Ketika "Aku" Menjadi Pusat Segalanya
Musuh-Musuh Hati Musuh Hati yang Ketiga: Ketamakan Di sebuah pertemuan keluarga besar, selalu ada satu orang yang paling keras suaranya. Ia yang pertama mengambil makanan. Ia yang paling banyak bicara. Ia yang memastikan keputusan keluarga berjalan sesuai keinginannya dan kalau tidak, ia akan diam dengan cara yang membuat semua orang tidak nyaman. Tidak ada yang berani menegurnya. Bukan karena ia selalu benar. Tapi karena ia memegang sesuatu yang semua orang butuhkan dan ia tahu cara menggunakannya. Bertahun-tahun kemudian, ketika ia sakit dan membutuhkan orang di sisinya, ruangan itu sepi. Kita sudah membicarakan dua musuh hati sebelumnya. Rasa bersalah berbisik: "Aku berhutang padamu." Kemarahan berteriak: "Kamu berhutang padaku." Kini kita berhadapan dengan musuh ketiga yang lebih halus namun dampaknya bisa sama destruktifnya. Musuh yang ketiga adalah ketamakan . Dan kata kuncinya berbeda dari dua yang pertama: "Aku berhutang kepada diriku sendiri. Maka aku ...