Ketika Kemarahan Menjadi Racun
Musuh-Musuh Hati
"Dia tidak pernah minta maaf," katanya. "Dan sampai dia minta maaf, aku tidak akan duluan."
Tiga tahun. Ia menunggu. Sementara itu, hidupnya yakni hubungannya dengan keluarga, ketenangannya, bahkan kesehatannya perlahan terkikis. Yang menghukum ternyata bukan kakaknya. Ia menghukum dirinya sendiri.
Di bagian pertama seri ini, kita bicara tentang rasa bersalah dan kata kuncinya: "Aku berhutang padamu." Hari ini kita masuk ke musuh hati yang kedua, yang sama berbahayanya namun bekerja dari arah yang berlawanan.
Musuh yang kedua adalah kemarahan dan kata kuncinya adalah kebalikannya:
Musuh Hati yang Kedua: Anger
Seorang pria bercerita bahwa ia sudah tidak bicara dengan kakaknya selama tiga tahun. Bukan karena tidak ada kesempatan. Bukan karena jauh. Mereka bahkan tinggal di kota yang sama."Dia tidak pernah minta maaf," katanya. "Dan sampai dia minta maaf, aku tidak akan duluan."
Tiga tahun. Ia menunggu. Sementara itu, hidupnya yakni hubungannya dengan keluarga, ketenangannya, bahkan kesehatannya perlahan terkikis. Yang menghukum ternyata bukan kakaknya. Ia menghukum dirinya sendiri.
Di bagian pertama seri ini, kita bicara tentang rasa bersalah dan kata kuncinya: "Aku berhutang padamu." Hari ini kita masuk ke musuh hati yang kedua, yang sama berbahayanya namun bekerja dari arah yang berlawanan.
Musuh yang kedua adalah kemarahan dan kata kuncinya adalah kebalikannya:
"Kamu berhutang padaku."
Mengapa Kita Marah?
Andy Stanley dalam Enemies of the Heart menjelaskan bahwa kemarahan lahir ketika kita tidak mendapatkan apa yang kita inginkan atau apa yang kita rasa berhak kita dapatkan. Di sinilah akarnya: rasa layak yang tidak terpenuhi.Coba ingat kembali kapan terakhir kali kamu benar-benar marah? Apa yang terjadi? Hampir pasti, ada sesuatu yang kamu harapkan dari seseorang, dari sebuah situasi, dari hidup itu sendiri dan harapan itu tidak terpenuhi. Mungkin kamu diabaikan. Dikhianati. Diperlakukan tidak adil. Dijanjikan sesuatu yang tidak ditepati.
Dan di dalam hati, secara sadar atau tidak, muncul kalimat itu: kamu berhutang padaku."Aku sudah berkorban begitu banyak untuk keluarga ini. Seharusnya mereka lebih menghargaiku."
"Aku sudah setia bertahun-tahun di kantor ini. Seharusnya promosi itu untukku."
"Dia tidak seharusnya memperlakukanku seperti itu. Dia harus merasakannya juga."
Ada orang yang menyakitimu dan tidak pernah peduli. Ada yang bahkan tidak tahu bahwa mereka telah melukaimu. Ada yang sudah pergi seperti meninggal, pindah, memutuskan hubungan dan tidak akan pernah ada kesempatan untuk rekonsiliasi di dunia ini.
Lalu apa yang terjadi kalau kita tetap menunggu pembayaran itu? Kita terjebak. Hati kita tergantung pada sesuatu yang mungkin tidak akan pernah datang. Dan sambil menunggu, kemarahan itu tidak berdiam diri tapi ia tumbuh. Ia berfermentasi menjadi kepahitan. Kepahitan menjadi dendam. Dendam menjadi cara kita melihat dunia.
Alkitab punya kata yang tepat untuk proses ini. Dalam bahasa Yunani; pikria atau kepahitan. Sesuatu yang tadinya panas dan menggebu, kini menjadi dingin, keras, dan meresap ke dalam seluruh cara kita berhubungan dengan orang lain.
Itulah mengapa Andy Stanley menyebutnya virus. Virus tidak langsung membunuh dan ia melemahkan dari dalam. Pelan-pelan, hati yang penuh kemarahan kehilangan kapasitasnya untuk bersukacita, untuk mempercayai orang lain, untuk mencintai dengan bebas. Yang tersisa adalah hidup yang defensif: selalu waspada, selalu menghitung, selalu siap untuk terluka lagi.
Tapi pengampunan dalam iman Kristiani bukan itu. Mengampuni bukan berarti membenarkan yang salah. Mengampuni berarti melepaskan hak untuk membalas. Bukan karena orang itu layak melainkan karena kita tidak ingin terus menjadi tawanan dari kemarahan kita sendiri.
Seperti yang dikatakan Paulus di Efesus 4:32 memberikan fondasi yang kokoh: "sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu." Ini bukan perintah yang mengambang di udara. Ini perintah yang berakar pada pengalaman bahwa kamu sudah terlebih dahulu menerima pengampunan yang tidak kamu layak dapatkan. Dari sana, kamu bisa memberikan apa yang kamu sendiri pernah terima.
Tradisi kita mengenal ini sebagai salah satu karya belas kasih rohani yaitu mengampuni kesalahan. Bukan sekali, bukan mudah akan tetapi sebagai keputusan yang diperbarui setiap hari, didukung oleh rahmat, bukan hanya kekuatan kehendak semata.
Yang berbahaya adalah kemarahan yang disimpan yang tidak dibawa kepada Tuhan, tidak diselesaikan, dan dibiarkan mengendap menjadi kepahitan. Maka pertanyaannya bukan hanya apakah kamu marah? Tapi kemarahan itu kamu bawa ke mana?
Bawa nama itu dalam doa hari ini. Bukan untuk pura-pura luka itu tidak ada tapi untuk mulai melepaskan beban yang sebenarnya lebih berat kamu tanggung daripada mereka.
Karena mengampuni bukan hadiah untuk orang yang menyakitimu. Mengampuni adalah hadiah yang kamu berikan untuk dirimu sendiri dan untuk hatimu yang berhak hidup merdeka.
"Aku sudah setia bertahun-tahun di kantor ini. Seharusnya promosi itu untukku."
"Dia tidak seharusnya memperlakukanku seperti itu. Dia harus merasakannya juga."
Hutang yang Tidak Pernah Terbayar
Inilah bagian yang paling menyakitkan: tidak semua hutang akan pernah dibayar.Ada orang yang menyakitimu dan tidak pernah peduli. Ada yang bahkan tidak tahu bahwa mereka telah melukaimu. Ada yang sudah pergi seperti meninggal, pindah, memutuskan hubungan dan tidak akan pernah ada kesempatan untuk rekonsiliasi di dunia ini.
Lalu apa yang terjadi kalau kita tetap menunggu pembayaran itu? Kita terjebak. Hati kita tergantung pada sesuatu yang mungkin tidak akan pernah datang. Dan sambil menunggu, kemarahan itu tidak berdiam diri tapi ia tumbuh. Ia berfermentasi menjadi kepahitan. Kepahitan menjadi dendam. Dendam menjadi cara kita melihat dunia.
Alkitab punya kata yang tepat untuk proses ini. Dalam bahasa Yunani; pikria atau kepahitan. Sesuatu yang tadinya panas dan menggebu, kini menjadi dingin, keras, dan meresap ke dalam seluruh cara kita berhubungan dengan orang lain.
Virus di Dalam Hati
"Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan. Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu." Efesus 4:31–32Paulus tidak menulis daftar ini secara kebetulan. Perhatikan urutannya: kepahitan → kegeraman → kemarahan → pertikaian → fitnah. Ini bukan daftar yang acak akan tetapi ini adalah urutan perkembangan. Kemarahan yang tidak diselesaikan tidak berhenti di situ. Ia bergerak. Ia berkembang. Ia mencari jalan keluar dan jalan keluarnya hampir selalu merusak.
Itulah mengapa Andy Stanley menyebutnya virus. Virus tidak langsung membunuh dan ia melemahkan dari dalam. Pelan-pelan, hati yang penuh kemarahan kehilangan kapasitasnya untuk bersukacita, untuk mempercayai orang lain, untuk mencintai dengan bebas. Yang tersisa adalah hidup yang defensif: selalu waspada, selalu menghitung, selalu siap untuk terluka lagi.
Jalan Keluar: Mengampuni Bukan Berarti Membenarkan
Di sinilah banyak orang tersandung. Mengampuni terasa seperti mengatakan bahwa apa yang dilakukan orang itu tidak apa-apa. Bahwa luka kita tidak nyata. Bahwa kita lemah karena tidak "berdiri untuk diri sendiri."Tapi pengampunan dalam iman Kristiani bukan itu. Mengampuni bukan berarti membenarkan yang salah. Mengampuni berarti melepaskan hak untuk membalas. Bukan karena orang itu layak melainkan karena kita tidak ingin terus menjadi tawanan dari kemarahan kita sendiri.
Seperti yang dikatakan Paulus di Efesus 4:32 memberikan fondasi yang kokoh: "sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu." Ini bukan perintah yang mengambang di udara. Ini perintah yang berakar pada pengalaman bahwa kamu sudah terlebih dahulu menerima pengampunan yang tidak kamu layak dapatkan. Dari sana, kamu bisa memberikan apa yang kamu sendiri pernah terima.
Tradisi kita mengenal ini sebagai salah satu karya belas kasih rohani yaitu mengampuni kesalahan. Bukan sekali, bukan mudah akan tetapi sebagai keputusan yang diperbarui setiap hari, didukung oleh rahmat, bukan hanya kekuatan kehendak semata.
Menjaga Hati Tetap Sehat
Hati yang sehat bukan hati yang tidak pernah marah. Yesus sendiri marah ketika melihat Bait Allah dijadikan tempat dagang, ketika menyaksikan kemunafikan yang menindas orang kecil. Ada kemarahan yang benar, yang lahir dari cinta dan keadilan.Yang berbahaya adalah kemarahan yang disimpan yang tidak dibawa kepada Tuhan, tidak diselesaikan, dan dibiarkan mengendap menjadi kepahitan. Maka pertanyaannya bukan hanya apakah kamu marah? Tapi kemarahan itu kamu bawa ke mana?
Pertanyaan untuk Refleksi
Adakah seseorang dalam hidupmu yang masih "berhutang" padamu didalam pikiranmu? Seseorang yang belum kamu ampuni sepenuhnya?Bawa nama itu dalam doa hari ini. Bukan untuk pura-pura luka itu tidak ada tapi untuk mulai melepaskan beban yang sebenarnya lebih berat kamu tanggung daripada mereka.
Karena mengampuni bukan hadiah untuk orang yang menyakitimu. Mengampuni adalah hadiah yang kamu berikan untuk dirimu sendiri dan untuk hatimu yang berhak hidup merdeka.
.png)
Comments
Post a Comment