Ketika Rasa Bersalah Menjadi Penjara

Musuh-Musuh Hati

Musuh Hati yang Pertama: Guilt

Seorang ibu datang menemui seorang konselor pastoral. Ia tidak menangis. Wajahnya tampak tenang, terlalu tenang. Tapi ketika ditanya, "Apa yang kamu rasakan di rumah?" ia menjawab pelan:
"Saya tidak pernah bisa bilang tidak. Kalau saya bilang tidak, saya langsung merasa jahat. Jadi saya terus bilang iya meskipun saya sudah habis."
Ia tidak dijajah oleh orang lain. Ia dijajah oleh dirinya sendiri oleh rasa bersalah yang telah lama bersarang di dalam hatinya.
Kita mulai seri percakapan tentang musuh-musuh hati dan musuh yang pertama, yang paling diam-diam namun paling melelahkan, adalah rasa bersalah.
Andy Stanley, dalam bukunya Enemies of the Heart, mengidentifikasi rasa bersalah sebagai salah satu dari empat musuh utama yang merusak hati dari dalam. Bukan musuh yang datang dari luar. Bukan orang lain yang menyerang. Melainkan sesuatu yang kita hidupi dan tanpa sadar, kita biarkan menguasai setiap keputusan kita.

Kata Kunci yang Mengungkap Segalanya

Rasa bersalah punya satu kata kunci yang terus berulang dalam pikiran orang yang hidup di dalamnya:
"Aku berhutang padamu."
Dengarkan suara-suara ini, mungkin beberapa terdengar familiar:"Aku harus kasih uang ke anakku, sebagai pengganti waktu yang tidak pernah kuberikan karena aku selalu di luar."
"Aku pernah menyakiti suamiku dulu. Sekarang, apapun yang ia mau, harus aku turuti."
"Aku tidak sempurna. Jadi aku harus selalu meminta maaf  bahkan untuk hal-hal yang bukan salahku."
Pola yang sama yakni ada hutang yang harus dibayar. Dan selama hutang itu belum lunas yang dalam hati yang terluka tidak pernah benar-benar lunas maka kita terus membayar. Terus melakukan. Terus berkorban. Sampai kehabisan.
Alkitab Berbicara Tentang Hutang
"Orang kaya menguasai orang miskin, yang berhutang menjadi budak dari yang menghutangi." - Amsal 22:7
Perikop ini bicara tentang ekonomi tentang relasi keuangan. Tapi kebijaksanaannya menjangkau jauh lebih dalam yakni siapapun yang merasa berhutang, kehilangan otoritasnya atas dirinya sendiri.
Ketika rasa bersalah menguasai hati, orang yang kita rasa "piutangi" entah itu pasangan, anak, orang tua, atau bahkan bayangan masa lalu kita sendiri menjadi seperti tuan atas keputusan-keputusan kita. Kita tidak lagi memilih dari kebebasan. Kita memilih dari rasa takut: takut semakin bersalah, takut tidak cukup baik, takut tidak layak dicintai.
Dan lama kelamaan, hati kita kelelahan.

Darimana datangnya rasa bersalah itu?

Penting untuk dibedakan: ada dua jenis rasa bersalah.
Yang pertama adalah rasa bersalah yang sehat yaitu sinyal moral yang diberikan Tuhan kepada hati nurani kita. Ketika kita berbuat salah dan merasa bersalah, itu adalah undangan untuk bertobat, memperbaiki, dan menerima pengampunan. Rasa bersalah jenis ini memiliki arah dan tujuan yang membawa kita kepada Tuhan.
Yang kedua, dan inilah yang menjadi musuh hati adalah rasa bersalah yang tidak pernah diselesaikan. Rasa bersalah yang terus hidup meski kesalahan sudah diakui, sudah diampuni, atau bahkan tidak pernah benar-benar ada. Rasa bersalah ini tidak membawa kita ke mana-mana. Ia hanya berputar yang menuntut pembayaran yang tidak akan pernah cukup.
Sering kali, ini bukan tentang kejahatan besar. Ini tentang luka lama yang belum disembuhkan. Tentang ekspektasi yang kita ciptakan sendiri. Tentang suara-suara dari masa kecil yang terus berbisik: "kamu tidak cukup."

Jalan Menuju Kebebasan

Gereja Katolik mengajarkan bahwa pengampunan bukan sesuatu yang harus kita upayakan sendiri, melainkan sesuatu yang telah diberikan di dalam Kristus. Katekismus mengingat kita bahwa rahmat bukan imbalan atas jasa, melainkan anugerah cuma-cuma dari kasih Allah yang tidak bersyarat (bdk. KGK 1996).
Artinya hutangmu sudah dilunasi. Bukan oleh perbuatanmu. Bukan oleh pengorbananmu yang tak berkesudahan. Melainkan oleh kasih Allah yang mendahului semua usahamu.
Ini bukan berarti kita tidak perlu bertanggung jawab. Rekonsiliasi dengan sesama itu penting. Permintaan maaf yang tulus itu nyata dan perlu. Tapi ada perbedaan besar antara bertanggung jawab dari tempat yang merdeka dan membayar hutang dari tempat yang terjajah.
"Jika Anak itu memerdekakan kamu, kamulah sungguh-sungguh merdeka." -Yohanes 8:36
Kemerdekaan sejati dimulai bukan ketika semua orang berkata, "Aku memaafkanmu" akan tetapi ketika kita sungguh-sungguh percaya bahwa Allah telah memaafkan kita, dan dari sana kita belajar untuk juga memaafkan diri sendiri.

Pertanyaan untuk Refleksi

Adakah area dalam hidupmu di mana kamu merasa terus-menerus "membayar hutang" kepada seseorang atau kepada dirimu sendiri?

Bicarakan hal itu kepada Tuhan. Bukan dengan daftar panjang pembelaan diri, cukup dengan jujur. "Tuhan, aku lelah membawa ini. Tolong tunjukkan aku jalan kebebasan-Mu."

Karena hati yang sehat bukan hati yang tidak pernah salah melainkan hati yang tahu ke mana membawa kesalahannya.


Comments

Popular posts from this blog

Antara Dua Detak: Saat Hidup Diuji, Iman Dihidupkan

Apa Itu TalentDNA? Panduan Lengkap untuk Mengenal Potensi Anda

Kunci Hubungan yang Kuat: Hadir dengan Hati