DOA

Di dalam sel penjara yang lembab di Tahuna, pada malam sebelum eksekusinya, Bataha Santiago bergumul dengan Tuhan. Tangannya terikat, tubuhnya lemah, namun jiwanya berkobar antara amarah dan iman. Di tengah kegelapan itu, ia mengingat mazmur yang diajarkan para paderi di Manila yakni Mazmur 6. Saat ia berdoa, tangisnya bukan untuk dirinya sendiri, melainkan untuk rakyat Manganitu yang akan ia tinggalkan. Kata-kata pemazmur menjadi miliknya: "Semua musuhku mendapat malu dan sangat terkejut; mereka mundur dan mendapat malu dalam sekejap mata." Bukan keselamatan yang ia minta, tetapi kemenangan kebenaran. Dan di akhir doanya, damai yang tidak masuk akal memenuhi hatinya, sebuah kepastian bahwa apa pun yang terjadi besok Tuhan tidak akan diam.

Keesokan paginya, di tanah lapang Tanjung Tahuna, Gubernur VOC Robertus Padtbrugge memberikan tawaran terakhir perihal tanda tangani kontrak politik yang berarti menyerahkan iman, budaya, dan kedaulatan, atau mati di tiang gantung. Bataha menatap rakyatnya, menatap langit, lalu mengucapkan kalimat yang akan dikenang sepanjang masa
 "Saya lebih baik rela mati untuk suatu keyakinan, Karena keyakinan saya ialah lebih baik mati menentang penjajah, atau hidup merdeka sebagai manusia yang berhak untuk melanjutkan keyakinan saya"
Tali dijeratkan ke lehernya, papan di bawah kakinya dijentikkan, dan Bataha Santiago menghembuskan napas terakhir sebagai raja, imam, dan pahlawan. Namun doa malamnya terus bergema.... dalam sejarah: VOC akhirnya terusir dari Nusantara, namanya diabadikan sebagai Pahlawan Nasional, dan Mazmur 6:10 yang ia doakan dalam kegelapan sel itu terbukti—musuh-musuh kebenaran mendapat malu, dalam sekejap mata sejarah.

Di masa Prapaskah banyak orang memaknainya dengan berpuasa, berpantang, atau memberi kepada sesama. Tapi ada satu praktik yang menjadi fondasi dari semuanya yang sering kali justru paling mudah terlupakan: berdoa. Bukan berdoa sebagai formalitas. Bukan berdoa sebagai checklist rohani. Melainkan berdoa sebagai percakapan yang jujur, dalam, dan sungguh-sungguh dengan Allah.



Ketika Masalah Datang, Apakah Kita Ingat Berdoa?


Coba perhatikan dirimu sendiri. Ketika pekerjaan terasa berat, ketika hubungan retak, ketika keuangan tidak berjalan sesuai rencana, apa yang pertama kali kamu lakukan?

Menganalisis situasi? Mencari solusi sendiri? Curhat kepada teman? Atau... berdoa?

Kisah nyata dari Pahlawan sejarah perjuangan bangsa Indonesia Raja Bataha Santiago dalam berdoa sebagai perisai hidupnya, bukan sekedar untuk dirinya, namun sandaran kepada Tuhan maka ada jalan keluar terbaik yang diberikan olehNya. Di Masa Prapaskah ini, mungkin kita perlu mengajukan pertanyaan yang sama kepada diri sendiri: Sudahkah saya sungguh-sungguh berdoa tentang hal yang paling membebani saya?


Eugene Peterson pernah mengingatkan: tindakan tanpa doa akan menyusut menjadi sesuatu yang sekadar lahiriah. Kehidupan tanpa doa mungkin bisa menghasilkan banyak hal yang efektif dan mengesankan akan tapi tidak akan pernah menyentuh kedalaman yang sesungguhnya.


Doa bukanlah teknik untuk membuat kita merasa lebih baik. Bukan pula mantra yang mengubah situasi secara instan. Doa adalah hubungan langsung dengan Pribadi yang Maha Tahu dan Maha Kuasa yang mendengar, yang peduli, dan yang akan menolong dalam waktu dan cara-Nya sendiri.


Itulah yang dialami Daud dalam Mazmur 6. Di awal, ia menggambarkan kesusahan hatinya karena diburu musuh-musuhnya. Ia lelah, ia takut, ia kewalahan. Tapi ia terus datang kepada Allah dan keyakinan itu hadir, "Tuhan telah mendengar permohonanku, Tuhan menerima doaku." (Mazmur 6:10)


Kelepasan itu datang bukan sesuai jadwal Daud, melainkan dalam waktu dan cara Allah sendiri (ay. 11). Dan itu cukup.


Doa yang Lahir dari Kedalaman Hati

Salah satu hal yang paling menyentuh dari kisah-kisah doa di Alkitab adalah betapa manusiawi doa-doa itu. Bukan doa yang rapi dan terstruktur sempurna. Bukan monolog yang terdengar saleh. Melainkan seruan yang lahir dari kedalaman atau dari tempat yang paling jujur dalam diri seseorang.


Hana, berdoa memohon anak dengan bibir yang bergerak tapi suara yang tak terdengar (1 Samuel 1:13) ini adalah doa dalam keheningan yang penuh dengan air mata dan kerinduan. Lalu Raja Hizkia, saat divonis akan mati, ia memalingkan mukanya ke dinding dan berbisik kepada Tuhan untuk memohon satu hal yakni lebih banyak waktu (Yesaya 38:2). ini adalah doa yang sederhana, pribadi, dan lahir dari kerentanan. Dan Yesus sendiri sering menyendiri untuk berdoa (Markus 1:35; 6:46). Bahkan malam sebelum Ia disalibkan, Ia berbicara kepada Bapa dalam doa yang begitu dalam dan penuh kasih (Yohanes 17). Termasuk juga doa dari cerita Raja Bataha Santiago.



Semua mereka adalah orang-orang yang sedang berputus asa atau merindukan sesuatu dan mereka membawa itu semua kepada Allah. Berbisik. Berkeluh kesah. Meratap. Doa-doa yang dinaikkan dari lubuk hati.

Masa Prapaskah mengundang kita untuk masuk ke ruang yang sama.


Cara Berdoa yang Lebih Hidup di Masa Prapaskah


Prapaskah adalah masa yang tepat untuk memperbarui cara kita berdoa bukan sekadar menambah rutinitas, tapi masuk lebih dalam ke dalam percakapan dengan Allah. Berikut beberapa cara praktis yang bisa dicoba:


1. Berdoa Sambil Berpuasa

Ketika kamu melewatkan waktu makan, jangan isi kekosongan itu dengan hal-hal lain. Gunakan momen itu untuk berdoa. Biarkan rasa lapar fisik mengingatkanmu pada kerinduan yang lebih dalam yakni kerinduan akan hadirat Allah. Ubahlah kerinduan akan hal-hal jasmani menjadi kerinduan akan Allah.


2. Berdoa dengan Alkitab

Komunitas Mari Baca Alkitab Makassar memakai Strategi Utama Allah untuk Renungan Aktif yaitu metode pendalaman Alkitab yang berpusat pada Allah, dirancang untuk membantu individu dan kelompok mendengar "suara" Tuhan di tengah kebisingan kehidupan. Metode ini terinspirasi oleh perjalanan rohani St. Augustin dalam Confessions, panduan ini mengintegrasikan pastoral konseling untuk memfasilitasi penyembuhan (menghadapi kebisingan), pendampingan (mendengar Tuhan), pemeliharaan (menjaga iman), dan transformasi (sukacita dan pembaharuan).

Secara singkat ambil satu perikop, baca tiga kali dengan cara yang berbeda:

Pertama:baca seperti biasa, pahami maknanya dengan panduan pertanyaan penuntun tentang pergumulan dan kekawatiran, serta bagaimana ayat ini menuntun mencari Tuhan hingga tawaran Tuhan apa?

Kedua, baca perlahan lagi, berhenti di setiap ayat, biarkan kata-katanya meresap dan percayakan Roh Kudus mendorong apa dalam hidupmu?

Ketiga, baca terakhir, temukan dosa atau luka yang ayat ini ingin ungkap dan bawa kepada Tuhan.

Keempat diam dan renungkan apa sukacita yang ingin Tuhan berikan dan

Kelima langkah aksi untuk menghidupi firman Tuhan.


Apakah Kamu Sedang Merasa Tertekan atau Kecil Hati?

Berdoa saja sebab Allah mendengar.

Mungkin situasinya tidak langsung berubah. Mungkin jawabannya datang dalam waktu dan cara yang berbeda dari yang kamu bayangkan. Tapi satu hal yang pasti: ketika kamu datang kepada Allah dalam doa, hatimu tidak akan tetap sama.

Damai sejahtera itu nyata. Bukan karena masalahmu hilang akan tapi karena kamu tahu ada yang lebih besar dari masalahmu, dan Ia mendengar.


Ya Tuhan, terima kasih karena Engkau selalu mendengar doaku saat memohon pertolongan-Mu. Berilah aku damai sejahtera dalam hati, karena aku tahu aku dapat menyerahkan segala kesusahanku ke dalam tangan-Mu yang kuat dan penuh kasih.


Ya Tuhan, berjalanlah denganku hari ini. Dengarlah suaraku dan tolonglah aku untuk mengenali suara-Mu.




Comments

Popular posts from this blog

Apa Itu TalentDNA? Panduan Lengkap untuk Mengenal Potensi Anda

Antara Dua Detak: Saat Hidup Diuji, Iman Dihidupkan

Perfect Match & TalentDNA: Rahasia Menemukan Pasangan Serasi Lewat Talenta Unik