KUDUS : Dipanggil Menjadi Berbeda, Dipanggil Menjadi Milik-Nya
Sebuah Cerita: Cermin di Ruangan yang Terang
Suatu petang, seorang nenek tua bernama Suster Maria datang ke biara setelah bertahun-tahun melayani di kampung-kampung terpencil. Tubuhnya telah renta, tangannya penuh guratan kerja keras, dan rambutnya memutih oleh waktu. Ketika ia memasuki kapel kecil itu untuk pertama kalinya, ia berhenti di ambang pintu. Di altar tergantung salib besar yang berkilau oleh lilin-lilin yang menyala. Cahaya itu menerangi seluruh ruangan.Dan di situlah ia melihat dirinya sendiri bukan dalam cermin dari kaca dan logam, melainkan dalam cahaya Kekudusan Allah yang memenuhi kapel itu. Tiba-tiba ia menangis. Bukan karena sedih, tetapi karena dalam cahaya itu, ia melihat betapa banyak debu yang masih menempel di jiwanya. Betapa banyak yang belum selesai. Betapa besar jarak antara dirinya dan Sang Terang yang ia layani sepanjang hidup.
Salah seorang suster muda yang menemaninya bertanya, "Apa yang Suster lihat?"
"Aku melihat Allah," jawabnya perlahan. "Dan aku melihat diriku sendiri. Betapa berbedanya kami."
Itulah yang terjadi ketika kita berdiri di hadapan Allah yang kudus. Bukan penghakiman yang terasa pertama kali, melainkan kesadaran yang dalam, bahwa kekudusan-Nya begitu nyata, dan kita, dalam segala keberadaan kita, belum sepenuhnya serupa dengan-Nya. Namun justru di sini, Masa Prapaskah mengundang kita: bukan untuk lari dari cahaya itu, melainkan untuk melangkah lebih dekat ke dalam-Nya.
I. Allah yang Kudus: Sebuah Kebenaran yang Mengubah Segalanya
Kata kudus dalam bahasa Ibrani adalah קָדוֹשׁ (qadosh), yang berakar pada arti "terpisah, disisihkan, berbeda secara radikal." Ketika Alkitab mengatakan bahwa Allah itu kudus, bukan berarti Allah hanya lebih baik dari kita dalam hal moral melainkan bahwa Ia berada dalam tataran yang sama sekali berbeda, melampaui segala yang dapat kita pikirkan dan ukur.Hana berdoa dengan penuh keyakinan: "Tidak ada yang kudus seperti TUHAN" (1 Samuel 2:2). Ini bukan sekadar pujian, ini adalah deklarasi teologis yang mengguncangkan seluruh pandangan kita tentang Allah. Allah bukan sekadar versi yang lebih sempurna dari manusia. Allah adalah Sang Lain yang Mahakudus, yang keberadaan-Nya sendiri bersifat transenden yang melampaui ruang, waktu, dan pemahaman manusia.
Dalam nubuat Yesaya, Allah sendiri menegaskan hal ini: "Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku" (Yesaya 55:8). Di sini Allah menegaskan bahwa Dia berada dalam tataran yang benar-benar berbeda dari kita bukan karena Ia jauh dan tidak peduli, melainkan karena kekudusan-Nya adalah hakikat-Nya yang paling dalam.
Para teolog menggunakan dua istilah untuk menggambarkan dua aspek Allah ini: imanensi (bagaimana Allah dapat dikenal dan dijangkau oleh manusia) dan transendensi (bagaimana Allah sepenuhnya terpisah dan berbeda dari kita, karena Ia kudus). Kita sering lebih nyaman dengan gambaran Allah yang imanen yaitu Allah sebagai Gembala Agung, sebagai Pokok Anggur, sebagai Bapa yang hangat. Dan gambaran itu benar. Namun kekudusan-Nya yang hakiki itulah yang menjadi dasar dari seluruh kisah hubungan Allah dengan kita.
Ketika Petrus menulis, "Kuduslah kamu, sebab Aku kudus" (1 Petrus 1:16), ia sedang mengingatkan kita bahwa Allah itu transenden, terpisah — sama seperti dalam Bait Suci Israel, Dia terpisahkan oleh tirai yang memisahkan bagian yang disebut ruang mahakudus. Allah bukan sekadar "teman baik" yang tidak mempersoalkan dosa-dosa kita. Jika Allah bersikap demikian, Ia tidak lagi kudus.
"Kudus, kudus, kudus TUHAN semesta alam, seluruh bumi penuh kemuliaan-Nya!" (Yesaya 6:3)
Pengulangan tiga kali dalam bahasa Ibrani adalah bentuk superlative tertinggi yaitu Mahasuci, Mahasuci, Mahasuci. Bukan sekedar kudus. Bukan lebih dari sekedar kudus. Melainkan kekudusan yang tak terukur, yang melampaui segala pengertian.
Dan apa yang terjadi pada Yesaya? Ia tidak bersorak. Ia tidak tepuk tangan. Ia menangis dan berteriak: "Celakalah aku! aku binasa! Sebab aku ini seorang yang najis bibir, dan aku tinggal di tengah-tengah bangsa yang najis bibir, namun mataku telah melihat Sang Raja, yakni TUHAN semesta alam" (ay. 5).
Di hadapan kekudusan Allah, Yesaya tidak membandingkan dirinya dengan orang lain. Ia tidak berkata, "Aku lebih baik dari si Fulan." Ia hanya tahu satu hal: Allah itu kudus, dan dirinya tidak. Inilah yang disebut teolog Jerman Rudolf Otto sebagai mysterium tremendum yaitu misteri yang menakutkan sekaligus memukau, yang membuat manusia sadar akan kehinaannya di hadapan Yang Ilahi.
Seperti Yesaya, jauh dalam batin kita tahu bahwa kita ini cemar, berdosa, dan bobrok. Di hadapan Allah yang kudus, kita menjadi sadar akan kegagalan dan kebobrokan kita. Namun kesadaran itu bukan akhir dari cerita. Justru dari situlah karya pemurnian Allah dimulai.
Ini bukan panggilan eksklusif bagi para biarawan, biarawati, atau imam saja. Kekudusan adalah panggilan universal. Seorang ibu rumah tangga yang mencintai suami dan anak-anaknya dengan setia sedang menapaki jalan kekudusan. Seorang petani yang bekerja dengan jujur dan berdoa di ladangnya sedang menanggapi undangan Allah. Seorang pekerja kantoran yang menolak korupsi demi hati nurani sedang menjawab panggilan itu.
Sementara, Katekismus Gereja Katolik (KGK 1265) mengajarkan bahwa Pembaptisan tidak hanya membersihkan dari semua dosa, tetapi serentak menjadikan orang yang baru dibaptis suatu 'ciptaan baru', seorang anak angkat Allah yang mengambil bagian dalam kodrat ilahi dan dengan demikian, sungguh menjadi kudus. Kekudusan bukan sesuatu yang kita raih dari bawah ke atas, melainkan sesuatu yang Allah tanamkan dari atas ke bawah, dan kita dipanggil untuk mempertahankan dan mengembangkannya (lih. KGK 2012-2016).
Sebagaimana ditulis oleh katolisitas.org, kekudusan tidak dapat diperoleh dari kekuatan kita sendiri. Kekudusan adalah rahmat Tuhan. Tuhan telah memberikan teladan kesempurnaan kasih dengan memberikan diri-Nya sendiri melalui Yesus Kristus Putera-Nya kepada kita (1Yohanes 4:10). Di dalam Kristus, Tuhan menyatakan kesempurnaan kasih-Nya.
Penting pula kita memahami bahwa kata kudus dalam bahasa Ibrani qadosh juga berarti "dipisahkan" dalam arti positif seperti dikhususkan, disisihkan untuk menjadi milik Tuhan. Maka seorang yang kudus bukan berarti orang yang sempurna tanpa cacat, melainkan orang yang sepenuhnya milik Allah yang hidupnya diarahkan kepada Dia, bukan kepada dunia dan keinginan sendiri. Petrus sendiri tidak mendorong kita untuk menjadi perfeksionis; ia mendorong kita untuk menjadi berbeda sebagaimana Allah itu berbeda, terpisah dari dunia (1 Petrus 1:14-16).
Gereja sendiri disebut kudus bukan karena seluruh anggotanya sempurna, melainkan karena kepalanya adalah Kristus yang kudus, karena Roh Kudus menghidupkannya, dan karena melalui Sakramen-sakramen-Nya, rahmat pengudus terus disampaikan kepada umat (KGK 867). Kekudusan Gereja terpancar paling nyata dalam para orang kudus terutama Bunda Maria yang dalam kelemahan manusiawi mereka tetap berjalan bersama Allah sampai akhir.
Dalam Ekaristi, kita mengalami persatuan yang paling intim dengan Kristus yang kudus. Setiap kali kita menyambut Tubuh dan Darah Kristus, kita tidak hanya menerima makanan rohani tapi kita bersatu dengan Kekudusan itu sendiri. Katekismus mengajarkan bahwa Ekaristi adalah "sumber dan puncak seluruh kehidupan Kristiani" (KGK 1324). Kristus yang kudus hadir sepenuhnya dalam rupa Roti dan Anggur yang dikonsekrasikan dan Ia mengundang kita yang hina ini untuk bersatu dengan-Nya.
Namun untuk dapat menyambut-Nya dengan pantas, kita membutuhkan pertobatan yang terus-menerus. Di sinilah Sakramen Tobat menjadi sangat penting, terutama dalam masa Prapaskah ini. Seperti yang diajarkan Gereja, jika seseorang jatuh dalam dosa berat setelah Pembaptisan, Sakramen Tobat adalah 'pemberesan' yang dikehendaki Kristus (Yohanes 20:22-23), untuk mengembalikan keadaan rohani kepada kekudusan yang sudah diterima saat Pembaptisan.
Dalam The Chosen Season 3, ada adegan yang menyentuh ketika Yesus bertemu seorang perempuan yang hidup dalam dosa bertahun-tahun. Ia tidak mengusir dia. Ia tidak menghina. Ia menawarkan kepada dia sesuatu yang lebih berharga dari semua kata penghiburan: kemungkinan untuk berubah. "Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi" (Yohanes 8:11). Kekudusan Allah tidak menghancurkan manusia yang berdosa tapi menawarkan jalan pulang.
Pertama, sadari kerapuhanmu di hadapan Allah yang kudus. Seperti Yesaya, izinkan cahaya kekudusan Allah menerangi sudut-sudut gelap hidupmu. Bukan untuk meremukkan dirimu, melainkan untuk membawamu kepada pertobatan yang tulus. Inilah langkah awal menuju kekudusan: menyadari bahwa tanpa bantuan rahmat Allah, kita tidak akan berhasil dalam perjuangan ini.
Kedua, gunakan masa Prapaskah ini untuk sungguh-sungguh berdamai dengan Allah melalui Sakramen Tobat. Pergi mengaku dosa bukan sebagai formalitas, melainkan sebagai pertemuan nyata dengan Allah yang mengampuni dan memulihkan. Terima kasih kepada Allah atas belas kasihan-Nya yang melampaui segala dosa kita.
Ketiga, hiduplah berbeda dari dunia. Kekudusan bukan berarti menarik diri dari masyarakat melainkan hadir di dalam dunia dengan cara yang berbeda dengan kejujuran di tempat kepalsuan, dengan kasih nyata di tempat kebencian, dengan kesabaran di tempat keributan, dengan kedamaian di tempat kegelisahan. Inilah yang dimaksud Petrus dengan "terpisah" bukan isolasi fisik, melainkan perbedaan karakter dan nilai hidup.
Keempat, andalkan rahmat dan bukan kekuatan sendiri. Bertekun dalam doa, baca dan renungkan Firman Tuhan setiap hari, dan datanglah ke perayaan Ekaristi dengan hati yang mau diubah. Roh Kudus yang tinggal di dalam hati kita sejak Pembaptisan terus berkarya untuk menjadikan kita semakin serupa dengan Kristus asalkan kita membuka diri dan mau bekerja sama dengan rahmat-Nya.
II. Yesaya di Hadapan Takhta: Perjumpaan dengan Yang Mahasuci
Bacalah Yesaya pasal 6. Di sana ada salah satu kisah perjumpaan paling dramatis dalam seluruh Kitab Suci. Yesaya melihat Allah duduk di atas takhta yang tinggi dan luhur. Para serafim yaitu makhluk surgawi dengan enam sayap terbang di atasnya. Dan mereka berseru satu sama lain:"Kudus, kudus, kudus TUHAN semesta alam, seluruh bumi penuh kemuliaan-Nya!" (Yesaya 6:3)
Pengulangan tiga kali dalam bahasa Ibrani adalah bentuk superlative tertinggi yaitu Mahasuci, Mahasuci, Mahasuci. Bukan sekedar kudus. Bukan lebih dari sekedar kudus. Melainkan kekudusan yang tak terukur, yang melampaui segala pengertian.
Dan apa yang terjadi pada Yesaya? Ia tidak bersorak. Ia tidak tepuk tangan. Ia menangis dan berteriak: "Celakalah aku! aku binasa! Sebab aku ini seorang yang najis bibir, dan aku tinggal di tengah-tengah bangsa yang najis bibir, namun mataku telah melihat Sang Raja, yakni TUHAN semesta alam" (ay. 5).
Di hadapan kekudusan Allah, Yesaya tidak membandingkan dirinya dengan orang lain. Ia tidak berkata, "Aku lebih baik dari si Fulan." Ia hanya tahu satu hal: Allah itu kudus, dan dirinya tidak. Inilah yang disebut teolog Jerman Rudolf Otto sebagai mysterium tremendum yaitu misteri yang menakutkan sekaligus memukau, yang membuat manusia sadar akan kehinaannya di hadapan Yang Ilahi.
Seperti Yesaya, jauh dalam batin kita tahu bahwa kita ini cemar, berdosa, dan bobrok. Di hadapan Allah yang kudus, kita menjadi sadar akan kegagalan dan kebobrokan kita. Namun kesadaran itu bukan akhir dari cerita. Justru dari situlah karya pemurnian Allah dimulai.
III. Ajaran Gereja Katolik tentang Kekudusan: Rahmat, Bukan Prestasi
Gereja Katolik, berdasarkan Kitab Suci dan Tradisi Suci, mengajarkan bahwa kekudusan bukan sekadar pilihan hidup melainkan panggilan yang diberikan Allah kepada semua orang yang dibaptis. Konsili Vatikan II dalam Lumen Gentium (LG) menyatakan dengan tegas bahwa semua orang Kristiani, dalam kondisi kehidupan yang berbeda-beda, dipanggil untuk mencapai kepenuhan hidup Kristiani dan kesempurnaan cinta kasih (LG 40).Ini bukan panggilan eksklusif bagi para biarawan, biarawati, atau imam saja. Kekudusan adalah panggilan universal. Seorang ibu rumah tangga yang mencintai suami dan anak-anaknya dengan setia sedang menapaki jalan kekudusan. Seorang petani yang bekerja dengan jujur dan berdoa di ladangnya sedang menanggapi undangan Allah. Seorang pekerja kantoran yang menolak korupsi demi hati nurani sedang menjawab panggilan itu.
Sementara, Katekismus Gereja Katolik (KGK 1265) mengajarkan bahwa Pembaptisan tidak hanya membersihkan dari semua dosa, tetapi serentak menjadikan orang yang baru dibaptis suatu 'ciptaan baru', seorang anak angkat Allah yang mengambil bagian dalam kodrat ilahi dan dengan demikian, sungguh menjadi kudus. Kekudusan bukan sesuatu yang kita raih dari bawah ke atas, melainkan sesuatu yang Allah tanamkan dari atas ke bawah, dan kita dipanggil untuk mempertahankan dan mengembangkannya (lih. KGK 2012-2016).
Sebagaimana ditulis oleh katolisitas.org, kekudusan tidak dapat diperoleh dari kekuatan kita sendiri. Kekudusan adalah rahmat Tuhan. Tuhan telah memberikan teladan kesempurnaan kasih dengan memberikan diri-Nya sendiri melalui Yesus Kristus Putera-Nya kepada kita (1Yohanes 4:10). Di dalam Kristus, Tuhan menyatakan kesempurnaan kasih-Nya.
Penting pula kita memahami bahwa kata kudus dalam bahasa Ibrani qadosh juga berarti "dipisahkan" dalam arti positif seperti dikhususkan, disisihkan untuk menjadi milik Tuhan. Maka seorang yang kudus bukan berarti orang yang sempurna tanpa cacat, melainkan orang yang sepenuhnya milik Allah yang hidupnya diarahkan kepada Dia, bukan kepada dunia dan keinginan sendiri. Petrus sendiri tidak mendorong kita untuk menjadi perfeksionis; ia mendorong kita untuk menjadi berbeda sebagaimana Allah itu berbeda, terpisah dari dunia (1 Petrus 1:14-16).
Gereja sendiri disebut kudus bukan karena seluruh anggotanya sempurna, melainkan karena kepalanya adalah Kristus yang kudus, karena Roh Kudus menghidupkannya, dan karena melalui Sakramen-sakramen-Nya, rahmat pengudus terus disampaikan kepada umat (KGK 867). Kekudusan Gereja terpancar paling nyata dalam para orang kudus terutama Bunda Maria yang dalam kelemahan manusiawi mereka tetap berjalan bersama Allah sampai akhir.
IV. Ekaristi dan Tobat: Jalan Menuju Kekudusan
Bagaimana kita yang lemah, yang cemar, yang sering jatuh ini dapat menjawab panggilan kekudusan? Gereja Katolik menyediakan dua jalan sakramental yang luar biasa yaitu Sakramen Ekaristi (Inisiasi) dan Sakramen Tobat (Rekonsiliasi).Dalam Ekaristi, kita mengalami persatuan yang paling intim dengan Kristus yang kudus. Setiap kali kita menyambut Tubuh dan Darah Kristus, kita tidak hanya menerima makanan rohani tapi kita bersatu dengan Kekudusan itu sendiri. Katekismus mengajarkan bahwa Ekaristi adalah "sumber dan puncak seluruh kehidupan Kristiani" (KGK 1324). Kristus yang kudus hadir sepenuhnya dalam rupa Roti dan Anggur yang dikonsekrasikan dan Ia mengundang kita yang hina ini untuk bersatu dengan-Nya.
Namun untuk dapat menyambut-Nya dengan pantas, kita membutuhkan pertobatan yang terus-menerus. Di sinilah Sakramen Tobat menjadi sangat penting, terutama dalam masa Prapaskah ini. Seperti yang diajarkan Gereja, jika seseorang jatuh dalam dosa berat setelah Pembaptisan, Sakramen Tobat adalah 'pemberesan' yang dikehendaki Kristus (Yohanes 20:22-23), untuk mengembalikan keadaan rohani kepada kekudusan yang sudah diterima saat Pembaptisan.
Dalam The Chosen Season 3, ada adegan yang menyentuh ketika Yesus bertemu seorang perempuan yang hidup dalam dosa bertahun-tahun. Ia tidak mengusir dia. Ia tidak menghina. Ia menawarkan kepada dia sesuatu yang lebih berharga dari semua kata penghiburan: kemungkinan untuk berubah. "Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi" (Yohanes 8:11). Kekudusan Allah tidak menghancurkan manusia yang berdosa tapi menawarkan jalan pulang.
V. Panggilan Prapaskah: Menjadi Kudus seperti Dia
Maka kita sampai pada pertanyaan yang paling penting: bagaimana kita menanggapi panggilan ini dalam Prapaskah? Petrus menulis: "Janganlah hidup menurut keinginanmu yang dahulu, pada waktu kalian masih belum mengenal Allah. Sebaliknya, hendaklah kalian suci dalam segala sesuatu yang kalian lakukan" (1 Petrus 1:14-15 BIMK).Pertama, sadari kerapuhanmu di hadapan Allah yang kudus. Seperti Yesaya, izinkan cahaya kekudusan Allah menerangi sudut-sudut gelap hidupmu. Bukan untuk meremukkan dirimu, melainkan untuk membawamu kepada pertobatan yang tulus. Inilah langkah awal menuju kekudusan: menyadari bahwa tanpa bantuan rahmat Allah, kita tidak akan berhasil dalam perjuangan ini.
Kedua, gunakan masa Prapaskah ini untuk sungguh-sungguh berdamai dengan Allah melalui Sakramen Tobat. Pergi mengaku dosa bukan sebagai formalitas, melainkan sebagai pertemuan nyata dengan Allah yang mengampuni dan memulihkan. Terima kasih kepada Allah atas belas kasihan-Nya yang melampaui segala dosa kita.
Ketiga, hiduplah berbeda dari dunia. Kekudusan bukan berarti menarik diri dari masyarakat melainkan hadir di dalam dunia dengan cara yang berbeda dengan kejujuran di tempat kepalsuan, dengan kasih nyata di tempat kebencian, dengan kesabaran di tempat keributan, dengan kedamaian di tempat kegelisahan. Inilah yang dimaksud Petrus dengan "terpisah" bukan isolasi fisik, melainkan perbedaan karakter dan nilai hidup.
Keempat, andalkan rahmat dan bukan kekuatan sendiri. Bertekun dalam doa, baca dan renungkan Firman Tuhan setiap hari, dan datanglah ke perayaan Ekaristi dengan hati yang mau diubah. Roh Kudus yang tinggal di dalam hati kita sejak Pembaptisan terus berkarya untuk menjadikan kita semakin serupa dengan Kristus asalkan kita membuka diri dan mau bekerja sama dengan rahmat-Nya.
.png)
Comments
Post a Comment