TAHIR
"Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan aku." -Matius 8:2Ada sebuah pepatah yang sangat terkenal dalam budaya Barat: "Cleanliness is next to godliness" kebersihan sangat dekat dengan kesalehan. Dalam bahasa Indonesia, kita mengenal ungkapan serupa: "Kebersihan adalah sebagian dari iman."
Namun Alkitab, ketika berbicara tentang kebersihan dengan menggunakan istilah ketahiran, menyampaikan sesuatu yang jauh lebih dalam dan jauh lebih menantang dari sekadar menjaga penampilan yang bersih dan rapi. Ketahiran dalam pengertian Alkitab bukan soal tubuh yang mandi setiap hari atau pakaian yang selalu tersetrika. Ia menyentuh wilayah yang jauh lebih dalam yakni hati, jiwa, dan hubungan kita dengan Allah yang hidup.
Dan Masa Prapaskah adalah waktu yang paling tepat untuk duduk dengan pertanyaan yang tidak nyaman ini: Apakah aku sungguh-sungguh tahir di hadapan Allah?
Tahir dalam Perjanjian Lama: Lebih dari Sekadar Kebersihan
Dalam kitab-kitab awal Alkitab, menjadi "tahir" memiliki arti yang sangat penting dan sepertinya mengusung dua tujuan sekaligus.Tujuan pertama adalah kesehatan dan kebersihan jasmani. Bagi bangsa Israel, aturan mengenai ketahiran ditegakkan secara ketat demi alasan kesehatan. Ada makanan tertentu yang dinyatakan tidak tahir atau haram. Sejumlah penyakit, termasuk kusta akan membuat seseorang tidak tahir. Demikian pula keluarnya cairan tubuh tertentu, bersentuhan dengan jenazah, atau bersentuhan dengan benda-benda yang digunakan dalam penyembahan berhala. Ribuan tahun sebelum para ilmuwan memahami cara kerja bakteri, orang Ibrani kuno telah mempraktikkan karantina, urusan keamanan darah, dan cara menyiapkan makanan yang sehat. Dalam hal ini, hukum ketahiran Israel sungguh-sungguh terdengar modern.
Tujuan kedua adalah ketahiran rohani untuk ibadah kepada Allah. Pemazmur bertanya: "Siapakah yang boleh naik ke atas gunung Tuhan?" Jawabannya: "Orang yang bersih tangannya dan murni hatinya" (Mazmur 24:3-4). Orang yang tidak tahir dilarang berada di Kemah Suci atau Bait Suci. Pentahiran bisa dilakukan melalui ritual pembasuhan atau oleh darah hewan kurban. Benda-benda yang tidak tahir bisa disucikan dengan api.
Ketahiran bukan hanya soal penampilan sosial namun sebagai prasyarat untuk hadir di hadapan Allah yang mahakudus.
Yesus Membalikkan Segalanya
Yesus datang dan menjungkirbalikkan pemahaman umum tentang ketahiran dengan cara yang paling mengejutkan.Ketika berbicara kepada para pemimpin Yahudi di zaman-Nya, Ia berkata: "Kamu orang-orang Farisi, kamu membersihkan bagian luar dari cawan dan pinggan, tetapi bagian dalammu penuh rampasan dan kejahatan" (Lukas 11:39). Yesus menyoroti bagaimana orang-orang beragama bisa sangat memperhatikan penampilan jasmani yang bersih yaitu mengikuti setiap ritual pembasuhan dengan teliti tetapi secara rohani batin mereka kotor dan bobrok.
Ketahiran sejati, menurut Yesus, bukan dimulai dari luar ke dalam. Ia harus dimulai dari dalam ke luar.
Lalu ada momen yang paling menggetarkan dari seluruh tema ketahiran ini. Seorang penderita kusta datang kepada Yesus, sujud menyembah dan berkata: "Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan aku."
Perhatikanlah detail yang paling penting dari kisah ini. Menurut Hukum Taurat dalam Perjanjian Lama, kecemaran tidak boleh ditularkan kepada seorang yang tahir. Jika seseorang yang tahir menyentuh orang yang tidak tahir, yang tahir itu menjadi cemar. Itulah mengapa penderita kusta harus berteriak "Najis! Najis!" setiap kali mendekati orang lain agar semua orang menjauhinya.
Tapi yang terjadi sebaliknya: "Lalu Yesus mengulurkan tangan-Nya, menjamah orang itu dan berkata: 'Aku mau, jadilah engkau tahir.' Seketika itu juga tahirlah orang itu dari pada kustanya" (Matius 8:2-3).
Yesus tidak menjadi cemar ketika menyentuh yang najis. Sebaliknya — yang najis menjadi tahir ketika disentuh oleh-Nya.
Inilah pembalikan terbesar dalam sejarah ketahiran: bukan kecemaran yang menular dari yang najis kepada yang tahir, melainkan kesucian yang menular dari Yesus kepada yang paling tidak layak. Ia mengulurkan tangan-Nya, menyentuh orang yang tidak tahir itu, dan menularkan pemulihan kepadanya.
Dilahirkan Kembali: Pentahiran yang Paling Radikal
Dalam percakapan-Nya dengan Nikodemus, seorang pemimpin agama Yahudi yang datang menemui Yesus pada malam hari. Yesus mengungkapkan dimensi ketahiran yang paling dalam dan paling revolusioner:"Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah" (Yohanes 3:3).
Nikodemus kebingungan: "Bagaimanakah mungkin seorang dilahirkan, kalau ia sudah tua? Dapatkah ia masuk kembali ke dalam rahim ibunya dan dilahirkan lagi?"
Yesus menjawab: "Sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah. Apa yang dilahirkan dari daging, adalah daging, dan apa yang dilahirkan dari Roh, adalah roh" (Yohanes 3:5-6).
Dilahirkan kembali dari air dan Roh. Inilah pentahiran yang paling radikal yang pernah Allah tawarkan kepada manusia. Ini bukan sekadar ritual pembasuhan yang dapat diulang. Ini bukan sekadar pembersihan permukaan. Ini adalah kelahiran baru, perubahan total dari dalam, yang hanya bisa dikerjakan oleh kuasa Roh Kudus.
Bagi umat Katolik, "dilahirkan dari air dan Roh" ini pertama-tama berbicara tentang Sakramen Baptisan, saat seseorang dimandikan dalam nama Tritunggal Mahakudus dan dilahirkan kembali sebagai anak Allah. Baptisan adalah pentahiran yang paling fundamental: ia menghapus dosa asal, menjadikan kita anggota Tubuh Kristus, dan memeteraikan kita dengan Roh Kudus.
Paulus mengungkapkannya dengan indah kepada jemaat di Titus: "Ia telah menyelamatkan kita, bukan karena perbuatan baik yang telah kita lakukan, tetapi karena rahmat-Nya oleh permandian kelahiran kembali dan oleh pembaruan yang dikerjakan oleh Roh Kudus" (Titus 3:5).
Darah Kristus: Pentahiran yang Tidak Tertandingi
Jika baptisan adalah kelahiran baru yang mentahirkan kita dari dosa asal, maka darah Kristus adalah yang mentahirkan kita dari setiap dosa yang kita lakukan sesudahnya.Kitab Ibrani menyatakan dengan sangat kuat: "Sebab, jika darah domba jantan dan darah lembu jantan dan percikan abu lembu muda menguduskan mereka yang najis, sehingga mereka disucikan secara lahiriah, terlebih lagi darah Kristus, yang melalui Roh yang kekal telah mempersembahkan diri-Nya sendiri kepada Allah sebagai persembahan yang tak bercacat, akan menyucikan hati nurani kita dari perbuatan-perbuatan yang sia-sia, supaya kita dapat beribadah kepada Allah yang hidup" (Ibrani 9:13-14).
Darah hewan kurban dalam Perjanjian Lama hanya bisa mentahirkan secara lahiriah dan harus diulang terus-menerus. Tapi darah Kristus yang dipersembahkan sekali untuk selama-lamanya di Bukit Kalvari, menyucikan hati nurani kita. Bukan hanya permukaan. Bukan hanya penampilan. Melainkan tempat paling dalam dari diri kita.
Dan janji yang paling melegakan dari seluruh Alkitab tentang ketahiran ini ditemukan dalam surat Yohanes yang pertama: "Jika kita hidup di dalam terang sama seperti Dia ada di dalam terang, kita mempunyai persekutuan seorang dengan yang lain, dan darah Yesus, Anak-Nya itu, menyucikan kita dari pada segala dosa" (1 Yohanes 1:7).
Menyucikan kita dari segala dosa bukan sebagian, bukan yang sudah kita sesali, bukan yang sudah kita bayar dengan perbuatan baik. Segala dosa. Oleh darah Yesus.
Panggilan yang Mustahil dan Pengharapan yang Nyata
Masa Prapaskah ini membawa kita untuk menyadari sebuah panggilan yang tampak mustahil di bawah bayang-bayang salib: kita dipanggil untuk hidup tahir secara jasmani dan rohani. Meski sering membersihkan diri, kita tetap manusia yang cemar. Kita jatuh. Kita gagal. Kita melukai orang yang kita kasihi. Kita melakukan hal-hal yang memalukan bahkan di hadapan diri kita sendiri.Namun pengharapan kita bukan terletak pada kemampuan kita untuk menjaga diri tetap bersih. Pengharapan kita adalah pada Dia yang rela menyentuh yang najis dan menularkan kesucian-Nya seperti yang Ia lakukan kepada penderita kusta itu.
Penderita kusta itu tidak membersihkan dirinya lebih dulu sebelum datang kepada Yesus. Ia datang dalam kondisinya yang paling buruk, paling hina, paling tidak layak dan berkata dengan iman yang sederhana: "Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan aku."
Ia tidak berkata: "Tuan, aku sudah berusaha menjadi lebih baik." Ia tidak berkata: "Tuan, pantanganku sudah cukup ketat." Ia hanya berkata: "Jika Tuan mau." Dan Yesus menjawab: "Aku mau."
Itulah yang Yesus katakan kepadamu dalam Masa Prapaskah ini. Datanglah dalam kondisimu yang paling jujur dengan segala kecemaranmu, dengan segala dosamu, dengan segala kegagalanmu dan percayalah bahwa Ia yang mau menyentuh penderita kusta itu juga mau menyentuhmu.
Dilahirkan Kembali dalam Retret Agung Prapaskah
Masa Prapaskah sebagai retret agung selama 40 hari adalah kesempatan untuk mengalami pembaruan kelahiran kita yang pertama, bukan secara sakramental yang sudah terjadi saat baptisan, melainkan secara rohani yang harus terus-menerus diperbarui dalam hidup sehari-hari.Rasul Paulus menulis: "Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang" (2 Korintus 5:17). Ini bukan peristiwa sekali terjadi ini adalah proses yang terus-menerus. Setiap hari kita dipanggil untuk "menanggalkan manusia lama" dan "mengenakan manusia baru" yang diciptakan menurut gambar Allah (Efesus 4:22-24).
Masa Prapaskah memberikan ritme dan struktur untuk proses pembaruan itu:
Berpuasa dan berpantang; melatih tubuh untuk tunduk kepada roh, bukan sebaliknya. Ketika tubuh dilatih untuk berkata tidak kepada yang halal sekalipun, kita sedang melatih ketahiran dari dalam.
Berdoa dan merenung; membawa hati nurani kita ke hadapan terang Allah dan membiarkan Roh Kudus menunjukkan area-area yang masih cemar, yang masih perlu disucikan.
Sakramen Pengakuan Dosa; menerima pentahiran yang nyata dan konkret melalui darah Kristus yang bekerja melalui kuasa imamat dan absolusi yang diberikan. Inilah cara paling konkret untuk mengalami sentuhan Yesus yang mentahirkan.
Ekaristi; menerima Tubuh dan Darah Kristus yang menyucikan hati nurani kita dan memperbarui persekutuan kita dengan Allah dan sesama. Setiap Misa adalah pembaruan kelahiran rohani kita.
Menyiapkan Hati Menyambut Paskah
Paskah adalah perayaan kelahiran kembali yang paling agung yaitu kebangkitan Kristus yang menjamin bahwa kematian tidak memiliki kata terakhir, bahwa kecemaran tidak harus menjadi kondisi permanen, bahwa yang lama sungguh-sungguh bisa berlalu dan yang baru sungguh-sungguh bisa datang.Untuk menyambut Paskah dengan hati yang sungguh-sungguh diperbarui, mulailah dengan doa sederhana yang penuh iman seperti doa penderita kusta itu:
"Tuhan, jika Engkau mau, Engkau dapat mentahirkan aku."
Dan percayalah bahwa jawaban-Nya tidak berubah: "Aku mau. Jadilah engkau tahir."
Ya Tuhan Allah, terkadang aku kewalahan menjalani hidup yang berkenan kepada-Mu. Sepertinya setiap kali melangkah, aku langsung jatuh kembali. Tolonglah aku, ya Tuhan, untuk terus mencoba — dan berjuang untuk menjaga hati yang sungguh-sungguh tahir, meski aku sering kali gagal. Aku ingin berjalan di dalam terang-Mu. Sentuh aku, ya Tuhan. Tahirkan aku.
"Jika kita hidup di dalam terang sama seperti Dia ada di dalam terang, kita mempunyai persekutuan seorang dengan yang lain, dan darah Yesus, Anak-Nya itu, menyucikan kita dari pada segala dosa" (1 Yohanes 1:7).
Referensi Magisterium Gereja:
- Katekismus Gereja Katolik (KGK), Art. 1213-1284 : Sakramen Baptisan sebagai kelahiran kembali
- KGK Art. 1987-1995 : Pembenaran: dilahirkan kembali sebagai ciptaan baru
- KGK Art. 908 : Panggilan kepada kekudusan bagi seluruh umat beriman
- Santo Agustinus : "Engkau telah menciptakan kami untuk diri-Mu, dan hati kami gelisah hingga ia beristirahat di dalam-Mu" (Pengakuan-Pengakuan, Buku I)
- Santo Yohanes dari Salib : tentang pemurnian jiwa (purificación) sebagai jalan menuju persatuan dengan Allah

.jpg)
Comments
Post a Comment