Yesus bertemu dengan Matius, sang pemungut cukai, di biliknya. Matius adalah orang yang dalam terminologi hukum zaman itu sudah "terbukti bersalah" di hadapan masyarakat: pengkhianat bangsa, kolaborator penjajah, perampok yang dilegalkan. Tidak ada yang membelanya. Tidak ada pengacara yang mau mengambil kasusnya.
Tapi Yesus datang bukan sebagai jaksa. Ia datang bukan untuk mendakwa. Ia berdiri di depan meja Matius dan berkata dua kata saja: "Ikutlah Aku."
Matius tidak perlu berpidato pembelaan. Ia tidak perlu menjelaskan betapa sulitnya hidupnya atau betapa tidak adilnya sistem yang membuatnya memilih jalan itu. Ia hanya perlu meninggalkan meja itu sebagai tanda bahwa ia setuju dengan realitas baru yang Yesus tawarkan.
Atau ingatlah adegan Maria Magdalena di season pertama The Chosen seorang perempuan yang hidupnya hancur, yang dipandang rendah oleh semua orang, yang bahkan mungkin sudah berhenti berharap bahwa hidupnya bisa berbeda. Lalu Yesus hadir dan menyebutnya dengan namanya. Bukan dengan labelnya dan bukan dengan semua yang pernah ia lakukan. Melainkan dengan namanya.
"Maria."
Satu kata itu adalah pengakuan yang paling dalam; Aku tahu siapa kamu. Bukan siapa yang orang lain katakan kamu, bukan dosa-dosamu yang mendefinisikanmu — melainkan kamu, anak yang dikasihi-Ku.
Itulah yang terjadi dalam pengakuan dosa yang sungguh-sungguh. Kita datang dengan seluruh beban label dan kegagalan kita dan Allah memanggil kita dengan nama kita yang sesungguhnya.
Perhatikanlah: jaksa yang mendakwa Anda ternyata juga Hakim yang ingin mengampuni Anda. Hakim itu bukan sekadar ingin mengampuni namun Ia bahkan menyiapkan pembela terbaik yang pernah ada.
Dan siapakah pembela itu? Dalam 1 Yohanes 2:1, Yohanes menulis: "Jika ada seorang yang berdosa, kita mempunyai seorang pengantara pada Bapa, yaitu Yesus Kristus, yang adil."
Bayangkan dalam skenario The Chosen ada adegan di Getsemani malam sebelum penyaliban. Yesus yang sudah tahu apa yang akan terjadi, yang sudah tahu siapa yang akan mengkhianati-Nya, yang sudah tahu bahwa semua murid-Nya akan melarikan diri tetap berdoa bukan hanya untuk diri-Nya, tapi untuk mereka semua. "Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat"(Lukas 23:34).
Ia adalah Pembela yang memohon bukan dari luar ruang sidang, tapi dari atas kayu salib itu sendiri.
Dan Pengantara yang sama itulah yang berdiri di sisi kita ketika kita datang dengan pengakuan kita.
Saling mengaku. Mengaku kepada sesama adalah kepada seseorang yang dipercaya, kepada pembimbing rohani, dan atau kepada imam dalam Sakramen Rekonsiliasi yang memiliki dimensi penyembuhan yang sangat nyata.
Dalam psikologi modern kita sebut sebagai konseling dan Alkitab sudah berbicara tentangnya ribuan tahun sebelum psikologi menjadi ilmu.
Kedua: Mengaku memutus siklus isolasi dan malu. Salah satu dampak terberat dari dosa dan luka adalah perasaan bahwa "hanya aku yang mengalami ini" atau "tidak ada yang boleh tahu tentang ini." Isolasi itu justru memperdalam luka. Ketika kita berani mengaku dan disambut bukan dengan penghakiman melainkan dengan penerimaan maka kita menemukan bahwa kita tidak sendirian, dan bahwa kita tidak perlu terus menanggung beban itu seorang diri.
Ketiga: Mengaku menciptakan akuntabilitas yang membantu perubahan. Dosa yang hanya diakui dalam hati mudah terulang karena tidak ada yang memegang kita bertanggung jawab. Tapi dosa yang diakui kepada orang lain yang dipercaya seperti seorang pembimbing rohani, seorang imam, seorang sahabat iman akan menciptakan komunitas pertanggungjawaban yang membantu kita untuk sungguh-sungguh berubah.
Keempat: Mengaku memberi kepastian akan pengampunan. Kadang kita sudah memohon pengampunan berkali-kali dalam doa pribadi akan tetapi tetap tidak merasa diampuni. Perasaan itu tidak selalu mencerminkan realitas, tapi ia bisa sangat menyiksa. Sakramen Pengakuan Dosa memberikan sesuatu yang tidak bisa diberikan oleh doa pribadi yakni kepastian yang konkret dan terdengar bahwa dosamu sungguh-sungguh diampuni. Kata-kata absolusi imam adalah suara Kristus sendiri yang berbicara kepadamu secara langsung. Besok kita akan membahas tentang penitensi.
Roma 10:9 berkata: "Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan."
Mengaku bahwa Yesus adalah Tuhan dengan mulut, dengan suara, dengan kata-kata yang bisa didengar orang lain adalah bagian dari iman yang menyelamatkan. Pengakuan iman (Syahadat Iman) dan pengakuan dosa adalah dua sisi dari satu koin yang sama: keduanya adalah tindakan mengatakan hal yang sama dengan Allah tentang siapa diri kita dan tentang siapa Ia.
Dalam The Chosen, adegan pengakuan iman yang paling menggetarkan mungkin adalah ketika Petrus berkata kepada Yesus: "Engkaulah Mesias, Anak Allah yang hidup!" Kalimat itu lahir bukan dari hafalan teologis, melainkan dari perjumpaan pribadi yang mengubah seluruh hidupnya. Ia tidak berkata demikian karena dipaksa atau karena ada di sana pada waktu yang tepat. Ia berkata demikian karena ia sungguh-sungguh percaya dan kepercayaan itu menuntut untuk diucapkan.
Itulah yang terjadi dalam pengakuan dosa yang sungguh-sungguh. Kita datang dengan seluruh beban label dan kegagalan kita dan Allah memanggil kita dengan nama kita yang sesungguhnya.
Tapi Siapakah Pembelanya?
Kembali ke gambaran ruang sidang: dalam 1 Yohanes 1:9, ada janji yang luar biasa yakni "Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan."Perhatikanlah: jaksa yang mendakwa Anda ternyata juga Hakim yang ingin mengampuni Anda. Hakim itu bukan sekadar ingin mengampuni namun Ia bahkan menyiapkan pembela terbaik yang pernah ada.
Dan siapakah pembela itu? Dalam 1 Yohanes 2:1, Yohanes menulis: "Jika ada seorang yang berdosa, kita mempunyai seorang pengantara pada Bapa, yaitu Yesus Kristus, yang adil."
Bayangkan dalam skenario The Chosen ada adegan di Getsemani malam sebelum penyaliban. Yesus yang sudah tahu apa yang akan terjadi, yang sudah tahu siapa yang akan mengkhianati-Nya, yang sudah tahu bahwa semua murid-Nya akan melarikan diri tetap berdoa bukan hanya untuk diri-Nya, tapi untuk mereka semua. "Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat"(Lukas 23:34).
Ia adalah Pembela yang memohon bukan dari luar ruang sidang, tapi dari atas kayu salib itu sendiri.
Dan Pengantara yang sama itulah yang berdiri di sisi kita ketika kita datang dengan pengakuan kita.
Mengaku kepada Sesama: Dimensi yang Sering Terlupakan
Kata Yunani untuk "mengaku" (homologeo) tidak hanya dipakai dalam konteks pengakuan dosa kepada Allah. Yakobus menggunakannya dalam konteks yang lebih luas: "Karena itu hendaklah kamu saling mengaku dosamu dan saling mendoakan, supaya kamu sembuh" (Yakobus 5:16).Saling mengaku. Mengaku kepada sesama adalah kepada seseorang yang dipercaya, kepada pembimbing rohani, dan atau kepada imam dalam Sakramen Rekonsiliasi yang memiliki dimensi penyembuhan yang sangat nyata.
Dalam psikologi modern kita sebut sebagai konseling dan Alkitab sudah berbicara tentangnya ribuan tahun sebelum psikologi menjadi ilmu.
Mengapa Mengaku Baik kepada Allah maupun kepada Sesama dapat Menyembuhkan?
Pertama: Mengaku mengeluarkan yang tersembunyi ke dalam terang. Dosa dan luka yang disimpan di dalam kegelapan tumbuh semakin besar dan semakin kuat. Tapi ketika dikeluarkan ke dalam terang dengan diucapkan memakai kata-kata yang jelas kepada Allah atau kepada seseorang yang dipercaya maka kekuasaannya mulai melemah. Konseling modern membuktikan apa yang Alkitab sudah ajarkan: verbalisasi adalah bagian penting dari penyembuhan.Kedua: Mengaku memutus siklus isolasi dan malu. Salah satu dampak terberat dari dosa dan luka adalah perasaan bahwa "hanya aku yang mengalami ini" atau "tidak ada yang boleh tahu tentang ini." Isolasi itu justru memperdalam luka. Ketika kita berani mengaku dan disambut bukan dengan penghakiman melainkan dengan penerimaan maka kita menemukan bahwa kita tidak sendirian, dan bahwa kita tidak perlu terus menanggung beban itu seorang diri.
Ketiga: Mengaku menciptakan akuntabilitas yang membantu perubahan. Dosa yang hanya diakui dalam hati mudah terulang karena tidak ada yang memegang kita bertanggung jawab. Tapi dosa yang diakui kepada orang lain yang dipercaya seperti seorang pembimbing rohani, seorang imam, seorang sahabat iman akan menciptakan komunitas pertanggungjawaban yang membantu kita untuk sungguh-sungguh berubah.
Keempat: Mengaku memberi kepastian akan pengampunan. Kadang kita sudah memohon pengampunan berkali-kali dalam doa pribadi akan tetapi tetap tidak merasa diampuni. Perasaan itu tidak selalu mencerminkan realitas, tapi ia bisa sangat menyiksa. Sakramen Pengakuan Dosa memberikan sesuatu yang tidak bisa diberikan oleh doa pribadi yakni kepastian yang konkret dan terdengar bahwa dosamu sungguh-sungguh diampuni. Kata-kata absolusi imam adalah suara Kristus sendiri yang berbicara kepadamu secara langsung. Besok kita akan membahas tentang penitensi.
Mengaku Dosa: Bukan Sekadar Laporan Melainkan Perjumpaan
Kita tidak hanya dapat mengaku dosa-dosa kita namun kita juga dapat mengaku kebenaran tentang Allah kepada orang-orang lain. Ini adalah arti kedua dari kata homologeo yang tidak boleh kita lewatkan.Roma 10:9 berkata: "Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan."
Mengaku bahwa Yesus adalah Tuhan dengan mulut, dengan suara, dengan kata-kata yang bisa didengar orang lain adalah bagian dari iman yang menyelamatkan. Pengakuan iman (Syahadat Iman) dan pengakuan dosa adalah dua sisi dari satu koin yang sama: keduanya adalah tindakan mengatakan hal yang sama dengan Allah tentang siapa diri kita dan tentang siapa Ia.
Dalam The Chosen, adegan pengakuan iman yang paling menggetarkan mungkin adalah ketika Petrus berkata kepada Yesus: "Engkaulah Mesias, Anak Allah yang hidup!" Kalimat itu lahir bukan dari hafalan teologis, melainkan dari perjumpaan pribadi yang mengubah seluruh hidupnya. Ia tidak berkata demikian karena dipaksa atau karena ada di sana pada waktu yang tepat. Ia berkata demikian karena ia sungguh-sungguh percaya dan kepercayaan itu menuntut untuk diucapkan.
Mengaku dengan Sepenuh Hati, Bukan Setengah Hati
Kita kembali ke anak kecil yang berdoa dengan "setengah hati" itu. Lucunya, ia justru jujur secara tidak sengaja karena seringkali memang begitulah kita datang ke hadapan Allah. Dengan setengah hati. Dengan satu kaki masih di pintu. Dengan kata-kata yang sudah dihafal tapi tidak sungguh-sungguh dirasakan.Tapi Masa Prapaskah mengundang kita pada sesuatu yang lebih. Berjalan menuju salib berarti menyadari bahwa Yesus menderita oleh karena dosa-dosa kita. Meski kita bersukacita atas keselamatan yang telah Yesus raih bagi kita, kita juga sadar betul bahwa demi dosa-dosa kitalah Kristus harus mati.
Inilah waktunya untuk jujur dengan diri kita sendiri. Inilah momen yang tepat untuk datang kepada Yesus secara pribadi. Inilah kesempatan untuk memberikan penyesalan yang tulus, yang timbul dari kebobrokan batin kita.
Tidak ada lagi tempat untuk mencari-cari alasan. Tidak ada jari yang menuding orang lain. Tidak ada ucapan "Aku melakukannya karena..." Di sini kita menghampiri Allah dengan perasaan malu atas dosa-dosa kita. Di sini kita tersungkur dan berserah di hadapan ruang pengadilan Allah.
Dan di sini kita menemukan bahwa Hakimnya bukan hakim yang ingin kita kalah melainkan Bapa yang siap mengampuni, Anak yang menanggung dosa-dosa kita di atas kayu salib, dan Roh yang memperbarui kita dari dalam.
Menyiapkan Hati Menyambut Paskah
Kita hanya dapat terpana mengagumi keajaiban Allah dan karya-Nya bagi kita. Beranilah untuk mengaku dengan sepenuh hati bukan hafalan, bukan ritual tanpa jiwa, melainkan perjumpaan nyata dengan Allah yang setia dan adil.Datanglah ke Sakramen Pengakuan Dosa bukan sebagai terdakwa yang takut dihukum namun datanglah sebagai anak yang rindu pulang dan tahu bahwa Bapa sedang menunggu dengan tangan terbuka.
Dalam doa yang paling sederhana dan paling jujur:
Inilah diriku yang sesungguhnya, ya Allah:
Aku tidak akan berdalih.
Aku mengakui kebenaran tentang siapa diri-Mu ....
Aku mengakui ...
dan aku ingin Engkau menjadi Tuhan atas hidupku.
Terimalah aku dan bentuklah aku sesuai dengan rencana-Mu.
Referensi:
- Katekismus Gereja Katolik (KGK), Art. 1455-1458 : unsur-unsur Sakramen Tobat: penyesalan, pengakuan, dan penitensi
- KGK Art. 1424 : Sakramen Rekonsiliasi sebagai perjumpaan dengan Allah yang penuh belas kasihan
- The Chosen Season 1 : adegan pemanggilan Matius dan pemulihan Maria Magdalena
- The Chosen Season 4 : Petrus mengaku iman: "Engkaulah Mesias, Anak Allah yang hidup"
- Paus Yohanes Paulus II, Reconciliatio et Paenitentia (1984) tentang nilai terapeutik pengakuan dosa
.png)
Comments
Post a Comment