MERENUNGKAN : Seni Mendengar yang Terlupakan di Era Serba Cepat
"Berbahagialah orang yang... merenungkan Taurat itu siang dan malam." - Mazmur 1:1-2
Santo Agustinus dari Hippo, salah satu Bapa Gereja terbesar sepanjang sejarah, pernah menulis sebuah kalimat yang terus bergema selama berabad-abad:
"Hati kami gelisah, ya Tuhan, hingga ia beristirahat di dalam-Mu."
Agustinus tahu betul apa artinya hati yang gelisah. Selama bertahun-tahun ia mencari kepuasan dalam filsafat, kesenangan, dan ambisi duniawi, sebelum akhirnya menemukan bahwa ketenangan sejati hanya ada dalam Allah. Dan jalan menuju ketenangan itu, ia temukan bukan melalui kesibukan, melainkan melalui perenungan yang mendalam.
Kita hidup di zaman yang jauh lebih bising dari zaman Agustinus. Dan kita lebih membutuhkan seni merenungkan itu sekarang daripada sebelumnya. Dari ini latar belakang mengapa metode perenungan alkitab komunitas Mari Baca Alkitab KAMS muncul
Tidak ada yang salah dengan itu. Tapi mungkin kita perlu bertanya: apakah itu cukup?
Masa Prapaskah mengundang kita untuk membayangkan sesuatu yang lebih: perenungan yang berlangsung terus-menerus, selama 40 hari hingga memasuki Pekan Suci. Bukan hanya beberapa menit di pagi hari, tapi sebuah orientasi hati yang terjaga sepanjang hari, ya...terus-menerus berfokus pada Yesus dan apa yang sedang Allah kerjakan dalam hidup kita.
Mungkin terdengar berat. Tapi mungkin juga itulah yang selama ini kita rindukan tanpa kita sadari.
Ketika Yosua diangkat sebagai pemimpin Israel setelah kematian Musa, Allah memberikan perintah yang sangat spesifik: "Janganlah engkau lupa menuturkan kitab Taurat ini, tetapi renungkanlah itu siang dan malam, supaya engkau bertindak dengan seksama sesuai dengan segala yang tertulis di dalamnya, sebab dengan demikian perjalananmu akan berhasil dan engkau akan jaya" (Yosua 1:8).
Perhatikan janjinya: perjalanan yang berhasil, hidup yang jaya, bukan karena strategi yang canggih atau kemampuan yang luar biasa, tapi karena merenungkan firman Tuhan siang dan malam.
Mazmur 1 berbicara tentang hal yang sama. Orang yang berbahagia adalah orang yang menemukan "kesukaannya" di dalam firman Allah dan "merenungkan" firman itu "siang dan malam" (ay. 1-2). Bukan sekadar membacanya tapi merenungkannya, mencernanya, membawanya ke mana-mana.
Alkitab sendiri memberikan petunjuk yang sangat kaya melalui bahasa aslinya.
Kata Ibrani hagah yaitu kata yang dipakai dalam Mazmur 1 untuk "merenungkan" dan juga dipakai untuk menggambarkan singa yang menggeram (Yesaya 31:4) dan rintihan merpati (Yesaya 38:14). Ini bukan gambaran tentang keheningan yang pasif. Ini adalah gambaran tentang sesuatu yang hidup, yang keluar dari dalam tepatnya suara yang lahir dari kedalaman.
Beberapa ahli bahasa menganggap bunyi g yang parau dalam kata hagah sebagai onomatopoeia yaitu kata yang menirukan bunyi yang digambarkannya. Seperti kata roar dalam bahasa Inggris yang memang berbunyi seperti auman singa, kata hagah pun bisa berbunyi seperti geraman di tenggorokan.
Artinya: merenungkan firman bisa berarti mengucapkannya dengan lantang, membacanya keras-keras untuk diri sendiri, membiarkan kata-katanya bergema di dalam diri. Ini bukan aktivitas sunyi yang hanya terjadi di dalam kepala namun ini sesuatu yang melibatkan seluruh diri.
Kata Ibrani siyah yaitu kata lain yang diterjemahkan sebagai "merenungkan" tampaknya lebih bersifat mental dan reflektif. Mazmur 119 yang panjang, dalam 176 ayat yang semuanya berbicara tentang Kitab Suci, menggunakan berbagai bentuk siyah sebanyak delapan kali. Siyah juga bisa berarti "memperhatikan" atau "membicarakan" hal-hal besar yang telah Allah kerjakan.
Nabi Debora menggunakannya dalam nyanyian kemenangannya: ia meminta orang-orang agar berhenti menyibukkan diri, dan mengabarkan ( baca: memperhatikan dan menceritakan) kemenangan Tuhan berulang-ulang (Hakim-Hakim 5:10-11).
Terjemahan Alkitab bahasa Inggris The Message memparafrasakan Mazmur 1:2 dengan sangat indah: "You thrill to God's Word, you chew on Scripture day and night" artinya "Engkau sangat suka firman Tuhan, engkau mencernanya siang malam."
"Hati kami gelisah, ya Tuhan, hingga ia beristirahat di dalam-Mu."
Agustinus tahu betul apa artinya hati yang gelisah. Selama bertahun-tahun ia mencari kepuasan dalam filsafat, kesenangan, dan ambisi duniawi, sebelum akhirnya menemukan bahwa ketenangan sejati hanya ada dalam Allah. Dan jalan menuju ketenangan itu, ia temukan bukan melalui kesibukan, melainkan melalui perenungan yang mendalam.
Kita hidup di zaman yang jauh lebih bising dari zaman Agustinus. Dan kita lebih membutuhkan seni merenungkan itu sekarang daripada sebelumnya. Dari ini latar belakang mengapa metode perenungan alkitab komunitas Mari Baca Alkitab KAMS muncul
Saat Teduh yang Terlalu Singkat
Kita biasanya menganggap saat teduh atau waktu perenungan sebagai momen menyendiri bersama Allah selama beberapa menit pada permulaan setiap hari. Kita membuka Alkitab, membaca sejenak, berdoa singkat, lalu melanjutkan hari.Tidak ada yang salah dengan itu. Tapi mungkin kita perlu bertanya: apakah itu cukup?
Masa Prapaskah mengundang kita untuk membayangkan sesuatu yang lebih: perenungan yang berlangsung terus-menerus, selama 40 hari hingga memasuki Pekan Suci. Bukan hanya beberapa menit di pagi hari, tapi sebuah orientasi hati yang terjaga sepanjang hari, ya...terus-menerus berfokus pada Yesus dan apa yang sedang Allah kerjakan dalam hidup kita.
Mungkin terdengar berat. Tapi mungkin juga itulah yang selama ini kita rindukan tanpa kita sadari.
Perenungan Bukan Pilihan tapi Ini Perintah
Perenungan bukan sekadar praktik rohani yang baik untuk dicoba. Ia adalah perintah Allah kepada umat-Nya.Ketika Yosua diangkat sebagai pemimpin Israel setelah kematian Musa, Allah memberikan perintah yang sangat spesifik: "Janganlah engkau lupa menuturkan kitab Taurat ini, tetapi renungkanlah itu siang dan malam, supaya engkau bertindak dengan seksama sesuai dengan segala yang tertulis di dalamnya, sebab dengan demikian perjalananmu akan berhasil dan engkau akan jaya" (Yosua 1:8).
Perhatikan janjinya: perjalanan yang berhasil, hidup yang jaya, bukan karena strategi yang canggih atau kemampuan yang luar biasa, tapi karena merenungkan firman Tuhan siang dan malam.
Mazmur 1 berbicara tentang hal yang sama. Orang yang berbahagia adalah orang yang menemukan "kesukaannya" di dalam firman Allah dan "merenungkan" firman itu "siang dan malam" (ay. 1-2). Bukan sekadar membacanya tapi merenungkannya, mencernanya, membawanya ke mana-mana.
Apa Sesungguhnya Artinya "Merenung"?
Di sinilah banyak orang zaman modern tersangkut. Kita tahu bahwa merenungkan firman itu penting tapi kita tidak benar-benar tahu bagaimana melakukannya.Alkitab sendiri memberikan petunjuk yang sangat kaya melalui bahasa aslinya.
Kata Ibrani hagah yaitu kata yang dipakai dalam Mazmur 1 untuk "merenungkan" dan juga dipakai untuk menggambarkan singa yang menggeram (Yesaya 31:4) dan rintihan merpati (Yesaya 38:14). Ini bukan gambaran tentang keheningan yang pasif. Ini adalah gambaran tentang sesuatu yang hidup, yang keluar dari dalam tepatnya suara yang lahir dari kedalaman.
Beberapa ahli bahasa menganggap bunyi g yang parau dalam kata hagah sebagai onomatopoeia yaitu kata yang menirukan bunyi yang digambarkannya. Seperti kata roar dalam bahasa Inggris yang memang berbunyi seperti auman singa, kata hagah pun bisa berbunyi seperti geraman di tenggorokan.
Artinya: merenungkan firman bisa berarti mengucapkannya dengan lantang, membacanya keras-keras untuk diri sendiri, membiarkan kata-katanya bergema di dalam diri. Ini bukan aktivitas sunyi yang hanya terjadi di dalam kepala namun ini sesuatu yang melibatkan seluruh diri.
Kata Ibrani siyah yaitu kata lain yang diterjemahkan sebagai "merenungkan" tampaknya lebih bersifat mental dan reflektif. Mazmur 119 yang panjang, dalam 176 ayat yang semuanya berbicara tentang Kitab Suci, menggunakan berbagai bentuk siyah sebanyak delapan kali. Siyah juga bisa berarti "memperhatikan" atau "membicarakan" hal-hal besar yang telah Allah kerjakan.
Nabi Debora menggunakannya dalam nyanyian kemenangannya: ia meminta orang-orang agar berhenti menyibukkan diri, dan mengabarkan ( baca: memperhatikan dan menceritakan) kemenangan Tuhan berulang-ulang (Hakim-Hakim 5:10-11).
Lebih dari Sekadar Membaca
Perenungan bukan hanya soal membaca firman Allah tapi ini tentang berinteraksi dengannya secara mendalam, dengan perasaan kagum dan senang, dan menerimanya sebagai makanan rohani kita sehari-hari (baca Matius 4:4).Terjemahan Alkitab bahasa Inggris The Message memparafrasakan Mazmur 1:2 dengan sangat indah: "You thrill to God's Word, you chew on Scripture day and night" artinya "Engkau sangat suka firman Tuhan, engkau mencernanya siang malam."
Mencerna. Bukan sekadar menelan. Seperti sapi yang memamah biak dimana ia mengunyah, menelan, mengembalikan ke mulut, mengunyah lagi. Ada proses yang berulang, ada penyerapan yang mendalam, ada pencernaan yang sungguh-sungguh.
Inilah yang Santo Agustinus praktikkan sepanjang hidupnya. Ia tidak sekadar membaca Kitab Suci namun ia menghirupnya, bergumul dengannya, membiarkannya menantang dan mengubah cara berpikirnya. Pengakuan-pengakuannya (Confessions) adalah bukti dari perenungan yang bertahun-tahun: pikiran yang terus bergulat dengan firman Allah sampai firman itu benar-benar menjadi bagian dari dirinya.
Ini bukan sekadar metafora. Apabila Kristus disalibkan karena dosa-dosa kita, maka segala kejahatan yang pernah kita lakukan dan kebaikan yang lalai untuk kita kerjakan bahwa semuanya ikut berperan menempatkan Dia di sana.
Merenungkan salib dengan cara ini bukan sebagai simbol keagamaan yang familiar, tapi sebagai peristiwa nyata yang berhubungan langsung dengan siapa kita adalah perenungan yang paling dahsyat dan paling tepat untuk Masa Prapaskah.
Inilah yang Santo Agustinus praktikkan sepanjang hidupnya. Ia tidak sekadar membaca Kitab Suci namun ia menghirupnya, bergumul dengannya, membiarkannya menantang dan mengubah cara berpikirnya. Pengakuan-pengakuannya (Confessions) adalah bukti dari perenungan yang bertahun-tahun: pikiran yang terus bergulat dengan firman Allah sampai firman itu benar-benar menjadi bagian dari dirinya.
Merenungkan Salib: Perenungan yang Paling Mengubahkan
Thomas McKenzie menulis sesuatu yang sangat kena: "Saat kita memandang Yesus, kita digerakkan untuk mengakui jalan hidup kita yang telah memakukan Dia di kayu salib."Ini bukan sekadar metafora. Apabila Kristus disalibkan karena dosa-dosa kita, maka segala kejahatan yang pernah kita lakukan dan kebaikan yang lalai untuk kita kerjakan bahwa semuanya ikut berperan menempatkan Dia di sana.
Merenungkan salib dengan cara ini bukan sebagai simbol keagamaan yang familiar, tapi sebagai peristiwa nyata yang berhubungan langsung dengan siapa kita adalah perenungan yang paling dahsyat dan paling tepat untuk Masa Prapaskah.
Santo Agustinus pun bergumul panjang dengan realitas ini. Dalam Confessions, ia menggambarkan bagaimana kasih Allah yang begitu besar yang dinyatakan di kayu salib akhirnya mematahkan semua resistensi dalam dirinya. Bukan argumen filosofis yang mengubahnya, melainkan perenungan yang jujur tentang kasih yang tidak layak ia terima.
Entah kita menggeram, merintih, atau sekadar merenung, kita harus berhenti sejenak. Menurunkan kecepatan. Memberi perhatian khusus pada apa yang sedang Allah kerjakan.
Kita tidak perlu menjadi biarawan atau pertapa untuk melakukan ini. Agustinus pun bukan seorang pertapa tapi ia adalah uskup yang sibuk, penulis yang produktif, dan pemimpin komunitas yang aktif. Tapi di tengah semua kesibukannya, ia menemukan cara untuk terus merenungkan firman Allah.
Cara itu bisa dimulai dari hal sederhana.
Ia menemukannya dalam Tuhan. Dan jalan menuju ke sana adalah perenungan yaitu duduk dengan firman, bergumul dengannya, membiarkannya mengubah siapa kita dari dalam ke luar.
Masa Prapaskah adalah 40 hari hadiah untuk melakukan perjalanan yang sama. Perjalanan menuju Paskah akan menjadi sangat berarti saat kita terus-menerus berfokus pada Yesus—bukan hanya di pagi hari selama beberapa menit, tapi sepanjang hari, sepanjang 40 hari ini.
Karena pada akhirnya, Paskah bukan hanya tentang hari Minggu yang meriah. Ia tentang hati yang telah diubahkan oleh karena berjalan bersama-Nya.
Aku datang kepada-Mu, ya Tuhan, dengan suara lembut dan telinga terbuka lebar. Tolonglah aku merenungkan firman-Mu bagiku.
Selama Masa Prapaskah ini, pikirkanlah pendekatan-pendekatan lain untuk melakukan saat teduh Anda. Mulailah dengan berhenti dan melepaskan diri Anda sejenak dari kesibukan sehari-hari. Izinkan diri Anda untuk berinteraksi secara emosional dengan Sabda Tuhan. Suarakan pemikiran dan tanggapan Anda dengan lantang. Izinkan perasaan Anda yang sejati mengalir keluar.
Panduan untuk Hidup yang Serba Cepat
Mungkin itulah panduan terbaik bagi kita yang hidup di zaman serba cepat ini.Entah kita menggeram, merintih, atau sekadar merenung, kita harus berhenti sejenak. Menurunkan kecepatan. Memberi perhatian khusus pada apa yang sedang Allah kerjakan.
Kita tidak perlu menjadi biarawan atau pertapa untuk melakukan ini. Agustinus pun bukan seorang pertapa tapi ia adalah uskup yang sibuk, penulis yang produktif, dan pemimpin komunitas yang aktif. Tapi di tengah semua kesibukannya, ia menemukan cara untuk terus merenungkan firman Allah.
Cara itu bisa dimulai dari hal sederhana.
Menyiapkan Hati Menyambut Paskah: Praktik Merenungkan
Selama Masa Prapaskah ini, pertimbangkan pendekatan-pendekatan untuk memperdalam perenunganmu. Komunitas Mari Baca Alkitab KAMS memakai Strategi Utama Allah untuk Renungan Aktif yaitu metode pendalaman Alkitab yang berpusat pada Allah, dirancang untuk membantu individu dan kelompok mendengar "suara" Tuhan di tengah kebisingan kehidupan. Metode ini terinspirasi oleh perjalanan rohani St. Augustin dalam Confessions, panduan ini mengintegrasikan pastoral konseling untuk memfasilitasi penyembuhan (menghadapi kebisingan), pendampingan (mendengar Tuhan), pemeliharaan (menjaga iman), dan transformasi (sukacita dan pembaharuan). baca dengan klik : doaKegelisahan yang Menemukan Tempat Istirahatnya
Kita kembali kepada Agustinus. Hati yang gelisah itu, yang terus mencari, terus bertanya, terus merindukan sesuatu yang lebih akhirnya menemukan tempat istirahatnya bukan dalam kesibukan, bukan dalam pencapaian, bukan dalam kesenangan duniawi.Ia menemukannya dalam Tuhan. Dan jalan menuju ke sana adalah perenungan yaitu duduk dengan firman, bergumul dengannya, membiarkannya mengubah siapa kita dari dalam ke luar.
Masa Prapaskah adalah 40 hari hadiah untuk melakukan perjalanan yang sama. Perjalanan menuju Paskah akan menjadi sangat berarti saat kita terus-menerus berfokus pada Yesus—bukan hanya di pagi hari selama beberapa menit, tapi sepanjang hari, sepanjang 40 hari ini.
Karena pada akhirnya, Paskah bukan hanya tentang hari Minggu yang meriah. Ia tentang hati yang telah diubahkan oleh karena berjalan bersama-Nya.
Aku datang kepada-Mu, ya Tuhan, dengan suara lembut dan telinga terbuka lebar. Tolonglah aku merenungkan firman-Mu bagiku.
Selama Masa Prapaskah ini, pikirkanlah pendekatan-pendekatan lain untuk melakukan saat teduh Anda. Mulailah dengan berhenti dan melepaskan diri Anda sejenak dari kesibukan sehari-hari. Izinkan diri Anda untuk berinteraksi secara emosional dengan Sabda Tuhan. Suarakan pemikiran dan tanggapan Anda dengan lantang. Izinkan perasaan Anda yang sejati mengalir keluar.
.png)
Comments
Post a Comment