PENGHAKIMAN
— Ketika Kita Duduk di Kursi yang Bukan Milik Kita —
Sebuah Cerita: Sidang yang Tidak Pernah Diminta
Seorang
bapak bernama Markus duduk terpaku di depan layar teleponnya suatu malam. Di
grup keluarga, sebuah foto beredar yaitu foto adiknya yang baru pulang ke kampung
halaman setelah bertahun-tahun merantau, tampak tertawa di sebuah pesta. Tangan
kanannya memegang gelas bir.
Markus
tidak menunggu lama. Ia langsung mengetik panjang lebar: tentang bagaimana
adiknya telah mempermalukan keluarga, tentang bagaimana ia seharusnya tahu
diri, tentang betapa jauh adiknya sudah menyimpang dari iman. Pesan itu ia
kirim ke semua anggota grup berisi delapan belas orang, termasuk para sepupu dan
keponakan muda.
Namun
ada satu hal yang tidak diketahui Markus: adiknya baru saja pulang dari rumah
sakit, menemani anak semata wayangnya yang menjalani kemoterapi. Foto itu
diambil di ulang tahun sederhana di rumah tetangga, dan gelas yang dipegang
adalah teh panas yang dituang ke gelas bir karena tidak ada gelas bersih.
Adiknya bahkan tidak minum alkohol sejak bertahun-tahun lalu.
Markus
menghakimi. Dengan penuh keyakinan. Dengan detail yang ia rasa meyakinkan. Dan
ia salah total.
Kisah
ini mungkin terdengar ekstrem, tapi kita semua pernah menjadi Markus yang kadang
dalam skala kecil atau kadang dalam skala yang melukai lebih dalam dari yang kita
duga. Kita hidup di zaman di mana menghakimi telah menjadi refleks, bukan
pilihan. Dan Masa Prapaskah ini mengundang kita untuk berhenti, melihat ke
dalam, dan bertanya: siapa sebenarnya yang berhak duduk di kursi Hakim itu?
✦ ✦ ✦
I. Budaya Menghakimi: Cermin Zaman Kita
Kita
hidup dalam budaya menghakimi. Media sosial telah menciptakan panggung raksasa
di mana setiap orang bisa menjadi hakim, juri, sekaligus eksekutor atas orang
lain dalam hitungan detik, tanpa mendengar semua sisi cerita. Acara
bincang-bincang ramai dengan kecaman. Kolom komentar penuh dengan vonis. Bahkan
orang-orang beriman pun tidak luput dari godaan ini.
Ironinya,
ayat Alkitab yang paling banyak dihafalkan banyak orang di tengah budaya ini
justru adalah Matius 7:1: “Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi.”
Tapi pengetahuan tentang ayat ini tidak serta-merta mengubah perilaku. Kita
tahu ayatnya, tapi kita terus menghakimi.
Rasul
Paulus dalam suratnya kepada jemaat Roma menggambarkan dinamika yang sangat
manusiawi ini dengan sangat tajam. Ia menceritakan bagaimana orang-orang Yahudi
yang legalistis bersorak mendengar kecamannya terhadap kemerosotan moral
orang-orang non-Yahudi dan kemudian Paulus membalikkan keadaan dengan keras:
“Karena itu, hai manusia, siapa pun juga engkau yang menghakimi orang lain,
engkau sendiri tidak bebas dari salah. Sebab dalam menghakimi orang lain,
engkau menghakimi dirimu sendiri, karena engkau yang menghakimi orang lain,
melakukan hal-hal yang sama” (Roma 2:1).
Paulus
bukan sedang melarang semua bentuk penilaian moral. Gereja Katolik sendiri,
melalui ajaran Santo Thomas Aquinas, menegaskan bahwa penghakiman yang sah yaitu yang bersumber pada keadilan, dilakukan oleh pihak yang berwenang, dan
dipertimbangkan secara bijaksana adalah sah dan bahkan perlu dalam kehidupan
bermasyarakat (lih. Summa Theologiae II-II, q.60, a.2). Yang dilarang adalah
sesuatu yang berbeda: penghakiman yang munafik, yang menusuk orang lain
sementara kita sendiri melakukan hal yang sama atau bahkan lebih buruk.
✦ ✦ ✦
II. Balok dan Selumbar: Kejujuran yang Menyakitkan
Gambaran
yang dipakai Yesus dalam Matius 7:3-5 sangat visual dan sedikit gelap: ada
orang yang pergi ke ruang gawat darurat karena mata mereka kemasukan serpihan
kayu (selumbar), tetapi dokter yang menangani mereka justru datang dengan balok
kayu yang besar menutupi matanya sendiri.
Absurditas
gambar itu disengaja. Yesus ingin kita tertawa dan kemudian tersadar. Karena
itulah wajah kita yang sesungguhnya ketika kita menghakimi orang lain tanpa
terlebih dahulu memeriksa diri sendiri.
Dalam
tradisi asketik Gereja Katolik, praktik ini dikenal sebagai examen atau pemeriksaan batin. Santo Ignatius Loyola menjadikan examen sebagai tulang
punggung spiritualitas Yesuit: setiap hari, dua kali, berhenti dan bertanya
kepada diri sendiri: “Apa yang sungguh terjadi dalam hatiku hari ini? Di mana
aku bersyukur? Di mana aku gagal?” Bukan untuk menghukum diri, melainkan untuk
mengenal diri dengan jujur.
Katolisitas.org
menegaskan bahwa menghakimi orang lain seringkali berakar dari ketidaktahuan
kita akan alasan orang lain dalam melakukan sesuatu. Tidak seorang pun
mengetahui beratnya pergumulan orang lain dalam menghadapi sesuatu. Seseorang
yang tampak marah mungkin baru kehilangan orang yang dicintai. Seseorang yang
tampak lalai mungkin sedang menanggung beban yang tidak terlihat. Ketidaktahuan
kita tidak membuat kita tidak layak berpendapat tetapi seharusnya membuat
kita lebih berhati-hati dan lebih rendah hati sebelum menyimpulkan.
“Menghakimi membuat umat
Allah tidak merasa aman satu sama lain karena adanya kecenderungan saling
menjatuhkan.” — Katolisitas.org
Masa
Prapaskah ini mengundang kita untuk melakukan examen yang jujur: di mana dalam
hidupku, aku menjadi dokter bermata balok yang hendak menangani serpihan orang
lain? Di mana aku lebih cepat melihat kesalahan orang lain daripada mengakui
kesalahanku sendiri?
✦ ✦ ✦
III. Penghakiman Adalah Hak Allah: Teologi yang
Membebaskan
Yakobus menulis dengan sangat langsung: “Hanya ada satu Pembuat hukum dan Hakim, yaitu Dia yang berkuasa menyelamatkan dan membinasakan. Namun siapakah engkau, sehingga engkau menghakimi sesamamu?” (Yakobus 4:12). Paulus menegaskan hal yang sama: Allah akan menghakimi “Hal itu akan tampak pada hari bilamana Allah, melalui Yesus Kristus, akan menghakimi segala sesuatu yang tersembunyi dalam hati manusia, sesuai dengan Injil yang kuberitakan” (Roma 2:16).
Gereja
Katolik mengajarkan dua jenis penghakiman ilahi pasca-kematian. Pertama adalah
Pengadilan Khusus (Particular Judgment) yang terjadi sesaat setelah kematian
seseorang, di mana jiwa diadili secara pribadi oleh Kristus. Kedua adalah
Pengadilan Umum (General Judgment) atau Penghakiman Terakhir, yang terjadi pada
akhir zaman saat seluruh sejarah manusia diselesaikan di hadapan semua makhluk
(KGK 1038-1041).
Katekismus
Gereja Katolik mengajarkan: “Pengadilan terakhir akan berlangsung pada
kedatangan kembali Kristus yang mulia... melalui Putera-Nya Yesus Kristus Ia
akan menilai secara definitif seluruh sejarah” (KGK 1040). Dan yang paling
mengagumkan: penghakiman Allah bukan hanya tentang keadilan melainkan juga
tentang kebenaran bahwa kasih-Nya lebih besar dari kematian.
Paus
Fransiskus, dalam katekesenya di Lapangan Santo Petrus (24 April 2013),
menegaskan bahwa Penghakiman Terakhir harus dilihat bukan hanya sebagai
peristiwa yang menakutkan, melainkan juga sebagai pengharapan karena Kristus
sendiri yang datang untuk menebus, bukan untuk menghancurkan. Paus Benediktus
XVI dalam ensiklik Spe Salvi juga menegaskan bahwa pengadilan Allah adalah saat
rahmat dan keadilan, di mana segala ketidakadilan dunia akan diluruskan.
Memahami
bahwa penghakiman adalah hak Allah bukan berarti kita menjadi pasif terhadap
kejahatan atau tidak peduli dengan kebenaran. Melainkan, kita diundang untuk
menggantikan posisi hakim yang tidak pernah menjadi hak kita dengan posisi
yang sesungguhnya dipanggil kepada kita: menjadi saksi kasih, pengampun, dan
pemulih.
✦ ✦ ✦
IV. Salib: Di Sinilah Penghakiman Allah Diselesaikan
Kitab
Roma memberikan berita yang paling mengejutkan sekaligus paling membebaskan
dalam seluruh sejarah penghakiman: penghakiman Allah atas dosa tidak berakhir di
neraka — melainkan di kayu salib.
Paulus
menulis dalam Roma 5:8: “Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita,
oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa.” Dan
penghakiman Allah atas dosa itu diganjar dengan anugerah hidup kekal melalui
Kristus (Roma 5:16). Yesus menggenapi nubuat Yesaya 53:5: “Ganjaran yang
mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya.”
“Itulah yang terjadi di
kayu salib.”
Ini
bukan teologi yang memperbolehkan kita bersantai dalam dosa. Justru sebaliknya:
mengetahui bahwa penghakiman atas dosa kita telah ditanggung oleh Kristus
seharusnya membuat kita hidup dalam rasa syukur yang mendalam — dan syukur itu
mengubah cara kita memperlakukan orang lain. Kita yang telah diampuni,
dipanggil untuk mengampuni. Kita yang telah dibebaskan dari penghakiman,
dipanggil untuk tidak menghakimi.
Inilah
yang dikatakan Paulus dalam Roma 14:13: “Karena itu janganlah kita saling
menghakimi lagi! Tetapi lebih baik kamu menganut pandangan ini: Jangan kita
membuat saudara kita jatuh atau tersandung!” Pergeseran yang diusulkan Paulus
luar biasa: dari posisi hakim, menjadi posisi penjaga. Dari orang yang mencari
kesalahan, menjadi orang yang menjaga agar saudaranya tidak jatuh.
✦ ✦ ✦
V. Menuju Paskah: Berhenti Menjadi Hakim, Mulai Menjadi
Saudara
Ada
sebuah praktik latihan rohani
konkret untuk Prapaskah ini: dalam setiap pemikiran dan interaksi hari ini,
berhentilah apabila kita menyadari bahwa kita sedang menghakimi orang lain.
Ketika itu terjadi, berdoalah agar Allah menyingkirkan sikap yang penuh
penghakiman itu, dan bersyukurlah karena Dia telah menyelamatkan kita dari
penghakiman yang sepatutnya kita terima.
Latihan
ini sederhana, tapi menyentuh akar yang dalam. Karena menghakimi bukan hanya
soal kata-kata yang kita ucapkan melainkan juga soal postur hati kita
terhadap sesama. Apakah kita memandang orang lain sebagai terdakwa yang perlu
diadili? Atau sebagai sesama pendosa yang juga sedang berjalan menuju Tuhan,
dengan cara dan kecepatan yang berbeda?
Gereja
Katolik mengajarkan bahwa kasih kepada sesama adalah tanda sejati dari hidup
yang diperbarui oleh anugerah (lih. 1 Yohanes 4:11-12). Dan kasih yang sejati
tidak menghakimi intensi orang lain melainkan mendahulukan sangka baik,
mendoakan, dan bila perlu menegur dengan cara yang membangun, bukan merobohkan.
Katolisitas.org
mengingatkan: yang terbaik adalah introspeksi diri terlebih dahulu sebelum
memberi kritik kepada orang lain. Kita yang mau introspeksi diri akan bertumbuh
dalam kasih dan tidak mudah menghakimi, tetapi menegur sesama dengan berbagi
perubahan hidup kita sendiri. Bukan dengan menunjuk jari, tapi dengan berdiri
di sampingnya.
Di
sinilah Prapaskah memiliki kekuatannya yang paling dalam: bukan hanya sebagai
musim pengorbanan dan pantangan lahiriah, melainkan sebagai musim pertobatan
batin di mana kita membongkar pos-pos penghakiman yang telah kita dirikan
dalam hati kita, dan menggantinya dengan pos-pos belas kasih.
✦ ✦ ✦
Doa Penutup
Ya
Tuhan, aku berdoa agar Engkau menghentikanku
bilamana
aku mulai menghakimi orang lain.
Ingatkanlah
aku akan kasih dan pengampunan-Mu,
dan
tolonglah aku untuk mencerminkan sifat-sifat-Mu
di
saat aku bertemu orang-orang yang kurasa
sulit
berinteraksi denganku.
Ajarilah
aku untuk melihat orang lain
sebagaimana
Engkau melihat mereka —
bukan
sebagai terdakwa,
melainkan
sebagai jiwa yang Engkau kasihi,
yang
juga sedang dalam perjalanan pulang kepada-Mu.
Amin.
✦ ✦ ✦
“Jangan kita membuat
saudara kita jatuh atau tersandung!”
Roma 14:13
✦ ✦ ✦
Catatan dan Referensi
1.
Matius 7:1-5; Yakobus 4:12; Roma 2:1; Roma 2:16; Roma 5:8; Roma 5:16; Roma
14:13
2.
Yesaya 53:5; 1 Yohanes 4:11-12; Wahyu 16:7
3.
Katekismus Gereja Katolik (KGK) 1038–1041 — Penghakiman Khusus dan Penghakiman
Terakhir
4.
Katolisitas.org, “Bolehkah Menghakimi Sesama?”
(https://katolisitas.org/bolehkah-menghakimi-sesama/)
5.
Katolisitas.org, “Tidak Menghakimi” (https://katolisitas.org/tidak-menghakimi/)
6.
Katolisitas.org, “Kristus akan Datang Mengadili Orang Hidup dan Mati”
(https://katolisitas.org/kristus-akan-datang-mengadili-orang-hidup-dan-mati/)
7.
Katolisitas.org, “Paus Fransiskus: Gunakan Waktu Kalian untuk Penghakiman
Terakhir!” (https://katolisitas.org/paus-fransiskus-gunakan-waktu-kalian-sebaik-mungkin-untuk-penghakiman-terakhir/)
8.
Paus Benediktus XVI, Ensiklik Spe Salvi, Art. 41–48
9.
Santo Thomas Aquinas, Summa Theologiae II-II, q.60, a.2 — tentang syarat-syarat
penghakiman yang sah
10.
Santo Ignatius Loyola, Latihan Rohani — Examen Harian sebagai praktik
pemeriksaan batin
.png)
Comments
Post a Comment