PENCOBAAN

"Sebab Imam Besar yang kita punya... sama seperti kita, Ia telah dicobai dalam segala hal, hanya saja Ia tidak berbuat dosa."- Ibrani 4:15
Tidak ada orang Kristen yang kebal dari pencobaan. Tidak ada orang beriman yang tiba-tiba bebas dari godaan hanya karena ia rajin ke gereja, rutin berdoa, atau sedang menjalani Masa Prapaskah. Justru sebaliknya, N. T. Wright, teolog terkemuka, berpendapat bahwa "siapa saja yang memutuskan untuk menapaki awal yang baru dan melangkah bersama Yesus ke tempat yang tidak diketahuinya, hampir pasti mengalami bahwa tingkat ujian iman yang dihadapinya akan meningkat tajam."
Artinya: semakin kita sungguh-sungguh berjalan bersama Yesus, semakin kita akan merasakan beratnya pencobaan.
Ini bukan kabar buruk. Ini kabar yang perlu kita pahami dengan benar agar kita tidak kaget, tidak menyerah, dan tidak berjalan sendirian.

Satu Kata, Tiga Makna

Ketika para penerjemah Alkitab menemukan kata Yunani untuk "pencobaan" - peirasmos, atau kata kerjanya peirazo yang artinya mereka menghadapi sebuah dilema yang menarik. Kata itu bisa diterjemahkan sebagai:
"Pencobaan"-  godaan untuk berbuat dosa
"Ujian" - sebuah situasi yang menguji karakter atau iman
"Kesulitan" - tantangan berat yang harus dihadapi dan dilewati
Ketiga makna ini hidup dalam satu kata dan kontekslah yang menentukan mana yang paling tepat. Memahami perbedaan ini sangat penting, karena ia menyentuh pertanyaan yang sering menggelisahkan banyak orang beriman: *Apakah Allah yang mencobai saya?*

Allah Tidak Mencobai Manusia — Ini Penting untuk Dimengerti

Alkitab sangat tegas dan jelas dalam hal ini bahwa Allah tidak pernah mencobai manusia untuk berbuat dosa.
Yakobus menulis dengan sangat lugas: "Apabila seorang dicobai, janganlah ia berkata: 'Pencobaan ini datang dari Allah!' Sebab Allah tidak dapat dicobai oleh yang jahat, dan Ia sendiri tidak mencobai siapa pun" (Yakobus 1:13).
Lalu siapa yang mencobai? Yakobus melanjutkan: "Tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya" (Yakobus 1:14). Di sini kata peirasmos mengandung bobot yang lebih besar,  jelas-jelas berbicara tentang pencobaan untuk berbuat dosa, yang sumbernya bukan dari Allah, melainkan dari dalam diri manusia sendiri dan dari kuasa kejahatan.
Lalu apa yang Allah lakukan? Allah menguji menggunakan kata yang sama dalam makna yang berbeda. Ketika Yesus bertanya kepada Filipus, "Di mana kita dapat membeli makanan, supaya semua orang ini bisa makan?" (Yohanes 6:5-6), Alkitab menambahkan bahwa Yesus berkata demikian karena "Ia mau menguji [peirazo] Filipus." Bukan untuk menjebak Filipus berbuat dosa, melainkan untuk mengungkapkan dan mengembangkan kapasitas iman murid itu

Perbedaan yang sangat mendasar:
Allah menguji tujuan untuk menguatkan, mengembangkan, dan memperlihatkan siapa kita sesungguhnya
Iblis mencobai untuk menjatuhkan, merusak, dan menghancurkan
Diri sendiri bisa menjadi sumber godaan ketika keinginan yang tak terkendali menyeret kita ke arah yang salah

Dari Mana Pencobaan Datang?

Sebagai murid-murid Yesus, kita perlu jujur bahwa pencobaan bisa datang dari berbagai arah sekaligus dan mengenalinya adalah langkah pertama untuk menghadapinya.

1. Dari Iblis : Musuh yang Nyata
Iblis adalah penggoda yang sesungguhnya. Dalam pencobaan Yesus di padang gurun (Matius 4:1-11), Iblis tidak menyerang secara kasar, ia memulai dengan pertanyaan yang tampak logis "Jika Engkau Anak Allah, perintahkanlah supaya batu-batu ini menjadi roti" (ay.3). Sebuah kuis dadakan yang tampak seperti persoalan "seandainya" tapi perlahan-lahan bertambah berat, dari kebutuhan fisik (roti), ke kesombongan spiritual (jatuhkan diri dari bait Allah), hingga ke pengkhianatan iman yang paling dalam (sujud menyembah Iblis demi mendapat kuasa dunia). Pada titik terakhir, "pengujian" itu berubah menjadi pencobaan yang paling serius.
Iblis bekerja dengan pola yang sama kepada kita: mulai dari yang tampak masuk akal, lalu perlahan-lahan meningkat menuju kompromi yang semakin dalam.

2. Dari Keinginan Diri Sendiri
Yakobus dengan jujur mengatakan sumber pencobaan terbesar sering kali ada di dalam diri kita sendiri seperti hasrat, keinginan, dan dorongan yang belum dikuasai. Kita diseret dan dipikat oleh keinginan kita sendiri (Yakobus 1:14). Ketamakan, kesombongan, hawa nafsu, kemalasan, iri hati yang mana semuanya berasal dari dalam hati yang belum sepenuhnya diserahkan kepada Allah.

3. Dari Dunia dan Lingkungan
Tekanan sosial, budaya konsumerisme, nilai-nilai dunia yang bertentangan dengan Injil, pergaulan yang menarik ke arah yang salah, itu semuanya adalah bentuk pencobaan yang sangat nyata dalam kehidupan sehari-hari.

4. Dari Situasi Sulit yang Menguji Iman
Penyakit yang tak kunjung sembuh. Kehilangan yang menyakitkan. Ketidakadilan yang dibiarkan. Doa yang tampak tak dijawab. Situasi-situasi ini bisa menjadi peirasmos dalam arti ujian yang jika tidak dihadapi dengan iman, bisa berubah menjadi pencobaan untuk meragukan Allah atau meninggalkan iman.

Yesus Dicobai: 40 Hari yang Mengubah Segalanya

Masa Prapaskah selama 40 hari secara khusus dikaitkan dengan pencobaan yang Yesus alami di padang gurun selama 40 hari (Matius 4:1-11). Selama Prapaskah, kita melakukan pengembaraan rohani seperti yang Yesus lakukan yang terkadang dengan berpuasa seperti Dia, sambil memusatkan perhatian pada siapa diri kita dalam kaitan dengan Allah.
Ada kebenaran teologis yang sangat dalam dalam catatan Matius tentang pencobaan Yesus di padang gurun. Dalam doa di Taman Getsemani "ujian akhir" Yesus sebelum disalibkan, Ia berdoa: "Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku" (Matius 26:39). Di sini terkandung hubungan Yesus dengan Bapa-Nya, tujuan kedatangan-Nya ke dunia, dan bagaimana keilahian dan kemanusiaan-Nya hadir berdampingan dalam ketegangan yang paling intens.
Kita tidak tahu sepenuhnya arti doa itu. Tapi kita mendapat kesan bahwa Yesus benar-benar bisa gagal apabila Ia tergoda untuk menghindari penderitaan-Nya sebagai manusia dan menolak untuk menjadi jawaban atas masalah yang mendorong kedatangan-Nya ke dunia. Kehidupan-Nya, sebagai manusia sekaligus Anak Allah, pasti penuh dengan pencobaan dan kesempatan yang dapat membuatnya tersandung.
Semua itu mencapai puncaknya di Taman Getsemani dan seluruh ciptaan seolah menahan napas sambil mendengar jawaban pamungkas-Nya "Tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki" (ay.39).
Kalimat itu adalah kemenangan terbesar dalam sejarah manusia bukan kemenangan militer, bukan kemenangan politik, melainkan kemenangan penyerahan diri kepada kehendak Allah di tengah pencobaan yang paling berat.

Berpantang: Latihan Menghadapi Pencobaan

Mengapa kita berpantang selama Prapaskah? Salah satu alasan yang paling mendasar adalah ini: berpantang adalah sikap kita untuk menghadapi pencobaan apa adanya.
Hasrat manusiawi kita mungkin tidak sebesar pencobaan yang Yesus hadapi. Tapi dengan berpantang, kita bisa mencicipi pengalaman-Nya. Saat berpantang, kita menyamakan diri dengan Yesus yang meski sepenuhnya adalah Allah namun juga sepenuhnya manusia seperti kita, dan menghadapi arti sepenuhnya dari kata peirasmos.
Berpantang melatih kita untuk berkata tidak kepada makanan yang kita inginkan, kepada kesenangan yang kita biasakan, kepada kenyamanan yang kita andalkan. Dan dalam latihan kecil itu, kita membangun otot rohani untuk berkata tidak kepada hal-hal yang jauh lebih besar: godaan dosa, kompromi moral,  atau pengkhianatan iman.

Jaminan yang Tidak Pernah Berubah: Yesus Mengerti dan Menolong

Di sinilah kabar terbaik dari seluruh bab ini kita tidak sendirian dalam pencobaan kita.
Kitab Ibrani menjamin bahwa Yesus "telah dicobai dalam segala hal, hanya tidak berbuat dosa" (4:15). Dan karena Ia sendiri telah menderita karena pencobaan, "Ia dapat menolong mereka yang dicobai" (2:18).
Ini bukan sekadar kata-kata penghiburan yang abstrak. Ini berarti:
Ketika kamu tergoda untuk menyerah pada kemarahan, Yesus tahu rasanya disakiti dan tetap memilih mengampuni. Ketika kamu tergoda untuk putus asa dalam penderitaan, Yesus tahu rasanya berteriak "Ya Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?" (Matius 27:46). Ketika kamu tergoda untuk meragukan Allah dalam keheningan, Yesus tahu rasanya berdoa di Getsemani tanpa mendapat jawaban yang diinginkan.
Ia tidak menatapmu dari jauh dengan tatapan tidak mengerti. Ia menatapmu sebagai seseorang yang pernah berdiri di tempat yang sama dan melewatinya.

Menyiapkan Hati Menyambut Paskah

Prapaskah adalah waktu yang tepat untuk melakukan inventarisasi pencobaan yang paling nyata dalam hidupmu. Bukan untuk ditakuti atau dihindari melainkan untuk dihadapi dengan senjata yang tepat.
Buatlah daftar pencobaan-pencobaan besar yang kamu hadapi. Perdebatan sengit apa yang kamu alami dengan godaan dalam hidupmu? Kajilah kisah pencobaan yang Yesus alami di padang gurun dan perhatikan bagaimana Ia menanggapi Iblis. Saat kamu memikirkan area-area kehidupan yang rentan dicobai, gemakanlah jawaban-jawaban Yesus tersebut di dalam doa, seolah-olah itu adalah jawaban kamu sendiri.
Karena kita pasti akan diuji. Tapi kita tahu bahwa Yesus sudah mengalaminya terlebih dahulu. Dan Ia ada di sisi kita bukan sebagai hakim yang menghakimi kita karena tergoda, melainkan sebagai Imam Besar yang sungguh-sungguh mengerti dan siap menolong.
"Inilah saatnya kita menghadapi pergumulan-pergumulan kita dan diyakinkan bahwa Yesus akan menolong kita melewati semua itu."

Ya Tuhan Allah, kumohon agar Engkau memberiku kemauan dan kekuatan untuk menolak semua yang menjauhkanku dari-Mu. Bantu aku mengenali dari mana pencobaan itu datang dan ingat bahwa Engkau sudah lebih dahulu merasakannya, dan Engkau tidak pernah meninggalkan aku sendirian di dalamnya.
"Tetapi janganlah seperti yang kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki."
 -Matius 26:39


Comments

Popular posts from this blog

Apa Itu TalentDNA? Panduan Lengkap untuk Mengenal Potensi Anda

Antara Dua Detak: Saat Hidup Diuji, Iman Dihidupkan

Perfect Match & TalentDNA: Rahasia Menemukan Pasangan Serasi Lewat Talenta Unik