Ketika "Aku" Menjadi Pusat Segalanya
Musuh-Musuh Hati
Tidak ada yang berani menegurnya. Bukan karena ia selalu benar. Tapi karena ia memegang sesuatu yang semua orang butuhkan dan ia tahu cara menggunakannya.
Bertahun-tahun kemudian, ketika ia sakit dan membutuhkan orang di sisinya, ruangan itu sepi.
Kita sudah membicarakan dua musuh hati sebelumnya. Rasa bersalah berbisik: "Aku berhutang padamu." Kemarahan berteriak: "Kamu berhutang padaku." Kini kita berhadapan dengan musuh ketiga yang lebih halus namun dampaknya bisa sama destruktifnya.
Musuh yang ketiga adalah ketamakan. Dan kata kuncinya berbeda dari dua yang pertama:
Perbandingan sosial lahir dari ketidakmampuan hati untuk diam dalam rasa cukup. Ketika kita melihat ke kiri dan ke kanan, ukuran kekayaan kita tidak lagi ditentukan oleh kecukupan di hadapan Tuhan, melainkan oleh posisi relatif kita terhadap sesama. Dalam budaya yang merayakan pencapaian dan status, perbandingan ini seolah menjadi nafas sehari-hari.
Ciri-cirinya:
Dalam tradisi rohani, perbandingan sosial adalah bentuk ketamakan yang halus karena ia menyamar sebagai "motivasi" atau "standar kerja keras." Namun pada akarnya, ia menempatkan sesama sebagai saingan, bukan saudara. Ia menggerogoti kemampuan kita untuk melihat anugerah Allah secara unik dalam kehidupan masing-masing.
Kalimat terakhir dari perikop Matius ini adalah diagnostik yang paling jujur bahwa di mana hartamu, di situ hatimu. Bukan sekadar di mana uangmu. Tapi ke mana perhatianmu mengalir. Apa yang paling sering kamu pikirkan ketika bangun pagi. Apa yang paling kamu takutkan kehilangannya. Itulah hatimu yang sesungguhnya.
Gereja memahami kemurahan hati bukan sekadar kebajikan sosial melainkan cerminan dari siapa Allah itu sendiri. Deus caritas est, Allah adalah kasih, dan kasih pada hakikatnya selalu memberi. Ketika kita hidup dalam kemurahan hati, kita berpartisipasi dalam sifat Allah. Ketika kita menutup tangan, kita menutup diri dari aliran kasih itu.
Musuh Hati yang Ketiga: Ketamakan
Di sebuah pertemuan keluarga besar, selalu ada satu orang yang paling keras suaranya. Ia yang pertama mengambil makanan. Ia yang paling banyak bicara. Ia yang memastikan keputusan keluarga berjalan sesuai keinginannya dan kalau tidak, ia akan diam dengan cara yang membuat semua orang tidak nyaman.Tidak ada yang berani menegurnya. Bukan karena ia selalu benar. Tapi karena ia memegang sesuatu yang semua orang butuhkan dan ia tahu cara menggunakannya.
Bertahun-tahun kemudian, ketika ia sakit dan membutuhkan orang di sisinya, ruangan itu sepi.
Kita sudah membicarakan dua musuh hati sebelumnya. Rasa bersalah berbisik: "Aku berhutang padamu." Kemarahan berteriak: "Kamu berhutang padaku." Kini kita berhadapan dengan musuh ketiga yang lebih halus namun dampaknya bisa sama destruktifnya.
Musuh yang ketiga adalah ketamakan. Dan kata kuncinya berbeda dari dua yang pertama:
"Aku berhutang kepada diriku sendiri.Di sini, hutang tidak lagi diarahkan ke orang lain. Ia berbalik ke dalam menjadi keyakinan bahwa diri sendiri adalah satu-satunya yang layak diprioritaskan, dilindungi, dan dipuaskan.
Maka aku harus duluan. Aku harus terbanyak.
Aku harus memiliki semuanya."
Mengenali Wajah Ketamakan
Ketamakan jarang tampil dengan jujur. Ia tidak memperkenalkan diri. Ia bersembunyi di balik kata-kata seperti "aku hanya berjaga-jaga," atau "aku berhak atas ini," atau "aku sudah bekerja keras untuk mendapatkannya." Tapi ada pola-pola yang bisa dikenali yaitu Selalu kuatir kehilangan. Pikiran tentang uang, aset, atau posisi tidak pernah benar-benar pergi bahkan di saat seharusnya beristirahat.- Tipe ini untuk memberi terasa seperti kehilangan. Kemurahan hati bukan sesuatu yang mengalir alami sebab setiap pemberian dihitung, dipertimbangkan, atau disesali.
- Ada sesuatu yang selalu dirahasiakan. Ketamakan tumbuh dalam kegelapan. Ada angka, ada kepemilikan, ada transaksi yang sengaja tidak dibagikan. Dan itu hanya dia yang tahu rencana itu semua.
- Tidak pernah cukup. Setiap kali target tercapai, ada target baru. Kepuasan selalu berjarak satu langkah lebih jauh.
- Kontroling kepemilikan. Apa yang dimiliki digunakan, secara sadar atau tidak diciptakan sebagai alat untuk mempengaruhi, menekan, atau mengikat orang lain.
- Dan terpenting adalah bersyukur terasa asing baginya. Jarang ada momen di mana cukup benar-benar terasa cukup.
Perbandingan Sosial: Wajah Lain dari Ketamakan
Ketamakan tidak hanya berbicara tentang berapa banyak yang kita miliki. Ia juga berbicara tentang berapa banyak yang dimiliki orang lain. Ada satu pola yang sering luput dari pemeriksaan hati yakni kecenderungan untuk terus-menerus membandingkan.Perbandingan sosial lahir dari ketidakmampuan hati untuk diam dalam rasa cukup. Ketika kita melihat ke kiri dan ke kanan, ukuran kekayaan kita tidak lagi ditentukan oleh kecukupan di hadapan Tuhan, melainkan oleh posisi relatif kita terhadap sesama. Dalam budaya yang merayakan pencapaian dan status, perbandingan ini seolah menjadi nafas sehari-hari.
Ciri-cirinya:
- Iri hati yang tersamar. Kita mungkin tidak mengakuinya, tetapi ada rasa tidak nyaman ketika orang lain mendapat kenaikan, keberhasilan, atau pengakuan yang kita rasa "seharusnya" milik kita.
- Sulit bersukacita. Kemampuan untuk tulus bersukacita atas berkat orang lain menjadi terhambat, bukan karena kita jahat, tetapi karena hati kita terbiasa mengukur segala sesuatu dengan timbangan perbandingan.
- Kejar-kejaran yang tak berujung. Setiap kali kita mencapai sesuatu, ada saja orang lain yang tampak "lebih." Akibatnya, kepuasan terus tertunda sehingga kita tidak pernah sampai pada rasa cukup.
- Identitas yang rapuh. Harga diri bergantung pada bagaimana kita "berada" dibandingkan orang lain. Jika posisi kita tergeser, rasa aman ikut runtuh.
Apa Kata Alkitab?
Yesus menyentuh ini ketika Ia berkata kepada Petrus yang membandingkan dirinya dengan Yohanes: "Apa urusanmu dengan dia? Ikutlah Aku" (Yohanes 21:22). Perintah itu membebaskan agar kita tidak perlu hidup dengan mata yang terus melirik orang lain. Cukup dengan memiliki Dia, kita sudah memiliki segalanya.
"Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu."-Lukas 12:15Yesus tidak berkata, "jangan punya harta." Ia berkata, "berjaga-jagalah." Ada sebuah kewaspadaan yang diperlukan yang bukan terhadap kekayaan itu sendiri, melainkan terhadap kecenderungan hati untuk menaruh hidupnya di sana.
"Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya. Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga... Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada." - Matius 6:19–21
Kalimat terakhir dari perikop Matius ini adalah diagnostik yang paling jujur bahwa di mana hartamu, di situ hatimu. Bukan sekadar di mana uangmu. Tapi ke mana perhatianmu mengalir. Apa yang paling sering kamu pikirkan ketika bangun pagi. Apa yang paling kamu takutkan kehilangannya. Itulah hatimu yang sesungguhnya.
Hubungannya dengan Kemurahan Hati
Andy Stanley dalam Enemies of the Heart menghubungkan ketamakan langsung dengan kemurahan hati atau generosity. Bukan kebetulan. Keduanya adalah dua ujung dari tali yang sama: semakin kencang ketamakan mencengkeram hati, semakin sulit kemurahan hati mengalir keluar.Gereja memahami kemurahan hati bukan sekadar kebajikan sosial melainkan cerminan dari siapa Allah itu sendiri. Deus caritas est, Allah adalah kasih, dan kasih pada hakikatnya selalu memberi. Ketika kita hidup dalam kemurahan hati, kita berpartisipasi dalam sifat Allah. Ketika kita menutup tangan, kita menutup diri dari aliran kasih itu.
Dan dalam Katekismus mengingatkan bahwa harta duniawi adalah titipan, bukan kepemilikan mutlak. Kita adalah pengelola dan bukan pemilik terakhir. Dan pengelola yang baik tidak menimbun. Ia mendistribusikan dengan bijak, dengan sukacita, dan dengan mata yang tetap terarah pada yang Kekal (bdk. KGK 2404).
Crosscheck Hati
Sesekali kita perlu berhenti dan memeriksa diri dengan jujur. Bukan dengan menghakimi tapi dengan keberanian untuk melihat ke dalam:
Pertanyaan Pemeriksaan Hati
Pertanyaan Pemeriksaan Hati
Apakah aku masih bisa memberi dengan sukacita tanpa menghitung dan tanpa menyesal?
Apakah ada damai sejahtera di dalam hatiku, atau kecemasan tentang materi yang terus menggerogoti?
Apakah aku masih peduli dengan kebutuhan orang di sekitarku atau aku semakin sibuk dengan kebutuhanku sendiri?
Di mana sesungguhnya rasa amanku berakar apakah pada Tuhan, atau pada apa yang kumiliki?
Apakah aku menggunakan apa yang kupunya untuk melayani, atau untuk mengendalikan?
Tidak ada yang perlu dijawab dengan keras kepada siapapun. Tapi jawaban yang jujur di hadapan Tuhan itulah awal dari pemulihan.
Apakah ada damai sejahtera di dalam hatiku, atau kecemasan tentang materi yang terus menggerogoti?
Apakah aku masih peduli dengan kebutuhan orang di sekitarku atau aku semakin sibuk dengan kebutuhanku sendiri?
Di mana sesungguhnya rasa amanku berakar apakah pada Tuhan, atau pada apa yang kumiliki?
Apakah aku menggunakan apa yang kupunya untuk melayani, atau untuk mengendalikan?
Tidak ada yang perlu dijawab dengan keras kepada siapapun. Tapi jawaban yang jujur di hadapan Tuhan itulah awal dari pemulihan.
.png)
Comments
Post a Comment