Tak Perlu Pura-Pura Kuat: Sebuah Catatan Konseling Pra Nikah di Hari Raya Kenaikan Yesus Kristus
Sebagai bagian dari komisi keluarga di bidang yang berfokus pada keluarga katolik, saya sering mendampingi pasangan yang sedang bersiap memasuki kehidupan pernikahan. Dalam sesi konseling, tidak jarang saya menemukan calon pengantin yang datang dengan perasaan campur aduk antara kebahagiaan dan kecemasan akan masa depan. Mereka sering bertanya,"Apakah kami sanggup menghadapi semua beban hidup berumah tangga nanti?"
Pernikahan memang bukan sekedar pesta meriah, tetapi sebuah perjalanan iman yang penuh suka dan duka. Ada banyak beban yang mungkin akan dihadapi: masalah keuangan, perbedaan karakter, konflik dengan keluarga besar, hingga tantangan membesarkan anak. Namun, sebagai seorang yang mendampingi calon pasutri, saya ingin mengajak mereka untuk memandang semua beban ini dari perspektif iman yang lebih dalam terutama melalui peristiwa Kenaikan Tuhan Yesus ke surga.
Yesus Naik, Bukan untuk Meninggalkan, Melainkan untuk Mendekap.
Dalam sebuah artikel renungan yang saya baca baru-baru ini, dijelaskan dengan indah bagaimana peristiwa Kenaikan Yesus justru menjadi sumber pengharapan terbesar bagi kita yang letih lesu dan berbeban berat. Dan saya ingin berbagi wawasan ini kepada kamu yang sedang mempersiapkan pernikahan.
Coba bayangkan apa yang dialami para murid saat Yesus terangkat ke surga. Setelah menyaksikan Guru mereka disiksa, mati, lalu bangkit dan menemani mereka selama 40 hari, tiba-tiba Yesus mengangkat tangan, memberkati mereka, lalu perlahan naik ke langit. Ada perasaan campur aduk di hati para murid yakni sukacita karena Yesus hidup tetapi juga kebingungan dan sedih karena harus ditinggalkan.
Namun, dua malaikat menegur mereka,"Mengapa kamu berdiri melihat ke langit?" Teguran ini bukanlah teguran yang kasar, melainkan sebuah undangan untuk melepaskan diri dari kelumpuhan emosional. Para murid akhirnya pulang dengan sukacita yang sejati bukan karena mereka tidak lagi merasakan kehilangan, tetapi karena mereka menyadari bahwa Yesus kini duduk di sebelah kanan Allah Bapa. Dia tidak pergi menjauh. Dia naik lebih tinggi agar jangkauan kasih-Nya menjadi lebih luas, menembus setiap palung kecemasan dan labirin kebingungan yang kita rasakan.
Ada Jejak Kemanusiaan Kita di Surga
Inilah yang paling menghibur hati saya sebagai konselor, dan yang ingin saya tanamkan dalam setiap pasangan yang saya dampingi yakni Tuhan Yesus naik ke surga sebagai Allah sejati sekaligus manusia seutuhnya yang artinya, di surga ada jejak kemanusiaan kita. Segala lelah, sesak napas karena cemas, dan air mata kita bukanlah hal yang asing bagi-Nya.
Sungguh menghibur, bukan? Ketika kamu khawatir apakah akan menjadi suami atau istri yang baik, ketika kamu menghadapi tanggung jawab baru, ketika kamu takut akan kegagalan, ketahuilah bahwa Yesus, yang bertahta di surga, mengerti. Dia sendiri pernah menjadi manusia. Dia pernah lelah, pernah lapar, pernah sedih, bahkan pernah berdoa dengan keringat seperti tetesan darah di taman Getsemani karena beban batin yang begitu berat.
Kita Tidak Perlu Berpura-pura Kuat
Dalam perjalanan pernikahan nanti, akan ada hari-hari ketika kamu merasa tidak kuat. Akan ada saat-saat ketika kamu ingin menyerah. Sebagai konselor, saya sering melihat pasangan yang berusaha mati-matian untuk tampil sempurna di depan orang lain, padahal di dalam hati mereka hancur.
Kenaikan Kristus memberikan satu kelegaan yang luar biasa yaitu kita tidak perlu lagi berpura-pura kuat. Jika Sang Raja yang bertakhta di surga tetap memilih membawa bekas luka di tangan-Nya, maka kita pun boleh datang kepada-Nya dengan segala luka dan sisa tenaga yang kita punya.. Mengaku bahwa kita lelah, takut, atau sedang tidak baik-baik saja bukanlah tanda iman yang lemah. Sebaliknya, itu adalah tanda bahwa kita percaya Tuhan cukup besar untuk menampung seluruh rapuhnya kemanusiaan kita.
Berjalan Pulang Menuju Pelukan-Nya
Saat ini, kita masih hidup dalam dunia yang belum sepenuhnya pulih. Kita yang sudah ditebus pun masih bisa merasakan overthinking di tengah malam, beratnya hari Senin, dan macetnya jalanan yang tetap terasa nyata. Dalam pernikahan pun, akan ada badai dan ombak yang menerpa.
Namun, kenaikan Tuhan Yesus adalah sebuah jangkar yang tertambat kuat di surga. Kapal hidup kita mungkin terombang-ambing, tetapi kita tidak akan pernah hanyut kehilangan arah. Akhir cerita kita bukanlah kehancuran, melainkan fajar pemulihan yang seutuhnya. Kelak, saat Dia datang kembali, setiap bagian dari diri kita yang patah akan disambung kembali, dan setiap pikiran yang kalut akan diberikan kedamaian yang abadi.
Kepada kamu yang sedang mempersiapkan pernikahan, saya ingin berpesan: hari ini, kamu tidah harus mengatasi semuanya sendirian. Kamu tidak harus selalu terlihat tangguh. Cukuplah mengambil satu langkah kecil yaitu berbalik kepada Dia yang mengenal nama kamu di takhta-Nya. Kita tidak sedang berjalan menuju kesunyian. Kita sedang berjalan pulang menuju pelukan-Nya. Kita tidak sedang ditinggalkan. Kita disertai-Nya dan dengan penuh harapan menantikan kedatangan-Nya yang kedua untuk memulihkan segala sesuatu.
Marilah kita belajar dari para murid. Mereka tidak lagi mengandalkan kehadiran Yesus yang terlihat secara fisik, tetapi mengandalkan janji kehadiran-Nya yang lebih dalam melalui Roh Kudus. Dalam Pernikahan, kita pun dipanggil untuk mengandalkan bukan pada kekuatan diri sendiri, melainkan pada kasih setia Tuhan yang tak pernah berkesudahan. Selamat hari raya Kenaikan Tuhan Yesus Kristus. Semoga pengharapan ini menyertaimu dalam membangun keluarga kristiani yang kokoh dan penuh sukacita.
Tuhan memberkati perjalanan pernikahanmu.

Comments
Post a Comment