Bertemu dengan Diri yang Hilang
Duduk di sudut kamar yang sama untuk kesekian kalinya, menatap ponsel yang tak kunjung berdering dari rumah sakit. Operasi bypass jantung yang seharusnya terjadi minggu lalu, lalu kemarin, kini tertunda lagi. "Ruangan operasi diprioritaskan untuk pasien lebih gawat," kata suster dengan suara lembut yang justru terasa seperti pukulan. Di usia 47 tahun, aku merasa seperti pesawat yang terus-menerus diminta mengudara di atas bandara, sementara bahan bakar hampir habis. Setelah membaca kitab Mazmur 103 dalam kesendirian ini, bayangan itu datang lagi. Seorang bocah berkaos polo putih dengan handband hitam dipergelangan tangannya, menghampiriku duduk bersila di kursi sebelahku, dengan bola basket favoritnya tergeletak di pangkuan. Dialah aku yang berusia sepuluh tahun, yang dulu menghabiskan sore dengan mengejar bola di lapangan tanah, percaya bahwa tubuhnya adalah mesin yang tak akan pernah lelah. Kepada Bocah Itu, dengan Bola Basketnya "Apa yang akan kukatakan padamu, jik...