HATI
Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu, dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan pertama - Matius 22:37-38Ada sebuah lelucon yang beredar tentang seorang politikus yang terkenal keji, tiba-tiba dilarikan ke rumah sakit karena serangan jantung. Seorang pelawak berkomentar dengan kering: "Sungguh mengejutkan. Siapa sangka ia memiliki heart (hati)?"
Lelucon itu terasa lucu karena kata heart dalam bahasa Inggris merujuk pada dua hal sekaligus: organ jantung secara fisik, dan hati sebagai pusat emosi dan moral. Hal yang sama berlaku dalam bahasa-bahasa Alkitab. Kata leb dalam bahasa Ibrani dan kardia dalam bahasa Yunani mencakup keseluruhan diri kita yaitu bukan sekadar perasaan, melainkan pusat moral dan rohani dari seluruh keberadaan manusia. Kata-kata ini muncul sekitar seribu kali di dalam Alkitab. Dan sebagian besar kemunculannya menggambarkan motivasi, keinginan, keputusan, dan sifat manusia.
Hati Anda adalah diri Anda yang sesungguhnya.
Hati: Lebih dari Sekadar Perasaan
Ketika Alkitab berbicara tentang hati, ia tidak sedang bicara tentang sentimentalitas atau emosi semata. Hati adalah inti dari siapa kita yakni tempat di mana motivasi terdalam kita bersarang, tempat di mana kita memutuskan apa yang benar-benar kita inginkan dan siapa yang benar-benar kita percaya.Itulah mengapa Perintah yang Terutama dalam Taurat Yahudi berbunyi: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu" (Ulangan 6:5). Allah tidak meminta sebagian dari kita. Ia tidak meminta penampilan luar yang rapi atau kepatuhan yang mekanis. Ia meminta segenap hati, totalitas dari siapa kita.
Dan inilah masalahnya: hati manusia sangat pandai berpura-pura.
Ketika Hati Bermain Sandiwara
Hati manusia juga bisa menjadi sumber motivasi yang tidak murni yaitu kepalsuan di depan umum, kesombongan, dan hasrat untuk mendapatkan sesuatu.
Nabi Samuel pernah diingatkan tentang hal ini ketika ia hendak memilih raja Israel. Saat melihat penampilan luar seseorang yang tampak ideal, Tuhan berkata: "Manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi Tuhan melihat hati" (1 Samuel 16:7). Samuel bisa tertipu oleh penampilan tetapi Allah tidak pernah.
Nabi Yeremia pun menyampaikan peringatan serupa. Betapa mudahnya hati kita menolak saudara-saudara kita dan menuntut Samuel untuk mengetahui motivasi yang sesungguhnya (Yeremia 17:9). Tuhan sendiri menyatakan: "Siapakah yang dapat mengetahuinya?" . Ini sebuah pertanyaan retoris yang mengingatkan bahwa hati manusia jauh lebih rumit dan sering kali lebih gelap dari yang kita akui.
Nabi Yoel pernah menantang orang-orang yang menampakkan pertobatan dengan cara merobek pakaian mereka di hadapan publik sebagai tanda penyesalan namun hatinya jauh dari Allah. Tuhan berkata melaluinya: "Koyakkanlah hatimu dan jangan pakaianmu" (Yoel 2:13). Jelas bahwa pertobatan sejati bukan tentang gestur lahiriah yang terlihat saleh. Ia harus dimulai dari dalam.
Bangsa Israel berulang kali jatuh dalam perangkap yang sama. Dalam sejarah mereka, bangsa itu menggambarkan kekerasan hati seperti "sekeras batu intan" (Zakharia 7:12). Daniel pun menjadi begitu angkuh hingga ia dijatuhkan dari takhta kerajaannya (Daniel 5:20).
Hati juga adalah tempat berdiamnya kasih yaitu tempat kita paling dekat dengan Allah, dan sekaligus tempat kita paling mudah menipu diri sendiri.
"Akulah, Tuhan, yang menyelidiki hati, dan menguji batin" (Yeremia 17:10).
Kalimat ini seharusnya membuat kita berhenti sejenak. Allah mengenal hati kita. Pertanyaannya adalah: apakah kita sendiri mengenalnya?
Sering kali kita datang kepada Allah dengan motivasi yang sudah kita rapi-rapikan dalam pikiran kita sendiri. Kita merasa tulus tetapi apakah kita benar-benar sudah memeriksa apa yang ada di balik tindakan-tindakan kita? Apakah kita melayani karena sungguh-sungguh mengasihi, atau karena ingin diakui? Apakah kita berdoa karena rindu akan hadirat-Nya, atau karena merasa wajib?
Yesus pernah berkata dalam Khotbah di Bukit: "Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah" (Matius 5:8). Yang dimaksudkan-Nya mungkin adalah orang-orang yang tulus dalam niat mereka, yang datang kepada Allah tanpa motivasi terselubung, tanpa agenda tersembunyi.
Sering kali kita datang kepada Allah dengan motivasi yang sudah kita rapi-rapikan dalam pikiran kita sendiri. Kita merasa tulus tetapi apakah kita benar-benar sudah memeriksa apa yang ada di balik tindakan-tindakan kita? Apakah kita melayani karena sungguh-sungguh mengasihi, atau karena ingin diakui? Apakah kita berdoa karena rindu akan hadirat-Nya, atau karena merasa wajib?
Yesus pernah berkata dalam Khotbah di Bukit: "Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah" (Matius 5:8). Yang dimaksudkan-Nya mungkin adalah orang-orang yang tulus dalam niat mereka, yang datang kepada Allah tanpa motivasi terselubung, tanpa agenda tersembunyi.
Prapaskah: Waktu untuk Memeriksa Kesehatan Hati
Jika ada satu waktu dalam setahun yang paling tepat untuk melakukan pemeriksaan hati yang jujur, itu adalah Masa Prapaskah.Alkitab menasihati: "Marilah kita menyelidiki dan memeriksa hidup kita, dan berpaling kepada Tuhan" (Ratapan 3:40). Ini bukan ajakan untuk menghukum diri sendiri. Ini ajakan untuk jujur yaitu melihat ke dalam dengan mata yang tidak ditutup oleh pembenaran diri atau kebiasaan.
Mungkin kita telah jauh meninggalkan Allah bukan secara dramatis, tapi perlahan-lahan, sedikit demi sedikit, sampai kita menyadari bahwa kita sudah sangat jauh.
Mungkin ada dosa kesombongan rohani yang kita simpan tanpa sadar, merasa diri lebih baik dari orang lain, memandang rendah mereka yang tampak "kurang saleh".
Mungkin ada motivasi-motivasi yang belum pernah kita periksa dengan serius.
Masa Prapaskah mengundang kita untuk duduk, diam, dan bertanya kepada diri sendiri: Bagaimana sesungguhnya kondisi hatiku?
Masa Prapaskah mengundang kita untuk duduk, diam, dan bertanya kepada diri sendiri: Bagaimana sesungguhnya kondisi hatiku?
Bukan Keharusan, Melainkan Kerinduan
Satu hal yang indah dari perspektif iman Kristiani tentang hati: Allah tidak menginginkan ketaatan yang dipaksakan. Ia menginginkan keintiman.Kita merindukan kejernihan dan kemurnian hati, bukan karena diharuskan oleh aturan, melainkan karena kita ingin meraih kesempatan yang dianugerahkan Allah untuk berjalan bersama-Nya lebih dekat. Allah mengasihi kita dan ingin berjalan bersama kita dalam persekutuan yang intim dan penuh kasih.
Bukan "keharusan" melainkan "kerinduan".
Pertanyaannya adalah: apakah kita juga merindukannya?
Mintalah Hati yang Baru
Kabar baiknya: kita tidak sendirian dalam perjalanan ini. Allah sendiri berjanji melalui nabi Yehezkiel: "Aku akan memberikan kepadamu hati yang baru, dan roh yang baru di dalam batinmu" (Yehezkiel 36:26).Ini adalah janji yang luar biasa. Kita tidak diminta untuk memperbaiki hati kita dengan kekuatan sendiri. Kita diminta untuk datang dengan hati yang sepenuhnya percaya dan memohon pembaruan yang hanya bisa datang dari Allah.
Masa Prapaskah adalah saat yang tepat untuk melakukan itu. Bukan hanya dengan persetujuan dalam akal budi, tapi dengan hati yang sungguh-sungguh percaya kepada Tuhan Yesus yang telah bangkit.
Menyiapkan Hati Menyambut Paskah
Perjalanan menuju Paskah inilah waktu yang tepat untuk mengkaji kesehatan hati kita. Beberapa pertanyaan yang bisa kita bawa dalam doa dan refleksi selama Prapaskah:Apakah aku mengasihi Allah dengan segenap hatiku atau hanya dengan sebagian kecil yang nyaman bagiku?
Apakah ada area dalam hidupku di mana aku berpura-pura saleh di luar, tapi hatiku jauh dari Allah?
Apa motivasi sesungguhnya di balik tindakan-tindakan rohani yang aku lakukan?
Apakah aku datang kepada Allah sebagai pribadi yang tulus, atau sebagai aktor yang memainkan peran?
Allah mengenal hati kita lebih baik dari yang kita kenal diri kita sendiri. Dan Ia tetap mengasihi kita, bukan karena kita sempurna, tapi karena Ia penuh kasih. Undangan-Nya bukan untuk menampilkan hati yang sudah bersih, melainkan untuk datang dengan hati yang mau dibersihkan.
.png)
Comments
Post a Comment